Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Saat pulang kerja, langkah kaki sengaja diperlambat. Di tangan, selembar koran masih setia terbawa.

Tepatnya ketika berada di belakang Gedung Fakultas Sains dan Teknologi UIN Bandung, sebelum pintu Doraemon, rindangnya pohon mangga di sekitar Tugu Elektro, dan suasana asri di depan GOR bulutangkis yang selalu menyimpan keteduhan dan kenangan.

Di tengah langkah yang tenang itu, berpapasan dengan seorang kawan lama (seangkatan). Obrolan santai mengalir, dimulai dari kabar keluarga, lalu berlabuh pada anak-anak yang kian tumbuh besar.

“Wih, masih ada koran?” celetuknya, setengah heran, sambil bernostalgia.

“Muhun, bari sakanteunan diajar maca,” jawabku pelan sambil tersenyum.

Laki-laki bertubuh gemuk itu berkata, "Belajar mencari huruf kaya dulu waktu mengeja pas jadi mahasiswa baru lulus atau tidak ya!"

Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Menjaga Kebiasaan dan Rasa Ingin Tahu

Memang ada kebahagiaan sederhana yang sulit digantikan layar gawai ketika suara kertas dibuka, aroma tinta cetak, dan jeda-jeda kecil saat mata menelusuri tiap kolom (rubrik) berita.

Terlebih, Anak kedua, Aa Akil (11 tahun), suka berburu Koran ketika pulang kerja.

Ya, paling senang membaca rubrik Tunggu Dulu dan halaman Gelora, terutama bila memuat kabar tentang Persib nu Aing.

Tanpa disadari, dari kebiasaan itu membaca bukan sekadar mengeja kata, melainkan berusaha merawat rasa ingin tahu dan menumbuhkan kedekatan pada dunia literasi yang disukai.

Senja menjelang magrib itu, koran di tangan justru membawa pikiran melayang jauh ke awal 2000-an, tepatnya sekitar 2002.

Pasalnya, dalam media cetak itu terdapat berita pengumuman kelulusan. Ada masa ketika berburu koran bukan sekadar kebiasaan, melainkan denyut harapan dan merawat asa kehidupan.

Jejak suasana dan gedung Al-Jamiah IAIN Sunan Gunung Djati tempo dulu (Sumber: Humas UIN Bandung | Foto: Istimewa)
Jejak suasana dan gedung Al-Jamiah IAIN Sunan Gunung Djati tempo dulu (Sumber: Humas UIN Bandung | Foto: Istimewa)

Merawat Ingatan dan Mengeja Kehidupan

Ketika pengumuman kelulusan masuk IAIN Bandung, diterima atau tidak, sering kali ditunggu lewat lembar-lembar koran yang diburu sejak pagi.

Dengan harga yang fantastis. Biasanya diecer seribu, waktu kelulusan dapat dijual lima sampai sepuluh ribu. Baru setelah petang kembali normal harganya.

Betapa tegang, harap-harap cemas, mendebarkannya masa kejayaan media cetak itu. Nama-nama yang tercetak di koran bukan sekadar deretan huruf, melainkan nasib, doa orang tua, dan jalan hidup yang sedang memilih arahnya.

Koran menjadi saksi dari perjumpaan antara ikhtiar, doa dan takdir.

Foto tahun 1971, suasana pasar koran di Cikapundung Bandung yang terlengkap. (Sumber: Facebook Indonesian Overseas History II | Foto: Wilford Peloquin)
Foto tahun 1971, suasana pasar koran di Cikapundung Bandung yang terlengkap. (Sumber: Facebook Indonesian Overseas History II | Foto: Wilford Peloquin)

Cikapundung Saksi dan Jejak Kejayaan Media Cetak

Bandung pernah menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan surat kabar yang sangat masif, terutama sejak paruh awal 1900-an hingga akhir 2000-an.

Berbagai koran lahir dan berkembang di Kota Kembang, mulai dari AID de Preanger Bode yang dikenal sebagai salah satu surat kabar tertua, hingga nama-nama yang melegenda seperti Harian Banten, Harian Karya, Indonesia Express, dan Pikiran Rakjat.

Pada masanya, media-media ini tumbuh subur dan menjadi bagian penting denyut kehidupan kota, diburu oleh berbagai lapisan masyarakat, dari kalangan atas hingga pekerja jalanan.

Jejak kejayaan itu dahulu begitu mudah ditemui di setiap sudut kota. Para penjaja koran hadir di persimpangan jalan, menawarkan berbagai terbitan dengan harga yang bersaing, seiring kompetisi antar perusahaan pers yang begitu hidup.

Surat kabar bukan sekadar lembaran informasi, tetapi menjadi penanda pagi warga Bandung, medium pengetahuan, ruang publik yang mempertemukan gagasan dan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.

Meski puluhan tahun telah berlalu, sisa-sisa masa keemasan itu masih dapat disaksikan di sudut Kota Bandung, tepatnya di kawasan Cikapundung. Wilayah ini menjadi salah satu daerah yang tersisa dari kejayaan media cetak dan tetap bertahan di tengah senjakala yang mengancam keberadaannya.

Bagi siapa saja yang ingin mengenang romantika era surat kabar, kawasan ini layak menjadi tujuan, dengan beberapa loper koran paruh baya yang masih setia dan penuh semangat menjajakan koran-koran terbaru.

Di sudut Kota Bandung, tak jauh dari Alun-Alun dan Gedung Merdeka yang menjadi penanda sejarah Konferensi Asia Afrika, Cikapundung menyimpan kisah sunyi ihwal jejak kejayaan media cetak.

Kawasan yang sejak dekade 1970-an dikenal sebagai pusat distribusi surat kabar ini bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan panggung peradaban informasi.

Suasana pagi hari pernah lahir lebih awal, ketika lembar-lembar berita menjadi jembatan antara peristiwa dan kesadaran publik, antara kota yang bergerak dan warga yang ingin memahami zamannya.

Pada awal 2000-an, denyut itu terasa begitu hidup. Sejak pukul 03.00 WIB dini hari, mobil-mobil sirkulasi berdatangan membawa tumpukan koran, tabloid, dan majalah dengan tajuk utama yang beragam.

Orang-orang bergerak cepat, membagi, mengelompokkan, lalu menyiapkan ribuan eksemplar untuk berangkat menuju tangan pembaca. Menjelang pukul 04.00 hingga 05.00 WIB, para loper koran datang silih berganti, bekerja dalam ritme yang nyaris seperti koreografi, sigap, presisi, dan berpacu dengan waktu.

Dalam dunia cetak, kecepatan bukan hanya soal distribusi, tetapi soal menjaga relevansi kabar sebelum pagi benar-benar datang.

Ada romantika, dinamika dan taruhan nyawa dalam pekerjaan itu. Seorang mantan pekerja media mengenang laju mobil distribusi menuju Cikapundung yang begitu cepat, seolah-olah sedang mengantar hidup dan mati dalam satu perjalanan.

Rupanya, dalam suasana itu tampak filsafat kerja media cetak yang terus menghadirkan informasi, selalu menuntut pengorbanan, disiplin, dan keberanian untuk hadir paling awal.

Koran bukan sekadar kertas bertinta, melainkan simbol kesungguhan manusia dalam merawat pengetahuan kolektif. Setiap lembar yang tiba di teras rumah pembaca adalah hasil dari kerja sunyi banyak tangan yang jarang dikenang.

Kini, suasana itu masih tersisa, tetapi tidak lagi sepadat dulu. Di tengah derasnya konvergensi media ke platform daring, para loper masih datang menjelang Subuh dengan sepeda motor dan tas khusus di jok belakang, mengambil koran dari agen untuk segera diantar.

Keramaian yang dulu menjadi denyut kawasan perlahan berubah menjadi gema kenangan. Mamay, penjual kopi dan gorengan yang hampir tiga dekade berjualan di sana, menjadi saksi atas derasnya perubahan itu.

Sambil mengingat masa ketika Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), yang kini menjelma menjadi berbagai sistem seleksi (SNMPTN, SBMPTN, tes CPNS) digital yang membuat kawasan ini penuh antrean mahasiswa sejak malam hari. Kini, ruang tunggu fisik itu hilang, digantikan dengan layar-layar gawai yang lebih senyap dan individual.

Sejak era konvergensi media cetak ke daring dekade 2010, penyusutan omzet mulai dirasakan para agen koran di Cikapundung.

Nyatanya, perubahan zaman paling terasa dalam angka-angka yang memendekkan nostalgia menjadi statistik.

Betapa tidak, para agen koran seperti Eneng mengalami penurunan omzet hingga sepuluh kali lipat dibanding dua dekade lalu, dari sekitar Rp15 juta per hari menjadi hanya Rp1,5 juta. Penjualan yang dahulu mencapai 1.500 eksemplar per hari kini menyusut menjadi sekitar 180 eksemplar.

Di balik angka itu, tersimpan pelajaran filosofis bahwa teknologi tidak pernah benar-benar mematikan masa lalu dan hanya menggeser kebiasaan manusia. Medium berubah, tetapi kebutuhan akan informasi tetap hidup, mencari bentuk baru sesuai semangat zaman.

Meski tak lagi seramai era keemasan, Cikapundung belum kehilangan maknanya. Surat kabar masih bertahan dalam segmen tertentu, mulai dari perkantoran, pemerintahan, pelanggan lama, sampai rumah-rumah yang masih percaya pada sentuhan fisik berita.

Salah satu loper koran, Agus Mulyana yang sejak 1993 menekuni profesi ini tetap mengantar ratusan eksemplar setiap pagi, menjadi penjaga ritus lama di tengah budaya digital.

Dari Cikapundung kita belajar, sejarah tidak selalu lenyap, terkadang hanya mengecil menjadi kebiasaan yang bertahan di tangan orang-orang setia.

Dalam kesunyian pagi antara pukul 05.00 hingga 07.00 WIB itu, kita bisa mendengar kembali suara zaman yang pernah begitu berisik. Suara halaman koran yang dibuka, dibaca, lalu menjadi ingatan bersama. (Kompas, 9 Februari 2022, 15:57 WIB dan Merdeka, Senin, 01 Jul 2024 14:05:00)

PO. Mios merupakan perusahaan bus asal Bandung yang melayani bus pariwisata serta AKDP. (Sumber: Facebook Sejarah Transportasi)
PO. Mios merupakan perusahaan bus asal Bandung yang melayani bus pariwisata serta AKDP. (Sumber: Facebook Sejarah Transportasi)

Waktu itu, belum ada (tersedia) portal kampus, tidak ada laman yang bisa disegarkan berkali-kali, apalagi pesan instan yang datang dalam hitungan detik.

Walhasil, yang ada satu-satunya cara hanyalah ritual berburu koran.

Memang ada beberapa penjual koran berdiri, hilir mudik, lalu lalang, tepat di depan kampus, sambil berteriak, "Koran-koran 10 ribu, 10 ribu!"

Setiap orang (calon mahasiswa baru) membelinya dan membuka halaman dengan jari gemetar, menyusuri kolom nama satu demi satu, berharap semesta (keajaiban) menuliskan takdir baik di atas tinta.

Ada yang bersorak kecil, mengucapkan selamat, syukur alhamdulilah, saling berpelukan sambil menangis, ada yang diam lama seribu bahasa, tak bisa ditanya seperti kawan seperjuangan dulu (dari lima orang satu belum berhasil), ada pula yang hanya melipat kembali koran dengan wajah datar sambil menyimpan kecewa berat untuk dirinya sendiri dan keluarga tercinta.

Bingung menjelaskan kepada kedua orang tuanya. Pulang ke Garut seakan-akan butuh waktu, terasa berat dan tak mau menerima keadaan ketika tidak lulus.

Sambil dikuatkan dan diberikan penjelasan masih ada jalur lain untuk bisa kuliah. Barulah bangkit, mulai senyum dan berdiri menuju ke depan gerbang kampus untuk memberhentikan bus Mios, pulang ke kampung halaman.

Asyiknya, berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat. Alhamdulillah diterima jadi mahasiswa! Hore! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)