Berbeda dengan bahasa gaul masa kini yang cenderung singkat dan dipengaruhi teknologi digital, bahasa gaul tahun 1980-an lebih panjang dan penuh nuansa. Kata-kata dirangkai dengan hati-hati, sering kali disertai pengulangan yang membuatnya mudah diingat. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi pada masa itu tidak hanya berfungsi sebagai penyampaian informasi, tetapi juga sebagai bentuk seni dan ekspresi diri.
Zaman tahun 1980-an merupakan masa yang penuh warna dalam perjalanan budaya populer remaja Indonesia, termasuk para remaja Kota Bandung. Di tengah perkembangan musik, film, dan gaya hidup, bahasa juga mengalami dinamika yang menarik. Muncul kata-kata gaul atau ungkapan khas yang tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga simbol kebersamaan, keakraban, dan identitas generasi muda saat itu. Ungkapan seperti Mana tahan, Salam kompak selalu, Tiada kesan tanpa kehadiranmu, atau Empat kali empat sempat tidak sempat harus dibalas, menjadi bagian dari keseharian yang sarat makna.
Ungkapan MANA TAHAN misalnya, sering digunakan untuk mengekspresikan perasaan tidak kuat menahan sesuatu, baik itu rasa rindu, godaan, atau bahkan tekanan hidup. Kalimat ini sederhana, tetapi memiliki kekuatan emosional yang besar. Biasanya digunakan dalam konteks santai, ungkapan ini mencerminkan kejujuran perasaan seseorang. Dalam pergaulan remaja 1980-an, kata ini menjadi cara halus untuk mengungkapkan kegelisahan tanpa harus terdengar terlalu serius.
Ungkapan lain yang tak kalah populer adalah SALAM KOMPAK SELALU. Kalimat ini biasanya digunakan sebagai penutup dalam surat atau pesan. Maknanya sederhana, yaitu harapan agar hubungan tetap solid dan penuh kebersamaan. Kata “kompak” di sini mencerminkan nilai kebersamaan yang sangat dijunjung tinggi oleh generasi 1980-an. Dalam dunia jiwa remaja yang belum serba maya, kekompakan dibangun melalui interaksi nyata dan komunikasi yang penuh kehangatan.
Kemudian ada ungkapan TIADA KESAN TANPA KEHADIRANMU yang memiliki nuansa lebih puitis dan romantis. Kalimat ini sering digunakan untuk menyampaikan bahwa kehadiran seseorang sangat berarti. Dalam konteks pertemanan maupun percintaan, ungkapan ini menjadi cara manis untuk menunjukkan penghargaan terhadap orang lain. Gaya bahasa seperti ini menunjukkan bahwa meskipun sederhana, komunikasi pada masa itu memiliki kedalaman rasa yang kuat. Sering juga dipakai sebagai kata-kata di akhir kartu undangan party biar yang diundangbisa hadir.
Sementara itu, ungkapan EMPAT KALI EMPAT ENAM BELAS, SEMPAT TIDAK SEMPAT HARUS DI BALAS memiliki nuansa yang lebih unik. Kalimat ini sering muncul dalam surat-menyurat antar teman atau sahabat pena, yang pada masa itu menjadi salah satu cara utama berkomunikasi jarak jauh. Ungkapan ini mengandung pesan agar penerima surat tetap membalas, meskipun dalam keadaan sibuk. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga komunikasi dan hubungan sosial pada masa tersebut. Tidak sekadar kata-kata, tetapi juga bentuk perhatian dan harapan akan kesinambungan hubungan.
Selain itu ada istilah yang populer di kalangan anak muda Bandung seperti kata-kata di bawah ini, diantaranya :
DARMAJI = Dahar lima ngaku hiji
JEGER = Sebutan untuk seseorang yang ditakuti
MABAL = Pergi dari rumah tapi tidak sampai ke sekolah
ASOY = Plesetan dari kata asyik
SETE’NG-SETE’NG = Bagi dua, setengah-setengah
KEKI = Perasaan tidak suka pada seseorang
SOHIB = Sahabat

Dikala bercanda saat nongkrong atau istirahat sekolah, para remaja Bandung sering menyebutkan nama depan seorang temannya yang disambungkan dengan dengan nama-nama peralatan. Semisal BRAM SILE’T, AGUS RANTE’, DIKI KAMPAK, HERU BEDOG, IWAN OBE’NG, ALEKS KAWAT, DENI PE’SO, ASE’P TOMBAK, JUJUN BE’CE’NG, JAFAR LINGGIS. Ketika nama seseorang tersebut disambungkan dengan suatu peralatan maka kita akan tertawa lepas setelah mendengarnya dan itu hanya jokes, tentu saja julukannya juga bersifat sementara selama terucap saja.
Kata-kata gaul yang fenomenal adalah kata-kata yang ada di kamus bahasa prokem. Kata-kata di kamus tersebut menjadi pedoman gaya bicara para kawula muda Indonesia. Kata-kata tersebutut masih sering terdengar seperti bokap, nyokap, doi, doku, pembokat, sepokat, dan gokil. Meski pada masa yang lain kata-kata tersebut tergantikan oleh istilah-istilah yang dibuat oleh generasi berikutnya.
Fenomena bahasa gaul tahun 1980-an tidak bisa dilepaskan dari media yang berkembang saat itu. Radio, majalah remaja, dan film layar lebar menjadi sarana penyebaran ungkapan-ungkapan populer. Selain itu, budaya menulis surat juga memainkan peran penting. Dalam setiap surat, orang tidak hanya menyampaikan kabar, tetapi juga menyisipkan ungkapan-ungkapan khas yang mempererat hubungan emosional.
Menariknya, banyak dari ungkapan tersebut yang masih dikenang hingga sekarang. Meskipun tidak lagi digunakan secara luas, kata-kata tersebut memiliki nilai nostalgia yang kuat. Bagi mereka yang pernah hidup di era tersebut, mendengar kembali ungkapan seperti “mana tahan” atau “salam kompak selalu” dapat membangkitkan kenangan indah tentang masa muda, persahabatan, dan kisah cinta yang sederhana.

Selain itu, bahasa gaul tahun 1980-an juga mencerminkan nilai-nilai sosial yang berlaku saat itu. Ada penekanan pada kesopanan, kehangatan, dan kejujuran dalam berkomunikasi. Meskipun bersifat santai, ungkapan-ungkapan tersebut tetap mengandung etika dan rasa hormat. Ini berbeda dengan sebagian bahasa gaul modern yang terkadang cenderung lebih bebas dan bahkan kasar.
Dengan demikian, bahasa gaul atau kata-kata tahun 1980-an bukan sekadar kumpulan kata-kata unik, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang kaya. Ungkapan-ungkapan tersebut menjadi bukti bahwa bahasa selalu berkembang mengikuti zaman, sekaligus menjadi cermin dari nilai dan cara hidup masyarakatnya. Di tengah arus modernisasi yang terus berjalan, mengenang kembali bahasa gaul masa lalu dapat menjadi cara untuk memahami akar budaya kita sekaligus menjaga nilai-nilai kebersamaan yang pernah begitu kuat. (*)
