Kaum Urban di Bandung Abad ke-19

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Jalan Raya Pos Bandung masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Jalan Raya Pos Bandung masa kolonial. (Sumber: KITLV)

Arus Urbanisasi yang menggiring banyak manusia berpindah tempat, guna mendapatkan tempat yang lebih menjanjikan untuk kehidupan dirinya sendiri dan keluarganya sekarang sering kita lihat apabila setelah selesai hari raya Idul Fitri. Banyak sekali kaum–kaum pendatang baru yang datang ke kota–kota besar, salah satunya Bandung untuk mencari secercah harapan masa depan yang lebih baik.

Namun tahukah kalian bahwa di Bandung pada abad ke-19 pun telah terjadi banyak lonjakan urbanisasi. Hal–hal yang melatarbelakangi urbanisasi tersebut adalah salah satunya karena proses pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke kawasan Alun–Alun Bandung sekarang. Diperlukan banyak sekali tenaga kerja dalam membangun sebuah peradaban baru tersebut, sehingga banyak berdatangan para kaum urban pada saat itu. 

Kota Bandung tidaklah lahir dari kekuatan lokal pribumi saja. Sejarah kota ini justru berangkat dari pengukuhan kekuasaan kolonial di Hindia Belanda sejak akhir abad ke-19. Ketika Gubernur Jenderal Belanda yaitu Marschaal Herman Willem Daendels ( 1809–1811) memerintahkan Bupati Bandung Wiranatakusumah II untuk memindahkan  istananya yang berada di selatan Bandung menuju ke utara Bandung, agar lebih dekat dengan jalur jalan raya pos.

Sebelum kota Bandung dinyatakan berdiri pada tahun 1810, pemukiman–pemukiman kaum pribumi dalam bentuk suatu perkampungan kecil telah ada sebelumnya. Perkampungan tersebut terbina dan terbentuk dalam tatanan kalangan masyarakat Sunda. Perkampungan–perkampungan tua itu adalah Babakan Bogor( Kebon Kawung sekarang) kampung Balubur dan kampung Cikapundung Kolot.

Selain itu terdapat pula perkampungan–perkampungan tua lainnya di utara Bandung, seperti kampung Cikendi ( Hegarmanah), kampung Dago, kampung Gegerkalong Girang, Kampung Cirateun dan kampung pangumbahan yang berada di bantaran Cikapundung. Penduduk dari kampung–kampung inilah yang dipergunakan untuk tenaga kerja pembangunan jalan raya pos. Mereka semua berpindah ke bedeng–bedeng seperti los-los yang sangat sederhana di wilayah yang lebih dekat dengan proses pembuatan jalan raya pos, yaitu yang sekarang menjadi kampung Andir, karena Andir yang dimaksud saat itu adalah kuli batu (Pele Widjaja–Kampung Kota Bandung halaman 61)

Jadi, para warga kampung–kampung tua di utara Bandung harus berpindah ke kawasan lebih selatan, guna pembangunan jalan raya pos, namun tanpa disadari mereka akhirnya menciptakan kampung–kampung baru. kampung–kampung baru tersebut adalah hasil dari perpindahan penduduk guna pengharapan akan masa depan dan pekerjaan yang lebih menjanjikan.

Apabila di kampung lama mereka di kawasan Utara Bandung, mereka hanya bertani dan berladang, di tempat baru mereka menjadi kuli–kuli pembangunan ibu kota yang baru dan perkembangan jalan raya pos. Selain muncul kampung baru, muncul pula keahlian-keahlian baru dari para warga, mereka terkenal dengan kuli–kuli batu yang handal, hingga kawasan tempat tinggal mereka yang baru menjadi terkenal (Kampung Andir). 

Pada masa kolonial, pemerintah menggunakan politik Wijkenstelsel yang mewajibkan setiap etnis dan kelas sosial untuk tinggal di wilayah yang sama yang telah ditentukan oleh tujuan politik dari pemerintah Belanda. Perubahan yang mendasar dari pembentukan Wijkenstelsel ini terhadap kampung tradisional sebagai tempat tinggal rakyat pribumi menjadi berubah. 

Akibat kebijakan ini jadi muncul kampung Arab yang berada di seputaran jalan Alkateri sekarang, adanya pecinan dan adanya kampung–kampung pribumi yang di plot atau dikelompokkan berdasarkan asal muasal pribumi tersebut, contohnya adalah Babakan Ciamis, Babakan Surabaya, Babakan Tarogong, Babakan Ciparay. Kesemuanya itu menandakan bahwa telah terjadi lonjakan kaum urban untuk perkembangan kota Bandung di abad ke-19, hingga terbentuklah perkampungan atau kelompok–kelompok perkampungan tersebut. 

Selain itu dibangunnya moda transportasi baru kala itu yaitu kereta api pada 1884 dan jalur Bandung–Surabaya pada 1894, disebelah utara dekat stasiun kereta api Bandung, terdapat kampung yang bernama Babakan Bogor, yang sekarang menjadi kawasan Kebon Kawung. Di kampung tersebut tinggal sekitar 400 orang yang berasal dari Bogor. Mereka berpindah ke Bandung sebagai buruh bengkel kereta api dan ikut membangun jaringan rel pada masa itu ( Pele Widjaya–Kampung Kota Bandung halaman 71).

Lalu pembangunan pusat Garnisun militer ( 1898-1906 ) yang berlokasi di kawasan jalan Aceh sekarang. untuk tujuan pembangunan pusat Garnisun, pada tahun 1898, pabrik senjata yang awalnya berada di Surabaya dipindahkan ke Bandung. dengan adanya pemindahan tersebut, terjadilah “bedol kampung” dari para buruh dan para pegawai pabrik tersebut yang kemudian ditempatkan kembali di kawasan sekitar Kiaracondong dan pemukiman ini dikenal dengan sebutan Babakan Surabaya. Tak jauh dari Babakan Surabaya, terdapat kampung Jawa yang letaknya saat itu berdekatan dengan pabrik gas di Kiaracondong. Mereka adalah warga dari Jawa Tengah yang akhirnya hidup berkelompok di sana.

Jadi, kaum urban di Bandung pada abad ke-19 hingga 20 adalah cikal bakal wajah Bandung masa kini. Perkembangan kaum urban memang sangat dibutuhkan untuk perkembangan kota besar, namun terkadang pengendaliannya pun harus tetap dijaga guna tetap terjaganya tata ruang kota yang estetik. Bandung hari ini mungkin sudah terlalu padat akan kedatangan kaum Urban, apalagi setelah hari raya Idul Fitri ini, berbeda dengan masa lalu yang lahannya masih kosong dan masih terjaga. Sebuah ironi yang tak kunjung ada habisnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)