Kakarén dan Hidup Setelah Lebaran

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
produksi kue kering di pabrik kue J&C Cookies, Cimenyan, Kabupaten Bandung pada Rabu, 27 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
produksi kue kering di pabrik kue J&C Cookies, Cimenyan, Kabupaten Bandung pada Rabu, 27 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pagi-pagi setelah hari raya lewat beberapa hari, dapur kita masih menyimpan jejaknya. Bukan lagi mangkuk-mangkuk penuh opor atau rendang yang utuh, melainkan sisa-sisa yang sudah bercampur. Ada bihun yang mengering, sambal goreng yang tinggal sedikit, potongan sayur, remah cabai, dan minyak yang mulai mengental. Di beberapa kampung Sunda, sisa-sisa ini diolah kembali menjadi sesuatu yang khas, kakarén lebaran. Ada yang menyebutnya tumis haseum, bebeyé, balakatineung, dan lain sebagai. Nama boleh berbeda, tapi rasanya sama, gurih, agak gosong, dan menyimpan kenangan hari raya kemarin.

Sisa-sisa ini biasanya dimakan dengan ulén goreng, hangat, sederhana, tapi justru di pisin itulah letak nikmatnya. Bukan makanan utama, bukan pula hidangan istimewa, orég hadir di momen yang sangat spesifik, saat orang-orang bersiap meninggalkan kampung halaman, kembali ke kota, kembali ke rutinitas yang abadi. Bahwa ada sesuatu yang intim dalam sarapan ini. Seolah-olah kita sedang menghabiskan sisa, sekaligus menyimpan sesuatu untuk dibawa pulang tidak hanya dalam bentuk makanan, melainkan perasaan yang mendalam.

Di ruang tamu, toples-toples kue mulai kosong. Nastar tinggal beberapa butir, kastengel sudah tinggal serpihan, kacang goreng tersisa di dasar wadah. Anak-anak masih sesekali membuka amplop THR, menghitung ulang, atau bahkan merengek menagih uang yang dititipkannya. Orang dewasa mungkin sudah tahu bahwa yang tersisa tidak banyak. Sebagian sudah habis untuk kebutuhan, sebagian lagi memang sengaja dihabiskan tanpa banyak perhitungan. Karena lebaran, bagaimanapun, adalah tentang memberi.

Di hari-hari setelahnya, silaturahmi masih berlanjut. Ada yang baru sempat datang, ada yang baru bisa ditemui. Salaman yang tertunda, obrolan yang tidak sempat, semuanya menemukan ruangnya di waktu-waktu yang lebih lengang. Lebaran memang sudah lewat secara kalender, tapi secara sosial, ia masih memberi ampunan pada sesama, dengan caranya yang pelan dalam sisa-sisa perjumpaan.

Residu Hari Raya

Yang menarik dari semua ini adalah bagaimana sisa malah menjadi pusat pengalaman kita. Kakarén, remah kue, THR yang tinggal sedikit, semuanya adalah residu dari perayaan yang besar. Namun demikianlah kita melihat sesuatu yang lebih jujur. Ketika yang megah sudah lewat, yang tersisa adalah yang sederhana. Dan kini saatnya kita benar-benar berhadapan dengan kehidupan sehari-hari.

Bulan Ramadan sering disebut sebagai bulan pelatihan. Ada disiplin yang ketat dengan menahan lapar, mengatur waktu, memperbanyak ibadah, memperhalus relasi sosial. Lalu Idulfitri datang sebagai semacam puncak. Sebuah perayaan, pelepasan, dan juga pengakuan bahwa kita telah melewati satu fase penting. Orang Sunda menyebutnya dengan boboran siam, bobor artinya ngabedahkeun, membuang air kolam menangkap ikannya. Seolah-olah kita ‘membobol’ puasa, breakfast, sengaja tidak lagi bershaum, menjadi momentum penting untuk kita lewati.  Tapi pertanyaannya kemudian sederhana, setelah semua itu selesai, apa yang kita bawa?

Kehidupan setelah lebaran adalah ujian yang berbeda. Hari-harinya tidak lagi dibingkai oleh suasana kolektif yang kuat. Tidak ada lagi jadwal sahur, tidak ada lagi suara azan magrib yang ditunggu-tunggu dengan intensitas yang sama, tidak ada lagi tarawih yang mempertemukan orang-orang setiap malam. Yang ada adalah alur keseharian, dengan ritme yang lebih longgar, bahkan cenderung kembali ke kebiasaan lama.

Sekarang, banyak orang merasakan semacam kehilangan kecil. Seakan-akan sesuatu yang hangat dan penuh makna tiba-tiba menghilang. Tapi mungkin malah begitulah tantangannya. Tentang cara membawa semangat Ramadan ke dalam hari-hari yang tidak lagi istimewa. Bagaimana menjaga disiplin tanpa tekanan eksternal. Bagaimana tetap berbagi ketika tidak ada momen besar yang mendorongnya.

Kakarén lebaran bisa dibaca sebagai metafora yang menarik. Ia adalah hasil dari pengolahan ulang, mengambil apa yang tersisa, mencampurnya, dan menjadikannya sesuatu yang baru. Tidak sempurna, tidak mewah, sebagaimana pertama kali disajikan. Namun cukup untuk dinikmati. Dalam hidup, mungkin kita juga perlu melakukan hal yang sama. Tidak semua yang kita dapatkan selama Ramadan bisa dipertahankan dalam bentuk utuh. Tapi bukan berarti ia lenyap begitu saja.

Sebab ada nilai-nilai yang bisa dihangatkan kembali. Kebiasaan bangun lebih pagi, kepekaan terhadap sesama, kesadaran untuk menahan diri. Semua itu mungkin tidak lagi seintens sebelumnya, akan tetapi bisa tetap hadir dalam bentuk yang lebih sederhana. Hal lain yang juga penting adalah relasi dengan kampung halaman. Lebaran selalu menjadi momen di mana hubungan itu diperbarui. Kita pulang, bertemu orang tua, sanak saudara, tetangga, dan merasakan kembali akar kita. Setelah kita kembali ke kota, relasi itu seringkali kembali menjadi samar. Telepon jarang, kunjungan semakin renggang, dan tanah air perlahan kembali menjadi tempat yang jauh.

Siapa sangka, dari kegagalan bisnis ekspor jahe dan kondisi keuangan yang jungkir balik, lahir sebuah merek kue kering yang kini jadi langganan rumah tangga Indonesia, Ina Cookies. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Siapa sangka, dari kegagalan bisnis ekspor jahe dan kondisi keuangan yang jungkir balik, lahir sebuah merek kue kering yang kini jadi langganan rumah tangga Indonesia, Ina Cookies. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Padahal, mungkin yang perlu dijaga bukan hanya kunjungan fisik, juga ingatan, sapaan kecil, dan keterhubungan. Kakarén lebaran, dengan segala kesederhanaannya, adalah salah satu cara untuk mengingat. Ia membantu kita mengenali memori bahwa kita pernah berada di sana, pernah makan bersama, pernah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Lalu ada soal ekonomi kecil-kecilan yang sering luput dari perhatian. THR yang habis, pengeluaran yang meningkat, dan kebutuhan yang kembali menumpuk setelah lebaran. Banyak orang kemudian masuk ke fase penyesuaian, dengan mulai menabung lagi, menghitung ulang, dan merencanakan ke depan. Dalam konteks ini, lebaran bukan hanya perayaan, tapi juga titik balik. Ada kesadaran bahwa apa yang kita berikan tahun ini bisa menjadi tolok ukur untuk tahun depan. Bahwa kita ingin memberi lebih baik, lebih layak, atau setidaknya tidak berkurang. Maka dimulailah siklus baru lewat bekerja, menabung, ikut arisan daging, paket parsel, merencanakan mudik, dan seterusnya. Dalam arti tertentu, lebaran selalu mengandung orientasi ke depan.

Di sela-sela rencana ini, penting juga untuk tidak terjebak dalam logika “lebih besar, lebih banyak”. Sebab esensi dari lebaran tidak selalu terletak pada jumlah. Kadang justru pada kehadiran, perhatian, dan waktu yang diberikan. Kakarén lebaran sekali lagi mengingatkan bahwa dari sisa pun, kita bisa menciptakan sesuatu yang bermakna.

Spirit untuk Menjalani Hari-Hari

Akhirnya, hidup setelah lebaran adalah tentang kembali ke yang biasa. Yang penuh kejemuan, yang penuh lika-liku kesulitan. Yang biasa sering terasa hambar, tidak menarik, bahkan melelahkan. Dan sejauh apapun kita menyangkalnya, kehidupan kita berlangsung sebagian besar dalam dimensi waktu tersebut. Ramadan dan lebaran mungkin hanya sebulan lebih sedikit, sementara sebelas bulan lainnya adalah “yang biasa”. Kita tidak lagi sedang berpusing-pusing memikirkan cara merayakan yang luar biasa, tapi bagaimana kita merawat yang biasa agar tetap bernilai. Bagaimana kita menjaga napas, relasi, dan kesadaran dalam keseharian yang tidak selalu memberi dorongan emosional yang kuat.

Mungkin jawabannya tidak perlu terlalu besar. Bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti saling tegur dan menyapa, berbagi sedikit, menahan diri dalam situasi tertentu, atau sekadar mengingat bahwa kita pernah dilatih untuk menjadi lebih baik. Seperti kakarén lebaran, seperti sisa-sisa kue di ruang tamu, yang seadanya, yang membekas. Hidup setelah lebaran juga tidak perlu rumit untuk tetap bermakna. Bai kita yang tersisa bukan hanya remah-remah makanan atau amplop kosong, tapi juga kemungkinan. Kemungkinan untuk melanjutkan, untuk memperbaiki, dan untuk tetap terhubung. Baik dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan akar kita. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)