Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Pohon Itu Bukan Sekedar Tiang Pancang Penghalang Longsor

T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan Minggu 08 Feb 2026, 15:44 WIB
Butir-butir embun yang dijaring daun cemara gunung di lereng Gunung Rinjadi dari arah Aikberik. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)

Butir-butir embun yang dijaring daun cemara gunung di lereng Gunung Rinjadi dari arah Aikberik. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)

Siang itu, kabut tertiup dari lembah menaiki lereng-lereng Gunung Rinjani dari arah Desa Aik Berik di Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. Lewat tengah hari waktu itu, namun, suhu udara yang mengusap punggung tangan terasa sangat dingin. Permukaan dedaunan terlihat segar dalam suhu yang lebih dingin dari suhu udara yang berselimut kabut. Saat kabut melayang mengusap daun, batang, dan ranting, berubah menjadi butir-butir air yang bening bergelantungan di ujung daun. 

Kabut bergerak meniup cemara gunung, suaranya seperti gelora air di kejauhan. Terkadang seperti seruan dari kejauhan. Angin lembah menggoyangkan ranting yang melenting karena pucuk yang kuyup. Berjuta mutiara kehidupan berloncatan menjadi gerimis, rintiknya menyirami seresah yang terserak menutupi lantai hutan. 

Di dalam hutan, sekilas seperti sunyi. Padahal, dalam keheningan belantara, terdapat beragam harmoni suara yang indah, konser suara alam yang menyemarakkan semesta. 

Hutan dengan segala unsur pembentuknya, satu di antaranya adalah pohon. Namun sayang, pohon sering kali terlalu disederhanakan, bahkan dikerdilkan manfaatnya oleh mereka yang terlalu mengagungkan segala masalah dapat diselesaikan dengan teknologi dan rekayasa. Ada yang beranggapan, pohon hanya sebagai penghalang, sekedar barrier bila terjadi longsor yang bergerak ke permukiman. Menyamakan pohon seperti beton tiang pancang. Padahal, hutan dengan segala isinya, telah menjalankan manfaat bagi alam, bagi kehidupan seluruh mahluk.

Hutan dengan pohon-pohon yang menjulang, sudah berjuta tahun berguna sebagai jaring hidup penangkap berjuta ton uap, yang kemudian mengembun di dedaunan, menyirami lantai hutan, sehingga kelembaban tanah menjadi terjaga. Inilah yang menjadi sebab, biji pohon yang berjatuhan, kemudian mekar bertunas.  

Air meteorik yang tercurah di dalam hutan, daun-daun pohon dan tetumbuhan lainnya akan menangkap curahannya, menjalarkannya ke ranting, ke dahan, ke batang, merembes ke dalam lumut yang membalut batang pohon. Perjalanan air tidak melimpas di permukaan tanah sambil menggerus tanah pucuk, tapi terus meresap menjalar ke akar, yang menyelusup hingga jauh ke dalam tanah. Akar benar-benar mampu memeluk partikel-partikel tanah, merengkuh partikel tanah, sehingga tidak mudah lepas tererosi.

Akar pohon berfungsi menjadi tempat air tanah tersimpan. Sesuai umur dan besar pohon, air dalam partikel tanah yang dipeluk akar itu sebanyak 5 kubik hingga 30 kubik. Sehingga hutan ibarat danau yang tak nampak di permukaan. Dari sanalah kebutuhan pohon akan air dapat terpenuhi, dan kelimpahan air dalam partikel tanah akan dikeluarkan secara teratur di mataair. 

Akar dengan air tanahnya telah mampu menjaga kelembaban tanah, meningkatkan kesuburan tanah, menjaga dan meningkatkan stabilitas tanah, menjaga kesehatan tanah, menjaga keseimbangan lahan, mencegah erosi dan longsor, mengendalikan curahan hujan di dalam hutan. Akar mampu mengunci air tanah sehingga tidak hilang, dan menahan air hujan tidak melimpas di permukaan.

Sudah menjadi hukum alam, semakin tua dan besar pohon, semakin besar kemampuannya untuk menyimpan butir-butir air yang melarut dalam partikel tanah. Ada juga jenis pohon, seperti baobab atau Ki tambleg, yang batang pohonnya menjadi sumur alami tempat air terkumpul. Lima puluh persen dari totalitas berat pohonnya adalah air.

Sejak kelahiran manusia di bumi, tumbuhan, hutan dan segala isinya, telah berjuta tahun menghidupi bukan saja tumbuhan dan binatang, tapi juga manusia yang telah hidup menjelajah, yang memanfaatkan keberkahan hutan. 

Pohon mampu menyerap lebih dari setengah radiasi matahari, dan hanya sedikit yang dipantulkan kembali ke angkasa. Pohon pula mampu menyerap CO2, mampu meredam suhu panas dan suhu dingin. Agar terasa bedanya, bandingkanlah antara duduk di bawah pos jaga beratap seng, dan duduk di rumput di bawah naungan pohon. Pohon itu bernafas, sehingga keteduhan dan kesegaran yang dirasakan.

Di tempat yang lain, di kerucut gunung-gunung yang rimbanya masih terjaga, kedamaian dan kemegahan alam terasa begitu nyata. Seperti saat berjalan di Pasir Cadaspanjang, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Setelah melewati kebun sayur dan kebun kopi, terasa pelukan damai hutan hujan tropis yang tersisa. 

Lumut yang menempel di batang pohon, tumbuh menghijau, menjadi bioindikator kualitas udara di dalam hutan, karena lumut itu hidupnya sangat sensitif. Di lingkungan hutan yang masih terjaga, lumut akan menjalankan fungsinya dalam rantai kehidupan hutan. 

Ketika telapak tangan ditempelkan di atas lumut di batang pohon, langsung terasa dingin, dan seketika air merembes ke luar, membuat telapak tangan menjadi kuyup. Ada berapa ribu pohon, berapa juta pohon di dalam rimba yang terjaga, ada berapa juta kubik air yang terserap lumut, yang yang melembabkan pohon, melembabkan tanah, membusukkan seresah, lalu meresap menjalar ke dalam akar. Lumut, tumbuhan yang tampak sederhana, sejak kehadirannya di lingkungan darat, telah menjadi penyumbang bahan organik yang menyuburkan tanah, dan telah ikut menyelamatkan tanah pucuk tidak tergerus ke lembah-lembah.   

Lumut menjadi rumah bagi beragam hewan sangat kecil hingga serangga kecil. Lumut menjadi sumber nutrisi bagi beragam binatang.

Baca Juga: Longsor, Alih Fungsi, dan Alami

Bila belantara itu telah dihilangkan, akar yang tertancap di dalam tanah tak mempunyai kesanggupan lagi untuk mencengkeram tanah, tak mempunai kekuatan lagi untuk merengkuh partikel tanah yang air mengadung butir-butir air. Tak ada lagi seresah, tak ada lagi humus yang menghisap dan menyimpan air. Permukaan tanah menjadi kersang dipanggang matahari. Hujan yang menjadi sumber keberkahan, menjadi kambing hitam yang dipersalahkan ketika longsor terjadi yang menimbun perkampungan dan kebun sayur di lereng curam yang semula hutan. 

Gunung-gunung tanpa hutan, menyebabkan uap air yang diboyong angin selama ribuan kilo meter, hanya melintas saja di lereng gunung. Tak ada lagi pepohonan dan tumbuhan yang berdiri tegak menjaring uap. Tak ada lagi pohon yang merangkul uap menjadi butiran air di pucuk daun.

Manfaat pohon sangat nyata bagi alam dan bagi kehidupan manusia. Keberadaan hutan tak tergantikan, karena pohon bukan sekedar beton tiang pancang untuk penghalang longsor. (*)

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Mar 2026, 19:45

Ganti Profesi Usai Lebaran, Mencari yang Lebih Cocok dengan Semangat Zaman

Banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang tidak langsung cocok dengan pekerjaan atau profesi pertamanya.

Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Bandung 30 Mar 2026, 17:03

The Hallway Space: Menyulap Pasar Tradisional Jadi Ruang Bisnis Kreatif Anak Bandung

The Hallway Space, ruang kebebasan dengan fungsi sebagai wadah cakupan kolektif dari para pelaku industri kreatif yang memiliki visi untuk bertumbuh bersama dalam satu cakupan ekosistem.

The Hallway Space, ruang kebebasan dengan fungsi sebagai wadah cakupan kolektif dari para pelaku industri kreatif yang memiliki visi untuk bertumbuh bersama dalam satu cakupan ekosistem. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 16:24

Anomali Saat Lebaran Tahun 1980-an

Pada hari Lebaran banyak orang-orang yang terlibat dalam permainan lotre atau judi padahal kbaru saja menjalani shaum Ramadan

Masjid Agung Bandung (Alun-Alun) pada tahun 1980-an. (Sumber: Twitter | Foto: @arbainrambey)
Linimasa 30 Mar 2026, 15:12

Jejak Serangan Berdarah Israel terhadap Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon

Sejarah mencatat berbagai serangan terhadap UNIFIL di Lebanon, dari tragedi Qana 1996 hingga insiden terbaru yang menewaskan prajurit Indonesia.

Latihan bersama Kontingen Garuda dengan Lebanese Armed Forces. (Sumber: tniad.mil.id)
Beranda 30 Mar 2026, 14:43

Jejak Perjalanan Motor Pemudik dari Kiaracondong ke Kampung Halaman

Mudik tak selalu identik dengan lelah di jalan. Lewat program Motis, ratusan sepeda motor diangkut dengan kereta dari Kiaracondong, menghadirkan perjalanan pulang yang lebih aman, ringan, dan manusiaw

Rapi berjejer, sepeda motor pemudik yang sudah “dibungkus” siap diberangkatkan menuju tujuan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 13:56

Kakarén dan Hidup Setelah Lebaran

Kakarén Lebaran bisa dibaca sebagai metafora yang menarik.

produksi kue kering di pabrik kue J&C Cookies, Cimenyan, Kabupaten Bandung pada Rabu, 27 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 12:37

Transportasi Laut Pemudik: Antara Pelayaran Rakyat Anak Tiri dan Pelayaran Pelat Merah Anak Emas

Kegiatan penyeberangan dengan pelayaran rakyat sarat dengan bahaya.

Ilustrasi kapal pelayaran rakyat. (Sumber: Pexels | Foto: Agus Triwinarso)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 09:40

Ketika Utilitas Melanggar Ruang Manfaat Jalan

Utilitas seperti kabel menjuntai dan galian kabel di permukaan jalan di Bandung melanggar ruang manfaat jalan.

Lakalantas tunggal di Jalan Perintis Kemerdekaan akibat bekas galian kabel PLN, Kamis (26/3/2026). (Sumber: Instagram/@im.bethh___)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 08:40

Jabar Mesti Berani Revolusi untuk Mencetak SDM Terbarukan

SDM terbarukan memiliki etos kerja, kompetensi, daya literasi, kreativitas dan inovasi yang sesuai dengan tantangan zaman

Ilustrasi revolusi ketenagakerjaan di Jabar (Sumber: Meta | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 29 Mar 2026, 18:16

Prospek Usaha Florikultura saat Lebaran dan Reinventing Kota Kembang

Prospek usaha bunga potong atau Florikultura saat lebaran bisa reinventing predikat kota kembang.

Pasar kembang Wastukencana kota Bandung (Sumber: pasarbungawastukencana.com)
Ayo Netizen 29 Mar 2026, 14:03

Habis Lebaran, Terbitlah Hajatan

Menikah di bulan Syawal menjadi simbol dimulainya kehidupan baru dengan jiwa yang kembali fitri, suci.

Pemerintah Kota Bandung menggelar nikah gratis bagi 10 pasangan dengan dengan berbagai fasilitas dalam rangka Hari Jadi Kota Bandung ke-215. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 29 Mar 2026, 12:06

Syawal adalah Harapan

Bulan Syawal—sebuah fase yang bukan sekadar penanda berakhirnya ibadah sebulan penuh, melainkan awal dari harapan yang diperbarui.

Pemudik sepeda motor melintasi Kota Bandung pada Sabtu, 14 Maret 2025, dengan pilihan perjalanan hemat dan berbagai konsekuensinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mar 2026, 09:43

Sejarah Tahu Gejrot, Legenda Kuliner yang Berawal dari Pabrik di Pesisir Cirebon

Tahu gejrot lahir dari industri tahu di Cirebon, berkembang dari makanan buruh menjadi jajanan jalanan legendaris di banyak kota.

Tahu gejrot khas Cirebon.
Ayo Netizen 29 Mar 2026, 09:20

Jalan Gelap di Bandung Memperbesar Risiko Keselamatan bagi Semua Pengguna Jalan

Jalan gelap di Bandung meningkatkan risiko kecelakaan dan kejahatan.

Jalan 'miskin lampu' di Bandung. (Sumber: Instagram @infobandungkota)
Beranda 28 Mar 2026, 11:07

Pedagang Mengenang Terminal Cicaheum yang Tak Lagi Ramai

Terminal Cicaheum di Bandung kini tak lagi seramai dulu. Pedagang lama bertahan di tengah penurunan penumpang, perubahan transportasi, dan kenangan masa lalu yang masih membekas.

Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 28 Mar 2026, 10:29

Kemacetan Pacira Saat Lebaran Ubah Pola Wisatawan

Kemacetan parah di jalur Pacira saat Lebaran berdampak pada kunjungan wisata, sebagian naik signifikan, sebagian lainnya justru turun.

Satlantas Polresta Bandung mengurai kemacetan di jalur Ciwidey. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 27 Mar 2026, 22:02

Jejak Bahasa, Dakwah, dan Tradisi Lebaran di Jawa dalam Kata ‘Ketupat

Sejak kapan ketupat menjadi simbol Idul Fitri? Dan benarkah kata “kupat” berasal dari “ngaku lepat”—mengakui kesalahan?

Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Mar 2026, 18:01

Mengenang Sambas Mangundikarta, Penyiar RRI–TVRI dan Pencipta Lagu Manuk Dadali

Nama Sambas Mangundikarta tidak dapat dipisahkan dari Kota Bandung.

Sambas Mangundikarta, sosok panutan dalam dunia penyiaran Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ikon 27 Mar 2026, 17:33

Sejarah Salak Pondoh, Buah Ikon Jogja dari Empat Biji Pemberian

Salak pondoh yang kini menjadi ikon pertanian Sleman berawal dari empat biji yang ditanam di lereng Merapi sekitar 1917. Dari kebun kecil desa, buah ini berkembang menjadi komoditas besar.

Ilustrasi salak Pondoh.
Ayo Netizen 27 Mar 2026, 16:27

Lebaran Telah Usai, Keselamatan Kerja Industri Distribusi BBM Tidak Boleh Kendor

Musim pancaroba menyebabkan temperatur ekstrim, ancaman puting beliung dan sambaran petir setiap saat mengancam aktivitas industri distribusi BBM.

Ilustrasi kasus kebakaran akibat kecelakaan kerja pada industri distribusi BBM (Sumber: Meta | Foto: Arif Minardi)