Official Persib Logo
1933
1933

Cerita Ricky, Pemain Biola Jalanan yang Kerap Kucing-kucingan dengan Satpol PP

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Rabu 08 Apr 2026, 15:39 WIB
Di tengah lalu lintas Kota Bandung, Ricky menghibur pengendara dengan alunan biola dari hasil belajar otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Di tengah lalu lintas Kota Bandung, Ricky menghibur pengendara dengan alunan biola dari hasil belajar otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah sempitnya lapangan kerja dan minimnya ruang bagi seniman jalanan, Ricky Rustandi Pratama (27) memilih jalannya sendiri. Baginya, aspal Bandung bukan sekadar tempat melintas, melainkan panggung untuk bertahan hidup.

Setiap malam, saat hiruk-pikuk Jalan Pelajar Pejuang hanya diterangi lampu lalu lintas dan sorot kendaraan, Ricky berdiri tegap dengan biolanya. Gesekan senarnya melahirkan melodi yang membelah kebisingan kota, memaksa para pengendara sejenak menoleh.

Banyak yang melabelinya sekadar "pengamen", namun bagi Ricky, ini adalah seni bertahan hidup.

"Senang rasanya bisa menghibur orang," ujar Ricky singkat. Namun, kenyataan di jalanan tak selalu semanis nada biolanya. "Pahitnya, ya... suka dikejar Satpol PP," tambahnya lirih, matanya tetap menatap lurus ke depan tanpa sekalipun berpaling.

Belajar Otodidak hingga Bertahan di Jalanan

Sejak 2023, Ricky memainkan biola di jalanan. Pekerjaan utamanya sebagai cleaning service membuatnya mengamen dari sore hingga malam. Pada hari libur, ia bahkan memulai lebih awal, dari pagi hingga sore.

“Nambah penghasilan, buat rokok. Kalau ngejar kafe, ada yang ramai, ada yang sepi,” katanya.

Ricky tidak tumbuh di lingkungan yang dekat dengan dunia musik. Ia dibesarkan di jalanan, yang justru membentuk pandangannya tentang kehidupan.

“Dari dulu, dari kecil udah di jalan,” ujar Ricky sambil tetap menatap lurus dan memainkan jarinya.

Ketertarikan terhadap biola muncul secara sederhana. Tanpa les khusus, ia belajar dari berbagai sumber di sekitarnya, mulai dari teman hingga tutorial di YouTube.

“Tertarik sama biola, diajarin sama teman, tapi kebanyakan belajar sendiri,” ucap Ricky.

Ricky Rustandi Pratama memainkan biola di persimpangan jalan untuk menambah penghasilan sambil bekerja sebagai cleaning service. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ricky Rustandi Pratama memainkan biola di persimpangan jalan untuk menambah penghasilan sambil bekerja sebagai cleaning service. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bagi Ricky, belajar memainkan biola adalah tantangan besar. Biaya pendidikan musik yang tinggi mendorongnya untuk belajar secara otodidak.

“Kalau sekolah belajar biola mahal, paling murah Rp150 ribu per jam,” kata Ricky.

Ia pun mengandalkan tutorial di internet dan latihan mandiri. Dari menonton video hingga mencoba meniru lagu, semuanya dilakukan perlahan tanpa bimbingan yang jelas.

“Kalau mau cepat bisa, harus punya biola dulu, terus belajar dari lihat teman dan YouTube,” ujarnya.

Biola yang kini ia miliki bukanlah yang pertama. Ia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membelinya, menjadikannya lebih dari sekadar alat musik, melainkan simbol perjuangan panjang.

Selama tiga tahun, Ricky memainkan biola di jalanan Bandung. Ia memilih lokasi yang sudah dikenalnya sejak kecil, seperti Gatot Subroto, Malabar, dan Jalan Peta.

Ia memainkan lagu-lagu populer yang sesuai dengan selera orang yang lewat. Bagi Ricky, bermain biola di jalan bukan sekadar idealisme musik, melainkan cara untuk bertahan hidup.

Setiap lampu merah menghadirkan peluang. Uang koin dari pengendara perlahan terakumulasi menjadi pendapatan harian.

“Kalau di jalan kan ada Rp500, ada Rp1.000, lumayan setiap stopan,” kata Ricky.

“Kalau ramai bisa sampai Rp100 ribu, kalau sepi paling Rp30 ribu,” tambahnya.

Namun, di balik keterbatasan itu, ada kepuasan yang tidak selalu bisa dinilai dengan uang. Ada momen ketika orang-orang berhenti sejenak, mendengarkan, lalu tersenyum dan memberikan selembar uang.

“Senang, bisa menghibur orang,” ungkap Ricky.

Namun, jalanan tidak selalu bersahabat. Risiko penertiban dari aparat menjadi bagian kesehariannya.

“Kalau pahitnya, suka dikejar Satpol PP, Dinas Sosial,” ucap Ricky tanpa melirik, hanya menatap lurus meja di depannya.

Ia bahkan pernah ditangkap dan harus menjalani penahanan. Pengalaman itu menjadi bagian dari realita yang tak terpisahkan dari kehidupannya di jalan.

“Sudah dua kali ditangkap,” katanya pelan.

Menariknya, Ricky tidak menganggap dirinya sebagai musisi dalam pengertian ideal. Baginya, biola awalnya hanyalah eksperimen yang kemudian menjadi kebiasaan.

“Kalau suka musik sih nggak (passion), cuma iseng-iseng,” ujar Ricky.

Namun, dari hobi tersebut, ia menemukan sesuatu yang lebih berarti. Ia mulai mengajarkan teman-temannya yang juga hidup di jalan tentang dasar-dasar bermain biola, meskipun keterampilannya terbatas.

Dalam kondisi serba kekurangan, keinginan untuk maju mulai muncul. Ia tidak ingin terus-menerus berada di tempat yang sama.

“Harapannya pemusik jalanan bisa difasilitasi, jadi nggak terus di jalan,” ucap Ricky di akhir percakapan.

News Update

Ayo Netizen 25 Mei 2026, 09:07

Banyak Followers dan Following, api Nol Postingan: Fenomena Silent User di Instagram

Fenomena akun Instagram tanpa postingan (tren Zero Post) menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang privasi, eksistensi, dan tekanan sosial di era media digital.

Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 25 Mei 2026, 08:24

Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

Konvoi juara Persib menyisakan cerita berbeda bagi warga Bandung, dari petugas kebersihan, ojol, hingga pedagang kecil yang kebanjiran pembeli.

Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 09:41

Bandung: Kota Ramah Pejalan Kaki dan Disabilitas yang Masih Sebatas Slogan

Trotoar Bandung masih dipenuhi puing proyek, parkir liar, dan aktivitas lain yang mengurangi hak pejalan kaki serta aksesibilitas penyandang disabilitas.

Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)