Juliana, Media Sosial, dan ‘Netizenship’

4 menit baca
Prof. Dr. Moch Fakhruroji
Ditulis oleh Prof. Dr. Moch Fakhruroji diterbitkan
Juliana Marins (26) merupakan turis asal Brazil yang tewas di Rinjani. (Sumber: Instagram/juliana marins)
Juliana Marins (26) merupakan turis asal Brazil yang tewas di Rinjani. (Sumber: Instagram/juliana marins)

Belakangan ini, tragedi Juliana Marins di Rinjani memenuhi linimasa media sosial dan segera menjadi trending topic, terutama di kalangan netizen Indonesia dan Brazil.

Sebagaimana diberitakan, Juliana (26) yang merupakan seorang turis asal Brazil tewas setelah tergelicir saat melakukan pendakian bersama enam rekannya dan seorang pemandu.

Ia diberitakan terjatuh di “jalur neraka” Torean di Gunung Rinjani, salah satu gunung paling ekstrim di Indonesia. Jalur dan cuaca ekstrim menjadi kontra-narasi pemerintah Indonesia yang dituding lambat dalam melakukan penyelamatan hingga Juliana tidak dapat diselamatkan. Bahkan pemerintah Brazil hendak menempuh jalur hukum untuk kasus ini.

Sebagaimana dilansir sejumlah media mainstream, salah satu kritik dan kekecewaan diekspresikan oleh pihak keluarga Juliana terutama terkait prosedur standar yang diterapkan pemerintah Indonesia di kawasan wisata.

Namun mereka juga lupa bahwa langkah penyelamatan juga telah dilakukan sejak awal namun terkendala medan dan cuaca ekstrim. Terlebih lagi, secara bersamaan, gelombang dukungan netizen Brazil berubah menjadi tekanan bagi pemerintah mereka untuk segera menyatakan sikap tegas terhadap Indonesia.

Dalam hal ini, netizen telah menjadi salah satu faktor determinan yang membuat tragedi ini bahkan dapat berdampak pada hubungan diplomasi kedua negara.

Hari ini, netizen mungkin telah berkontribusi besar dalam setiap keputusan politik di beberapa negara dan tidak lagi semata pengguna internet. Michael F. Hauben, sosok dibalik lahirnya istilah ini, menguraikan bahwa netizen merupakan pengguna internet yang berkontribusi aktif pada perkembangan internet dan sekaligus bertindak sebagai warga internet dan dunia.

Oleh karenanya, menarik diamati bagaimana netizen kedua negara kini seolah tengah terlibat dalam perang narasi. Netizen Brazil ramai-ramai “menyerang” akun resmi pemerintah Indonesia dengan mengkritik lambatnya proses penyelamatan Juliana diikuti dengan menggalang aktivisme untuk memboikot Gunung Rinjani sebagai destinasi wisata yang dinarasikan tidak aman bagi pengunjung. 

Menghadapi narasi ini, netizen Indonesia pun menyerang balik. Diantara beberapa narasi ini misalnya, sosok Juliana bukanlah seorang pendaki namun turis tanpa skill yang dibutuhkan untuk melakukan pendakian di medan beresiko tinggi.

Kemudian, sebagai kontra-narasi lambatnya proses penyelamatan, sejumlah video di media sosial memperlihatkan bahwa langkah penyelamatan telah dilakukan sejak pertama kali diketahui namun beberapa kali ditunda karena keterbatasan alat dan medan yang ekstrim.

Lebih jauh, mereka bahkan memberikan ulasan negatif terhadap Sungai Amazon di Brazil yang justru lebih mematikan dan lebih berbahaya ketimbang Gunung Rinjani, dan tentu saja, sangat tidak direkomendasikan untuk dikunjungi.

Perang narasi memang sesuatu yang tidak dapat dihindarkan di media sosial. Terlebih, Brazil dan Indonesia merupakan dua negara dengan jumlah pengguna media sosial, terutama Instagram tertinggi ketiga dan keempat di dunia setelah India dan Amerika Serikat.

Dilansir Statistica.com pada tahun 2024, jumlah pengguna Instagram sebanyak 134.6 juta sementara Indonesia sebanyak 100.9 juta pengguna. Boleh jadi, urutan ini juga mencerminkan karakteristik netizen yang serupa. Jadi, tentu tidak terlalu mengherankan jika perseteruan netizen kedua negara ini semakin memuncak. 

Juliana Marins (26) merupakan turis asal Brazil yang tewas di Rinjani. (Sumber: Instagram/juliana marins)
Juliana Marins (26) merupakan turis asal Brazil yang tewas di Rinjani. (Sumber: Instagram/juliana marins)

Secara teori, ragam narasi yang muncul sebagai buntut dari “Tragedi Juliana” ini juga merupakan gambaran dari “participatory culture” atau budaya partisipatif dimana setiap pengguna dapat mengekspresikan pikiran dan pandangannya atas sesuatu yang pada titik tertentu, boleh jadi sama sekali tidak relevan.

Tidak hanya itu, meskipun media sosial sering memperlihatkan efektivitas perannya sebagai ruang publik, namun yang menjadi pertanyaan adalah, sejauhmana setiap pandangan tersebut benar-benar merupakan bagian dari kepentingan publik?

Pada titik ini, fakta tentang keterlambatan penyelamatan korban mungkin dapat dipandang sebagai bagian dari kepentingan publik sehingga pemerintah Indonesia perlu berbenah dan memastikan prosedur standar terutama di kawasan wisata alam ekstrim, tidak hanya di Rinjani.

Namun sebagaimana diungkapkan Zizi Papacharissi, tidak semua pandangan di media sosial menggambarkan kepentingan publik. Sebab, ruang digital memungkinkan terjadinya peleburan antara “publicness” dan “privateness.”

Di jagat media sosial, kita tidak pernah benar-benar tahu batasan antara ekspresi yang merupakan kepentingan pribadi dan kepentingan publik.

Perwujudan netizenship, sebagai idealisasi dari realitas netizen di ranah digital, akan sangat tergantung pada literasi informasi yang dimiliki sehingga mampu benar-benar berpartisipasi dan berkontribusi positif dalam mewujudkan interaksi digital yang lebih sehat dan santun. (*)

Baca Juga: 10 Tulisan Terbaik AYO NETIZEN Juni 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta

Moch Fakhruroji adalah Direktur dan pendiri Center for Digital Culture and Society (CDiCS), sebuah pusat studi yang menaruh perhatian pada fenomena budaya digital dan dampaknya pada kehidupan sosial masyarakat kontemporer beserta seluruh kecenderungannya. Selain itu, beliau merupakan Guru Besar dalam bidang New Media and Communication Studies pada Program Studi Ilmu Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan sebagai dosen tidak tetap di beberapa kampus lain. Sebagai akademisi, ia memiliki minat pada; budaya digital, budaya populer, religious studies, dan new media and communication studies. Sejumlah karyanya tersebar dalam bentuk buku, artikel jurnal, book chapter, dan monograf.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)