Normalisasi Sungai Mandiri: Kepemimpinan RT/RW Menjawab Tantangan Banjir

3 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan Jumat 23 Jan 2026, 22:10 WIB
Ketua RT 02 dan warga membersihkan tumbuhan liar dan semak semak di aliran sungai. (Foto: Jumali indrayanto)

Ketua RT 02 dan warga membersihkan tumbuhan liar dan semak semak di aliran sungai. (Foto: Jumali indrayanto)

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan akan memfokuskan program penanganan banjir di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya mulai tahun 2026. Penanganan ini membutuhkan modal besar dan kerja lintas sektor, mencakup normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, pembenahan tata ruang, rehabilitasi kawasan pegunungan, hingga upaya menghidupkan kembali danau-danau alami yang kini telah berubah menjadi kawasan permukiman.

Penanganan banjir memang harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan, dimulai dari kawasan hulu. Karena keterbatasan anggaran dan skala pekerjaan yang sangat besar, penentuan daerah prioritas tentu memerlukan perencanaan yang matang dan bertahap.

Kabupaten Bandung termasuk wilayah yang hampir setiap musim penghujan mengalami banjir di sejumlah titik. Curah hujan tinggi yang turun secara terus-menerus kerap memicu luapan air. Kondisi ini tidak terlepas dari alih fungsi lahan di daerah hulu, seperti Ciwidey dan Pangalengan, dari perkebunan menjadi lahan sayuran, serta berkembangnya perumahan di kawasan resapan air dan dataran tinggi. Minimnya vegetasi penahan air menyebabkan erosi, sedimentasi, dan penyempitan aliran sungai ketika hujan turun.

Namun banjir tidak selalu disebabkan oleh sungai besar. Di banyak kampung dan kawasan permukiman, genangan justru berasal dari sungai kecil, selokan, dan anak sungai yang dangkal, menyempit, serta tersumbat sampah. Sementara itu, pemerintah secara realistis lebih memprioritaskan sungai-sungai besar karena dampak luapannya bisa meluas dan menimbulkan kerugian sosial-ekonomi yang besar. Akibatnya, sungai kecil di lingkungan warga sering kali luput dari penanganan rutin.

Kondisi ini seharusnya tidak membuat warga bersikap pasrah. Justru di sinilah pentingnya peran masyarakat, terutama kepemimpinan RT dan RW sebagai pemimpin terdekat warga. Normalisasi sungai skala lingkungan dapat dilakukan secara mandiri, relatif murah, dan berkelanjutan apabila dikelola dengan kesadaran kolektif dan kepemimpinan yang aktif.

Sungai Cikasungka yang melintasi Perumahan Parahyangan Kencana merupakan salah satu contoh sungai kecil yang bermuara ke Sungai Citarum dan memiliki hulu di kawasan Pangalengan. Saat musim hujan dengan intensitas tinggi, sungai ini kerap meluap dan menggenangi beberapa rumah warga yang posisinya lebih rendah dari permukiman sekitarnya.

Excavator mengeruk sedimen tanah di sungai Cikasungka. (Sumber: Dokumen ketua RT 03 | Foto: Dadang S. Faruq)
Excavator mengeruk sedimen tanah di sungai Cikasungka. (Sumber: Dokumen ketua RT 03 | Foto: Dadang S. Faruq)

Upaya normalisasi sederhana sebenarnya dapat dilakukan oleh warga, seperti memangkas semak dan tanaman liar yang menghambat aliran air, membersihkan sampah, mengangkat sedimen tanah secara rutin, serta menjaga lebar dan kedalaman aliran agar debit air tetap lancar saat hujan deras. Untuk kondisi tertentu, penggunaan alat berat seperti excavator ukuran sedang dapat membantu pengerukan endapan tanah, selama akses menuju sungai memungkinkan dan tidak mengganggu lingkungan sekitar.

Pengalaman warga RW 03 menjadi contoh nyata bagaimana kepemimpinan lingkungan mampu menggerakkan solusi konkret. Pada awal Desember, pasca banjir akibat luapan Sungai Cikasungka, warga bergotong royong membersihkan aliran sungai dari sampah dan semak. Atas inisiatif pengurus RT dan hasil musyawarah warga, disepakati untuk menyewa alat berat yang kebetulan sedang mengerjakan proyek tidak jauh dari lokasi.

Dalam waktu beberapa jam, endapan tanah berhasil dikeruk dan dipindahkan ke area kosong di bantaran sungai. Hasilnya, aliran air menjadi lebih lancar dan kedalaman sungai bertambah. Kendati alat berat hanya dapat menjangkau wilayah RT 03 karena keterbatasan akses jalan dan lebar sungai di RT 02 dan RT 04, upaya manual tetap dilanjutkan oleh warga. Inisiatif ini patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab bersama.

Baca Juga: Lisa Blackpink di Bandung Barat: Antara Gengsi Global dan Ujian Tatakrama Kita

Dari pengalaman tersebut terlihat bahwa kepemimpinan RT dan RW tidak sebatas urusan administrasi. Mereka berperan sebagai penggerak, komunikator, sekaligus teladan di lapangan. Ketika pemimpin lingkungan hadir, membangun musyawarah, dan berani mengambil keputusan, partisipasi warga tumbuh secara alami.

Jika pemerintah provinsi memiliki resolusi besar dalam mengurangi banjir di Bandung Raya, maka warga pun memiliki resolusi menjaga lingkungan agar tetap bersih, tertata, dan nyaman. Sampah tidak berserakan, saluran air terawat, dan genangan dapat diminimalkan meski hujan turun dengan intensitas tinggi.

Pada akhirnya, keberhasilan pengendalian banjir tidak hanya bertumpu pada proyek besar pemerintah, tetapi juga pada kekuatan kepemimpinan lokal dan partisipasi aktif masyarakat. Dari ketua RT dan RW hingga gubernur, semua memiliki peran strategis. Ketika kepemimpinan berjalan berlapis dan saling menguatkan, ketahanan lingkungan bukan lagi sekadar wacana, melainkan menjadi gerakan nyata dari tingkat paling dekat dengan kehidupan warga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 06 Jun 2026, 12:29

Sasapedahan

Saatnya memberi kesempatan kepada sepeda untuk menunjukkan kemampuannya.

Asyiknya bermain sepeda. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)