Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

5 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Dalam banyak kasus, kecelakaan bukan semata hasil dari kesalahan individu, melainkan cerminan dari sistem yang belum sepenuhnya mampu memberikan panduan yang jelas.

Bayangkan mengemudi di malam hari tanpa garis lajur yang jelas dan tanpa rambu yang terbaca. Bagi banyak pengguna jalan di Bandung, situasi ini bukan sekadar bayangan, melainkan kenyataan sehari-hari yang meningkatkan risiko kecelakaan.

Di banyak ruas jalan di Bandung, kecelakaan lalu lintas kerap dikaitkan dengan perilaku pengemudi. Perspektif ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi belum menggambarkan keseluruhan persoalan. Ada faktor lain yang sering luput dari perhatian: kualitas infrastruktur yang seharusnya memandu pengguna jalan.

Pada malam hari atau saat hujan, tidak sedikit pengemudi yang sebenarnya berada dalam situasi “tanpa panduan”. Marka lajur tertutup genangan, rambu kehilangan daya pantul, dan informasi visual yang krusial menjadi sulit diakses. Dalam kondisi seperti ini, ruang bagi kesalahan menjadi semakin besar—bukan semata karena individu, tetapi karena sistem yang tidak bekerja optimal.

Rambu dan marka lalu lintas merupakan bagian dari road safety system yang dirancang untuk memberikan arahan, peringatan, dan pengendalian. Perannya sederhana, namun krusial.

Namun demikian, perhatian terhadap infrastruktur ini kerap lebih besar pada tahap penyediaan dibandingkan pemeliharaan. Dalam praktiknya, tidak sedikit ruas jalan yang secara fisik tampak lengkap, tetapi secara fungsional mengalami penurunan kualitas.

Di lapangan, persoalan visibilitas rambu tidak hanya disebabkan oleh faktor usia material. Dalam banyak kasus, rambu juga tertutup oleh elemen lain seperti ranting pohon, spanduk, atau bahkan kendaraan parkir. Kondisi ini membuat informasi lalu lintas yang seharusnya mudah diakses justru tidak terlihat pada saat dibutuhkan, terutama dalam situasi dengan waktu reaksi yang terbatas.

Secara teknis, marka jalan idealnya memiliki tingkat reflektansi minimum (retroreflectivity) sekitar 100–150 mcd/m²/lux agar tetap terlihat pada malam hari. Tanpa pemeliharaan berkala, nilai ini dapat turun drastis dalam waktu 1–2 tahun, terutama pada ruas dengan volume lalu lintas tinggi.

Ketika Marka Tidak Lagi Menjadi Panduan

Marka jalan berfungsi menjaga keteraturan pergerakan kendaraan. Ketika marka mulai memudar, batas antar lajur menjadi kurang jelas. Dalam situasi lalu lintas padat, hal ini dapat mendorong manuver yang kurang terprediksi.

Kondisi tersebut menjadi lebih kompleks saat hujan, ketika visibilitas marka menurun drastis. Studi keselamatan jalan menunjukkan bahwa risiko kecelakaan pada kondisi hujan dapat meningkat hingga 20–30%, terutama pada ruas dengan visibilitas rendah.

Fenomena ini tidak selalu tampak mencolok, tetapi dampaknya dapat dirasakan secara nyata dalam bentuk meningkatnya potensi konflik antar kendaraan.

Di beberapa lokasi, kondisi jalan yang mengalami kerusakan belum selalu diikuti dengan sistem peringatan yang memadai. Lubang di jalan, misalnya, tidak hanya menjadi persoalan kualitas infrastruktur, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana risiko tersebut dikomunikasikan kepada pengguna jalan.

Dalam situasi tertentu, pengendara yang berupaya menghindari kerusakan jalan justru menghadapi risiko lain akibat manuver mendadak. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan rambu peringatan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari sistem mitigasi risiko.

Hasan Fiidel, ojol asal Kabupaten Bandung memperbaiki jalan rusak tanpa duit pemerintah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Hasan Fiidel, ojol asal Kabupaten Bandung memperbaiki jalan rusak tanpa duit pemerintah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Simpang merupakan titik dengan potensi konflik tertinggi dalam jaringan jalan. Oleh karena itu, kejelasan pengaturannya menjadi sangat penting.

Ketika informasi tersebut tidak tersampaikan dengan baik, pengguna jalan dihadapkan pada situasi yang menuntut interpretasi masing-masing. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan ketidakpastian dan risiko konflik.

Persoalan visibilitas infrastruktur lalu lintas di simpang juga tidak selalu berkaitan dengan kualitas material, tetapi sering kali dengan aspek pemeliharaan lingkungan sekitar. Beredar di media sosial TikTok, seorang pengguna jalan dengan akun @ekapermanaa_ mengeluhkan kondisi alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) di Jalan KHP Hasan Mustopa arah Cicaheum yang tertutup dahan pohon, sehingga sulit terlihat dan dirinya mengalami kecelakaan menabrak pengendara lain yang berada di depannya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun perangkat pengatur lalu lintas tersedia, efektivitasnya dapat menurun apabila tidak didukung oleh pemeliharaan yang memadai. Dalam konteks simpang, keterlambatan persepsi akibat visibilitas yang terganggu berpotensi meningkatkan risiko konflik, terutama pada fase perubahan sinyal yang membutuhkan respons cepat dari pengguna jalan.

Catatan Kebijakan: Pembangunan vs Pemeliharaan

Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan infrastruktur jalan di berbagai kota, termasuk Bandung, menunjukkan tren yang cukup progresif. Namun, perhatian terhadap aspek pemeliharaan belum selalu berkembang dengan kecepatan yang sama.

Dalam kerangka kebijakan publik, kondisi ini dapat mencerminkan kecenderungan umum: pembangunan fisik lebih mudah terlihat dan diukur, sementara pemeliharaan seringkali kurang mendapatkan prioritas yang setara. Padahal, dari perspektif keselamatan, keduanya memiliki peran yang sama penting.

Tanpa sistem pemeliharaan yang konsisten, kualitas infrastruktur yang telah dibangun berpotensi menurun secara bertahap—sering kali tanpa disadari hingga risiko mulai muncul di lapangan.

Upaya meningkatkan keselamatan lalu lintas selama ini banyak difokuskan pada aspek perilaku pengguna jalan. Pendekatan tersebut penting, namun akan lebih efektif jika diiringi dengan penguatan sistem yang mendukung.

Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • evaluasi berkala terhadap visibilitas rambu dan marka,
  • pemeliharaan rutin, termasuk pengecatan ulang marka,
  • penyediaan rambu sementara pada kondisi jalan tidak normal,
  • pemanfaatan data kecelakaan untuk penentuan prioritas penanganan.

Langkah-langkah ini relatif sederhana, tetapi berpotensi memberikan dampak yang luas.

Di jalan raya, keselamatan seringkali bergantung pada elemen-elemen yang tampak sederhana—garis di permukaan jalan dan rambu di tepi jalan. Ketika keduanya tidak lagi berfungsi optimal, pengguna jalan kehilangan sebagian dari sistem yang seharusnya membantu mereka.

Laporan global World Health Organization juga menekankan bahwa faktor infrastruktur berkontribusi signifikan terhadap terjadinya kecelakaan lalu lintas, bersamaan dengan faktor manusia dan kendaraan.

Di Bandung, isu ini membuka ruang refleksi bahwa keselamatan bukan hanya soal bagaimana pengguna jalan berperilaku, tetapi juga tentang bagaimana sistem dirancang dan dipelihara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)