Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Perilaku Gen Z, Sosial Media, dan Fokus yang Terganggu

Nathanael Austin Sanjaya
Ditulis oleh Nathanael Austin Sanjaya diterbitkan Senin 26 Jan 2026, 08:51 WIB
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Dalam era digital ini perkembangan teknologi sangatlah pesat. hal ini menimbulkan revolusi digital dalam sosial media yang sangat berdampak bagi para penggunanya terutama para generasi muda. Lantas apa itu revolusi digital? Revolusi Digital (juga dikenal sebagai Revolusi Industri Ketiga) adalah pergeseran sejarah besar-besaran di mana teknologi mekanik dan analog digantikan oleh elektronika digital.

Mengutip dari data yang diambil oleh We Are Social & Meltwater dalam artikel yang berjudul Digital 2025: Indonesia. Penggunaan sosial media sehari-hari di Indonesia ada di angka 3 jam 8 menit yang dimana merupakan angka yang cukup tinggi apabila dibandingkan dengan negara lain. Data yang diambil oleh Universitas Siber Asia juga menunjukkan hal yang serupa dimana penggunaan sosial media di tahun 2024 mencapai 3 jam 18 menit dan 7 jam 42 menit untuk durasi penggunaan internet.

Hal tersebut sangat jauh diatas dari negara-negara lain contohnya kita lihat saja Singapura mengutip dari meltwater/reportal penduduk singapura hanya menghabiskan 2 jam 2 menit dalam sosial media di kehidupan sehari-hari

Walau sosial media memberikan dampak yang sangat positif bagi masyarakat, hal tersebut juga menimbulkan sebuah kekhawatiran baru, kekhawatiran tersebut timbul karena adanya efek samping yang masyarakat rasakan terutama para generasi muda sebagai pengguna sosial media terbanyak. Salah satu efek samping yang sangat memengaruhi banyak orang adalah karena adanya efek “Dopamine Rush” yang menciptakan sebuah adiksi baru yang menyebar di masyarakat.

Fenomena ini menjadi sebuah fenomena yang baru terjadi di abad ke-21 hal ini juga didorong karena terjadinya pandemi yang memaksakan masyarakat untuk merubah gaya hidup dengan digitalisasi secara marak, yang salah satunya bisa dilihat dari sistem pendidikan yang berubah menjadi sistem pendidikan yang diadakan secara daring. Hal ini meningkatkan intensitas penggunaan sosial media terutama di kalangan para generasi muda yang menggunakannya untuk keperluan pendidikan.

Algoritma Sebagai Pengatur Sosial Media

Sosial media juga memiliki algoritma. Apa itu algoritma? secara sederhana algoritma merupakan serangkaian matematis dan instruksi logis yang digunakan oleh semua platform sosial media. Fungsi dari algoritma sendiri adalah untuk memilih miliaran konten yang tersebar di sosial media dan memutuskan konten mana yang akan ditampilkan ke para penggunanya, yang sudah disesuaikan dengan minat dan kesenangan masing-masing para pengguna sosial media. Algoritma menyebabkan personalisasi konten untuk masing-masing orang, hal ini memang terdengar positif namun disisi lain juga memiliki sebuah efek samping yang cukup membahayakan terutama bagi para generasi muda yang masih mudah dipengaruhi oleh hal-hal eksternal.

Algoritma yang menyesuaikan konten di sosial terhadap sosial media dapat menyebabkan efek adiksi. Efek adiksi yang ditimbulkan dapat membuat para generasi muda menjadi kecanduan dan tak hanya itu melainkan juga memengaruhi perilaku lainnya terutama dalam kehidupan sehari-hari. Contoh-contoh dari efek samping yang dihasilkan dari adiksi sosial media adalah prokrastinasi, dan dopamine rush.

Lantas apa itu efek Dopamine Rush? Dopamine Rush adalah momen ketika otak kita tiba-tiba melepaskan gelombang besar neurotransmitter bernama Dopamin. Ini adalah bagian terpenting dari apa yang kita sebut sebagai Sistem Hadiah di kepala kita.Dopamin ini sering disalah artikan sebagai zat 'senang' atau 'bahagia', hal tersebut tak sepenuhnya salah namun juga tidak sepenuhnya benar.

Menurut penelitian seperti yang dilakukan National Institute of Health (NIH), Dopamin punya peran sentral dalam mengatur gerakan, emosi, dan yang paling utama, motivasi kita. Lalu bagaimana cara kerja dari dopamine rush ini? Saat kita mengantisipasi atau menerima sesuatu yang dianggap sebagai 'hadiah' oleh otak seperti memakan makanan yang enak, atau bahkan suara notifikasi dari media sosial Dopamin mulai diproduksi di area yang bernama Ventral Tegmental Area (VTA).

Dari sana, Dopamin ini dilepaskan ke Nucleus Accumbens, yang sering dijuluki sebagai 'pusat kesenangan' otak.Pelepasan Dopamin inilah yang punya efek krusial dia secara efektif "memberi tanda" pada perilaku yang baru saja kita lakukan sebagai sesuatu yang sangat penting dan harus diulang.Masalahnya, aktivitas yang memberikan kesenangan instan seperti scrolling di media sosial atau, pada kasus ekstrim, penggunaan zat adiktif bisa 'membajak' sistem alami ini.

Institusi seperti Johns Hopkins Medicine sering menjelaskan bahwa hal-hal tersebut menghasilkan lonjakan Dopamin yang jauh lebih besar dari seharusnya. Lonjakan yang luar biasa besar ini akhirnya memperkuat siklus perilaku itu secara berlebihan, dan inilah yang memicu risiko kecanduan.

Perilaku Akademik yang Dipengaruhi Sosial Media

Setelah kita mengetahui efek samping sosial media yang salah satunya adalah dopamine rush, sekarang mari kita lihat bagaimana efek sampingnya terhadap kegiatan akademik dari para generasi muda. Efek dopamine rush yang dipicu oleh notifikasi dan konten yang dibuat sangat personal di media sosial ternyata punya konsekuensi yang lumayan mengganggu, terutama buat perilaku akademik anak muda.Seharusnya, sistem hadiah itu bekerja untuk memotivasi perilaku jangka panjang. Contohnya, ketika kita belajar giat berjam-jam, otak tahu nanti ada hadiah besar: nilai bagus, pujian, dan peluang masa depan yang lebih baik. Proses ini butuh kesabaran dan usaha.

Namun, media sosial menawarkan hadiah instan dan mudah. Setiap notifikasi, setiap like, atau setiap video lucu yang muncul adalah suntikan Dopamin kecil yang terjadi sekarang juga, tanpa perlu usaha keras.Ketika otak terbiasa menerima lonjakan Dopamin yang luar biasa cepat dan mudah dari ponsel, dia akan kehilangan minat pada hadiah yang datangnya lama, seperti nilai ujian. Otak jadi kurang termotivasi untuk melakukan pekerjaan yang susah dan membosankan, seperti belajar atau membaca buku tebal. Akhirnya, fokus dan motivasi jangka panjang untuk hal-hal serius seperti pendidikan jadi tumpul.

Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Hal ini secara jangka panjang akan merusak etos belajar dari para generasi muda bahkan sudah terjadi banyak kasus yang menyebutkan bahwa generasi muda menjadi menyimpang dari apa yang diajarkan. Kasus yang baru baru saja terjadi juga bisa diambil menjadi contoh yang dimana kasus tersebut mengenai ledakan bom di SMAN 72 Jakarta, ketua dari KPAI Margaret Aliyatul Maimunah berkata bahwa ada kemungkinan bahwa motif dari ledakan bom yang terjadi di SMAN 72 Jakarta merupakan akibat pengaruh dari konten di sosial media

Kelebihan dari Sosial Media

Setelah memaparkan kekurangan yang diakibatkan dari sosial media, tak adil rasanya apabila kita hanya berfokus pada kekurangan yang terjadi, namun kita juga harus melihat sisi positifnya juga. Sisi positif yang memang juga dapat dirasakan bagi generasi muda adalah bahwa perkembangan sosial media membuat banyak orang yang terhalang tempat dan waktu untuk mampu mengikuti kegiatan pembelajaran. Contoh paling nyata adalah di saat pandemi dimana tingkat pembelajaran daring mencapai 97,6% dikutip dari data yang dikeluarkan oleh Kemendikbud Ristek pada tahun 2021.

Bukan hanya pembelajaran secara daring namun juga hingga saat ini sudah banyak sekali institusi pendidikan yang menggunakan platform online untuk membagikan materi dari pembelajaran yang terjadi. Contoh platform yang lazim adalah Google Classroom, dikutip dari data yang dikeluarkan oleh Laporan Analisis Kesiapan Digital Guru (Survei Lembaga Pendidikan) menyatakan bahwa sudah ada 85% guru yang telah mengadopsi sistem tersebut. Bisa kita lihat bahwa sosial media jika digunakan dengan bijak dapat menjadi sebuah hal yang membawa manfaat positif bagi kita semua.

Baca Juga: Mencintai Kota seperti Kekasih: Kota Bandung, Konferensi Asia Afrika, dan Tanggung Jawab Kita

Jadi kesimpulan yang dapat kita ambil dari pengaruh sosial media terhadap Gen Z adalah bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya memengaruhi secara negatif. Sosial media tidak hanya memiliki efek negatif namun juga memiliki efek yang positif apabila digunakan secara bijak, memang kesan sosial media terhadap generasi muda terkesan negatif, namun dengan revolusi digital juga dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Tak dapat dipungkiri salah satu efek negatif dari sosial media adalah dopamine rush yang membuat para generasi muda menjadi kecanduan dan memengaruhi perilaku keseharian hingga ke perilaku akademik, namun kita harus melihat juga dari sisi positif dimana sosial media mampu memberikan akses pendidikan bagi mereka yang terhalang tempat dan waktu.

Oleh sebab itu, marilah kita para Generasi z memanfaatkan sosial media sebaik mungkin demi mengembangkan pribadi kita dan menghindari penyalahgunaan sosial media. Sekian yang penulis ingin sampaikan, mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penyusunan kata dan terima kasih. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nathanael Austin Sanjaya
Saya adalah seorang mahasiswa hukum dari Universitas Katolik Parahyangan angkatan 2025 yang ingin mencoba mempublikasikan esai akademis saya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)