Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara yang hidup dengan keberagaman suku, budaya, dan agama. Dalam keberagaman tersebut, setiap peringatan hari besar sejatinya tidak hanya menjadi bagian dari tradisi suatu kelompok saja, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan yang dapat dimaknai bersama untuk kebaikan bersama (Bonum Commune). Hari ini, banyak saudara umat Kristiani di Indonesia hingga berbagai penjuru dunia memperingati Kenaikan Yesus Kristus sebagai salah satu peristiwa penting dalam iman Kristen. Namun lebih dari sekadar perayaan keagamaan, peringatan ini juga menyimpan makna tentang pengorbanan, ketulusan, serta harapan yang masih sangat relevan dengan kehidupan manusia hari ini. Manusia mungkin telah berubah begitu jauh dari waktu ke waktu, tetapi nilai pengorbanan tidak pernah benar-benar hilang dalam kehidupan manusia.
Kenaikan Yesus Kristus merupakan peristiwa yang menandai kenaikan Yesus ke surga setelah kebangkitan-Nya dari kematian. Berdasarkan catatan Alkitab, peristiwa ini terjadi 40 hari setelah Kebangkitan-Nya atau Paskah. Peristiwa tersebut dijelaskan dalam beberapa bagian Alkitab, mulai dari Kisah Para Rasul 1:9-12 ketika Yesus terangkat ke surga di depan para murid-Nya, lalu Lukas 24:50-53 saat Yesus memberkati murid-muridnya sebelum naik ke surga, serta Markus 16:19 yang menjelaskan Yesus naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah. Sehingga peristiwa ini bagi umat kristiani tidak hanya dipahami sebagai kebangkitan Yesus saja, melainkan juga menjadi simbol pengorbanan Yesus atas dosa umat manusia dan kemenangan atas maut.
Dalam tradisi Kristen, Kenaikan Yesus Kristus selalu diperingati 40 hari setelah Hari Paskah atau perayaan kebangkitan Yesus Kristus. Karena Hari Paskah tahun 2026 jatuh pada 5 April, maka peringatan Kenaikan Yesus tahun ini berlangsung pada 14 Mei 2026. Momen ini biasanya diperingati melalui ibadah, doa bersama, hingga berbagai tradisi di sejumlah daerah dan negara. Namun di balik perayaan tersebut, terdapat nilai yang sebenarnya masih berkaitan dengan kehidupan manusia saat ini, yakni tentang pengorbanan, ketulusan, dan harapan di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan penuh tuntutan.
Sayangnya, manusia sering kali hidup dalam dunia yang terlalu sibuk untuk memahami makna pengorbanan itu sendiri. Banyak orang menikmati hasil dari sebuah perjuangan tanpa benar-benar melihat siapa yang telah rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan dirinya sendiri demi orang lain. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, pengorbanan hadir dalam bentuk yang sederhana dan diam-diam: orang tua yang bekerja tanpa mengeluh demi keluarga, seseorang yang menahan lelah agar orang lain tetap bahagia, hingga mereka yang terus bertahan hidup meski keadaan tidak selalu berpihak kepadanya.

Memaknai Pengorbanan dalam Kehidupan Manusia
Di tengah kehidupan saat ini, manusia perlahan hidup dalam dunia yang semakin sibuk mengejar dirinya sendiri. Banyak orang ingin dihargai, dipahami, dan dicintai, tetapi pada saat yang sama mulai kehilangan kepedulian terhadap sesamanya. Kehidupan modern membuat manusia terbiasa melihat hasil tanpa pernah benar-benar memikirkan proses dan pengorbanan yang ada di baliknya. Manusia menikmati kenyamanan, tetapi lupa bahwa sering kali ada seseorang yang harus menahan lelah agar kenyamanan itu tetap ada.
Ironisnya, pengorbanan justru sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa, bahkan terkadang dimanfaatkan oleh banyak orang. Ketulusan dipandang sebagai kelemahan, kebaikan dianggap dapat digunakan sesuka hati, dan orang yang terus mengalah justru sering menjadi pihak yang paling terluka. Tidak sedikit manusia yang hanya datang ketika membutuhkan bantuan, tetapi perlahan menghilang ketika harus belajar menghargai perjuangan orang lain, begitu pula dalam kehidupan sosial, manusia semakin mudah menuntut dipahami, tetapi semakin sulit memahami.

Peristiwa tersebut sebenarnya sudah sering kita lihat, bahkan kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, ketika banyak anak menikmati pendidikan dan kehidupan yang layak tanpa benar-benar memahami bagaimana orang tuanya bekerja keras setiap hari demi memenuhi kebutuhan mereka, sementara di luar sana masih banyak anak yang belum dapat hidup dengan layak karena kondisi sosial dan ekonomi. Di balik itu juga, ada orang tua yang menahan lelah, mengubur keinginannya sendiri, bahkan tetap bekerja saat sakit agar keluarganya tetap hidup dengan baik.
Lalu yang sangat disayangkan adalah mereka yang berbuat baik namun dimanfaatkan karena kebaikannya. Mereka dicari saat dibutuhkan, tetapi dilupakan ketika tidak lagi memberi manfaat. Kehidupan hari ini membuat manusia lebih mudah menghargai mereka yang pandai mencari perhatian dibanding mereka yang tulus membantu tanpa ingin dipuji.
Karena itu, peringatan Kenaikan Yesus Kristus hari ini seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai bagian dari perayaan umat Kristiani semata, tetapi juga sebagai refleksi bagi seluruh manusia tentang arti pengorbanan dalam kehidupan. Selama manusia masih lebih sibuk menuntut dibanding menghargai, lebih mudah memanfaatkan dibanding peduli, serta lebih tertarik pada pencitraan dibanding ketulusan, maka pengorbanan perlahan hanya akan dianggap sebagai ketulusan yang bisa dimanfaatkan.
Lalu di tengah kehidupan ini, apakah manusia masih benar-benar mampu menghargai ketulusan orang lain, atau justru hanya pandai memanfaatkannya? (*)
REFERENSI
Universitas Negeri Surabaya (UNESA). (n.d.). Kenaikan Isa Al-Masih: Sejarah, Tanggal Peringatan, dan Maknanya bagi Umat Kristen.
