Anomali Saat Lebaran Tahun 1980-an

4 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Masjid Agung Bandung (Alun-Alun) pada tahun 1980-an. (Sumber: Twitter | Foto: @arbainrambey)
Masjid Agung Bandung (Alun-Alun) pada tahun 1980-an. (Sumber: Twitter | Foto: @arbainrambey)

Di tengah suasana hari Lebaran setelah bulan Ramadan yang suci, muncul sebuah anomali yaitu maraknya  arena permainan lotre atau judi saat Lebaran. Selepas silaturhami saling bermaaf-maafan dan makan ketupat bersama, terlihat di sudut kampung yang sepi juga tempat-tempat  keramaian dan rumah-rumah kosong, nampak sebagian  orang justru berkumpul di lapak-lapak permainan untung-untungan tersebut demi mendapatkan sejumlah uang sesuai dengan tarif yang dipasangnya.

Fenomena pada tahun 1980-an ini menarik untuk dikenang, apalagi pada masa tersebut semuanya masih serba manual atau analog belum ada sistem internet. Berbeda sekali dengan jaman sekarang yang serba digital atau online, tanpa bertatap muka bisa terjadi transaksi permainan judi online atau disingkat dengan kata judol. Beberapa nama permainan lotre saat itu adalah Kupluk dan "Unyeng", tentu saja masih banyak permainan lotre lainnya yang bersifat untung-untungan.

Kupluk adalah permainan yang menggunakan seperangkat alat yang terdiri dari dadu, kaleng penutup, kayu alas dadu dan lapak bergambar. Permainan lotre ini dimulai dengan para pemasang menaruh uang di lapak kotak-kotak yang bergambar atau bernomor. Kemudian bandar menata dadu-dadu yang bergambar atau bernomor diletakkan di atas alas kayu dan ditutup kaleng biskuit terus dikoprok-koprok agar dadu posisinya berubah dari posisi awal.

Seterusnya kaleng penutup dibuka maka jika terjadi kesesuaian antara gambar yang di dadu dengan gambar dilapak maka pemasang gambar itulah pemenangnya dan menerima sejumlah uang lebih banyak dari uang yang ditaruhkannya.

Sementara itu salah satu permainan lotre lainnya yang populer juga saat tahun 1980-an adalah permainan "Unyeng". Permainan lotre ini berbasis pada putaran yang berhenti pada sebuah angka, seperti rolet sederhana atau sekarang seperti Spin The Wheel yaitu pemutaran untuk mendapatkan satu pilihan pemenang.

Dalam permainan lotre "Unyeng" dibutuhkan alat pemutar terbuat dari piringan hitam bekas yang dibagian atasnya diberi nomor-nomor pilihan, lalu piringan hitam tersebut dilubangi tengahnya dan dimasukan ke paku sebagai porosnya kemudian diberi kawat lainya sebagai penanda berhenti di nomor pilihan-pilihan tadi.

Alat penunjang lainnya adalah lapak atau lembaran karton yang bertuliskan angka-angka untuk dipilih oleh para pemasang, biasanya relatif dari angka 1 sampai 10. Setelah piringan hitam diputar dan berhenti pada sebuah nomor, maka pemenangnya adalah pemasang dilapak karton yang angkanya sama dengan yang terpilih dipiringan hitam.

Selama permainan lotre itu di gelar sering muncul banyak perasaan was-was, diantaranya yaitu pemasang uang taruhan di lapak merasa was-was kalah sehingga mengalami kerugian, begitupun bandar lotrepun was-was kalau banyak pemasang taruhan di lapak yang menang sehingga ia akan kebobolan banyak duit.

Suasana Jalan Ahmad Yani Cicadas Bandung tahun 1980-an. (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Henk van Rinsum)
Suasana Jalan Ahmad Yani Cicadas Bandung tahun 1980-an. (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Henk van Rinsum)

Perasaan was-was lainnya yang makin bikin deg-degan adalah saat menjelang kaleng penutup dadu atau saat jarum "Unyeng" berhenti di sebuah angka. Kondisi ini membuat orang-orang yang ada di sekitar lapak menahan napas baik bandar, pemasang dan penonton.

Kemudian ada juga perasaan was-was lainya adalah berupa ketakutan munculnya pihak aparat keamanan menggerebek lapak permainan lotre tersebut. Demi menghindari resiko penangkapan orang-orang yang ada di sekitar lapak saling mengawasi jika muncul aparat karena semua orang yang ada dilapak bisa ditangkap untuk diintogerasi mengenai keterlibatannya.

Kekacauanpun biasanya akan terjadi ketika permainan tersebut berlangsung, tiba-tiba datang aparat keamanan, maka bandar, para pemain dan penonton berhamburan meninggalkan lapak, ambil langkah seribu biar tidak ditangkap. Sehingga peralatan permainan lotre dan uang tergeletak begitu saja ditinggalkan yang penting selamat dari buruan aparat keamanan. Mereka ada berbaur dengan para peziarah kubur, sembunyi di warung-warung, masuk ke dalam kebun, bahkan ada yang menceburkan diri ke sungai.

Baca Juga: Jejak Perjalanan Motor Pemudik dari Kiaracondong ke Kampung Halaman

Anomali munculnya permainan lotre saat Lebaran mengingatkan kita bahwa tantangan terbesar bukanlah hanya menahan diri selama Ramadan, melainkan menjaga konsistensi setelahnya. Kemenangan sejati adalah ketika nilai-nilai sabar, jujur, dan bertanggung jawab sesuai noma-norma yang benar, tetap hidup dalam jiwa masyarakat meskipun bulan Ramadan berlalu.

Dalam konteks budaya, masyarakat Indonesia memang memiliki tradisi permainan rakyat saat hari besar seperti saat Lebaran. Namun tantangannya adalah menjaga agar permainan tersebut tidak melenceng dari nilai moral yang dijunjung tinggi. Lebaran seharusnya menjadi titik balik pada kebaikan, bukan untuk menciptakan ruang kompromi terhadap kebiasaan yang merugikan.

Pada akhirnya, hari Lebaran adalah cermin yang memperlihatkan sejauh mana Ramadan membentuk karakter kita. Apakah 1 Syawal menjadi awal lembaran baru yang lebih baik, atau sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah ? Di tengah-tengah gemerlapnya arena permainan peruntungan, pertanyaan itu menjadi semakin relevan, karena kemenangan sejati bukanlah soal menang dalam permainan lotre Kupluk atau "Unyeng", melainkan menang saat diri punya keteguhan untuk selalu berbuat yang baik. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Jul 2026, 10:49

Mengepakkan Sayap Ekonomi Kerakyatan Ketika Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara

Semenjak dinamakan Husein Sastranegara menjadi bandara komersial telah memberikan manfaat yang luas bagi penerbangan domestik maupun internasional.

Petugas membersihkan salahsatu fasilitas Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 09:06

Menjahit Harapan di Tengah Sepinya Pasar Thrifting Gedebage

Di tengah sepinya Pasar Cimol Gedebage, Dedi tetap bertahan sebagai penjahit pakaian thrifting. Feature ini mengangkat perjuangannya menghidupi keluarga sekaligus menjaga profesi warisan orang tuanya.

Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)
Wisata & Kuliner 05 Jul 2026, 17:23

Cara Berkunjung ke Suku Baduy Banten, Semua yang Wajib Diketahui Sebelum Datang ke Kanekes

Berencana ke Baduy? Ketahui rute menuju Ciboleger, larangan di Baduy Dalam, masa Kawalu, penginapan rumah warga, dan tips perjalanan sebelum berangkat.

Pemukiman di Desa Knekes, Banten, yang popular dengan sebutan Baduy. (Sumber: Wikimedia)