Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

5 menit baca
nonny irayanti
Ditulis oleh nonny irayanti diterbitkan
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi momentum evaluasi terhadap arah pendidikan nasional. Namun, realitas yang terjadi justru menunjukkan meningkatnya krisis moral di kalangan pelajar. Tawuran, bullying, pelecehan seksual, pengeroyokan, hingga kekerasan ekstrem kini semakin sering melibatkan generasi muda usia sekolah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ada kegagalan serius dalam proses pembentukan kepribadian pelajar. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang pembinaan akhlak justru kalah pengaruh dibanding lingkungan digital yang setiap hari membentuk pola pikir dan pola sikap generasi muda.

Hari ini, media massa dan media sosial telah berubah menjadi “sekolah kedua” bagi pelajar. Ironisnya, sekolah kedua ini tidak dibangun di atas nilai moral dan tanggung jawab, melainkan berdiri di atas asas liberalisme dan kepentingan kapitalistik. Akibatnya, pelajar lebih banyak menyerap nilai kekerasan, hedonisme, eksistensialisme, dan kebebasan tanpa batas daripada nilai ketakwaan dan kemanusiaan.

Inilah yang seharusnya menjadi refleksi besar dalam momentum Hardiknas: apakah pendidikan masih benar-benar membentuk manusia, atau justru kalah oleh arus media liberal yang membentuk generasi tanpa arah?

Media Liberal Membentuk Pola Pikir Pelajar

Di era digital, pelajar menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar gawai. Media sosial, film, game, konten video pendek, hingga influencer kini menjadi sumber utama pembentukan cara pandang generasi muda terhadap kehidupan.

Masalahnya, media dalam sistem sekuler kapitalistik tidak dibangun untuk mendidik manusia. Media bergerak berdasarkan algoritma, popularitas, dan keuntungan ekonomi. Konten yang memancing emosi, sensasi, dan kontroversi akan lebih diutamakan karena menghasilkan engagement tinggi.

Akibatnya, pelajar terus-menerus terpapar budaya liberal yang menormalisasi kekerasan dan perilaku amoral. Tawuran dianggap keberanian, bullying dianggap candaan, pergaulan bebas dianggap modern, sementara gaya hidup hedonistik dipromosikan sebagai simbol kebahagiaan.

Pelajar akhirnya tumbuh tanpa standar benar dan salah yang sahih. Mereka lebih mengenal standar viral daripada halal-haram. Ukuran baik-buruk tidak lagi merujuk pada syariat, melainkan pada penerimaan sosial di media.

Kondisi ini diperparah dengan menjamurnya figur publik dan influencer yang dijadikan role model, padahal banyak di antaranya justru mempertontonkan gaya hidup bebas, pamer kemewahan, konflik, hingga perilaku tidak bermoral. Generasi muda akhirnya lebih akrab dengan budaya flexing daripada budaya ilmu dan adab.

Sekolah Kalah oleh Lingkungan Digital

Sekolah hari ini sebenarnya sedang kalah dalam pertarungan membentuk karakter generasi. Pendidikan formal hanya berlangsung beberapa jam di ruang kelas, sedangkan media digital bekerja selama 24 jam tanpa henti.

Guru mungkin mengajarkan tentang etika dan disiplin di sekolah, tetapi setelah pulang, pelajar kembali dicekoki konten yang bertentangan dengan nilai tersebut. Tayangan kekerasan, pornografi terselubung, ujaran kasar, hingga budaya permisif terus dikonsumsi setiap hari.

Akibatnya, pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah menjadi tidak efektif karena lingkungan digital justru merusak nilai yang sedang dibangun.

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)

Inilah dampak ketika negara membiarkan media bergerak bebas atas nama kebebasan berekspresi. Negara sekuler hanya bertindak ketika sebuah kasus telah viral atau menimbulkan korban, tetapi gagal mencegah kerusakan pemikiran yang diproduksi media setiap detik.

Padahal, media bukan sekadar sarana hiburan. Media adalah instrumen pembentuk kesadaran publik. Ketika media dipenuhi nilai liberalisme, maka yang lahir adalah generasi liberal. Ketika media mempromosikan kekerasan dan hedonisme, maka itulah budaya yang akan ditiru oleh pelajar.

Sistem Sekuler Gagal Menjadi Filter

Akar persoalan ini sesungguhnya terletak pada asas sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem sekuler, negara tidak memiliki standar baku dalam menentukan mana konten yang merusak moral dan mana yang membangun peradaban.

Selama sebuah konten menghasilkan keuntungan ekonomi dan tidak melanggar hukum positif secara formal, maka ia dianggap sah untuk beredar. Inilah yang menyebabkan berbagai konten destruktif terus diproduksi dan dikonsumsi massal.

Negara akhirnya hanya berfungsi sebagai regulator administratif, bukan penjaga akidah dan moral masyarakat. Pendidikan diserahkan kepada sekolah, sementara media dibiarkan menjadi “pendidik liar” yang membentuk mental generasi tanpa kontrol ideologis.

Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara teknologi tetapi rapuh secara mental dan spiritual. Mereka mudah marah, haus validasi, miskin empati, dan menjadikan eksistensi sosial sebagai tujuan hidup.

Tidak mengherankan jika kekerasan pelajar terus meningkat. Sebab, pelajar hidup dalam lingkungan yang setiap hari menormalisasi agresivitas, kebebasan tanpa batas, dan minim tanggung jawab moral.

Islam Menjadikan Media sebagai Instrumen Pendidikan Peradaban

Berbeda dengan sistem sekuler, Islam memandang media sebagai sarana dakwah dan pendidikan umat. Media tidak dibiarkan bergerak bebas mengikuti hawa nafsu pasar, tetapi diatur agar selaras dengan akidah Islam dan tujuan pembentukan masyarakat yang bertakwa.

Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab memastikan seluruh informasi yang beredar mendukung pembentukan kepribadian Islam. Konten yang merusak akhlak, mempromosikan kekerasan, pornografi, liberalisme, maupun gaya hidup hedonistik tidak akan diberi ruang untuk berkembang.

Media diarahkan untuk membangun pola pikir Islam, menyebarkan ilmu pengetahuan, memperkuat budaya amar makruf nahi mungkar, serta membentuk generasi yang memiliki orientasi hidup yang benar.

Dengan demikian, sekolah, keluarga, masyarakat, dan media bergerak dalam satu arah yang sama: membentuk manusia bertakwa dan beradab.

Inilah perbedaan mendasar antara sistem Islam dan sistem sekuler. Sistem sekuler membiarkan media menjadi alat industri dan hiburan tanpa batas, sedangkan Islam menjadikan media sebagai instrumen penjaga peradaban.

Meningkatnya kekerasan dan kerusakan moral pelajar tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti kurikulum atau menambah program pendidikan karakter. Selama media liberal tetap bebas membentuk pola pikir generasi, maka sekolah akan terus kalah dalam membina pelajar.

Refleksi Hardiknas seharusnya menjadi momentum untuk menyadari bahwa krisis generasi hari ini bukan sekadar kegagalan individu, melainkan kegagalan sistemik. Media liberal dalam sistem sekuler kapitalistik telah berubah menjadi sekolah kedua yang merusak kepribadian pelajar secara masif.

Karena itu, solusi hakiki tidak cukup dengan regulasi parsial, tetapi membutuhkan perubahan mendasar dalam sistem kehidupan. Islam menawarkan sistem pendidikan yang terintegrasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, media, dan negara dalam satu asas yang sama, yaitu akidah Islam. Dengan sistem inilah generasi tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

nonny irayanti
Tentang nonny irayanti
Pemerhati pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Agu 2026, 18:41

Pemborosan Pangan dalam Lingkungan Rumah serta Dampaknya Terhadap Lingkungan

Mengurangi food waste menjadi langkah sederhana untuk menjaga lingkungan dan mendukung ketahanan pangan.

Ilustrasi sampah makanan. (Sumber: Pexels | Foto: Sarah Chai)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 18:08

Pengaruh AI dalam Meningkatkan Efektivitas dan Akurasi di Dunia Akuntansi

Dalam dunia akuntansi Artificial Intelligence memudahkan dalam penyusunan laporan keuangan, meminimalisir kesalahan, mendeteksi adanya kecurangan, dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.

ilustrasi dunia akuntansi. (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock project)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 17:09

Masa Depan Forensic Accounting: Optimalisasi Artificial Intelligence dan Data Analytics dalam Mengungkap Korupsi di Indonesia

Memahami bagaimana peran dari artificial intelligence dan data analysis dalam forensic accounting dalam mengungkap fraud dan korupsi di Indonesia.

Ilustrasi akuntan. (Sumber: Pexels | Foto: Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 15:30

Penggunaan Artificial Intelligence dan Simulasi Studi Kasus dalam Mengatasi Masalah Mahasiswa Akuntansi

AI dan simulasi studi kasus membantu mahasiswa akuntansi memahami perubahan standar, membandingkan GAAP, IFRS, dan SAK, serta melatih kemampuan menghadapi permasalahan akuntansi secara lebih realistis

Ilustrasi penggunaan AI. Simulasi studi kasus dan penggunaan Artificial Intelligence (AI) menjadi solusi inovatif untuk berbagai kendala yang dialami oleh mahasiswa akuntansi.
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 14:37

KDM Minta Maaf Gara-gara 80.000 Warga Jabar Masih Gelap-gelapan

Kang Dedi Mulyadi menyoroti 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Ia menilai pemerintah masih memiliki pekerjaan besar untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di seluruh Jawa Barat secara merata.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, saat upacara hari kemerdekaan di Gedung Sate.  (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 13:48

Membaca Bahasa Kekuasaan di Balik Fenomena Pemasangan Pagar Mal Agustus 2026

Ketika mal-mal besar mendadak berpagar tinggi lalu semua pihak buru-buru membantah kaitannya dengan kerusuhan, yang tersingkap justru ketakutan itu sendiri.

Ilustrasi pagar di mal. (Sumber: Pexels | Foto: Thiago Calamita)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 10:49

Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan Integritas

Mari mengisi kemerdekaan dengan ilmu yang mencerahkan, pendidikan yang memanusiakan, teknologi yang beretika, agama yang menebarkan kedamaian, dan pengabdian yang menghadirkan kemaslahatan.

Ilustrasi bendera Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Daris Ardiansyah)
Wisata & Kuliner 18 Agu 2026, 10:06

Kebun Teh Jayanegara Sukabumi, Wisata Perkebunan dengan Panorama Gunung Salak

Hamparan kebun teh, kabut pagi, dan udara sejuk menjadi daya tarik utama Kebun Teh Jayanegara di Kecamatan Kabandungan, Sukabumi.

Kebun Teh Jayanegara Sukabumi. (Sumber: Instagram @smiling.wetjava)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 08:15

81 Tahun Merdeka, Untuk Siapa Kemerdekaan Bekerja?

Mungkin persoalannya bukan apakah Indonesia telah merdeka, melainkan ke mana kemerdekaan itu dibawa dan untuk siapa ia bekerja.

Pada sebuah acara peringatan Hari Kemerdekaan di Gedung Indonesia Menggugat. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 07:48

Makna Hari Kemerdekaan: Wujudkan Bandung Berdikari dengan Optimasi Aset

Mewujudkan Bandung berdikari, mesti mengembangkan lebih banyak lagi ragam profesi atau jenis pekerjaan masa kini.

Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Pemkot Bandung (Sumber: bandung.go.id)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 21:22

Kedaulatan Komunikasi sebagai Wajah Baru Kemerdekaan

Di usia ke-81 RI, kemerdekaan bukan hanya soal wilayah, tetapi kedaulatan komunikasi: kemampuan berpikir jernih, memverifikasi kebenaran, dan berdialog sehat di tengah gempuran algoritma dan hoaks.

Apakah kemerdekaan hanya sebatas bebas dari kolonialisme fisik? (Sumber: Pexels/ahmad syahrir)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 19:20

Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’ dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 2)

Menelusuri hubungan sejarah dan fotografi, dari foto sebagai rekaman masa lalu hingga teknologi visual mutakhir yang membuka cara baru dalam membaca sejarah.

Foto Cipanas Garut dengan view Gunung Guntur yang diambil Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 16:20

El Bahar dan Sang Merah Putih Menjelang Hari Kemerdekaan

Koran yang usianya kini telah mencapai 57 tahun itu hadir hanya dua hari menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Suratkabar El Bahar, salah satu surat kabar yang dikenal kritis dan cukup disegani pada masanya. (Koleksi: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 15:00

Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’, dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 1)

Mengulas sejarah fotografi di Indonesia, perannya sebagai sumber sejarah visual, serta persoalan pelestarian arsip foto dalam merekam perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Ilustrasi foto klasik. (Sumber: Pexels | Foto: tapoy)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 13:02

Refleksi Indonesia Merdeka

Dalam refleksi Indonesia merdeka adalah Indonesia harus terus belajar menjadi Indonesia yang adil, berdaulat, beradab dan manusiawi, itulah kemerdekaan sesungguhnya.

Acara pengibaran bendera Merah Putih berukuran 10×18 meter di Tebing Hawu, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 11:26

Bendera Berkibar Janji Ditebar

81 tahun kemerdekaan bukan semata-mata untuk kepentingan negara yang punya hajat. Tetapi masyarakat yang memiliki harapan untuk merdeka. Hidup di negeri ini dengan jutaan cita-cita.

Warga membentangkan bendera Merah Putih raksasa berukuran 10x18 meter sebagai persiapan pengibaran pada 17 Agustus 2026 di Tebing Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 10:05

Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Taman Bincarung: Trek Pendakian, Lokasi, dan Harga Tiket

Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Bincarung, informasi trek pendakian, lokasi gunung, dan harga tiket yang perlu diketahui sebelum melakukan pendakian.

Peta Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Bincarung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 09:22

Ketimpangan Terselubung di Balik Pilihan Kos Mahasiswa

Ketimpangan dalam soal pilihan tempat kos mungkin tidak selalu kentara, tetapi dampaknya nyata dan berlapis.

Mahasiswa baru salah satu PTN mengikuti Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 21:58

Dari Kaki Gunung Wayang ke Ruang Sidang Doktoral: Saatnya Pendidikan Belajar Mengenali Keunikan

Jika setiap anak berbeda, mengapa sistem pendidikan kita masih begitu gemar menyeragamkan? Kisah Luthfi dari Kertasari membuka pertanyaan itu.

Luthfi Audia Pribadi dalam ujian promosi doktor di UPI, 13 Agustus 2026.
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 18:15

Efektivitas Perusahaan Listrik sebagai Perusahaan Monopoli?

Ada berbagai bentuk pasar dalam perekonomian. Apakah perusahaan listrik sebagai perusahaan monopoli efektif?

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.