Pohon Itu Bukan Sekedar Tiang Pancang Penghalang Longsor

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Butir-butir embun yang dijaring daun cemara gunung di lereng Gunung Rinjadi dari arah Aikberik. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Butir-butir embun yang dijaring daun cemara gunung di lereng Gunung Rinjadi dari arah Aikberik. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)

Siang itu, kabut tertiup dari lembah menaiki lereng-lereng Gunung Rinjani dari arah Desa Aik Berik di Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. Lewat tengah hari waktu itu, namun, suhu udara yang mengusap punggung tangan terasa sangat dingin. Permukaan dedaunan terlihat segar dalam suhu yang lebih dingin dari suhu udara yang berselimut kabut. Saat kabut melayang mengusap daun, batang, dan ranting, berubah menjadi butir-butir air yang bening bergelantungan di ujung daun. 

Kabut bergerak meniup cemara gunung, suaranya seperti gelora air di kejauhan. Terkadang seperti seruan dari kejauhan. Angin lembah menggoyangkan ranting yang melenting karena pucuk yang kuyup. Berjuta mutiara kehidupan berloncatan menjadi gerimis, rintiknya menyirami seresah yang terserak menutupi lantai hutan. 

Di dalam hutan, sekilas seperti sunyi. Padahal, dalam keheningan belantara, terdapat beragam harmoni suara yang indah, konser suara alam yang menyemarakkan semesta. 

Hutan dengan segala unsur pembentuknya, satu di antaranya adalah pohon. Namun sayang, pohon sering kali terlalu disederhanakan, bahkan dikerdilkan manfaatnya oleh mereka yang terlalu mengagungkan segala masalah dapat diselesaikan dengan teknologi dan rekayasa. Ada yang beranggapan, pohon hanya sebagai penghalang, sekedar barrier bila terjadi longsor yang bergerak ke permukiman. Menyamakan pohon seperti beton tiang pancang. Padahal, hutan dengan segala isinya, telah menjalankan manfaat bagi alam, bagi kehidupan seluruh mahluk.

Hutan dengan pohon-pohon yang menjulang, sudah berjuta tahun berguna sebagai jaring hidup penangkap berjuta ton uap, yang kemudian mengembun di dedaunan, menyirami lantai hutan, sehingga kelembaban tanah menjadi terjaga. Inilah yang menjadi sebab, biji pohon yang berjatuhan, kemudian mekar bertunas.  

Air meteorik yang tercurah di dalam hutan, daun-daun pohon dan tetumbuhan lainnya akan menangkap curahannya, menjalarkannya ke ranting, ke dahan, ke batang, merembes ke dalam lumut yang membalut batang pohon. Perjalanan air tidak melimpas di permukaan tanah sambil menggerus tanah pucuk, tapi terus meresap menjalar ke akar, yang menyelusup hingga jauh ke dalam tanah. Akar benar-benar mampu memeluk partikel-partikel tanah, merengkuh partikel tanah, sehingga tidak mudah lepas tererosi.

Akar pohon berfungsi menjadi tempat air tanah tersimpan. Sesuai umur dan besar pohon, air dalam partikel tanah yang dipeluk akar itu sebanyak 5 kubik hingga 30 kubik. Sehingga hutan ibarat danau yang tak nampak di permukaan. Dari sanalah kebutuhan pohon akan air dapat terpenuhi, dan kelimpahan air dalam partikel tanah akan dikeluarkan secara teratur di mataair. 

Akar dengan air tanahnya telah mampu menjaga kelembaban tanah, meningkatkan kesuburan tanah, menjaga dan meningkatkan stabilitas tanah, menjaga kesehatan tanah, menjaga keseimbangan lahan, mencegah erosi dan longsor, mengendalikan curahan hujan di dalam hutan. Akar mampu mengunci air tanah sehingga tidak hilang, dan menahan air hujan tidak melimpas di permukaan.

Sudah menjadi hukum alam, semakin tua dan besar pohon, semakin besar kemampuannya untuk menyimpan butir-butir air yang melarut dalam partikel tanah. Ada juga jenis pohon, seperti baobab atau Ki tambleg, yang batang pohonnya menjadi sumur alami tempat air terkumpul. Lima puluh persen dari totalitas berat pohonnya adalah air.

Sejak kelahiran manusia di bumi, tumbuhan, hutan dan segala isinya, telah berjuta tahun menghidupi bukan saja tumbuhan dan binatang, tapi juga manusia yang telah hidup menjelajah, yang memanfaatkan keberkahan hutan. 

Pohon mampu menyerap lebih dari setengah radiasi matahari, dan hanya sedikit yang dipantulkan kembali ke angkasa. Pohon pula mampu menyerap CO2, mampu meredam suhu panas dan suhu dingin. Agar terasa bedanya, bandingkanlah antara duduk di bawah pos jaga beratap seng, dan duduk di rumput di bawah naungan pohon. Pohon itu bernafas, sehingga keteduhan dan kesegaran yang dirasakan.

Di tempat yang lain, di kerucut gunung-gunung yang rimbanya masih terjaga, kedamaian dan kemegahan alam terasa begitu nyata. Seperti saat berjalan di Pasir Cadaspanjang, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Setelah melewati kebun sayur dan kebun kopi, terasa pelukan damai hutan hujan tropis yang tersisa. 

Lumut yang menempel di batang pohon, tumbuh menghijau, menjadi bioindikator kualitas udara di dalam hutan, karena lumut itu hidupnya sangat sensitif. Di lingkungan hutan yang masih terjaga, lumut akan menjalankan fungsinya dalam rantai kehidupan hutan. 

Ketika telapak tangan ditempelkan di atas lumut di batang pohon, langsung terasa dingin, dan seketika air merembes ke luar, membuat telapak tangan menjadi kuyup. Ada berapa ribu pohon, berapa juta pohon di dalam rimba yang terjaga, ada berapa juta kubik air yang terserap lumut, yang yang melembabkan pohon, melembabkan tanah, membusukkan seresah, lalu meresap menjalar ke dalam akar. Lumut, tumbuhan yang tampak sederhana, sejak kehadirannya di lingkungan darat, telah menjadi penyumbang bahan organik yang menyuburkan tanah, dan telah ikut menyelamatkan tanah pucuk tidak tergerus ke lembah-lembah.   

Lumut menjadi rumah bagi beragam hewan sangat kecil hingga serangga kecil. Lumut menjadi sumber nutrisi bagi beragam binatang.

Baca Juga: Longsor, Alih Fungsi, dan Alami

Bila belantara itu telah dihilangkan, akar yang tertancap di dalam tanah tak mempunyai kesanggupan lagi untuk mencengkeram tanah, tak mempunai kekuatan lagi untuk merengkuh partikel tanah yang air mengadung butir-butir air. Tak ada lagi seresah, tak ada lagi humus yang menghisap dan menyimpan air. Permukaan tanah menjadi kersang dipanggang matahari. Hujan yang menjadi sumber keberkahan, menjadi kambing hitam yang dipersalahkan ketika longsor terjadi yang menimbun perkampungan dan kebun sayur di lereng curam yang semula hutan. 

Gunung-gunung tanpa hutan, menyebabkan uap air yang diboyong angin selama ribuan kilo meter, hanya melintas saja di lereng gunung. Tak ada lagi pepohonan dan tumbuhan yang berdiri tegak menjaring uap. Tak ada lagi pohon yang merangkul uap menjadi butiran air di pucuk daun.

Manfaat pohon sangat nyata bagi alam dan bagi kehidupan manusia. Keberadaan hutan tak tergantikan, karena pohon bukan sekedar beton tiang pancang untuk penghalang longsor. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)