Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Callista Eliana Pakpahan
Ditulis oleh Callista Eliana Pakpahan diterbitkan Kamis 09 Apr 2026, 13:14 WIB
Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kawasan di sekitar Telkom University kerap kali dihadapkan pada masalah tahunan yang belum sepenuhnya terselesaikan: banjir dan penurunan kualitas ekosistem sungai. Menyadari bahwa salah satu akar permasalahannya adalah tumpukan sampah rumah tangga yang menyumbat aliran air dan mencemari sungai,

sekelompok mahasiswa S1 Sistem Informasi Telkom University (Kelompok D) meluncurkan solusi inovatif berbasis teknologi dan lingkungan. Melalui proyek bertajuk "IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN WEBSITE EDUKASI INOVASI ECOENZYME UNTUK MENINGKATKATKAN KESADARAN PENGELOLAAN SAMPAH DI GANG DESA", para mahasiswa ini mengajak warga di kawasan Gang Desa, RT.03, Desa Lengkong, Kecamatan Bojongsoang untuk turun tangan langsung memulihkan ekosistem sungai. Inisiatif ini merupakan wujud nyata penerapan kolaborasi Mata Kuliah Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, dan Pancasila.

Aksi Ganda: Kurangi Sampah Organik, Jernihkan Sungai Proyek ini tidak hanya berfokus pada pengurangan volume sampah sisa makanan (food waste) yang kerap berakhir di tempat pembuangan akhir atau membusuk di saluran air.

Lebih dari itu, cairan ecoenzyme hasil fermentasi sampah organik tersebut memiliki agen bio-katalis yang terbukti ampuh memecah polutan, mengurangi bau tidak sedap, dan memulihkan ekosistem air sungai.

"Krisis ekosistem sungai dan banjir di sekitar kampus kita tidak bisa hanya mengandalkan pengerukan fisik. Kita butuh solusi yang menyasar akar masalah di rumah tangga," tegas Viyendra, Ketua Tim Kelompok D. "Website Edukasi Ecoenzyme ini kami rancang sebagai senjata digital warga. Dengan mengubah sisa dapur menjadi ecoenzyme, warga tidak hanya mengurangi tumpukan sampah yang menyumbat air, tetapi juga memproduksi cairan penjernih alami yang nantinya bisa kita tuangkan bersama-sama untuk memulihkan sungai di Bojongsoang."Menjembatani Semangat Warga dengan Teknologi

Menyadari pentingnya aksesibilitas informasi, Kelompok D membangun platform website edukasi yang dirancang sangat user-friendly untuk mengatasi kesenjangan literasi digital.

"Kami ingin mengubah stigma bahwa aksi menjaga lingkungan itu sulit," ujar Langgeng Yongi Surya, perwakilan Kelompok D. "Melalui website ini, warga Desa Lengkong memiliki panduan digital di genggaman mereka untuk menyulap kulit buah menjadi pahlawan lingkungan."

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Website edukasi ini memuat fitur-fitur taktis yang mendukung gerakan pemulihan sungai:

● Video Tutorial Interaktif: Panduan visual langkah demi langkah pembuatan ecoenzyme dengan rumus standar 1:3:10 (gula, sisa organik, air), dari proses awal hingga panen.

● Modul Ekosistem Air: Edukasi khusus mengenai cara kerja ecoenzyme dalam menjernihkan air, mengurai lumpur sungai, dan mengembalikan habitat mikroorganisme baik di perairan.

● Galeri Aksi Warga: Ruang pamer digital untuk mendokumentasikan hasil panen ecoenzyme warga dan momen penuangan cairan tersebut ke aliran sungai sekitar.

Sinergi Menuju Pemukiman Tangguh Bencana Sebagai agen perubahan yang terjun ke akar rumput, implementasi digital ini diperkuat dengan pendampingan langsung. Mahasiswa mentransfer pengetahuan kepada kader lingkungan, ibu-ibu PKK, dan Karang Taruna agar mereka dapat memandu warga lainnya. Gerakan ini semakin komprehensif berkat kolaborasi erat dengan Kelompok C, yang fokus mengunci sampah anorganik (plastik) penyebab tersumbatnya drainase melalui inovasi Ecobrick. Sinergi ini menghadirkan solusi dari hulu ke hilir: sampah plastik dicegah masuk ke sungai dengan Ecobrick, sementara sampah organik diubah menjadi penjernih sungai melalui Ecoenzyme.

Langkah strategis yang mengintegrasikan teknologi informasi dan pelestarian lingkungan ini mendapat dukungan penuh dari Dosen Pembimbing Lapangan, Indra Nugrahayu Taufik dan Dr. Runik Machfiroh, S.Pd., M.Pd.

"Sebagai mahasiswa Sistem Informasi, kami sadar bahwa teknologi terbaik adalah teknologi yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat," tutup Viyendra. "Proyek ini bukan sekadar pemenuhan tugas kuliah, melainkan wujud pengabdian kami. Kami berharap warga Desa Lengkong tidak hanya menjadi penonton, tapi menjadi aktor utama yang berdaya dalam memutus mata rantai masalah sampah dan menyelamatkan ekosistem sungai di sekitar lingkungan kampus kita."

Inisiatif mahasiswa Telkom University ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi digital di tingkat desa dapat berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya pada poin 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim). (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Callista Eliana Pakpahan
Seorang mahasiswa S1 sistem informasi

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 08:59

Taman Uncal Soreang, Wisata Edukatif Murah Meriah

Taman Uncal di Soreang menawarkan wisata edukatif gratis dengan rusa totol. Cocok untuk liburan keluarga murah meriah di Bandung.

Taman Uncal Soreang, tempat wisata murah meriah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 08:49

'Mana Tahan ...' dan Kosakata Gaul Tahun 1980-an

Mengenang kata-kata para kawula muda khususnya Bandung tahun 1980-an penuh persahabatan dan canda.

Ilustrasi anak muda tahun 1980-an. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Seni Budaya 09 Apr 2026, 00:12

Hikayat Degung, Gamelan Istana yang jadi Warisan Budaya Sunda

Degung tumbuh dari tradisi istana, mengalami perubahan instrumen dan fungsi, hingga menjadi bagian penting identitas budaya Sunda hari ini.

Pementasan degung. (Sumber: YouTube ThisIsBandung)
Mayantara 08 Apr 2026, 18:17

Ketakwaan Terlangka di Era Digital Religion

Di era digital hari ini, pengakuan tidak lagi menunggu ruang fisik, melainkan hadir dalam genggaman melalui likes, views, dan komentar.

Salah berjamaah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 08 Apr 2026, 17:15

Menjembatani Celah Kreativitas dan Hukum dalam Ekosistem Ekraf Bandung

Dialog Ekraf Bandung bedah celah hukum dan nilai ekonomi industri kreatif guna ciptakan ekosistem yang lebih kokoh bagi pelaku seni

Dialog Ekraf Bandung bedah celah hukum dan nilai ekonomi industri kreatif guna ciptakan ekosistem yang lebih kokoh bagi pelaku seni (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 08 Apr 2026, 15:50

Plastik Makin Mahal, Saatnya Warga Bandung 'Putus Hubungan' dengan Kantong Sekali Pakai

Harga plastik di Bandung naik, jadi momentum warga beralih dari kantong sekali pakai untuk mengurangi sampah.

Kenaikan harga plastik di Pasar Kosambi membuat pedagang dan pembeli sama-sama merasakan dampaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Beranda 08 Apr 2026, 15:39

Cerita Ricky, Pemain Biola Jalanan yang Kerap Kucing-kucingan dengan Satpol PP

Di tengah kerasnya jalanan Bandung, Ricky Rustandi Pratama memilih bertahan hidup lewat alunan biola di sela-sela ancaman penertiban petugas.

Di tengah lalu lintas Kota Bandung, Ricky menghibur pengendara dengan alunan biola dari hasil belajar otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 14:08

Tombolo Pangandaran Menghubungkan Pulau Pananjung dengan Daratan Utama

Tombolo itu terbentuk bukan karena sebab tunggal. Prosesnya rumit dan memakan waktu yang panjang.

Tombolo Pangandaran, menyambung Pulau Pananjung dengan Daratan Utama dengan endapan pasir yang terbentuk secara bertahap. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Wisata & Kuliner 08 Apr 2026, 13:33

Jelajah Situ Cileunca sampai Hilir: dari Wisata, Pembangkit Listrik hingga Kearifan Lokal

Dibangun sejak era kolonial, Situ Cileunca berkembang menjadi sumber listrik, destinasi wisata unggulan, serta ruang aktivitas olahraga air bagi masyarakat Pangalengan.

Situ Cileunca, salah satu objek wisata favorit di Kabupaten Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ikon 08 Apr 2026, 13:19

Hikayat Gunung Kunci, Benteng Kamuflase Belanda di Tengah Kota Sumedang

Di balik hijaunya Gunung Kunci Sumedang, tersimpan sejarah benteng Belanda dan kisah pahit penahanan pejuang.

Tahura Gunung Kunci Sumedang. (Sumber: sumedangkab.go.id)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 11:22

Kaum Urban di Bandung Abad ke-19

Di Bandung pada abad ke-19 pun telah terjadi banyak lonjakan urbanisasi.

Jalan Raya Pos Bandung masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 08:38

Ruang Terakhir yang Kian Sempit

Lahan pemakaman yang dikelola pemerintah kian terbatas.

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 07 Apr 2026, 20:09

Rapor Hijau Perbankan Jawa Barat di Tengah Tren Pengetatan Sektor Unggulan

Dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jawa Barat menunjukkan performa perbankan yang solid, meski dihadapkan tantangan diversifikasi sektor dan manajemen risiko kredit yang makin selektif.

Ilustrasi. Dinamika ekonomi global yang fluktuatif di awal tahun 2026 tidak menyurutkan ketahanan sektor jasa keuangan di Jawa Barat. (Sumber: Pixabay)