Official Persib Logo
1933
1933

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Kamis 09 Apr 2026, 09:54 WIB
Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Dalam banyak kasus, kecelakaan bukan semata hasil dari kesalahan individu, melainkan cerminan dari sistem yang belum sepenuhnya mampu memberikan panduan yang jelas.

Bayangkan mengemudi di malam hari tanpa garis lajur yang jelas dan tanpa rambu yang terbaca. Bagi banyak pengguna jalan di Bandung, situasi ini bukan sekadar bayangan, melainkan kenyataan sehari-hari yang meningkatkan risiko kecelakaan.

Di banyak ruas jalan di Bandung, kecelakaan lalu lintas kerap dikaitkan dengan perilaku pengemudi. Perspektif ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi belum menggambarkan keseluruhan persoalan. Ada faktor lain yang sering luput dari perhatian: kualitas infrastruktur yang seharusnya memandu pengguna jalan.

Pada malam hari atau saat hujan, tidak sedikit pengemudi yang sebenarnya berada dalam situasi “tanpa panduan”. Marka lajur tertutup genangan, rambu kehilangan daya pantul, dan informasi visual yang krusial menjadi sulit diakses. Dalam kondisi seperti ini, ruang bagi kesalahan menjadi semakin besar—bukan semata karena individu, tetapi karena sistem yang tidak bekerja optimal.

Rambu dan marka lalu lintas merupakan bagian dari road safety system yang dirancang untuk memberikan arahan, peringatan, dan pengendalian. Perannya sederhana, namun krusial.

Namun demikian, perhatian terhadap infrastruktur ini kerap lebih besar pada tahap penyediaan dibandingkan pemeliharaan. Dalam praktiknya, tidak sedikit ruas jalan yang secara fisik tampak lengkap, tetapi secara fungsional mengalami penurunan kualitas.

Di lapangan, persoalan visibilitas rambu tidak hanya disebabkan oleh faktor usia material. Dalam banyak kasus, rambu juga tertutup oleh elemen lain seperti ranting pohon, spanduk, atau bahkan kendaraan parkir. Kondisi ini membuat informasi lalu lintas yang seharusnya mudah diakses justru tidak terlihat pada saat dibutuhkan, terutama dalam situasi dengan waktu reaksi yang terbatas.

Secara teknis, marka jalan idealnya memiliki tingkat reflektansi minimum (retroreflectivity) sekitar 100–150 mcd/m²/lux agar tetap terlihat pada malam hari. Tanpa pemeliharaan berkala, nilai ini dapat turun drastis dalam waktu 1–2 tahun, terutama pada ruas dengan volume lalu lintas tinggi.

Ketika Marka Tidak Lagi Menjadi Panduan

Marka jalan berfungsi menjaga keteraturan pergerakan kendaraan. Ketika marka mulai memudar, batas antar lajur menjadi kurang jelas. Dalam situasi lalu lintas padat, hal ini dapat mendorong manuver yang kurang terprediksi.

Kondisi tersebut menjadi lebih kompleks saat hujan, ketika visibilitas marka menurun drastis. Studi keselamatan jalan menunjukkan bahwa risiko kecelakaan pada kondisi hujan dapat meningkat hingga 20–30%, terutama pada ruas dengan visibilitas rendah.

Fenomena ini tidak selalu tampak mencolok, tetapi dampaknya dapat dirasakan secara nyata dalam bentuk meningkatnya potensi konflik antar kendaraan.

Di beberapa lokasi, kondisi jalan yang mengalami kerusakan belum selalu diikuti dengan sistem peringatan yang memadai. Lubang di jalan, misalnya, tidak hanya menjadi persoalan kualitas infrastruktur, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana risiko tersebut dikomunikasikan kepada pengguna jalan.

Dalam situasi tertentu, pengendara yang berupaya menghindari kerusakan jalan justru menghadapi risiko lain akibat manuver mendadak. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan rambu peringatan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari sistem mitigasi risiko.

Hasan Fiidel, ojol asal Kabupaten Bandung memperbaiki jalan rusak tanpa duit pemerintah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Hasan Fiidel, ojol asal Kabupaten Bandung memperbaiki jalan rusak tanpa duit pemerintah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Simpang merupakan titik dengan potensi konflik tertinggi dalam jaringan jalan. Oleh karena itu, kejelasan pengaturannya menjadi sangat penting.

Ketika informasi tersebut tidak tersampaikan dengan baik, pengguna jalan dihadapkan pada situasi yang menuntut interpretasi masing-masing. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan ketidakpastian dan risiko konflik.

Persoalan visibilitas infrastruktur lalu lintas di simpang juga tidak selalu berkaitan dengan kualitas material, tetapi sering kali dengan aspek pemeliharaan lingkungan sekitar. Beredar di media sosial TikTok, seorang pengguna jalan dengan akun @ekapermanaa_ mengeluhkan kondisi alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) di Jalan KHP Hasan Mustopa arah Cicaheum yang tertutup dahan pohon, sehingga sulit terlihat dan dirinya mengalami kecelakaan menabrak pengendara lain yang berada di depannya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun perangkat pengatur lalu lintas tersedia, efektivitasnya dapat menurun apabila tidak didukung oleh pemeliharaan yang memadai. Dalam konteks simpang, keterlambatan persepsi akibat visibilitas yang terganggu berpotensi meningkatkan risiko konflik, terutama pada fase perubahan sinyal yang membutuhkan respons cepat dari pengguna jalan.

Catatan Kebijakan: Pembangunan vs Pemeliharaan

Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan infrastruktur jalan di berbagai kota, termasuk Bandung, menunjukkan tren yang cukup progresif. Namun, perhatian terhadap aspek pemeliharaan belum selalu berkembang dengan kecepatan yang sama.

Dalam kerangka kebijakan publik, kondisi ini dapat mencerminkan kecenderungan umum: pembangunan fisik lebih mudah terlihat dan diukur, sementara pemeliharaan seringkali kurang mendapatkan prioritas yang setara. Padahal, dari perspektif keselamatan, keduanya memiliki peran yang sama penting.

Tanpa sistem pemeliharaan yang konsisten, kualitas infrastruktur yang telah dibangun berpotensi menurun secara bertahap—sering kali tanpa disadari hingga risiko mulai muncul di lapangan.

Upaya meningkatkan keselamatan lalu lintas selama ini banyak difokuskan pada aspek perilaku pengguna jalan. Pendekatan tersebut penting, namun akan lebih efektif jika diiringi dengan penguatan sistem yang mendukung.

Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • evaluasi berkala terhadap visibilitas rambu dan marka,
  • pemeliharaan rutin, termasuk pengecatan ulang marka,
  • penyediaan rambu sementara pada kondisi jalan tidak normal,
  • pemanfaatan data kecelakaan untuk penentuan prioritas penanganan.

Langkah-langkah ini relatif sederhana, tetapi berpotensi memberikan dampak yang luas.

Di jalan raya, keselamatan seringkali bergantung pada elemen-elemen yang tampak sederhana—garis di permukaan jalan dan rambu di tepi jalan. Ketika keduanya tidak lagi berfungsi optimal, pengguna jalan kehilangan sebagian dari sistem yang seharusnya membantu mereka.

Laporan global World Health Organization juga menekankan bahwa faktor infrastruktur berkontribusi signifikan terhadap terjadinya kecelakaan lalu lintas, bersamaan dengan faktor manusia dan kendaraan.

Di Bandung, isu ini membuka ruang refleksi bahwa keselamatan bukan hanya soal bagaimana pengguna jalan berperilaku, tetapi juga tentang bagaimana sistem dirancang dan dipelihara. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 09:41

Bandung: Kota Ramah Pejalan Kaki dan Disabilitas yang Masih Sebatas Slogan

Trotoar Bandung masih dipenuhi puing proyek, parkir liar, dan aktivitas lain yang mengurangi hak pejalan kaki serta aksesibilitas penyandang disabilitas.

Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)