Prospek Usaha Florikultura saat Lebaran dan Reinventing Kota Kembang

4 menit baca
Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan
Pasar kembang Wastukencana kota Bandung (Sumber: pasarbungawastukencana.com)
Pasar kembang Wastukencana kota Bandung (Sumber: pasarbungawastukencana.com)

Omset pedagang bunga saat lebaran meningkat. Seperti terjadi di pasar bunga Wastukencana kota Bandung. Perayaan lebaran dan hari-hari istimewa seperti Valentine, penjualan mawar bisa menembus seribu tangkai per hari per toko. Harga bunga mawar naik 100%, dari Rp5 ribu menjadi Rp 10 ribu per tangkai, dengan harga rangkaian bunga berkisar Rp 75 ribu hingga jutaan rupiah.

Usaha bunga potong di Bandung berpusat pada suplai bunga segar langsung dari kebun di area Lembang dan Bandung Barat, dengan sentra penjualan utama di Pasar Bunga Wastukencana. Jenis bunga yang menjadi pilihan populer saat lebaran antara lain mawar, krisan, dan sedap malam.

Usaha florist saat Lebaran 2026 sangat potensial dengan fokus pada parsel/hampers kombinasi bunga dan hadiah (tea set, home decor). Tren 2026 menekankan eksplorasi warna dan bunga segar dengan pendekatan sensorik, serta penggunaan bunga lokal yang dirangkai elegan.

Pasar bunga Wastukencana saat malam hari (Sumber: pasarbungawastukencana.com)
Pasar bunga Wastukencana saat malam hari (Sumber: pasarbungawastukencana.com)

Prospek usaha bunga potong atau Florikultura  saat lebaran dan momentum lain nya bisa reinventing atau menimbulkan kembali predikat Bandung sebagai kota kembang. Bahkan kawasan Bandung Raya bisa juga menjadi kota kembang. Seperti misalnya Jatinangor Sumedang yang saat ini memiliki destinasi wisata terkait bunga.

Setidaknya ada tiga sentra bunga di kota Bandung yang masih bertahan. Pasar Bunga Wastukencana. Pasar Bunga Wastukencana didirikan sekitar tahun 1980 sebagai wadah terpadu para pedagang di kawasan Pasar Bunga Wastukencana. Pada tahun 1987, pasar bunga ini direnovasi menjadi bangunan baru bergaya khas priangan dan dibuka oleh Pemerintah Kota Bandung sebagai simbol  kota Bandung, ibu kota kembang. Komplek pasar bunga terdiri dari tiga blok bangunan dan terdapat 30 toko bunga di kawasan pasar bunga Wastukencana.

Masyarakat sudah akrab dengan Palasari sebagai pasar buku, baik bekas atau baru. Ternyata disini juga terdapat para penjual bunga potong yang cukup ramai.

Destinasi wisata Jans Park di Jatinangor Sumedang (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Destinasi wisata Jans Park di Jatinangor Sumedang (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Reinventing kota kembang sebaiknya diperluas untuk kabupaten di sekitar Kota Bandung. Seperti halnya Kota Sumedang tepatnya di Kecamatan Jatinangor yang telah memiliki  destinasi yang tak hanya memikat dari segi alam, tetapi memiliki eksotisme tentang bunga. Destinasi tersebut adalah Jans Park.

Destinasi wisata Jans Park dan Kiara Payung di Sumedang juga memiliki potensi usaha florikultura yang masih terpendam.Dua destinasi itu bisa bersinergi dan menciptakan pasar lokal hingga global.

 Jatinangor yang merupakan wilayah Kabupaten Sumedang memiliki destinasi wisata flora bernama Jatinangor National Flower Park atau biasa disebut Jans Park. Destinasi tersebut bisa menjadi pendorong tumbuhnya usaha florikultura bagi masyarakat disekitarnya. Potensi florikultura tidak mengenal istilah resesi sehingga perlu segera dikembangkan.

Jans Park menyuguhkan tempat wisata dengan konsep taman bunga beserta bangunan ikonik ala negeri dongeng. Menjadi salah satu pelopor wisata flora di Indonesia dengan luas mencapai 7.5 hektar. Kawasan Jans Park terlihat mencolok dari kejauhan karena bangunannya yang warna-warni. Saat mulai memasuki kawasan Jans Park, pengunjung dapat melihat bangunan menyerupai model istana di eropa dan bangunan masjid ala Rusia yang berwarna-warni. Di depan bangunan tersebut, terdapat hiasan menara putih berbentuk menyerupai jamur. Suasana depan Jans Park ini sangat ikonik dan instagramable.

Sesuai dengan namanya, daya tarik Jatinangor National Flower Park berada pada taman bunganya yang luas dan memiliki berbagai varian jenis bunga. Jans Park juga dihiasi oleh gedung bangunan warna-warni seperti di negeri dongeng. Oleh karena itu, terdapat banyak sekali spot foto instagramable. Selain berfoto, pengunjung juga dapat membawa pulang bunga krisan sebagai oleh-oleh.

Penulis mengunjungi destinasi wisata Jans Park (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Penulis mengunjungi destinasi wisata Jans Park (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Potensi usaha florikultura khususnya bunga potong (cut flower) di Kawasan sekitar Jans Park dan Kiara Payung perlu ditumbuhkan.  Program untuk mengembangkan sektor usaha florikultura khususnya bunga potong tidak cukup hanya dengan bantuan permodalan. Dibutuhkan juga pengetahuan praktis seperti proses kreatif, manajemen mutu, pencitraan produk, jaringan pemasaran dan teknik pengemasan.

Baca Juga: Habis Lebaran, Terbitlah Hajatan

Selain itu pentingnya pola kemitraan usaha yang saling menguntungkan antara para petani dan pengusaha, karena pada umumnya pengusaha besar bunga potong selain menguasai pasar juga menguasai teknik budidaya. Pola kemitraan mengarah kepada simbiosis mutualisme dimana pengusaha besar akan mendapatkan pasokan bunga yang bermutu dengan volume yang cukup, sehingga pengusaha tidak perlu harus mengeluarkan dana untuk membuka kebun sendiri. Sementara bagi para petani, pemasaran hasil produksinya akan lebih terjamin dan juga adanya pembinaan untuk alih teknologi budidaya yang lebih maju. Selain itu pengusaha besar tersebut juga dapat bertindak sebagai avalis kredit bagi para petani sebagai mitra usahanya.

Pengusaha bunga potong juga dituntut untuk dapat memperdagangkan produknya dalam keadaan segar. Konsumsi bunga potong lokal, nasional dan global semakin meningkat. Namun tantangannya juga semakin kompleks, untuk itu diperlukan teknologi yang bisa menghasilkan bunga potong berwarna-warni, bentuk yang menarik, tahan lama dan harganya kompetitif. Juga adanya segmen pasar untuk masyarakat golongan tertentu yang mempunyai selera eksklusif dan fanatik terhadap jenis bunga tertentu yang belum dapat dihasilkan di dalam negeri, hal itu menyebabkan semakin meningkatnya impor bunga potong. Di lain pihak, lembaga-lembaga penelitian dan para nursery di dalam negeri telah mengembangkan varietas-varietas baru yang mempunyai daya saing yang kuat dengan produk impor, juga dengan adanya teknologi budidaya yang semakin dikuasai dan efisien menyebabkan harga jual bunga potong mampu bersaing dengan produk impor. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sri Maryati
Tentang Sri Maryati
Pemerhati sosial, penikmat destinasi wisata

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)