Plastik Makin Mahal, Saatnya Warga Bandung 'Putus Hubungan' dengan Kantong Sekali Pakai

Bob Yanuar Gilang Fathu Romadhan Toni Hermawan
Ditulis oleh Bob Yanuar , Gilang Fathu Romadhan , Toni Hermawan diterbitkan Rabu 08 Apr 2026, 15:50 WIB
Kenaikan harga plastik di Pasar Kosambi membuat pedagang dan pembeli sama-sama merasakan dampaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Kenaikan harga plastik di Pasar Kosambi membuat pedagang dan pembeli sama-sama merasakan dampaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Kenaikan harga plastik yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di Kota Bandung tidak hanya menjadi persoalan ekonomi bagi pedagang, tetapi juga membuka peluang untuk menata ulang kebiasaan masyarakat dalam menggunakan plastik sekali pakai. Di balik keluhan para pelaku usaha, situasi ini justru dapat menjadi titik awal untuk mengurangi timbulan sampah yang selama ini menjadi beban kota.

Di sejumlah pasar, seperti Pasar Segar Kopo di Jalan Taman Kopo Indah 2, dampak kenaikan harga plastik sudah terasa nyata. Para pedagang mengaku kesulitan menjaga harga jual karena biaya kemasan meningkat tajam. Kondisi ini membuat daya beli konsumen ikut tertekan.

Dede Mulyana, pedagang plastik yang telah berjualan selama puluhan tahun, merasakan langsung perubahan tersebut. Ia menyebut harga berbagai jenis plastik naik dalam beberapa bulan terakhir dan sulit dikendalikan.

“Saya jualan disini ada 20 tahun, jualan jenis plastik selerti, keresek, OPP, AD, dll,” ucapnya.

Menurutnya, kenaikan harga terjadi hampir di semua jenis plastik. Ia bahkan menyebut harga kini berada pada level yang cukup tinggi dibandingkan sebelumnya.

“Sekarang lagi tinggi, tinggi banget sekarang, paling ada yang Rp 40.000 lebih, Rp 50.000,” ujarnya.

Sejumlah pedagang plastik di Pasar Kosambi menilai kenaikan dipengaruhi oleh ketergantungan pada bahan baku impor, dengan peningkatan harga berkisar antara 50 hingga 100 persen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Sejumlah pedagang plastik di Pasar Kosambi menilai kenaikan dipengaruhi oleh ketergantungan pada bahan baku impor, dengan peningkatan harga berkisar antara 50 hingga 100 persen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Kondisi ini membuat pelanggan mulai mengurangi pembelian. Sebagian memilih mencari alternatif yang lebih murah atau menggunakan kembali plastik yang sudah ada.

“Seperti keresek Rp 15.000, dari pertama itu kan keresek jual cuma Rp 6.500 sekarang jadi Rp 9.000, sebelumnya beli diharga Rp 9.000, sekarang jadi Rp 11.000,” ucapnya.

Penurunan daya beli juga dirasakan pedagang lain. Dadang Mulayana menyebut penjualan plastik menurun drastis sejak harga melonjak.

“Anjlok jauh, dari konsumen banyak yang ngeluh termasuk pedagang juga,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa sebelumnya penjualan masih stabil, namun kini satu ikat plastik pun sulit terjual.

“Waktu belum naik lumayan bisa terjual 4 ikat sampai lebih, sekarang mah satu ikat juga susah,” ujarnya.

Saatnya Ubah Kebiasaan

Di sisi lain, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan melihat fenomena ini sebagai persoalan serius sekaligus peluang. Ia mengungkapkan bahwa harga plastik kemasan bahkan melonjak hingga beberapa kali lipat dalam waktu singkat.

“Saya mendapat laporan harga plastik bungkus naik signifikan. Dari yang biasanya sekitar Rp15 ribu per paket kini menjadi Rp40 ribuan,” kata Farhan.

Kenaikan ini dinilai membebani pelaku usaha, terutama UMKM kuliner yang sangat bergantung pada kemasan plastik untuk layanan bawa pulang. Meski demikian, ia menilai situasi ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.

“Kalau keluar rumah jangan lupa bawa kantong belanja sebagai pengganti kresek dan bawa juga kontainer makanan dari rumah,” imbaunya.

Ia juga menegaskan bahwa mahalnya plastik bisa menjadi dorongan untuk mengurangi sampah.

“Selain harganya mahal ini juga kesempatan kita untuk mengurangi sampah plastik,” tuturnya.

Jika melihat data produksi sampah Kota Bandung tahun 2024, potensi pengurangan plastik memang sangat signifikan. Sampah plastik tercatat mencapai 249,16 ton per hari. Angka ini menempatkan plastik sebagai salah satu jenis sampah terbesar setelah sisa makanan yang mencapai 664,24 ton per hari. Jumlah ini menunjukkan betapa besar ketergantungan masyarakat terhadap plastik sekali pakai.

No

Jenis Sampah

Produksi (Ton/Hari)

1

Sisa Makanan dan Daun

664.24

2

Plastik

249.16

3

Kertas

195.75

4

Lainnya

176.50

5

Kain

70.87

6

Kayu dan Ranting

59.38

7

Karet dan Kulit

35.51

8

Limbah B3

27.15

9

Logam

13.43

Sampah plastik di Pasar Majalaya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Sonjaya)
Sampah plastik di Pasar Majalaya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Sonjaya)

Pasar Penyumbang Sampah Plastik Terbanyak

Namun, upaya pengurangan plastik tidaklah mudah. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat menilai ada tantangan struktural yang harus dihadapi. Salah satunya adalah maraknya pasar dadakan yang menghasilkan banyak sampah plastik tanpa pengelolaan yang memadai.

Jefry Rohman dari Walhi menyoroti bahwa sebagian besar sampah dari aktivitas tersebut adalah plastik sekali pakai. Ia juga menilai penanganan sampah masih belum menyentuh akar persoalan.

"Sebetulnya siapa sih yang mengizinkan pasar dadakan? pasti ada pihak yang mengizinkan dan pasti kalau cara pandangnya bagaimana menangani dampak dari pasar-pasar tumpah itu pasti kalau dipikirkan," kata Jefry.

Selain itu, pendekatan pengelolaan sampah dinilai masih berorientasi pada retribusi, bukan pada pengurangan dari sumber.

"Pemerintah sampai saat ini melihat permasalahan sampah ini baru sebatas ada nilai didalamnya. Apa itu? Ada retribusi. Jadi artinya pemerintah baru bisa menangani sampah ketika ada retribusi," ujar Jefry.

Program pengurangan sampah seperti Kang Pisman juga belum berjalan optimal di tingkat masyarakat. Perubahan perilaku masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan kebijakan konsisten dan berkelanjutan.

Seorang warga mengumpulkan sampah plastik berupa botol dan gelas menggunakan perahu di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Seorang warga mengumpulkan sampah plastik berupa botol dan gelas menggunakan perahu di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Kenaikan harga plastik ini sebenarnya membuka ruang untuk perubahan. Ketika plastik menjadi mahal, masyarakat dan pelaku usaha dipaksa untuk mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan. Namun, tanpa dukungan kebijakan, infrastruktur, dan edukasi yang kuat, momentum ini bisa berlalu begitu saja.

Jika dimanfaatkan dengan tepat, kenaikan harga plastik dapat menjadi titik balik untuk mengurangi sampah di Kota Bandung. Namun, tantangan di lapangan menunjukkan bahwa perubahan tersebut membutuhkan kerja bersama yang tidak sederhana.

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)