Plastik Makin Mahal, Saatnya Warga Bandung 'Putus Hubungan' dengan Kantong Sekali Pakai

4 menit baca
Bob Yanuar Gilang Fathu Romadhan Toni Hermawan
Ditulis oleh Bob Yanuar , Gilang Fathu Romadhan , Toni Hermawan diterbitkan
Kenaikan harga plastik di Pasar Kosambi membuat pedagang dan pembeli sama-sama merasakan dampaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Kenaikan harga plastik di Pasar Kosambi membuat pedagang dan pembeli sama-sama merasakan dampaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Kenaikan harga plastik yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di Kota Bandung tidak hanya menjadi persoalan ekonomi bagi pedagang, tetapi juga membuka peluang untuk menata ulang kebiasaan masyarakat dalam menggunakan plastik sekali pakai. Di balik keluhan para pelaku usaha, situasi ini justru dapat menjadi titik awal untuk mengurangi timbulan sampah yang selama ini menjadi beban kota.

Di sejumlah pasar, seperti Pasar Segar Kopo di Jalan Taman Kopo Indah 2, dampak kenaikan harga plastik sudah terasa nyata. Para pedagang mengaku kesulitan menjaga harga jual karena biaya kemasan meningkat tajam. Kondisi ini membuat daya beli konsumen ikut tertekan.

Dede Mulyana, pedagang plastik yang telah berjualan selama puluhan tahun, merasakan langsung perubahan tersebut. Ia menyebut harga berbagai jenis plastik naik dalam beberapa bulan terakhir dan sulit dikendalikan.

“Saya jualan disini ada 20 tahun, jualan jenis plastik selerti, keresek, OPP, AD, dll,” ucapnya.

Menurutnya, kenaikan harga terjadi hampir di semua jenis plastik. Ia bahkan menyebut harga kini berada pada level yang cukup tinggi dibandingkan sebelumnya.

“Sekarang lagi tinggi, tinggi banget sekarang, paling ada yang Rp 40.000 lebih, Rp 50.000,” ujarnya.

Sejumlah pedagang plastik di Pasar Kosambi menilai kenaikan dipengaruhi oleh ketergantungan pada bahan baku impor, dengan peningkatan harga berkisar antara 50 hingga 100 persen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Sejumlah pedagang plastik di Pasar Kosambi menilai kenaikan dipengaruhi oleh ketergantungan pada bahan baku impor, dengan peningkatan harga berkisar antara 50 hingga 100 persen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Kondisi ini membuat pelanggan mulai mengurangi pembelian. Sebagian memilih mencari alternatif yang lebih murah atau menggunakan kembali plastik yang sudah ada.

“Seperti keresek Rp 15.000, dari pertama itu kan keresek jual cuma Rp 6.500 sekarang jadi Rp 9.000, sebelumnya beli diharga Rp 9.000, sekarang jadi Rp 11.000,” ucapnya.

Penurunan daya beli juga dirasakan pedagang lain. Dadang Mulayana menyebut penjualan plastik menurun drastis sejak harga melonjak.

“Anjlok jauh, dari konsumen banyak yang ngeluh termasuk pedagang juga,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa sebelumnya penjualan masih stabil, namun kini satu ikat plastik pun sulit terjual.

“Waktu belum naik lumayan bisa terjual 4 ikat sampai lebih, sekarang mah satu ikat juga susah,” ujarnya.

Saatnya Ubah Kebiasaan

Di sisi lain, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan melihat fenomena ini sebagai persoalan serius sekaligus peluang. Ia mengungkapkan bahwa harga plastik kemasan bahkan melonjak hingga beberapa kali lipat dalam waktu singkat.

“Saya mendapat laporan harga plastik bungkus naik signifikan. Dari yang biasanya sekitar Rp15 ribu per paket kini menjadi Rp40 ribuan,” kata Farhan.

Kenaikan ini dinilai membebani pelaku usaha, terutama UMKM kuliner yang sangat bergantung pada kemasan plastik untuk layanan bawa pulang. Meski demikian, ia menilai situasi ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.

“Kalau keluar rumah jangan lupa bawa kantong belanja sebagai pengganti kresek dan bawa juga kontainer makanan dari rumah,” imbaunya.

Ia juga menegaskan bahwa mahalnya plastik bisa menjadi dorongan untuk mengurangi sampah.

“Selain harganya mahal ini juga kesempatan kita untuk mengurangi sampah plastik,” tuturnya.

Jika melihat data produksi sampah Kota Bandung tahun 2024, potensi pengurangan plastik memang sangat signifikan. Sampah plastik tercatat mencapai 249,16 ton per hari. Angka ini menempatkan plastik sebagai salah satu jenis sampah terbesar setelah sisa makanan yang mencapai 664,24 ton per hari. Jumlah ini menunjukkan betapa besar ketergantungan masyarakat terhadap plastik sekali pakai.

No

Jenis Sampah

Produksi (Ton/Hari)

1

Sisa Makanan dan Daun

664.24

2

Plastik

249.16

3

Kertas

195.75

4

Lainnya

176.50

5

Kain

70.87

6

Kayu dan Ranting

59.38

7

Karet dan Kulit

35.51

8

Limbah B3

27.15

9

Logam

13.43

Sampah plastik di Pasar Majalaya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Sonjaya)
Sampah plastik di Pasar Majalaya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Sonjaya)

Pasar Penyumbang Sampah Plastik Terbanyak

Namun, upaya pengurangan plastik tidaklah mudah. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat menilai ada tantangan struktural yang harus dihadapi. Salah satunya adalah maraknya pasar dadakan yang menghasilkan banyak sampah plastik tanpa pengelolaan yang memadai.

Jefry Rohman dari Walhi menyoroti bahwa sebagian besar sampah dari aktivitas tersebut adalah plastik sekali pakai. Ia juga menilai penanganan sampah masih belum menyentuh akar persoalan.

"Sebetulnya siapa sih yang mengizinkan pasar dadakan? pasti ada pihak yang mengizinkan dan pasti kalau cara pandangnya bagaimana menangani dampak dari pasar-pasar tumpah itu pasti kalau dipikirkan," kata Jefry.

Selain itu, pendekatan pengelolaan sampah dinilai masih berorientasi pada retribusi, bukan pada pengurangan dari sumber.

"Pemerintah sampai saat ini melihat permasalahan sampah ini baru sebatas ada nilai didalamnya. Apa itu? Ada retribusi. Jadi artinya pemerintah baru bisa menangani sampah ketika ada retribusi," ujar Jefry.

Program pengurangan sampah seperti Kang Pisman juga belum berjalan optimal di tingkat masyarakat. Perubahan perilaku masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan kebijakan konsisten dan berkelanjutan.

Seorang warga mengumpulkan sampah plastik berupa botol dan gelas menggunakan perahu di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Seorang warga mengumpulkan sampah plastik berupa botol dan gelas menggunakan perahu di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Kenaikan harga plastik ini sebenarnya membuka ruang untuk perubahan. Ketika plastik menjadi mahal, masyarakat dan pelaku usaha dipaksa untuk mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan. Namun, tanpa dukungan kebijakan, infrastruktur, dan edukasi yang kuat, momentum ini bisa berlalu begitu saja.

Jika dimanfaatkan dengan tepat, kenaikan harga plastik dapat menjadi titik balik untuk mengurangi sampah di Kota Bandung. Namun, tantangan di lapangan menunjukkan bahwa perubahan tersebut membutuhkan kerja bersama yang tidak sederhana.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 26 Agu 2026, 07:38

Nama, Doa, dan Ikhtiar

Yang membuat nama menjadi bermakna bukan hanya rangkaian hurufnya. Ada harapan orang tua, perjalanan hidup yang mengiringinya, dan tanggung jawab pemilik nama untuk menjadikan doa sebagai kehidupan.

Ilustrasi nama orang sunda yang sudah hampir punah. (Sumber: Pixabay by Pexels)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 18:01

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Produksi semen konvensional menyumbang emisi karbon dunia secara signifikan. Penggunaan bubuk basalt dapat menggantikan sebagian porsi semen konvensional tanpa merusak karakteristiknya.

Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)