AYOBANDUNG.ID - Sore di pekan pertama setelah Lebaran 2026, suasana di Stasiun Kiaracondong tak lagi seramai puncak arus mudik. Namun, cerita tentang perjalanan pulang belum benar-benar usai.
Di sisi stasiun, barisan sepeda motor terlihat tertata rapi, berhimpitan di pinggir tenda posko. Bukan sekadar diparkir, kendaraan-kendaraan ini sedang menunggu untuk diambil oleh pemiliknya. Motor-motor itu telah menempuh ratusan kilometer, tapi bukan melalui jalan raya, melainkan lewat rel kereta.
Di tengah narasi mudik yang identik dengan kemacetan dan perjalanan melelahkan, pemandangan ini terasa berbeda. Sepeda motor tidak perlu dikendarai berjam-jam, melainkan “dititipkan” agar pemiliknya bisa pulang dengan lebih tenang. Pemilik sampai, sepeda motor pun tiba.
Motis, Solusi Kecelakaan Lalu Lintas Saat Lebaran?
Program mudik motor gratis atau Motis merupakan inisiatif pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) untuk mengurangi jumlah sepeda motor di jalan selama musim mudik.
Program ini sudah berjalan sejak sekitar 2015 dan mulai hadir di Bandung pada 2017. Sejak saat itu, Motis menjadi alternatif bagi pemudik yang ingin membawa sepeda motor tanpa harus menempuh perjalanan jauh dengan mengendarainya sendiri.
Melalui sistem ini, sepeda motor diangkut menggunakan kereta khusus, sementara pemiliknya menempuh perjalanan dengan kereta penumpang. Tujuannya sederhana, tetapi krusial: menekan angka kecelakaan dan mengurangi kepadatan lalu lintas di jalur darat.
“Tujuan utamanya adalah untuk menekan angka kecelakaan di jalan, lalu mengurai kemacetan sepeda motor di jalan raya juga,” kata Koordinator Posko Motis Kiaracondong, Rizky Agung (36).

Tahun ini, Motis kembali membawa kabar baik bagi para pemudik. Selain pengangkutan sepeda motor yang gratis, tiket penumpang juga tidak dipungut biaya. Satu unit motor bahkan bisa difasilitasi untuk dua orang dewasa.
“Satu motor itu dapat kuota gratis dua orang penumpang. Jadi bukan cuma motornya, orangnya juga difasilitasi,” ujar Rizky.
Namun, di balik kemudahan tersebut, keterbatasan tetap menjadi tantangan. Kuota harian yang tersedia masih belum mampu menampung tingginya minat masyarakat, terutama di kota seperti Bandung.
“Kalau Bandung sendiri, paling banyak kuotanya sekitar 70 unit per hari. Dan banyak yang tidak kebagian,” katanya.
Dari Kiaracondong, sepeda motor ini menempuh perjalanan panjang menuju Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Rute tersebut melintasi sejumlah kota seperti Kroya, Kebumen, Yogyakarta, hingga berakhir di Madiun.
“Kalau arus balik ini, kurang lebih sudah sekitar 450 motor yang terangkut sampai hari ketiga,” ujar Rizky.
Ia menambahkan, tujuan terbanyak dari Kiaracondong adalah wilayah Kebumen dan sekitarnya di Jawa Tengah.
Perjalanan yang biasanya memakan waktu belasan hingga puluhan jam di jalan raya kini bisa dijalani tanpa kelelahan fisik. Pemudik cukup melengkapi dokumen dan menyerahkan kendaraan sehari sebelum keberangkatan, lalu mengambilnya kembali saat tiba di tujuan.
Suparjo Pelanggan Setia Motis
Bagi pasangan suami istri asal Magetan, Suparjo (51) dan Sulasmi (47), yang telah dua dekade tinggal di Bandung, Motis bukan lagi sekadar alternatif, melainkan solusi rutin setiap musim mudik.
Sejak 2017, keduanya hampir tidak pernah melewatkan program ini.
“Alasannya Motis itu aman. Program pemerintah, gratis, dan cari tiketnya lebih gampang,” kata Suparjo.
Pengalaman masa lalu menjadi alasan kuat. Ia pernah menempuh perjalanan dari Bandung ke Magetan dengan sepeda motor selama sekitar 20 jam. Bagi Suparjo yang sudah memasuki usia lansia, perjalanan tersebut melelahkan dan penuh risiko.

“Kalau naik motor sendiri itu capek, bisa sampai 20 jam. Pernah tas jatuh, tidak terasa. Di dalamnya ada uang Rp20 juta,” ujarnya, mengingat kejadian tersebut.
Selain kenyamanan, faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan penting. Tanpa Motis, biaya mudik bisa membengkak, mulai dari tiket kereta hingga ongkos pengiriman sepeda motor.
“Terbantu, tidak harus mengeluarkan biaya besar untuk mudik,” kata Suparjo.
Menurutnya, biaya pengiriman motor bisa mencapai Rp500 ribu, sementara tiket kereta untuk satu orang bisa lebih dari Rp300 ribu.
Penghematan ini memberi ruang bagi kebutuhan lain selama berada di kampung halaman
Mudik yang Lebih Manusiawi
Perubahan paling terasa bukan hanya pada biaya, tetapi juga kondisi fisik. Perjalanan yang dulu menguras tenaga kini bisa dijalani dengan lebih nyaman.
“Perjalanannya lebih enak, bisa tidur, bisa santai,” ujar Suparjo.
Dia mengatakan ada waktu untuk beristirahat, hal yang sulit didapat ketika dia harus berkendara langsung jarak jauh. Meski demikian, keterbatasan kuota masih menjadi catatan.
“Kalau bisa kuotanya ditambah,” timpal Sulasmi.
Harapan serupa juga muncul dari pihak penyelenggara. Penambahan kuota dan titik keberangkatan dinilai sebagai langkah realistis untuk menjawab tingginya permintaan di masa mendatang.

