Bandung pada awal 1990-an adalah kota yang bergerak dengan irama pelan. Udara pagi masih menyisakan dingin yang akrab, jalanan belum padat, dan kehidupan berjalan tanpa tergesa. Di kota seperti itulah para anak kost menumpangkan hari-harinya dengan cara sederhana, tetapi sarat makna.
Bandung bukan sekadar tujuan, melainkan ruang singgah yang perlahan berubah menjadi tempat tinggal. Anak-anak muda dari berbagai daerah datang dengan bekal seadanya, menempati kamar sempit, lalu belajar hidup mandiri mengatur keuangan, menahan rindu, dan memahami arti pulang yang tak lagi sama.
Pagi hari terasa dekat dengan tubuh. Embun masih menempel di daun, pepohonan besar menaungi jalan-jalan di Pasteur, Merdeka, Alun-alun, Tamansari, hingga Cihampelas. Lalu lintas sudah ramai bergerak, tetapi belum menyesakkan. Angkutan kota berhenti dengan sabar, memberi waktu bagi penumpang turun tanpa tergesa. Kota ini masih menyediakan ruang untuk jeda.
Di tengah denyut itu, Bandung Indah Plaza (BIP) menjadi penanda zaman. Anak-anak muda berkumpul bukan semata untuk berbelanja, melainkan untuk menghabiskan waktu. Menonton film, berjalan di antara etalase, atau sekadar duduk memperhatikan orang lalu-lalang. Eskalator, lampu toko, dan aroma makanan cepat saji menghadirkan kesan modern yang membekas dalam ingatan.

Tak jauh dari sana, Palaguna menjadi ruang temu yang santai. Percakapan berlangsung tanpa tujuan, waktu berjalan tanpa tekanan. Kini, namanya lebih sering hadir sebagai kenangan sebuah bagian kota yang perlahan menjauh.
Cihampelas memiliki pesonanya sendiri. Deretan toko jeans dengan papan nama mencolok, serta patung tokoh film seperti Rambo, Spiderman, dan Superman, membentuk lanskap visual yang kuat. Kawasan ini riuh, berwarna, dan hidup menjadi salah satu wajah Bandung yang mudah dikenali sekaligus sulit dilupakan.
Perubahan sebenarnya telah dimulai sejak masa itu, meski berjalan perlahan. Kawasan yang kini dikenal sebagai Paris Van Java dahulu merupakan kompleks perumahan dan asrama milik Polri. Bandung tak pernah benar-benar diam ia terus bergerak, menyesuaikan diri, sambil meninggalkan jejak masa lalunya.
Bagi anak kost, hiburan tidak perlu rumit. Kebun Binatang Bandung di Tamansari menjadi pilihan yang terjangkau. Berjalan di bawah rindang pohon, melihat satwa, atau sekadar duduk melepas penat, semuanya cukup untuk mengisi hari.
Di sisi lain, Gelora Saparua menghadirkan keramaian yang berbeda. Konser musik dari rock hingga pop menggema di sana, menghadirkan energi yang meluap. Teriakan penonton, dentuman suara, dan keringat menjadi bagian dari pengalaman yang sulit dilupakan.

Untuk rekreasi keluarga, Karang Setra tetap menjadi pilihan utama. Sementara Taman Lalu Lintas menghadirkan suasana belajar yang ringan bagi anak-anak. Semuanya berjalan dalam kesederhanaan yang, pada masa itu, terasa cukup.
Waktu terus berjalan. Bandung terus berubah, jalanan semakin padat, ritme kota kian cepat, dan wajah-wajah baru bermunculan. Namun bagi mereka yang pernah menjalaninya, Bandung awal 1990-an tidak pernah benar-benar hilang.
Ia tetap hidup dalam kenangan, ingatan pada udara pagi yang dingin, pada jalanan yang belum sesak, dan pada hari-hari sederhana yang dijalani tanpa banyak tuntutan. Bandung mungkin telah berganti rupa, tetapi sebagian dirinya menetap diam-diam dalam kepala mereka yang pernah menjadi bagian darinya.
Barangkali, di situlah Bandung yang sesungguhnya berada, bukan sepenuhnya di peta, melainkan dalam ingatan. Seperti halaman koran lama yang menguning, tetapi tak pernah kehilangan makna. (*)
