Longsor, Alih Fungsi, dan Alami

5 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Ilustrasi bencana tanah longsor (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Ilustrasi bencana tanah longsor (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)

Saat menyaksikan video longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 02.30 WIB, yang beredar luas di media sosial, Aa Akil spontan berkomentar dengan nada getir,

“Bah, pasti banyak yang meninggal ya. Gara-gara pohon ditebang, hutan dan alam dirusak?”

Ku hanya mengangguk pelan. “Muhun A!”

Istri menimpali dengan lirih, “Biasanya karena alih fungsi lahan.”

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Sumber: Instagram @dedimulyadi71 | Foto: Istimewa)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Sumber: Instagram @dedimulyadi71 | Foto: Istimewa)

Alam Unjuk Kekuatan

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkap temuan alih fungsi lahan di lokasi bencana tanah longsor Kampung Pasir Kuning, RW 10 dan 11, Desa Pasirlangu. Area di sekitar longsor diketahui merupakan kebun sayuran yang dibuka hingga ke puncak bukit dan menggunakan plastik mulsa. “Faktornya sudah bisa kita lihat. Kebun sampai ke atas, pakai plastik. Ini jelas alih fungsi lahan,” ujarnya.

Pengamat tata kota, Yayat Supriatna, turut menegaskan alih fungsi lahan diduga kuat menjadi salah satu faktor utama penyebab longsor di Bandung Barat.

Kawasan lereng Gunung Burangrang yang dulunya ditanami vegetasi keras sebagai pengikat tanah, kini berubah menjadi kebun sayuran. Perubahan ini secara signifikan menurunkan kemampuan tanah dalam menahan air dan material.

Dari data yang diterima tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat di Posko Puskesmas Pasirlangu, tercatat 25 jasad korban telah ditemukan. Dari total 113 jiwa terdampak, 23 orang dinyatakan selamat, sementara 65 orang lainnya masih dalam pencarian.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan bantuan sebesar Rp10 juta per kepala keluarga untuk biaya kontrak rumah dan kebutuhan hidup, serta santunan Rp25 juta per kepala keluarga bagi korban meninggal dunia. Untuk sementara, warga yang selamat diminta mengontrak rumah selama dua bulan. (www.jabarprov.go.id; CNN Indonesia, Sabtu 24 Januari 2026; Antara, Sabtu 24 Januari 2026).

Skema mekanisme terbentuknya longsoran hingga aliran lumpur (mudflow) di Kampung Pasir Kuning hingga Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (Sumber: www.itb.ac.id | Foto: Istimewa)

Dari sisi keilmuan, pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Achmad Sadisun, menjelaskan peristiwa ini merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor alamiah dan aktivitas manusia. Longsor di bagian hulu memicu mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang bergerak mengikuti sistem aliran sungai.

Wilayah KBB berada pada produk vulkanik tua dengan lapisan pelapukan yang relatif tebal. Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang lebih kedap air kerap menjadi bidang gelincir. Kondisi ini semakin melemah akibat hujan berdurasi panjang yang menyebabkan tanah jenuh air.

Pemicu longsor tidak semata ditentukan oleh lamanya hujan, termasuk intensitasnya. Dalam ilmu kebumian dikenal hubungan erat antara durasi dan intensitas hujan. Pada saat hujan berintensitas sedang, tapi berlangsung lama bisa sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam waktu singkat.

Salah satu temuan penting adalah adanya longsoran di hulu sungai lereng selatan Gunung Burangrang yang menutup alur sungai dan membentuk bendungan alam (landslide dam). Air dan sedimen, lumpur, pasir, hingga bongkah batu, tertahan di bagian hulu. Ketika tekanan air melampaui daya tahan bendungan, jebol tak dapat dihindari dan terjadi, memicu aliran lumpur dahsyat ke hilir.

Aliran ini bukan sekadar air, melainkan lumpur bercampur material berat yang bergerak cepat dan memiliki daya rusak tinggi. Fenomena ini lebih tepat dikategorikan sebagai mudflow,  bahkan debris flow, yang menjelaskan kerusakan parah di sepanjang bantaran sungai meski wilayah itu jauh dari sumber longsor.

Imam mengingatkan potensi bahaya susulan. Indikasi sumbatan di hulu sungai masih ditemukan. Bila hujan lebat kembali turun, bendungan-bendungan alami itu berpotensi kembali jebol dan mengancam wilayah hilir.

Mekanisme aliran debris (debris flow) serta contoh penerapan struktur pengendali untuk mitigasi bahaya. (Sumber: www.itb.ac.id | Foto: Istimewa)

Pentingnya Vegetasi, Mitigasi

Kendati secara regional sebagian area terdampak berada pada zona kerentanan longsoran rendah hingga menengah, permukiman yang berada di sempadan sungai tetap memiliki risiko tinggi terhadap aliran lumpur dan debris dari hulu.

Di sinilah pentingnya vegetasi. Dengan memperkuat tanah melalui sistem perakaran, vegetasi sangat berperan secara hidrologis untuk memperlambat kejenuhan tanah oleh air hujan. Dalam menghadapi bahaya aliran lumpur dan debris, mitigasi perlu dilakukan melalui tiga pendekatan utama.

Pertama, stabilisasi lereng di bagian hulu sebagai sumber material longsor;  Kedua, pemantauan jalur aliran menggunakan teknologi seperti geofon, sensor getaran, dan kamera pemantau; Ketiga, perlindungan jalur aliran hingga hilir melalui pembangunan penghalang aliran, tanggul pengelak, pagar pemecah, cekungan penampung debris.

Mitigasi non-struktural tak kalah penting, terutama peningkatan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda alam. Salah satu indikator yang sering diabaikan itu menyusut (hilangnya) aliran sungai secara tiba-tiba saat hujan masih berlangsung, pertanda adanya sumbatan di hulu.

Pemahaman masyarakat tentang bahaya longsoran seharusnya tidak lagi terbatas pada runtuhnya lereng semata, justru mencakup risiko aliran lumpur dan debris yang datang tiba-tiba, tanpa tanda visual yang jelas di kawasan permukiman. (www.itb.ac.id)

Longsor, banjir, bencana dengan segala kerusakan alam dan lingkungan ini menjadi bukti nyata atas ulah lalim perbuatan manusia. Pasalnya, sikap serakah dan perilaku jahil yang tertanam dalam sanubari kita membuat alam murka sekaligus unjuk kekuatan. Betapa tidak, tibanya musim penghujan malah menjadi petaka yang tak bisa terelakan dikarenakan kita seriang alfa mensyukuri segala pemberian dan anugrah dari Tuhan ini.

Baca Juga: Bukan Sekadar Belajar Speaking: Pelajaran Resiliensi di Balik Dinding Kostan Pare

Kiranya, petuah Rasul tentang larangan kaum muslim untuk tidak buang air kecil di air yang tidak mengalir (kubangan) dan menjaga alam dengan cara menanam pohon. “Jika sebelum kiamat itu ada satu biji kurma saja ditangan kamu dan kamu bisa menanamnya, maka tanamhlah kurma itu” perlu direnungkan secara bersama-sama dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam mencipatakan keharomisan antara manusia dengan alam dan lingkungannya.

Mudah-mudahan dengan adanya musim penghujan menjadikan kita semakin bersahabat dengan alam, lingkungan, air, pepohonan sekaligus dapat meningkatkan religiusitas keberagamaan atas kehidupan, bukan malah menjadi petaka dan pudarnya kepercayaan kita terhadap alam ini.

Saat asyik membaca lembar demi lembar buku Islam dan Lingkungan: Perspektif Al-Quran Menyangkut Pemeliharaan Lingkungan karya M Quraish Shihab (2023) ini, tiba-tiba Anak ketiga, Kakang (4 tahun) memanggil “Bah Bacain cerita Nabi Nuh ya!” Cag Ah!  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)