Bandung Era 1990-an dalam Ingatan Anak Kost

3 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Anak kost era 1990-an, bersahabat dengan Erwan Setiawan, kini Wagub Jawa Barat. Kenangan sederhana yang tak lekang waktu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Anak kost era 1990-an, bersahabat dengan Erwan Setiawan, kini Wagub Jawa Barat. Kenangan sederhana yang tak lekang waktu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Bandung, bagi banyak orang mungkin hanyalah kota di dataran tinggi yang dikenal dengan kesejukan udara dan geliat warganya. Namun bagi mereka yang pernah menjalaninya pada era 1990-an terlebih sebagai anak kost, Bandung adalah lembar hidup yang penuh cerita, sederhana namun membekas. Di sanalah, di antara gang sempit, warung kopi murah, dan deru angkot yang tak pernah benar-benar sunyi, tumbuh kenangan-kenangan kecil yang justru terasa paling utuh hingga hari ini.

Berbicara tentang Bandung pada era 1990-an, ingatan saya seketika melayang jauh ke masa itu, sebuah masa ketika hidup terasa lebih sederhana, namun justru di situlah letak kehangatannya. Sebagai seseorang yang lahir pada dekade 1970-an dan pernah tinggal di Bandung pada tahun-tahun tersebut, ada banyak serpihan kenangan yang masih tersimpan rapi, seperti kaset lama yang tak pernah benar-benar usang.

Bandung pada masa itu bukan sekadar kota. Ia adalah ruang perasaan. Tempat di mana dingin udara pagi menyusup sampai ke tulang, namun selalu berhasil dihangatkan oleh secangkir kopi murah di warung pinggir jalan, atau obrolan panjang tanpa arah bersama kawan-kawan senasib para anak kost yang hidup dari kiriman bulanan yang pas-pasan.

Sebagai anak kost, hidup kami di Bandung 90-an penuh dengan irama yang khas. Bangun pagi seringkali bukan karena alarm, melainkan suara ketukan pintu teman sebelah kamar yang mengajak sarapan atau sekadar numpang mandi karena air di kosannya mati. Sarapannya tentu saja bukan perkara mewah. Bubur ayam di pinggir jalan, nasi kuning yang dibungkus kertas minyak, atau sekadar roti dan teh manis sudah cukup untuk mengawali hari.

Transportasi saat itu pun punya romantismenya sendiri. Angkot dengan musik keras dari radio atau kaset bajakan menjadi "ruang publik” yang akrab. Kami terbiasa dengan trayek yang tetap, hafal mobil dan sopirnya, bahkan kadang hafal lagu-lagu yang diputar berulang-ulang. Duduk berdesakan tak jadi soal, karena justru di sanalah cerita-cerita kecil kota ini berdenyut.

Bermain musik jadi teman sunyi anak kost, pengusir rasa sepi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Bermain musik jadi teman sunyi anak kost, pengusir rasa sepi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Siang hari, Bandung terasa hidup dengan hiruk-pikuk mahasiswa, pedagang kaki lima, dan lalu-lalang kendaraan yang belum sepadat sekarang. Kampus bukan hanya tempat belajar, tapi juga ruang berkumpul, berdiskusi, jatuh cinta, hingga merancang mimpi-mimpi besar yang seringkali terasa begitu dekat untuk diraih.

Menjelang sore, suasana berubah menjadi lebih syahdu. Udara mulai dingin, langit Bandung perlahan meredup, dan kami kembali ke kamar kost dengan langkah santai. Kadang berhenti di warung untuk sekadar membeli bubur kacang, mie instan, telur, atau kopi sachet bekal untuk bertahan di malam hari.

Dan bila malam hari tiba, Bandung pada era itu punya cerita yang lain lagi. Bagi anak kost, malam adalah waktu paling jujur. Di bawah lampu kamar yang temaram, kami menulis, membaca, mengetik, mendengarkan radio, atau berbincang panjang tentang masa depan yang masih samar. Sesekali, suara lagu dari radio, entah itu pop Indonesia atau lagu Barat yang sedang hits mengalun pelan, menjadi latar dari segala kegelisahan dan harapan.

Tak ada gadget, jaringan internet dan tak ada media sosial. Tapi justru karena itu, hubungan terasa lebih nyata. Kami bertemu langsung, tertawa bersama, bertukar cerita tanpa perantara layar. Persahabatan terjalin bukan dari notifikasi, melainkan dari kebersamaan yang sungguh-sungguh.

Kini, ketika Bandung telah berubah dengan segala modernitasnya, kenangan itu tetap tinggal, utuh, hangat, dan kadang datang tiba-tiba tanpa diundang. Aroma hujan, suara angkot, atau bahkan sekadar dingin udara pagi bisa menjadi pemantik yang membawa saya kembali ke masa itu.

Masa ketika hidup mungkin tidak mudah, tapi terasa begitu penuh.

Bandung era 90-an, bagi saya, bukan sekadar kenangan. Ia adalah rumah yang selalu bisa saya kunjungi, kapan saja, dalam ingatan.

Waktu boleh berjalan jauh, mengubah wajah kota dan cara hidup penghuninya. Namun Bandung era 1990-an akan selalu punya ruang tersendiri di hati mereka yang pernah singgah dan bertahan di dalamnya. Ia bukan sekadar masa lalu, melainkan semacam penanda, bahwa pernah ada waktu ketika kebersamaan terasa begitu dekat, hidup berjalan apa adanya, dan kebahagiaan hadir tanpa banyak syarat. Dan dari sanalah, setiap kenangan itu terus hidup, diam-diam, namun tak pernah benar-benar pergi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)