Anomali Saat Lebaran Tahun 1980-an

bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan Senin 30 Mar 2026, 16:24 WIB
Masjid Agung Bandung (Alun-Alun) pada tahun 1980-an. (Sumber: Twitter | Foto: @arbainrambey)

Masjid Agung Bandung (Alun-Alun) pada tahun 1980-an. (Sumber: Twitter | Foto: @arbainrambey)

Di tengah suasana hari Lebaran setelah bulan Ramadan yang suci, muncul sebuah anomali yaitu maraknya  arena permainan lotre atau judi saat Lebaran. Selepas silaturhami saling bermaaf-maafan dan makan ketupat bersama, terlihat di sudut kampung yang sepi juga tempat-tempat  keramaian dan rumah-rumah kosong, nampak sebagian  orang justru berkumpul di lapak-lapak permainan untung-untungan tersebut demi mendapatkan sejumlah uang sesuai dengan tarif yang dipasangnya.

Fenomena pada tahun 1980-an ini menarik untuk dikenang, apalagi pada masa tersebut semuanya masih serba manual atau analog belum ada sistem internet. Berbeda sekali dengan jaman sekarang yang serba digital atau online, tanpa bertatap muka bisa terjadi transaksi permainan judi online atau disingkat dengan kata judol. Beberapa nama permainan lotre saat itu adalah Kupluk dan "Unyeng", tentu saja masih banyak permainan lotre lainnya yang bersifat untung-untungan.

Kupluk adalah permainan yang menggunakan seperangkat alat yang terdiri dari dadu, kaleng penutup, kayu alas dadu dan lapak bergambar. Permainan lotre ini dimulai dengan para pemasang menaruh uang di lapak kotak-kotak yang bergambar atau bernomor. Kemudian bandar menata dadu-dadu yang bergambar atau bernomor diletakkan di atas alas kayu dan ditutup kaleng biskuit terus dikoprok-koprok agar dadu posisinya berubah dari posisi awal.

Seterusnya kaleng penutup dibuka maka jika terjadi kesesuaian antara gambar yang di dadu dengan gambar dilapak maka pemasang gambar itulah pemenangnya dan menerima sejumlah uang lebih banyak dari uang yang ditaruhkannya.

Sementara itu salah satu permainan lotre lainnya yang populer juga saat tahun 1980-an adalah permainan "Unyeng". Permainan lotre ini berbasis pada putaran yang berhenti pada sebuah angka, seperti rolet sederhana atau sekarang seperti Spin The Wheel yaitu pemutaran untuk mendapatkan satu pilihan pemenang.

Dalam permainan lotre "Unyeng" dibutuhkan alat pemutar terbuat dari piringan hitam bekas yang dibagian atasnya diberi nomor-nomor pilihan, lalu piringan hitam tersebut dilubangi tengahnya dan dimasukan ke paku sebagai porosnya kemudian diberi kawat lainya sebagai penanda berhenti di nomor pilihan-pilihan tadi.

Alat penunjang lainnya adalah lapak atau lembaran karton yang bertuliskan angka-angka untuk dipilih oleh para pemasang, biasanya relatif dari angka 1 sampai 10. Setelah piringan hitam diputar dan berhenti pada sebuah nomor, maka pemenangnya adalah pemasang dilapak karton yang angkanya sama dengan yang terpilih dipiringan hitam.

Selama permainan lotre itu di gelar sering muncul banyak perasaan was-was, diantaranya yaitu pemasang uang taruhan di lapak merasa was-was kalah sehingga mengalami kerugian, begitupun bandar lotrepun was-was kalau banyak pemasang taruhan di lapak yang menang sehingga ia akan kebobolan banyak duit.

Suasana Jalan Ahmad Yani Cicadas Bandung tahun 1980-an. (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Henk van Rinsum)
Suasana Jalan Ahmad Yani Cicadas Bandung tahun 1980-an. (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Henk van Rinsum)

Perasaan was-was lainnya yang makin bikin deg-degan adalah saat menjelang kaleng penutup dadu atau saat jarum "Unyeng" berhenti di sebuah angka. Kondisi ini membuat orang-orang yang ada di sekitar lapak menahan napas baik bandar, pemasang dan penonton.

Kemudian ada juga perasaan was-was lainya adalah berupa ketakutan munculnya pihak aparat keamanan menggerebek lapak permainan lotre tersebut. Demi menghindari resiko penangkapan orang-orang yang ada di sekitar lapak saling mengawasi jika muncul aparat karena semua orang yang ada dilapak bisa ditangkap untuk diintogerasi mengenai keterlibatannya.

Kekacauanpun biasanya akan terjadi ketika permainan tersebut berlangsung, tiba-tiba datang aparat keamanan, maka bandar, para pemain dan penonton berhamburan meninggalkan lapak, ambil langkah seribu biar tidak ditangkap. Sehingga peralatan permainan lotre dan uang tergeletak begitu saja ditinggalkan yang penting selamat dari buruan aparat keamanan. Mereka ada berbaur dengan para peziarah kubur, sembunyi di warung-warung, masuk ke dalam kebun, bahkan ada yang menceburkan diri ke sungai.

Baca Juga: Jejak Perjalanan Motor Pemudik dari Kiaracondong ke Kampung Halaman

Anomali munculnya permainan lotre saat Lebaran mengingatkan kita bahwa tantangan terbesar bukanlah hanya menahan diri selama Ramadan, melainkan menjaga konsistensi setelahnya. Kemenangan sejati adalah ketika nilai-nilai sabar, jujur, dan bertanggung jawab sesuai noma-norma yang benar, tetap hidup dalam jiwa masyarakat meskipun bulan Ramadan berlalu.

Dalam konteks budaya, masyarakat Indonesia memang memiliki tradisi permainan rakyat saat hari besar seperti saat Lebaran. Namun tantangannya adalah menjaga agar permainan tersebut tidak melenceng dari nilai moral yang dijunjung tinggi. Lebaran seharusnya menjadi titik balik pada kebaikan, bukan untuk menciptakan ruang kompromi terhadap kebiasaan yang merugikan.

Pada akhirnya, hari Lebaran adalah cermin yang memperlihatkan sejauh mana Ramadan membentuk karakter kita. Apakah 1 Syawal menjadi awal lembaran baru yang lebih baik, atau sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah ? Di tengah-tengah gemerlapnya arena permainan peruntungan, pertanyaan itu menjadi semakin relevan, karena kemenangan sejati bukanlah soal menang dalam permainan lotre Kupluk atau "Unyeng", melainkan menang saat diri punya keteguhan untuk selalu berbuat yang baik. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)