Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Kamis 09 Apr 2026, 09:54 WIB
Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Dalam banyak kasus, kecelakaan bukan semata hasil dari kesalahan individu, melainkan cerminan dari sistem yang belum sepenuhnya mampu memberikan panduan yang jelas.

Bayangkan mengemudi di malam hari tanpa garis lajur yang jelas dan tanpa rambu yang terbaca. Bagi banyak pengguna jalan di Bandung, situasi ini bukan sekadar bayangan, melainkan kenyataan sehari-hari yang meningkatkan risiko kecelakaan.

Di banyak ruas jalan di Bandung, kecelakaan lalu lintas kerap dikaitkan dengan perilaku pengemudi. Perspektif ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi belum menggambarkan keseluruhan persoalan. Ada faktor lain yang sering luput dari perhatian: kualitas infrastruktur yang seharusnya memandu pengguna jalan.

Pada malam hari atau saat hujan, tidak sedikit pengemudi yang sebenarnya berada dalam situasi “tanpa panduan”. Marka lajur tertutup genangan, rambu kehilangan daya pantul, dan informasi visual yang krusial menjadi sulit diakses. Dalam kondisi seperti ini, ruang bagi kesalahan menjadi semakin besar—bukan semata karena individu, tetapi karena sistem yang tidak bekerja optimal.

Rambu dan marka lalu lintas merupakan bagian dari road safety system yang dirancang untuk memberikan arahan, peringatan, dan pengendalian. Perannya sederhana, namun krusial.

Namun demikian, perhatian terhadap infrastruktur ini kerap lebih besar pada tahap penyediaan dibandingkan pemeliharaan. Dalam praktiknya, tidak sedikit ruas jalan yang secara fisik tampak lengkap, tetapi secara fungsional mengalami penurunan kualitas.

Di lapangan, persoalan visibilitas rambu tidak hanya disebabkan oleh faktor usia material. Dalam banyak kasus, rambu juga tertutup oleh elemen lain seperti ranting pohon, spanduk, atau bahkan kendaraan parkir. Kondisi ini membuat informasi lalu lintas yang seharusnya mudah diakses justru tidak terlihat pada saat dibutuhkan, terutama dalam situasi dengan waktu reaksi yang terbatas.

Secara teknis, marka jalan idealnya memiliki tingkat reflektansi minimum (retroreflectivity) sekitar 100–150 mcd/m²/lux agar tetap terlihat pada malam hari. Tanpa pemeliharaan berkala, nilai ini dapat turun drastis dalam waktu 1–2 tahun, terutama pada ruas dengan volume lalu lintas tinggi.

Ketika Marka Tidak Lagi Menjadi Panduan

Marka jalan berfungsi menjaga keteraturan pergerakan kendaraan. Ketika marka mulai memudar, batas antar lajur menjadi kurang jelas. Dalam situasi lalu lintas padat, hal ini dapat mendorong manuver yang kurang terprediksi.

Kondisi tersebut menjadi lebih kompleks saat hujan, ketika visibilitas marka menurun drastis. Studi keselamatan jalan menunjukkan bahwa risiko kecelakaan pada kondisi hujan dapat meningkat hingga 20–30%, terutama pada ruas dengan visibilitas rendah.

Fenomena ini tidak selalu tampak mencolok, tetapi dampaknya dapat dirasakan secara nyata dalam bentuk meningkatnya potensi konflik antar kendaraan.

Di beberapa lokasi, kondisi jalan yang mengalami kerusakan belum selalu diikuti dengan sistem peringatan yang memadai. Lubang di jalan, misalnya, tidak hanya menjadi persoalan kualitas infrastruktur, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana risiko tersebut dikomunikasikan kepada pengguna jalan.

Dalam situasi tertentu, pengendara yang berupaya menghindari kerusakan jalan justru menghadapi risiko lain akibat manuver mendadak. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan rambu peringatan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari sistem mitigasi risiko.

Hasan Fiidel, ojol asal Kabupaten Bandung memperbaiki jalan rusak tanpa duit pemerintah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Hasan Fiidel, ojol asal Kabupaten Bandung memperbaiki jalan rusak tanpa duit pemerintah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Simpang merupakan titik dengan potensi konflik tertinggi dalam jaringan jalan. Oleh karena itu, kejelasan pengaturannya menjadi sangat penting.

Ketika informasi tersebut tidak tersampaikan dengan baik, pengguna jalan dihadapkan pada situasi yang menuntut interpretasi masing-masing. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan ketidakpastian dan risiko konflik.

Persoalan visibilitas infrastruktur lalu lintas di simpang juga tidak selalu berkaitan dengan kualitas material, tetapi sering kali dengan aspek pemeliharaan lingkungan sekitar. Beredar di media sosial TikTok, seorang pengguna jalan dengan akun @ekapermanaa_ mengeluhkan kondisi alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) di Jalan KHP Hasan Mustopa arah Cicaheum yang tertutup dahan pohon, sehingga sulit terlihat dan dirinya mengalami kecelakaan menabrak pengendara lain yang berada di depannya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun perangkat pengatur lalu lintas tersedia, efektivitasnya dapat menurun apabila tidak didukung oleh pemeliharaan yang memadai. Dalam konteks simpang, keterlambatan persepsi akibat visibilitas yang terganggu berpotensi meningkatkan risiko konflik, terutama pada fase perubahan sinyal yang membutuhkan respons cepat dari pengguna jalan.

Catatan Kebijakan: Pembangunan vs Pemeliharaan

Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan infrastruktur jalan di berbagai kota, termasuk Bandung, menunjukkan tren yang cukup progresif. Namun, perhatian terhadap aspek pemeliharaan belum selalu berkembang dengan kecepatan yang sama.

Dalam kerangka kebijakan publik, kondisi ini dapat mencerminkan kecenderungan umum: pembangunan fisik lebih mudah terlihat dan diukur, sementara pemeliharaan seringkali kurang mendapatkan prioritas yang setara. Padahal, dari perspektif keselamatan, keduanya memiliki peran yang sama penting.

Tanpa sistem pemeliharaan yang konsisten, kualitas infrastruktur yang telah dibangun berpotensi menurun secara bertahap—sering kali tanpa disadari hingga risiko mulai muncul di lapangan.

Upaya meningkatkan keselamatan lalu lintas selama ini banyak difokuskan pada aspek perilaku pengguna jalan. Pendekatan tersebut penting, namun akan lebih efektif jika diiringi dengan penguatan sistem yang mendukung.

Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • evaluasi berkala terhadap visibilitas rambu dan marka,
  • pemeliharaan rutin, termasuk pengecatan ulang marka,
  • penyediaan rambu sementara pada kondisi jalan tidak normal,
  • pemanfaatan data kecelakaan untuk penentuan prioritas penanganan.

Langkah-langkah ini relatif sederhana, tetapi berpotensi memberikan dampak yang luas.

Di jalan raya, keselamatan seringkali bergantung pada elemen-elemen yang tampak sederhana—garis di permukaan jalan dan rambu di tepi jalan. Ketika keduanya tidak lagi berfungsi optimal, pengguna jalan kehilangan sebagian dari sistem yang seharusnya membantu mereka.

Laporan global World Health Organization juga menekankan bahwa faktor infrastruktur berkontribusi signifikan terhadap terjadinya kecelakaan lalu lintas, bersamaan dengan faktor manusia dan kendaraan.

Di Bandung, isu ini membuka ruang refleksi bahwa keselamatan bukan hanya soal bagaimana pengguna jalan berperilaku, tetapi juga tentang bagaimana sistem dirancang dan dipelihara. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Dosen dan Peneliti Bidang Teknik Sipil (Transportasi), Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 08:59

Taman Uncal Soreang, Wisata Edukatif Murah Meriah

Taman Uncal di Soreang menawarkan wisata edukatif gratis dengan rusa totol. Cocok untuk liburan keluarga murah meriah di Bandung.

Taman Uncal Soreang, tempat wisata murah meriah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 08:49

'Mana Tahan ...' dan Kosakata Gaul Tahun 1980-an

Mengenang kata-kata para kawula muda khususnya Bandung tahun 1980-an penuh persahabatan dan canda.

Ilustrasi anak muda tahun 1980-an. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Seni Budaya 09 Apr 2026, 00:12

Hikayat Degung, Gamelan Istana yang jadi Warisan Budaya Sunda

Degung tumbuh dari tradisi istana, mengalami perubahan instrumen dan fungsi, hingga menjadi bagian penting identitas budaya Sunda hari ini.

Pementasan degung. (Sumber: YouTube ThisIsBandung)
Mayantara 08 Apr 2026, 18:17

Ketakwaan Terlangka di Era Digital Religion

Di era digital hari ini, pengakuan tidak lagi menunggu ruang fisik, melainkan hadir dalam genggaman melalui likes, views, dan komentar.

Salah berjamaah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 08 Apr 2026, 17:15

Menjembatani Celah Kreativitas dan Hukum dalam Ekosistem Ekraf Bandung

Dialog Ekraf Bandung bedah celah hukum dan nilai ekonomi industri kreatif guna ciptakan ekosistem yang lebih kokoh bagi pelaku seni

Dialog Ekraf Bandung bedah celah hukum dan nilai ekonomi industri kreatif guna ciptakan ekosistem yang lebih kokoh bagi pelaku seni (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 08 Apr 2026, 15:50

Plastik Makin Mahal, Saatnya Warga Bandung 'Putus Hubungan' dengan Kantong Sekali Pakai

Harga plastik di Bandung naik, jadi momentum warga beralih dari kantong sekali pakai untuk mengurangi sampah.

Kenaikan harga plastik di Pasar Kosambi membuat pedagang dan pembeli sama-sama merasakan dampaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Beranda 08 Apr 2026, 15:39

Cerita Ricky, Pemain Biola Jalanan yang Kerap Kucing-kucingan dengan Satpol PP

Di tengah kerasnya jalanan Bandung, Ricky Rustandi Pratama memilih bertahan hidup lewat alunan biola di sela-sela ancaman penertiban petugas.

Di tengah lalu lintas Kota Bandung, Ricky menghibur pengendara dengan alunan biola dari hasil belajar otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 14:08

Tombolo Pangandaran Menghubungkan Pulau Pananjung dengan Daratan Utama

Tombolo itu terbentuk bukan karena sebab tunggal. Prosesnya rumit dan memakan waktu yang panjang.

Tombolo Pangandaran, menyambung Pulau Pananjung dengan Daratan Utama dengan endapan pasir yang terbentuk secara bertahap. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Wisata & Kuliner 08 Apr 2026, 13:33

Jelajah Situ Cileunca sampai Hilir: dari Wisata, Pembangkit Listrik hingga Kearifan Lokal

Dibangun sejak era kolonial, Situ Cileunca berkembang menjadi sumber listrik, destinasi wisata unggulan, serta ruang aktivitas olahraga air bagi masyarakat Pangalengan.

Situ Cileunca, salah satu objek wisata favorit di Kabupaten Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ikon 08 Apr 2026, 13:19

Hikayat Gunung Kunci, Benteng Kamuflase Belanda di Tengah Kota Sumedang

Di balik hijaunya Gunung Kunci Sumedang, tersimpan sejarah benteng Belanda dan kisah pahit penahanan pejuang.

Tahura Gunung Kunci Sumedang. (Sumber: sumedangkab.go.id)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 11:22

Kaum Urban di Bandung Abad ke-19

Di Bandung pada abad ke-19 pun telah terjadi banyak lonjakan urbanisasi.

Jalan Raya Pos Bandung masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 08:38

Ruang Terakhir yang Kian Sempit

Lahan pemakaman yang dikelola pemerintah kian terbatas.

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 07 Apr 2026, 20:09

Rapor Hijau Perbankan Jawa Barat di Tengah Tren Pengetatan Sektor Unggulan

Dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jawa Barat menunjukkan performa perbankan yang solid, meski dihadapkan tantangan diversifikasi sektor dan manajemen risiko kredit yang makin selektif.

Ilustrasi. Dinamika ekonomi global yang fluktuatif di awal tahun 2026 tidak menyurutkan ketahanan sektor jasa keuangan di Jawa Barat. (Sumber: Pixabay)
Bandung 07 Apr 2026, 19:47

Strategi Market Chicken Steak Bertahan di Tengah Geliat Kuliner Pasar Cihapit

Siapa sangka ada kelezatan steak di sudut pasar tradisional? Simak kisah Sutrisno mengubah peluang jadi keunikan kuliner di Pasar Cihapit yang kini jadi primadona.

Kios Market Chicken Steak milik Sutrisno yang menghadirkan menu Barat di tengah deretan kuliner tradisional Pasar Cihapit, Bandung. Meski berukuran terbatas, kios ini menjadi destinasi baru bagi pemburu kuliner. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Komunitas 07 Apr 2026, 18:44

Ekspresi Tanpa Suara, Komunitas Karya Seni Tuli Bangun Jembatan antara Teman Tuli dan Dengar

Ruang ini menjadi tempat berbagi cerita, belajar, dan mengekspresikan diri tanpa batas, sekaligus mempererat hubungan antara teman tuli dan teman dengar dalam semangat saling memahami.

Suasana hangat pertemuan Karya Seni Tuli dipenuhi interaksi melalui bahasa isyarat, tawa, dan semangat berkarya bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 07 Apr 2026, 16:23

Tumbuh Pesat! Penyaluran Kredit UMKM Jawa Barat Tembus Rp186 Triliun, Kota Bandung Jadi Motor Utama

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan lagi sekadar jaring pengaman ekonomi, melainkan motor utama pertumbuhan di Jawa Barat.

Ilustrasi. Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan lagi sekadar jaring pengaman ekonomi, melainkan motor utama pertumbuhan di Jawa Barat. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 07 Apr 2026, 15:22

Panduan Wisata Talaga Bodas Garut, Kawah Belerang yang Pernah jadi Primadona Orang Eropa

Talaga Bodas pernah populer sejak abad ke-19 melalui kartu pos kolonial, sebelum kembali bangkit sebagai destinasi wisata alam unggulan di Garut.

Objek Wisata Talaga Bodas, Garut. (Sumber: Wikimedia)