Perilaku Gen Z, Sosial Media, dan Fokus yang Terganggu

6 menit baca
Nathanael Austin Sanjaya
Ditulis oleh Nathanael Austin Sanjaya diterbitkan
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Dalam era digital ini perkembangan teknologi sangatlah pesat. hal ini menimbulkan revolusi digital dalam sosial media yang sangat berdampak bagi para penggunanya terutama para generasi muda. Lantas apa itu revolusi digital? Revolusi Digital (juga dikenal sebagai Revolusi Industri Ketiga) adalah pergeseran sejarah besar-besaran di mana teknologi mekanik dan analog digantikan oleh elektronika digital.

Mengutip dari data yang diambil oleh We Are Social & Meltwater dalam artikel yang berjudul Digital 2025: Indonesia. Penggunaan sosial media sehari-hari di Indonesia ada di angka 3 jam 8 menit yang dimana merupakan angka yang cukup tinggi apabila dibandingkan dengan negara lain. Data yang diambil oleh Universitas Siber Asia juga menunjukkan hal yang serupa dimana penggunaan sosial media di tahun 2024 mencapai 3 jam 18 menit dan 7 jam 42 menit untuk durasi penggunaan internet.

Hal tersebut sangat jauh diatas dari negara-negara lain contohnya kita lihat saja Singapura mengutip dari meltwater/reportal penduduk singapura hanya menghabiskan 2 jam 2 menit dalam sosial media di kehidupan sehari-hari

Walau sosial media memberikan dampak yang sangat positif bagi masyarakat, hal tersebut juga menimbulkan sebuah kekhawatiran baru, kekhawatiran tersebut timbul karena adanya efek samping yang masyarakat rasakan terutama para generasi muda sebagai pengguna sosial media terbanyak. Salah satu efek samping yang sangat memengaruhi banyak orang adalah karena adanya efek “Dopamine Rush” yang menciptakan sebuah adiksi baru yang menyebar di masyarakat.

Fenomena ini menjadi sebuah fenomena yang baru terjadi di abad ke-21 hal ini juga didorong karena terjadinya pandemi yang memaksakan masyarakat untuk merubah gaya hidup dengan digitalisasi secara marak, yang salah satunya bisa dilihat dari sistem pendidikan yang berubah menjadi sistem pendidikan yang diadakan secara daring. Hal ini meningkatkan intensitas penggunaan sosial media terutama di kalangan para generasi muda yang menggunakannya untuk keperluan pendidikan.

Algoritma Sebagai Pengatur Sosial Media

Sosial media juga memiliki algoritma. Apa itu algoritma? secara sederhana algoritma merupakan serangkaian matematis dan instruksi logis yang digunakan oleh semua platform sosial media. Fungsi dari algoritma sendiri adalah untuk memilih miliaran konten yang tersebar di sosial media dan memutuskan konten mana yang akan ditampilkan ke para penggunanya, yang sudah disesuaikan dengan minat dan kesenangan masing-masing para pengguna sosial media. Algoritma menyebabkan personalisasi konten untuk masing-masing orang, hal ini memang terdengar positif namun disisi lain juga memiliki sebuah efek samping yang cukup membahayakan terutama bagi para generasi muda yang masih mudah dipengaruhi oleh hal-hal eksternal.

Algoritma yang menyesuaikan konten di sosial terhadap sosial media dapat menyebabkan efek adiksi. Efek adiksi yang ditimbulkan dapat membuat para generasi muda menjadi kecanduan dan tak hanya itu melainkan juga memengaruhi perilaku lainnya terutama dalam kehidupan sehari-hari. Contoh-contoh dari efek samping yang dihasilkan dari adiksi sosial media adalah prokrastinasi, dan dopamine rush.

Lantas apa itu efek Dopamine Rush? Dopamine Rush adalah momen ketika otak kita tiba-tiba melepaskan gelombang besar neurotransmitter bernama Dopamin. Ini adalah bagian terpenting dari apa yang kita sebut sebagai Sistem Hadiah di kepala kita.Dopamin ini sering disalah artikan sebagai zat 'senang' atau 'bahagia', hal tersebut tak sepenuhnya salah namun juga tidak sepenuhnya benar.

Menurut penelitian seperti yang dilakukan National Institute of Health (NIH), Dopamin punya peran sentral dalam mengatur gerakan, emosi, dan yang paling utama, motivasi kita. Lalu bagaimana cara kerja dari dopamine rush ini? Saat kita mengantisipasi atau menerima sesuatu yang dianggap sebagai 'hadiah' oleh otak seperti memakan makanan yang enak, atau bahkan suara notifikasi dari media sosial Dopamin mulai diproduksi di area yang bernama Ventral Tegmental Area (VTA).

Dari sana, Dopamin ini dilepaskan ke Nucleus Accumbens, yang sering dijuluki sebagai 'pusat kesenangan' otak.Pelepasan Dopamin inilah yang punya efek krusial dia secara efektif "memberi tanda" pada perilaku yang baru saja kita lakukan sebagai sesuatu yang sangat penting dan harus diulang.Masalahnya, aktivitas yang memberikan kesenangan instan seperti scrolling di media sosial atau, pada kasus ekstrim, penggunaan zat adiktif bisa 'membajak' sistem alami ini.

Institusi seperti Johns Hopkins Medicine sering menjelaskan bahwa hal-hal tersebut menghasilkan lonjakan Dopamin yang jauh lebih besar dari seharusnya. Lonjakan yang luar biasa besar ini akhirnya memperkuat siklus perilaku itu secara berlebihan, dan inilah yang memicu risiko kecanduan.

Perilaku Akademik yang Dipengaruhi Sosial Media

Setelah kita mengetahui efek samping sosial media yang salah satunya adalah dopamine rush, sekarang mari kita lihat bagaimana efek sampingnya terhadap kegiatan akademik dari para generasi muda. Efek dopamine rush yang dipicu oleh notifikasi dan konten yang dibuat sangat personal di media sosial ternyata punya konsekuensi yang lumayan mengganggu, terutama buat perilaku akademik anak muda.Seharusnya, sistem hadiah itu bekerja untuk memotivasi perilaku jangka panjang. Contohnya, ketika kita belajar giat berjam-jam, otak tahu nanti ada hadiah besar: nilai bagus, pujian, dan peluang masa depan yang lebih baik. Proses ini butuh kesabaran dan usaha.

Namun, media sosial menawarkan hadiah instan dan mudah. Setiap notifikasi, setiap like, atau setiap video lucu yang muncul adalah suntikan Dopamin kecil yang terjadi sekarang juga, tanpa perlu usaha keras.Ketika otak terbiasa menerima lonjakan Dopamin yang luar biasa cepat dan mudah dari ponsel, dia akan kehilangan minat pada hadiah yang datangnya lama, seperti nilai ujian. Otak jadi kurang termotivasi untuk melakukan pekerjaan yang susah dan membosankan, seperti belajar atau membaca buku tebal. Akhirnya, fokus dan motivasi jangka panjang untuk hal-hal serius seperti pendidikan jadi tumpul.

Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Hal ini secara jangka panjang akan merusak etos belajar dari para generasi muda bahkan sudah terjadi banyak kasus yang menyebutkan bahwa generasi muda menjadi menyimpang dari apa yang diajarkan. Kasus yang baru baru saja terjadi juga bisa diambil menjadi contoh yang dimana kasus tersebut mengenai ledakan bom di SMAN 72 Jakarta, ketua dari KPAI Margaret Aliyatul Maimunah berkata bahwa ada kemungkinan bahwa motif dari ledakan bom yang terjadi di SMAN 72 Jakarta merupakan akibat pengaruh dari konten di sosial media

Kelebihan dari Sosial Media

Setelah memaparkan kekurangan yang diakibatkan dari sosial media, tak adil rasanya apabila kita hanya berfokus pada kekurangan yang terjadi, namun kita juga harus melihat sisi positifnya juga. Sisi positif yang memang juga dapat dirasakan bagi generasi muda adalah bahwa perkembangan sosial media membuat banyak orang yang terhalang tempat dan waktu untuk mampu mengikuti kegiatan pembelajaran. Contoh paling nyata adalah di saat pandemi dimana tingkat pembelajaran daring mencapai 97,6% dikutip dari data yang dikeluarkan oleh Kemendikbud Ristek pada tahun 2021.

Bukan hanya pembelajaran secara daring namun juga hingga saat ini sudah banyak sekali institusi pendidikan yang menggunakan platform online untuk membagikan materi dari pembelajaran yang terjadi. Contoh platform yang lazim adalah Google Classroom, dikutip dari data yang dikeluarkan oleh Laporan Analisis Kesiapan Digital Guru (Survei Lembaga Pendidikan) menyatakan bahwa sudah ada 85% guru yang telah mengadopsi sistem tersebut. Bisa kita lihat bahwa sosial media jika digunakan dengan bijak dapat menjadi sebuah hal yang membawa manfaat positif bagi kita semua.

Baca Juga: Mencintai Kota seperti Kekasih: Kota Bandung, Konferensi Asia Afrika, dan Tanggung Jawab Kita

Jadi kesimpulan yang dapat kita ambil dari pengaruh sosial media terhadap Gen Z adalah bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya memengaruhi secara negatif. Sosial media tidak hanya memiliki efek negatif namun juga memiliki efek yang positif apabila digunakan secara bijak, memang kesan sosial media terhadap generasi muda terkesan negatif, namun dengan revolusi digital juga dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Tak dapat dipungkiri salah satu efek negatif dari sosial media adalah dopamine rush yang membuat para generasi muda menjadi kecanduan dan memengaruhi perilaku keseharian hingga ke perilaku akademik, namun kita harus melihat juga dari sisi positif dimana sosial media mampu memberikan akses pendidikan bagi mereka yang terhalang tempat dan waktu.

Oleh sebab itu, marilah kita para Generasi z memanfaatkan sosial media sebaik mungkin demi mengembangkan pribadi kita dan menghindari penyalahgunaan sosial media. Sekian yang penulis ingin sampaikan, mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penyusunan kata dan terima kasih. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)