Di tengah suasana hari Lebaran setelah bulan Ramadan yang suci, muncul sebuah anomali yaitu maraknya arena permainan lotre atau judi saat Lebaran. Selepas silaturhami saling bermaaf-maafan dan makan ketupat bersama, terlihat di sudut kampung yang sepi juga tempat-tempat keramaian dan rumah-rumah kosong, nampak sebagian orang justru berkumpul di lapak-lapak permainan untung-untungan tersebut demi mendapatkan sejumlah uang sesuai dengan tarif yang dipasangnya.
Fenomena pada tahun 1980-an ini menarik untuk dikenang, apalagi pada masa tersebut semuanya masih serba manual atau analog belum ada sistem internet. Berbeda sekali dengan jaman sekarang yang serba digital atau online, tanpa bertatap muka bisa terjadi transaksi permainan judi online atau disingkat dengan kata judol. Beberapa nama permainan lotre saat itu adalah Kupluk dan "Unyeng", tentu saja masih banyak permainan lotre lainnya yang bersifat untung-untungan.
Kupluk adalah permainan yang menggunakan seperangkat alat yang terdiri dari dadu, kaleng penutup, kayu alas dadu dan lapak bergambar. Permainan lotre ini dimulai dengan para pemasang menaruh uang di lapak kotak-kotak yang bergambar atau bernomor. Kemudian bandar menata dadu-dadu yang bergambar atau bernomor diletakkan di atas alas kayu dan ditutup kaleng biskuit terus dikoprok-koprok agar dadu posisinya berubah dari posisi awal.
Seterusnya kaleng penutup dibuka maka jika terjadi kesesuaian antara gambar yang di dadu dengan gambar dilapak maka pemasang gambar itulah pemenangnya dan menerima sejumlah uang lebih banyak dari uang yang ditaruhkannya.
Sementara itu salah satu permainan lotre lainnya yang populer juga saat tahun 1980-an adalah permainan "Unyeng". Permainan lotre ini berbasis pada putaran yang berhenti pada sebuah angka, seperti rolet sederhana atau sekarang seperti Spin The Wheel yaitu pemutaran untuk mendapatkan satu pilihan pemenang.
Dalam permainan lotre "Unyeng" dibutuhkan alat pemutar terbuat dari piringan hitam bekas yang dibagian atasnya diberi nomor-nomor pilihan, lalu piringan hitam tersebut dilubangi tengahnya dan dimasukan ke paku sebagai porosnya kemudian diberi kawat lainya sebagai penanda berhenti di nomor pilihan-pilihan tadi.
Alat penunjang lainnya adalah lapak atau lembaran karton yang bertuliskan angka-angka untuk dipilih oleh para pemasang, biasanya relatif dari angka 1 sampai 10. Setelah piringan hitam diputar dan berhenti pada sebuah nomor, maka pemenangnya adalah pemasang dilapak karton yang angkanya sama dengan yang terpilih dipiringan hitam.
Selama permainan lotre itu di gelar sering muncul banyak perasaan was-was, diantaranya yaitu pemasang uang taruhan di lapak merasa was-was kalah sehingga mengalami kerugian, begitupun bandar lotrepun was-was kalau banyak pemasang taruhan di lapak yang menang sehingga ia akan kebobolan banyak duit.

Perasaan was-was lainnya yang makin bikin deg-degan adalah saat menjelang kaleng penutup dadu atau saat jarum "Unyeng" berhenti di sebuah angka. Kondisi ini membuat orang-orang yang ada di sekitar lapak menahan napas baik bandar, pemasang dan penonton.
Kemudian ada juga perasaan was-was lainya adalah berupa ketakutan munculnya pihak aparat keamanan menggerebek lapak permainan lotre tersebut. Demi menghindari resiko penangkapan orang-orang yang ada di sekitar lapak saling mengawasi jika muncul aparat karena semua orang yang ada dilapak bisa ditangkap untuk diintogerasi mengenai keterlibatannya.
Kekacauanpun biasanya akan terjadi ketika permainan tersebut berlangsung, tiba-tiba datang aparat keamanan, maka bandar, para pemain dan penonton berhamburan meninggalkan lapak, ambil langkah seribu biar tidak ditangkap. Sehingga peralatan permainan lotre dan uang tergeletak begitu saja ditinggalkan yang penting selamat dari buruan aparat keamanan. Mereka ada berbaur dengan para peziarah kubur, sembunyi di warung-warung, masuk ke dalam kebun, bahkan ada yang menceburkan diri ke sungai.
Baca Juga: Jejak Perjalanan Motor Pemudik dari Kiaracondong ke Kampung Halaman
Anomali munculnya permainan lotre saat Lebaran mengingatkan kita bahwa tantangan terbesar bukanlah hanya menahan diri selama Ramadan, melainkan menjaga konsistensi setelahnya. Kemenangan sejati adalah ketika nilai-nilai sabar, jujur, dan bertanggung jawab sesuai noma-norma yang benar, tetap hidup dalam jiwa masyarakat meskipun bulan Ramadan berlalu.
Dalam konteks budaya, masyarakat Indonesia memang memiliki tradisi permainan rakyat saat hari besar seperti saat Lebaran. Namun tantangannya adalah menjaga agar permainan tersebut tidak melenceng dari nilai moral yang dijunjung tinggi. Lebaran seharusnya menjadi titik balik pada kebaikan, bukan untuk menciptakan ruang kompromi terhadap kebiasaan yang merugikan.
Pada akhirnya, hari Lebaran adalah cermin yang memperlihatkan sejauh mana Ramadan membentuk karakter kita. Apakah 1 Syawal menjadi awal lembaran baru yang lebih baik, atau sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah ? Di tengah-tengah gemerlapnya arena permainan peruntungan, pertanyaan itu menjadi semakin relevan, karena kemenangan sejati bukanlah soal menang dalam permainan lotre Kupluk atau "Unyeng", melainkan menang saat diri punya keteguhan untuk selalu berbuat yang baik. (*)
