Official Persib Logo
1933
1933

'Mana Tahan ...' dan Kosakata Gaul Tahun 1980-an

bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan Kamis 09 Apr 2026, 08:49 WIB
Ilustrasi anak muda tahun 1980-an. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)

Ilustrasi anak muda tahun 1980-an. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)

Berbeda dengan bahasa gaul masa kini yang cenderung singkat dan dipengaruhi teknologi digital, bahasa gaul tahun 1980-an lebih panjang dan penuh nuansa. Kata-kata dirangkai dengan hati-hati, sering kali disertai pengulangan yang membuatnya mudah diingat. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi pada masa itu tidak hanya berfungsi sebagai penyampaian informasi, tetapi juga sebagai bentuk seni dan ekspresi diri.

Zaman tahun 1980-an merupakan masa yang penuh warna dalam perjalanan budaya populer remaja Indonesia, termasuk para remaja Kota Bandung. Di tengah  perkembangan musik, film, dan gaya hidup, bahasa juga mengalami dinamika yang menarik.  Muncul  kata-kata gaul atau ungkapan khas yang tidak hanya  menjadi alat komunikasi, tetapi juga simbol kebersamaan, keakraban, dan identitas generasi muda saat itu.  Ungkapan seperti Mana tahan, Salam kompak selalu, Tiada kesan tanpa  kehadiranmu, atau Empat kali empat sempat tidak sempat harus dibalas, menjadi bagian dari keseharian yang sarat makna.

Ungkapan MANA TAHAN misalnya, sering digunakan untuk mengekspresikan perasaan tidak kuat menahan sesuatu, baik itu rasa rindu, godaan, atau bahkan tekanan hidup. Kalimat ini sederhana, tetapi memiliki kekuatan emosional yang besar. Biasanya digunakan dalam konteks santai, ungkapan ini mencerminkan kejujuran perasaan seseorang. Dalam pergaulan remaja 1980-an, kata ini menjadi cara halus untuk mengungkapkan kegelisahan tanpa harus terdengar terlalu serius.

Ungkapan lain yang tak kalah populer adalah SALAM KOMPAK SELALU. Kalimat ini biasanya digunakan sebagai penutup dalam surat atau pesan. Maknanya sederhana, yaitu harapan agar hubungan tetap solid dan penuh kebersamaan. Kata “kompak” di sini mencerminkan nilai kebersamaan yang sangat dijunjung tinggi oleh generasi 1980-an. Dalam dunia jiwa remaja yang belum serba maya, kekompakan dibangun melalui interaksi nyata dan komunikasi yang penuh kehangatan.

Kemudian ada ungkapan TIADA KESAN TANPA KEHADIRANMU yang memiliki nuansa lebih puitis dan romantis. Kalimat ini sering digunakan untuk menyampaikan bahwa kehadiran seseorang sangat berarti. Dalam konteks pertemanan maupun percintaan, ungkapan ini menjadi cara manis untuk menunjukkan penghargaan terhadap orang lain. Gaya bahasa seperti ini menunjukkan bahwa meskipun sederhana, komunikasi pada masa itu memiliki kedalaman rasa yang kuat. Sering juga dipakai sebagai kata-kata di akhir kartu undangan  party biar yang diundangbisa  hadir.

Sementara itu, ungkapan EMPAT KALI EMPAT ENAM BELAS, SEMPAT TIDAK SEMPAT HARUS DI BALAS memiliki nuansa yang lebih unik. Kalimat ini sering muncul dalam surat-menyurat antar teman atau  sahabat pena, yang pada masa itu menjadi salah satu cara utama berkomunikasi  jarak jauh. Ungkapan  ini mengandung pesan agar penerima surat tetap membalas, meskipun dalam keadaan sibuk. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga komunikasi dan hubungan sosial pada masa tersebut. Tidak sekadar kata-kata, tetapi juga bentuk perhatian dan harapan akan kesinambungan hubungan.

Selain itu ada istilah yang populer di kalangan anak muda Bandung seperti kata-kata di bawah ini, diantaranya :

  •   DARMAJI  = Dahar lima ngaku hiji

  • JEGER   =    Sebutan untuk seseorang yang ditakuti

  • MABAL  =   Pergi dari rumah tapi tidak sampai  ke sekolah

  • ASOY   =      Plesetan dari kata asyik

  • SETE’NG-SETE’NG =  Bagi dua, setengah-setengah

  • KEKI   =    Perasaan tidak suka pada seseorang

  • SOHIB   =  Sahabat

Majalah Remaja Gadis edisi September 1980. (Sumber: Instagram | Foto: Koleksi Goeni)
Majalah Remaja Gadis edisi September 1980. (Sumber: Instagram | Foto: Koleksi Goeni)

Dikala bercanda saat nongkrong atau istirahat sekolah, para remaja Bandung sering menyebutkan nama depan seorang temannya yang disambungkan dengan dengan nama-nama peralatan. Semisal BRAM SILE’T, AGUS RANTE’, DIKI KAMPAK, HERU BEDOG,  IWAN OBE’NG, ALEKS KAWAT, DENI PE’SO, ASE’P TOMBAK, JUJUN BE’CE’NG, JAFAR LINGGIS. Ketika nama seseorang tersebut disambungkan dengan suatu peralatan maka kita akan tertawa lepas setelah mendengarnya dan itu hanya jokes, tentu saja julukannya juga bersifat sementara selama terucap saja.

Kata-kata gaul yang fenomenal adalah kata-kata yang ada di kamus bahasa prokem. Kata-kata di kamus tersebut menjadi pedoman gaya bicara para kawula muda Indonesia. Kata-kata tersebutut masih sering terdengar seperti bokap, nyokap, doi, doku, pembokat,  sepokat,  dan gokil. Meski pada masa yang lain kata-kata tersebut tergantikan oleh istilah-istilah yang dibuat oleh generasi berikutnya.

Fenomena bahasa gaul tahun 1980-an tidak bisa dilepaskan dari media yang berkembang saat itu. Radio, majalah remaja, dan film layar lebar menjadi sarana penyebaran ungkapan-ungkapan populer. Selain itu, budaya menulis surat juga memainkan peran penting. Dalam setiap surat, orang tidak hanya menyampaikan kabar, tetapi juga menyisipkan ungkapan-ungkapan khas yang mempererat hubungan emosional.

Menariknya, banyak dari ungkapan tersebut yang masih dikenang hingga sekarang. Meskipun tidak lagi digunakan secara luas, kata-kata tersebut memiliki nilai nostalgia yang kuat. Bagi mereka yang pernah hidup di era tersebut, mendengar kembali ungkapan seperti “mana tahan” atau “salam kompak selalu” dapat membangkitkan kenangan indah tentang masa muda, persahabatan, dan kisah cinta yang sederhana.

Selain itu, bahasa gaul  tahun 1980-an juga mencerminkan nilai-nilai sosial yang berlaku saat itu. Ada penekanan pada kesopanan, kehangatan, dan kejujuran dalam berkomunikasi. Meskipun bersifat santai, ungkapan-ungkapan tersebut tetap mengandung etika dan rasa hormat. Ini berbeda dengan sebagian bahasa gaul modern yang terkadang cenderung lebih bebas dan bahkan kasar.

Dengan demikian, bahasa gaul  atau kata-kata tahun 1980-an bukan sekadar kumpulan kata-kata unik, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang kaya. Ungkapan-ungkapan tersebut menjadi bukti bahwa bahasa selalu berkembang mengikuti zaman, sekaligus menjadi cermin dari nilai dan cara hidup masyarakatnya. Di tengah arus modernisasi yang terus berjalan, mengenang kembali bahasa gaul masa lalu  dapat menjadi cara untuk memahami akar budaya kita sekaligus menjaga nilai-nilai kebersamaan yang pernah begitu kuat. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 09:41

Bandung: Kota Ramah Pejalan Kaki dan Disabilitas yang Masih Sebatas Slogan

Trotoar Bandung masih dipenuhi puing proyek, parkir liar, dan aktivitas lain yang mengurangi hak pejalan kaki serta aksesibilitas penyandang disabilitas.

Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)