Ngadulag Euy!

4 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Salah satu lapak pedagang kulit dan bedug di Jalan Ir. H. Djuanda, Linggajaya, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Kamis, 29 April 2021). (Sumber: Ayotasik.com | Foto: Heru Rukanda)
Salah satu lapak pedagang kulit dan bedug di Jalan Ir. H. Djuanda, Linggajaya, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Kamis, 29 April 2021). (Sumber: Ayotasik.com | Foto: Heru Rukanda)

Masih segar dalam ingatan. Waktu itu setelah salat Zuhur berjamaah. Ajengan memanggil anak-anak yang biasa ngaji untuk menabuh bedug sebagai penanda esok hari saum dimulai.

Tradisi ngadulag (kuramas) dilakukan sehari sebelum puasa Ramadan tiba. Biasanya momen ini menjadi waktu yang paling dinanti. Pasalnya, anak-anak dapat ngadulag dengan suka ria, gembira, leluasa, tanpa batasan dan larangan dari Marbot, Mang Apud, Mang Ase.

Bedanya dengan menjelang Idulfitri, iduladha. Kebiasaan ini dilakukan sejak salat subuh sampai salat Id (lebaran, kurban). Untuk dulag kuramas dilakukan setelah salat Zuhur, hingga magrib dan dilanjut setelah salat taraweh malam pertama. 

Irama bedug yang ditabuh khas, berbeda dari pukulan yang menandai masuknya lima waktu salat. Dentangnya tidak sekadar bunyian, melainkan bahasa yang menyampaikan kabar, membangun suasana, dan mengikat perasaan gembira bersama atas datangnya bulan suci. 

Di pedesaan, bedug menjadi satu-satunya alat komunikasi sosial-keagamaan yang menghubungkan manusia dengan waktu, tradisi, dan makna kebersamaan yang diwariskan turun-temurun.

Bedug di masjid Darussalam Bungbulang Garut Kidul, Selasa, 2 April 2024. (Sumber: Istimewa | Foto: Nuralimat Hakiah (pun alo))

Merawat Tradisi, Ragam Ngadulag

Memang tidak sembarang orang bisa menabung bedug karena masyarakat Sunda biasanya menabuh dengan pola tertentu untuk menyampaikan suatu pesan kebaikan.

Ngadulag adalah tanda awal dalam ajaran (agama) Islam, seorang muslim perlu merasa senang dalam menyambut Ramadan.

Dengan melakukan ngadulag menjadi salah satu tradisi yang masih lestari sampai sekarang, khususnya di masyarakat Islam suku Sunda. Tradisi ini dilaksanakan pada (sehari) Bulan Ramadan sampai perayaan Idulfitri di Tanah Pasundan.

Ngadulag berasal dari tradisi akar rumput masyarakat desa di wilayah Jawa Barat untuk memeriahkan malam-malam bulan Ramadan. 

Lambat laun, tradisi ngadulag terus berkembang untuk memeriahkan malam takbiran dengan diiringi dentuman meriam karbit dari bambu (lorong) yang dibunyikan oleh remaja setempat.

Tradisi ngadulag memiliki arti tertentu dari setiap ketukannya. R.A. Danadibrata (2006:177) dan Rachmatullah Ading Affandie (RAF) (1984:50) menyebutkan beberapa jenis penanda dalam tradisi membanggakan itu.

Dulag kuramas, pola menabuh bedug untuk memberikan tanda berkeramas.

Biasanya irama dan pola ini akan dibunyikan pada satu hari jelang Ramadan, untuk mengajak warga setempat mensucikan diri dengan berkeramas sebelum melakukan puasa di esok hari.

Dulag jaman, yang ditandai dengan dibunyikan saat masuknya waktu sahur. Biasanya sang penabuh di masjid setempat akan menabuhnya pada pukul 02.00 selama sekitar sepuluh menit. 

Selama waktu itu, dulag dipukul secara perlahan-lahan, berhenti beberapa menit, kemudian dibunyikan lagi secara perlahan, kemudian berhenti lagi sampai pukul 03.00 WIB.

Dulag taraweh dan dulag tadarus, yang menandai masuknya waktu salat tarawih dan tadarus Alquran. Dulag fitrah (dulag lilikuran), yang menandakan masuknya malem lilikuran (hari ke-21 Ramadan hingga 1 Syawal).

Biasanya, dulag ini dilakukan untuk memberikan aba-aba dimulainya masa pembayaran zakat fitrah. Danadibrata dan Rachmatullah menegaskan pola ketukan dari masing-masing ngadulag memiliki pola yang berbeda, sehingga akan menjadi ciri khas di masing-masing waktu tersebut. 

Ngadulag artinya menabuh bedug dengan berirama dulag. Penabuhnya penduduk sekitar masjid, mulai dari anak-anak hingga orang tua-dewasa. 

Dengan demikian, ngadulag bisa disebut sebagai proses pembumian Islam di Tatar Sunda dan Indonesia pada umumnya, karena di daerah asal Islam tidak ditemukan bedug dan kohkol. (Ajip Rosidi, 2000:109, Didi Turmudzi, 2017:320, PK PII Jabar, 2006:208, Merdeka Jabar, Rabu, 12 Mei 2021 07:07:00 WIB, Kumparan 10 Desember 2023 18:13 WIB).

Karikatur tradisi ngadulag pada saat lebaran di masyarakat Priangan tempo dulu. (Sumber: Istimewa | Foto: buku Ramadhan di Priangan, Haryoto Kunto)
Karikatur tradisi ngadulag pada saat lebaran di masyarakat Priangan tempo dulu. (Sumber: Istimewa | Foto: buku Ramadhan di Priangan, Haryoto Kunto)

Dulag kuramas, Simbol Momen Suci

Atep Kurnia, penulis sekaligus pemerhati budaya Sunda menjelaskan tradisi jelang puasa yang terlalu sayang dilupakan begitu saja. Salah satu yang menarik adalah dulag karamas.

Dulag karamas biasanya dilakukan saat siang, sehari sebelum puasa datang. Kala itu, beduk dibunyikan menandakan waktunya keramas untuk menyambut puasa keesokan hari. Keramas menjadi simbol tubuh yang bersih menyambut momen suci.

Saat beduk berbunyi, warga tidak keramas di rumah. Masyarakat biasanya datang ke mata air hingga penampungan air di pinggir sungai. Mereka keramas bersama-sama dan hanyut dalam kegembiraan.

Tidak ada sampo kimia dalam prosesi ini. Jonathan Rigg, penulis kamus bahasa Sunda-Inggris (1862), mengatakan, warga zaman dulu menggunakan tanaman kicaang (Hippobroma longiflora). Tanaman obat ini punya antibiotik alami untuk meredakan infeksi dan peradangan.

Selain itu, bahan lain yang digunakan adalah abu batang padi (lebu pare) hingga pucuk alang-alang (pucuk eurih). Sama seperti kicaang, keduanya punya manfaat sebagai antibiotik. (Kompas, 06 Mar 2025 15:57 WIB).

Tukang Ngabedug Ditengah Himpitan Ekonomi dan Makin Berkurangnya Sawah Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Tukang Ngabedug Ditengah Himpitan Ekonomi dan Makin Berkurangnya Sawah Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)

Ngadulag (menabuh bedug) adalah tradisi memukul bedug di masjid-masjid di Bandung Barat. Untuk di Kampung Sirnagalih Desa Ciptaharja Kecamatan Cipatat tradisi ngadulag biasa dilakukan 2 hari menjelang Ramadan.

Kebiasaan ini dijalankan untuk mengingatkan warga bahwa sebentar lagi masuk Ramadan. Tak hanya ditabuh di Masjid, biasa bedug di arak berkeliling kampung.

Baca Juga: KBBI Bukan Hakim Agung, Meski Hadirnya Kerap Menghakimi para Penulis

Tradisi Ngadulag di KBB memang dijalankan juga saat masuk Ramadhan yakni sebagai pengingat waktu sahur serta malam takbiran. Menariknya, para penabuh rata-rata pemuda itu akan membunyikan dulag dengan pola tertentu. Uniknya, di beberapa daerah digelar perlombaan Ngadulag. (Ayo Bandung, Kamis, 24 Maret 2022 | 14:18 WIB).

Kini, tradisi ngabedug, ngadulag perlahan ditinggalkan. Tergerus oleh zaman, digantikan teknologi pengeras suara (toa) masjid. Bedug dan kohkol yang kian jarang terdengar. Dahulu setia menggantung di serambi yang perlahan mulai dilupakan. Padahal sebagai jantung masjid tradisional Jawa Barat.

Walhasil, di pedesaan, bedug (ngabedug, ngadulag) bukan sekadar alat, melainkan napas bersama, bahasa tanpa ujaran. Dari tabuhannya, waktu menemukan kesepakatan, iman mengetuk kesadaran, dan kebersamaan dijaga dan dirawat. Hayu ah urang ngadulag euy! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)