Kaum Urban di Bandung Abad ke-19

Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Rabu 08 Apr 2026, 11:22 WIB
Jalan Raya Pos Bandung masa kolonial. (Sumber: KITLV)

Jalan Raya Pos Bandung masa kolonial. (Sumber: KITLV)

Arus Urbanisasi yang menggiring banyak manusia berpindah tempat, guna mendapatkan tempat yang lebih menjanjikan untuk kehidupan dirinya sendiri dan keluarganya sekarang sering kita lihat apabila setelah selesai hari raya Idul Fitri. Banyak sekali kaum–kaum pendatang baru yang datang ke kota–kota besar, salah satunya Bandung untuk mencari secerca harapan masa depan yang lebih baik.

Namun tahukah kalian bahwa di Bandung pada abad ke-19 pun telah terjadi banyak lonjakan urbanisasi. Hal–hal yang melatarbelakangi urbanisasi tersebut adalah salah satunya karena proses pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke kawasan Alun–Alun Bandung sekarang. diperlukan banyak sekali tenaga kerja dalam membangun sebuah peradaban baru tersebut, sehingga banyak berdatangan para kaum urban pada saat itu. 

Kota Bandung tidaklah lahir dari kekuatan lokal pribumi saja. Sejarah kota ini justru berangkat dari pengukuhan kekuasaan kolonial di Hindia Belanda sejak akhir abad ke-19. Ketika Gubernur Jenderal Belanda yaitu Marschaal Herman Willem Daendels ( 1809–1811) memerintahkan Bupati Bandung Wiranatakusumah II untuk memindahkan  istananya yang berada di selatan Bandung menuju ke utara Bandung, agar lebih dekat dengan jalur jalan raya pos.

Sebelum kota Bandung dinyatakan berdiri pada tahun 1810, pemukiman–pemukiman kaum pribumi dalam bentuk suatu perkampungan kecil telah ada sebelumnya. Perkampungan tersebut terbina dan terbentuk dalam tatanan kalangan masyarakat Sunda. Perkampungan–perkampungan tua itu adalah Babakan Bogor( Kebon Kawung sekarang) kampung Balubur dan kampung Cikapundung Kolot.

Selain itu terdapat pula perkampungan–perkampungan tua lainnya di utara Bandung, seperti kampung Cikendi ( Hegarmanah), kampung Dago, kampung Gegerkalong Girang, Kampung Cirateun dan kampung pangumbahan yang berada di bantaran Cikapundung. Penduduk dari kampung–kampung inilah yang dipergunakan untuk tenaga kerja pembangunan jalan raya pos. Mereka semua berpindah ke bedeng–bedeng seperti los-los yang sangat sederhana di wilayah yang lebih dekat dengan proses pembuatan jalan raya pos, yaitu yang sekarang menjadi kampung Andir, karena Andir yang dimaksud saat itu adalah kuli batu (Pele Widjaja–Kampung Kota Bandung halaman 61)

Jadi, para warga kampung–kampung tua di utara Bandung harus berpindah ke kawasan lebih selatan, guna pembangunan jalan raya pos, namun tanpa disadari mereka akhirnya menciptakan kampung–kampung baru. kampung–kampung baru tersebut adalah hasil dari perpindahan penduduk guna pengharapan akan masa depan dan pekerjaan yang lebih menjanjikan.

Apabila di kampung lama mereka di kawasan Utara Bandung, mereka hanya bertani dan berladang, di tempat baru mereka menjadi kuli–kuli pembangunan ibu kota yang baru dan perkembangan jalan raya pos. Selain muncul kampung baru, muncul pula keahlian-keahlian baru dari para warga, mereka terkenal dengan kuli–kuli batu yang handal, hingga kawasan tempat tinggal mereka yang baru menjadi terkenal (Kampung Andir). 

Pada masa kolonial, pemerintah menggunakan politik Wijkenstelsel yang mewajibkan setiap etnis dan kelas sosial untuk tinggal di wilayah yang sama yang telah ditentukan oleh tujuan politik dari pemerintah Belanda. Perubahan yang mendasar dari pembentukan Wijkenstelsel ini terhadap kampung tradisional sebagai tempat tinggal rakyat pribumi menjadi berubah. 

Akibat kebijakan ini jadi muncul kampung Arab yang berada di seputaran jalan Alkateri sekarang, adanya pecinan dan adanya kampung–kampung pribumi yang di plot atau dikelompokkan berdasarkan asal muasal pribumi tersebut, contohnya adalah Babakan Ciamis, Babakan Surabaya, Babakan Tarogong, Babakan Ciparay. Kesemuanya itu menandakan bahwa telah terjadi lonjakan kaum urban untuk perkembangan kota Bandung di abad ke-19, hingga terbentuklah perkampungan atau kelompok–kelompok perkampungan tersebut. 

Selain itu dibangunnya moda transportasi baru kala itu yaitu kereta api pada 1884 dan jalur Bandung–Surabaya pada 1894, disebelah utara dekat stasiun kereta api Bandung, terdapat kampung yang bernama Babakan Bogor, yang sekarang menjadi kawasan Kebon Kawung. Di kampung tersebut tinggal sekitar 400 orang yang berasal dari Bogor. Mereka berpindah ke Bandung sebagai buruh bengkel kereta api dan ikut membangun jaringan rel pada masa itu ( Pele Widjaya–Kampung Kota Bandung halaman 71).

Lalu pembangunan pusat Garnisun militer ( 1898-1906 ) yang berlokasi di kawasan jalan Aceh sekarang. untuk tujuan pembangunan pusat Garnisun, pada tahun 1898, pabrik senjata yang awalnya berada di Surabaya dipindahkan ke Bandung. dengan adanya pemindahan tersebut, terjadilah “bedol kampung” dari para buruh dan para pegawai pabrik tersebut yang kemudian ditempatkan kembali di kawasan sekitar Kiaracondong dan pemukiman ini dikenal dengan sebutan Babakan Surabaya. Tak jauh dari Babakan Surabaya, terdapat kampung Jawa yang letaknya saat itu berdekatan dengan pabrik gas di Kiaracondong. Mereka adalah warga dari Jawa Tengah yang akhirnya hidup berkelompok di sana.

Jadi, kaum urban di Bandung pada abad ke-19 hingga 20 adalah cikal bakal wajah Bandung masa kini. Perkembangan kaum urban memang sangat dibutuhkan untuk perkembangan kota besar, namun terkadang pengendaliannya pun harus tetap dijaga guna tetap terjaganya tata ruang kota yang estetik. Bandung hari ini mungkin sudah terlalu padat akan kedatangan kaum Urban, apalagi setelah hari raya Idul Fitri ini, berbeda dengan masa lalu yang lahannya masih kosong dan masih terjaga. Sebuah ironi yang tak kunjung ada habisnya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Bandung 08 Apr 2026, 17:15

Menjembatani Celah Kreativitas dan Hukum dalam Ekosistem Ekraf Bandung

Dialog Ekraf Bandung bedah celah hukum dan nilai ekonomi industri kreatif guna ciptakan ekosistem yang lebih kokoh bagi pelaku seni

Dialog Ekraf Bandung bedah celah hukum dan nilai ekonomi industri kreatif guna ciptakan ekosistem yang lebih kokoh bagi pelaku seni (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 08 Apr 2026, 15:50

Plastik Makin Mahal, Saatnya Warga Bandung 'Putus Hubungan' dengan Kantong Sekali Pakai

Harga plastik di Bandung naik, jadi momentum warga beralih dari kantong sekali pakai untuk mengurangi sampah.

Kenaikan harga plastik di Pasar Kosambi membuat pedagang dan pembeli sama-sama merasakan dampaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Beranda 08 Apr 2026, 15:39

Cerita Ricky, Pemain Biola Jalanan yang Kerap Kucing-kucingan dengan Satpol PP

Di tengah kerasnya jalanan Bandung, Ricky Rustandi Pratama memilih bertahan hidup lewat alunan biola di sela-sela ancaman penertiban petugas.

Di tengah lalu lintas Kota Bandung, Ricky menghibur pengendara dengan alunan biola dari hasil belajar otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 14:08

Tombolo Pangandaran Menghubungkan Pulau Pananjung dengan Daratan Utama

Tombolo itu terbentuk bukan karena sebab tunggal. Prosesnya rumit dan memakan waktu yang panjang.

Tombolo Pangandaran, menyambung Pulau Pananjung dengan Daratan Utama dengan endapan pasir yang terbentuk secara bertahap. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Wisata & Kuliner 08 Apr 2026, 13:33

Jelajah Situ Cileunca sampai Hilir: dari Wisata, Pembangkit Listrik hingga Kearifan Lokal

Dibangun sejak era kolonial, Situ Cileunca berkembang menjadi sumber listrik, destinasi wisata unggulan, serta ruang aktivitas olahraga air bagi masyarakat Pangalengan.

Situ Cileunca, salah satu objek wisata favorit di Kabupaten Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ikon 08 Apr 2026, 13:19

Hikayat Gunung Kunci, Benteng Kamuflase Belanda di Tengah Kota Sumedang

Di balik hijaunya Gunung Kunci Sumedang, tersimpan sejarah benteng Belanda dan kisah pahit penahanan pejuang.

Tahura Gunung Kunci Sumedang. (Sumber: sumedangkab.go.id)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 11:22

Kaum Urban di Bandung Abad ke-19

Di Bandung pada abad ke-19 pun telah terjadi banyak lonjakan urbanisasi.

Jalan Raya Pos Bandung masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 08:38

Ruang Terakhir yang Kian Sempit

Lahan pemakaman yang dikelola pemerintah kian terbatas.

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 07 Apr 2026, 20:09

Rapor Hijau Perbankan Jawa Barat di Tengah Tren Pengetatan Sektor Unggulan

Dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jawa Barat menunjukkan performa perbankan yang solid, meski dihadapkan tantangan diversifikasi sektor dan manajemen risiko kredit yang makin selektif.

Ilustrasi. Dinamika ekonomi global yang fluktuatif di awal tahun 2026 tidak menyurutkan ketahanan sektor jasa keuangan di Jawa Barat. (Sumber: Pixabay)
Bandung 07 Apr 2026, 19:47

Strategi Market Chicken Steak Bertahan di Tengah Geliat Kuliner Pasar Cihapit

Siapa sangka ada kelezatan steak di sudut pasar tradisional? Simak kisah Sutrisno mengubah peluang jadi keunikan kuliner di Pasar Cihapit yang kini jadi primadona.

Kios Market Chicken Steak milik Sutrisno yang menghadirkan menu Barat di tengah deretan kuliner tradisional Pasar Cihapit, Bandung. Meski berukuran terbatas, kios ini menjadi destinasi baru bagi pemburu kuliner. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Komunitas 07 Apr 2026, 18:44

Ekspresi Tanpa Suara, Komunitas Karya Seni Tuli Bangun Jembatan antara Teman Tuli dan Dengar

Ruang ini menjadi tempat berbagi cerita, belajar, dan mengekspresikan diri tanpa batas, sekaligus mempererat hubungan antara teman tuli dan teman dengar dalam semangat saling memahami.

Suasana hangat pertemuan Karya Seni Tuli dipenuhi interaksi melalui bahasa isyarat, tawa, dan semangat berkarya bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 07 Apr 2026, 16:23

Tumbuh Pesat! Penyaluran Kredit UMKM Jawa Barat Tembus Rp186 Triliun, Kota Bandung Jadi Motor Utama

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan lagi sekadar jaring pengaman ekonomi, melainkan motor utama pertumbuhan di Jawa Barat.

Ilustrasi. Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan lagi sekadar jaring pengaman ekonomi, melainkan motor utama pertumbuhan di Jawa Barat. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 07 Apr 2026, 15:22

Panduan Wisata Talaga Bodas Garut, Kawah Belerang yang Pernah jadi Primadona Orang Eropa

Talaga Bodas pernah populer sejak abad ke-19 melalui kartu pos kolonial, sebelum kembali bangkit sebagai destinasi wisata alam unggulan di Garut.

Objek Wisata Talaga Bodas, Garut. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 14:35

Pendidikan Bertumbuh Dimulai dari Guru yang Growth Mindset

Pendidik adalah agen pembelajar sepanjang hidup untuk memberikan stimulus kepada para murid dalam menuntun menumbuhkembangkan potensi secara kodrati.

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 11:04

Kisah Pendatang yang Tak Sengaja Ciptakan ‘Batagor’ Makanan Favorit Kota Bandung

Batagor pertama kali muncul di Bandung pada tahun 1970-an.

Pedagang batagor. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ikon 07 Apr 2026, 10:25

Hikayat Jalan Soekarno Hatta Bandung, Bypass Lurus Panjang Buatan Orde Baru

Dibangun pada 1980-an sebagai jalan elak, Jalan Soekarno Hatta kini berubah menjadi koridor padat yang merekam pertumbuhan Bandung dari pinggiran ke pusat aktivitas.

Suasana Jalan Soekarno Hatta, Bandung. (Foto: Irfan Al Faritsi/Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 08:57

Inilah 5 Hierarki Kebutuhan Mahasiswa dari Garut di UIN Bandung Tahun 2002

Tahun 2002, saya resmi jadi mahasiswa di UIN Bandung. Modalnya? Nekat.

Kampus tempat menimba ilmu keislaman Penulis (Sumber: uinsgd.ac.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 18:12

Tantangan Komunikasi Perantau

Pasca mudik Lebaran, kota-kota besar didatangi para perantau baru.

Pemudik di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 06 Apr 2026, 17:02

Menghadapi "Paradoks Rebana", Antara Ambisi Industri dan Realitas Kompetensi Lokal

Kawasan Metropolitan Rebana yang meliputi Cirebon (Kota), Cirebon (Kabupaten), Indramayu, Majalengka, Kuningan hingga Subang kini tengah bersiap menjadi motor penggerak ekonomi masa depan Jawa Barat.

Kawasan Rebana kini telah didukung oleh konektivitas terbaik salah satunya Pelabuhan Patimban untuk ekspor-impor, yang merupakan magnet bagi investor global. (Sumber: portalkemhub.go.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 17:02

10 Netizen Terpilih Maret 2026: Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan

Tulisan-tulisan terbaik yang masuk ke kanal Ayo Netizen sepanjang Maret 2026.

Umat Islam setelah melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di pelataran Gedung Sate. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)