Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

nonny irayanti
Ditulis oleh nonny irayanti diterbitkan Jumat 15 Mei 2026, 14:22 WIB
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi momentum evaluasi terhadap arah pendidikan nasional. Namun, realitas yang terjadi justru menunjukkan meningkatnya krisis moral di kalangan pelajar. Tawuran, bullying, pelecehan seksual, pengeroyokan, hingga kekerasan ekstrem kini semakin sering melibatkan generasi muda usia sekolah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ada kegagalan serius dalam proses pembentukan kepribadian pelajar. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang pembinaan akhlak justru kalah pengaruh dibanding lingkungan digital yang setiap hari membentuk pola pikir dan pola sikap generasi muda.

Hari ini, media massa dan media sosial telah berubah menjadi “sekolah kedua” bagi pelajar. Ironisnya, sekolah kedua ini tidak dibangun di atas nilai moral dan tanggung jawab, melainkan berdiri di atas asas liberalisme dan kepentingan kapitalistik. Akibatnya, pelajar lebih banyak menyerap nilai kekerasan, hedonisme, eksistensialisme, dan kebebasan tanpa batas daripada nilai ketakwaan dan kemanusiaan.

Inilah yang seharusnya menjadi refleksi besar dalam momentum Hardiknas: apakah pendidikan masih benar-benar membentuk manusia, atau justru kalah oleh arus media liberal yang membentuk generasi tanpa arah?

Media Liberal Membentuk Pola Pikir Pelajar

Di era digital, pelajar menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar gawai. Media sosial, film, game, konten video pendek, hingga influencer kini menjadi sumber utama pembentukan cara pandang generasi muda terhadap kehidupan.

Masalahnya, media dalam sistem sekuler kapitalistik tidak dibangun untuk mendidik manusia. Media bergerak berdasarkan algoritma, popularitas, dan keuntungan ekonomi. Konten yang memancing emosi, sensasi, dan kontroversi akan lebih diutamakan karena menghasilkan engagement tinggi.

Akibatnya, pelajar terus-menerus terpapar budaya liberal yang menormalisasi kekerasan dan perilaku amoral. Tawuran dianggap keberanian, bullying dianggap candaan, pergaulan bebas dianggap modern, sementara gaya hidup hedonistik dipromosikan sebagai simbol kebahagiaan.

Pelajar akhirnya tumbuh tanpa standar benar dan salah yang sahih. Mereka lebih mengenal standar viral daripada halal-haram. Ukuran baik-buruk tidak lagi merujuk pada syariat, melainkan pada penerimaan sosial di media.

Kondisi ini diperparah dengan menjamurnya figur publik dan influencer yang dijadikan role model, padahal banyak di antaranya justru mempertontonkan gaya hidup bebas, pamer kemewahan, konflik, hingga perilaku tidak bermoral. Generasi muda akhirnya lebih akrab dengan budaya flexing daripada budaya ilmu dan adab.

Sekolah Kalah oleh Lingkungan Digital

Sekolah hari ini sebenarnya sedang kalah dalam pertarungan membentuk karakter generasi. Pendidikan formal hanya berlangsung beberapa jam di ruang kelas, sedangkan media digital bekerja selama 24 jam tanpa henti.

Guru mungkin mengajarkan tentang etika dan disiplin di sekolah, tetapi setelah pulang, pelajar kembali dicekoki konten yang bertentangan dengan nilai tersebut. Tayangan kekerasan, pornografi terselubung, ujaran kasar, hingga budaya permisif terus dikonsumsi setiap hari.

Akibatnya, pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah menjadi tidak efektif karena lingkungan digital justru merusak nilai yang sedang dibangun.

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)

Inilah dampak ketika negara membiarkan media bergerak bebas atas nama kebebasan berekspresi. Negara sekuler hanya bertindak ketika sebuah kasus telah viral atau menimbulkan korban, tetapi gagal mencegah kerusakan pemikiran yang diproduksi media setiap detik.

Padahal, media bukan sekadar sarana hiburan. Media adalah instrumen pembentuk kesadaran publik. Ketika media dipenuhi nilai liberalisme, maka yang lahir adalah generasi liberal. Ketika media mempromosikan kekerasan dan hedonisme, maka itulah budaya yang akan ditiru oleh pelajar.

Sistem Sekuler Gagal Menjadi Filter

Akar persoalan ini sesungguhnya terletak pada asas sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem sekuler, negara tidak memiliki standar baku dalam menentukan mana konten yang merusak moral dan mana yang membangun peradaban.

Selama sebuah konten menghasilkan keuntungan ekonomi dan tidak melanggar hukum positif secara formal, maka ia dianggap sah untuk beredar. Inilah yang menyebabkan berbagai konten destruktif terus diproduksi dan dikonsumsi massal.

Negara akhirnya hanya berfungsi sebagai regulator administratif, bukan penjaga akidah dan moral masyarakat. Pendidikan diserahkan kepada sekolah, sementara media dibiarkan menjadi “pendidik liar” yang membentuk mental generasi tanpa kontrol ideologis.

Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara teknologi tetapi rapuh secara mental dan spiritual. Mereka mudah marah, haus validasi, miskin empati, dan menjadikan eksistensi sosial sebagai tujuan hidup.

Tidak mengherankan jika kekerasan pelajar terus meningkat. Sebab, pelajar hidup dalam lingkungan yang setiap hari menormalisasi agresivitas, kebebasan tanpa batas, dan minim tanggung jawab moral.

Islam Menjadikan Media sebagai Instrumen Pendidikan Peradaban

Berbeda dengan sistem sekuler, Islam memandang media sebagai sarana dakwah dan pendidikan umat. Media tidak dibiarkan bergerak bebas mengikuti hawa nafsu pasar, tetapi diatur agar selaras dengan akidah Islam dan tujuan pembentukan masyarakat yang bertakwa.

Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab memastikan seluruh informasi yang beredar mendukung pembentukan kepribadian Islam. Konten yang merusak akhlak, mempromosikan kekerasan, pornografi, liberalisme, maupun gaya hidup hedonistik tidak akan diberi ruang untuk berkembang.

Media diarahkan untuk membangun pola pikir Islam, menyebarkan ilmu pengetahuan, memperkuat budaya amar makruf nahi mungkar, serta membentuk generasi yang memiliki orientasi hidup yang benar.

Dengan demikian, sekolah, keluarga, masyarakat, dan media bergerak dalam satu arah yang sama: membentuk manusia bertakwa dan beradab.

Inilah perbedaan mendasar antara sistem Islam dan sistem sekuler. Sistem sekuler membiarkan media menjadi alat industri dan hiburan tanpa batas, sedangkan Islam menjadikan media sebagai instrumen penjaga peradaban.

Meningkatnya kekerasan dan kerusakan moral pelajar tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti kurikulum atau menambah program pendidikan karakter. Selama media liberal tetap bebas membentuk pola pikir generasi, maka sekolah akan terus kalah dalam membina pelajar.

Refleksi Hardiknas seharusnya menjadi momentum untuk menyadari bahwa krisis generasi hari ini bukan sekadar kegagalan individu, melainkan kegagalan sistemik. Media liberal dalam sistem sekuler kapitalistik telah berubah menjadi sekolah kedua yang merusak kepribadian pelajar secara masif.

Karena itu, solusi hakiki tidak cukup dengan regulasi parsial, tetapi membutuhkan perubahan mendasar dalam sistem kehidupan. Islam menawarkan sistem pendidikan yang terintegrasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, media, dan negara dalam satu asas yang sama, yaitu akidah Islam. Dengan sistem inilah generasi tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

nonny irayanti
Pemerhati pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Mei 2026, 20:08

'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

Pameran “Jejak Rupa” menghadirkan 123 karya Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam hubungan manusia dengan alam, ingatan, dan perubahan zaman.

Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 17:11

Pengorbanan Tidak Pernah Mati dalam Kehidupan Manusia

Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi bahwa manusia perlahan mulai memanfaatkan ketulusan seseorang dibanding menghargai pengorbanannya.

Ilustrasi peristiwa Kenaikan Yesus Kristus yang dimaknai sebagai simbol pengorbanan, harapan, dan ketulusan dalam kehidupan manusia. (Sumber: Designed by Freepik)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 14:22

Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

Media liberal telah menjadi “sekolah kedua” yang membentuk pelajar dengan nilai kekerasan, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas dalam sistem sekuler kapitalistik.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Wisata & Kuliner 15 Mei 2026, 10:56

Panduan Wisata Kebun Raya Cibodas, Taman Tertua di Kaki Gede Pangrango

Panduan wisata Kebun Raya Cibodas mencakup sejarah, koleksi tanaman, taman sakura, akses lokasi, harga tiket, serta tips berkunjung di kawasan dataran tinggi.

Kebun Raya Cibodas. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 15 Mei 2026, 10:49

Bandung dan Perjuangan Panjang Mengatasi Sampah

Kota Bandung tengah berjuang membenahi persoalan sampah lewat perubahan sistem, keterlibatan warga, dan upaya membangun budaya lingkungan yang berkelanjutan.

Warga RW 19 Kelurahan Antapani Tengah, Kecamatan Antapani mengadaptasi pola penyelesaian sampah tanpa harus melakukan pengiriman ke TPA. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Beranda 15 Mei 2026, 10:34

Bandung, Dongeng, dan Cara Baru Menjinakkan Ketakutan akan Sesar Lembang

Komunitas Sesar Lembang Kalcer memakai dongeng, musik, dan seni untuk membangun kesadaran mitigasi gempa di Bandung tanpa menebar ketakutan.

Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 10:25

Hari Lahir Tatar Sunda 18 Mei 669: Sulit untuk Disimpulkan karena 'Omong Kosong'

Amat banyak kritik terlontar saat Pemprov Jabar secara resmi menetapkan 18 Mei sebagai Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Kabupaten Sumedang, Sabtu malam (2/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 09:12

Bandung sebagai Ensiklopedi Buku

Peringatan Hari Buku Nasional tidak hanya menjadi seremonial belaka tetapi bagaimana bisa menjadi refleksi dalam membangun citra kota Bandung

Pasar Buku Bekas Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 20:19

Ketika Kemacetan Bisa Ditembus dengan Pengawalan

Fenomena pengawalan kendaraan di tengah kemacetan memunculkan persoalan keadilan ruang jalan, keselamatan lalu lintas, dan budaya privilese dalam sistem transportasi.

Rombongan kendaraan menembus antrean keluar Gerbang Tol Pasteur dengan bantuan pengawalan polisi. (Sumber: Dok. Penulis)
Wisata & Kuliner 14 Mei 2026, 17:18

Wisata Karang Tawulan, Pantai Tebing di Tasikmalaya dengan Lanskap Samudra Hindia

Karang Tawulan menawarkan panorama tebing karang, ombak besar Samudra Hindia, serta spot melihat Pulau Nusa Manuk dan situs ziarah ulama di Tasikmalaya selatan.

Pantai Karang Tawulan Tasikmalaya. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 15:40

Ketika GOR Saparua Bandung Berguncang oleh Deretan Rocker Kawakan

Atmosfer rock Bandung yang sedang bergairah membuat “Super Rock ’84” menjadi salah satu pertunjukan paling semarak.

Pentas musik Super Rock ’84 menghiasi halaman surat kabar INTI JAYA edisi Mei 1984, yang kala itu memberitakan gegap gempita konser rock di GOR Saparua Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 11:37

Simfoni Hijau Tanah Priangan: Mengupas Cita Rasa Kearifan Lokal Gastronomi Sunda

Tanah Priangan tidak hanya menjanjikan pemandangan hijau yang memanjakan mata, tetapi juga simfoni rasa yang berakar kuat pada kearifan lokal.

Makanan khas Sunda nasi tutug oncom, di Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 10:49

6 Tahapan Sertifikasi Profesi BNSP, Fresh Graduate Wajib Tahu!

Masih bingung bagaimana alur sertifikasi profesi BNSP? Simak 6 tahapan sertifikasi profesi BNSP lengkap mulai dari pendaftaran, asesmen, hingga terbit sertifikat kompetensi resmi.

Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)
Beranda 13 Mei 2026, 21:00

Satu Tahun ayobandung.id dan Krisis Ingatan Kota

Setahun ayobandung.id diperingati lewat seminar tentang krisis ingatan Kota Bandung, membahas toponimi, lingkungan, dan pentingnya menjaga hubungan warga dengan kotanya.

T. Bachtiar berfoto bersama mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran usai seminar tentang toponimi, lingkungan, dan krisis ingatan Kota Bandung di Jatinangor, Selasa (13/5/2026). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 20:39

KDM dan Mas Nunu di Tahun 1990-an

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore.

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore. (Sumber: Facebook | Foto: Jadulover)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 18:37

Panduan Wisata Situ Gede Tasikmalaya, Botram di Danau Kota dengan Lanskap Tenang

Panduan wisata Situ Gede Tasikmalaya, danau alami dengan Pulau Nusa, perahu wisata, serta kisah tradisi lisan tentang Eyang Prabudilaya.

Wisata Situ Gede Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 16:58

Bandung Lautan Sampah

Kota Bandung masih menghadapi tantangan serius dengan 200 ton sampah per hari tidak terangkut.

Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 14:15

Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

Kota Bandung tidak lepas dari peran seorang perempuan baik sebagai penggerak ekonomi kreatif maupun keterlibatannya dalam bidang sosial yang tidak luput dri tantangan sebagai perempuan multiidentitas.

Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 06:42

5 Pantai Pilihan di Pelabuhan Ratu Sukabumi yang Wajib jadi Itinerary Wisata

Rekomendasi 5 pantai di Pelabuhan Ratu Sukabumi dengan karakter berbeda, dari pantai ramah keluarga hingga spot surfing terbaik.

Wisata Pantai Karang Hawu Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)