Normalisasi Sungai Mandiri: Kepemimpinan RT/RW Menjawab Tantangan Banjir

3 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
Ketua RT 02 dan warga membersihkan tumbuhan liar dan semak semak di aliran sungai. (Foto: Jumali indrayanto)
Ketua RT 02 dan warga membersihkan tumbuhan liar dan semak semak di aliran sungai. (Foto: Jumali indrayanto)

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan akan memfokuskan program penanganan banjir di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya mulai tahun 2026. Penanganan ini membutuhkan modal besar dan kerja lintas sektor, mencakup normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, pembenahan tata ruang, rehabilitasi kawasan pegunungan, hingga upaya menghidupkan kembali danau-danau alami yang kini telah berubah menjadi kawasan permukiman.

Penanganan banjir memang harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan, dimulai dari kawasan hulu. Karena keterbatasan anggaran dan skala pekerjaan yang sangat besar, penentuan daerah prioritas tentu memerlukan perencanaan yang matang dan bertahap.

Kabupaten Bandung termasuk wilayah yang hampir setiap musim penghujan mengalami banjir di sejumlah titik. Curah hujan tinggi yang turun secara terus-menerus kerap memicu luapan air. Kondisi ini tidak terlepas dari alih fungsi lahan di daerah hulu, seperti Ciwidey dan Pangalengan, dari perkebunan menjadi lahan sayuran, serta berkembangnya perumahan di kawasan resapan air dan dataran tinggi. Minimnya vegetasi penahan air menyebabkan erosi, sedimentasi, dan penyempitan aliran sungai ketika hujan turun.

Namun banjir tidak selalu disebabkan oleh sungai besar. Di banyak kampung dan kawasan permukiman, genangan justru berasal dari sungai kecil, selokan, dan anak sungai yang dangkal, menyempit, serta tersumbat sampah. Sementara itu, pemerintah secara realistis lebih memprioritaskan sungai-sungai besar karena dampak luapannya bisa meluas dan menimbulkan kerugian sosial-ekonomi yang besar. Akibatnya, sungai kecil di lingkungan warga sering kali luput dari penanganan rutin.

Kondisi ini seharusnya tidak membuat warga bersikap pasrah. Justru di sinilah pentingnya peran masyarakat, terutama kepemimpinan RT dan RW sebagai pemimpin terdekat warga. Normalisasi sungai skala lingkungan dapat dilakukan secara mandiri, relatif murah, dan berkelanjutan apabila dikelola dengan kesadaran kolektif dan kepemimpinan yang aktif.

Sungai Cikasungka yang melintasi Perumahan Parahyangan Kencana merupakan salah satu contoh sungai kecil yang bermuara ke Sungai Citarum dan memiliki hulu di kawasan Pangalengan. Saat musim hujan dengan intensitas tinggi, sungai ini kerap meluap dan menggenangi beberapa rumah warga yang posisinya lebih rendah dari permukiman sekitarnya.

Excavator mengeruk sedimen tanah di sungai Cikasungka. (Sumber: Dokumen ketua RT 03 | Foto: Dadang S. Faruq)
Excavator mengeruk sedimen tanah di sungai Cikasungka. (Sumber: Dokumen ketua RT 03 | Foto: Dadang S. Faruq)

Upaya normalisasi sederhana sebenarnya dapat dilakukan oleh warga, seperti memangkas semak dan tanaman liar yang menghambat aliran air, membersihkan sampah, mengangkat sedimen tanah secara rutin, serta menjaga lebar dan kedalaman aliran agar debit air tetap lancar saat hujan deras. Untuk kondisi tertentu, penggunaan alat berat seperti excavator ukuran sedang dapat membantu pengerukan endapan tanah, selama akses menuju sungai memungkinkan dan tidak mengganggu lingkungan sekitar.

Pengalaman warga RW 03 menjadi contoh nyata bagaimana kepemimpinan lingkungan mampu menggerakkan solusi konkret. Pada awal Desember, pasca banjir akibat luapan Sungai Cikasungka, warga bergotong royong membersihkan aliran sungai dari sampah dan semak. Atas inisiatif pengurus RT dan hasil musyawarah warga, disepakati untuk menyewa alat berat yang kebetulan sedang mengerjakan proyek tidak jauh dari lokasi.

Dalam waktu beberapa jam, endapan tanah berhasil dikeruk dan dipindahkan ke area kosong di bantaran sungai. Hasilnya, aliran air menjadi lebih lancar dan kedalaman sungai bertambah. Kendati alat berat hanya dapat menjangkau wilayah RT 03 karena keterbatasan akses jalan dan lebar sungai di RT 02 dan RT 04, upaya manual tetap dilanjutkan oleh warga. Inisiatif ini patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab bersama.

Baca Juga: Lisa Blackpink di Bandung Barat: Antara Gengsi Global dan Ujian Tatakrama Kita

Dari pengalaman tersebut terlihat bahwa kepemimpinan RT dan RW tidak sebatas urusan administrasi. Mereka berperan sebagai penggerak, komunikator, sekaligus teladan di lapangan. Ketika pemimpin lingkungan hadir, membangun musyawarah, dan berani mengambil keputusan, partisipasi warga tumbuh secara alami.

Jika pemerintah provinsi memiliki resolusi besar dalam mengurangi banjir di Bandung Raya, maka warga pun memiliki resolusi menjaga lingkungan agar tetap bersih, tertata, dan nyaman. Sampah tidak berserakan, saluran air terawat, dan genangan dapat diminimalkan meski hujan turun dengan intensitas tinggi.

Pada akhirnya, keberhasilan pengendalian banjir tidak hanya bertumpu pada proyek besar pemerintah, tetapi juga pada kekuatan kepemimpinan lokal dan partisipasi aktif masyarakat. Dari ketua RT dan RW hingga gubernur, semua memiliki peran strategis. Ketika kepemimpinan berjalan berlapis dan saling menguatkan, ketahanan lingkungan bukan lagi sekadar wacana, melainkan menjadi gerakan nyata dari tingkat paling dekat dengan kehidupan warga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)