Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Kamis 09 Apr 2026, 18:18 WIB
Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Saat pulang kerja, langkah kaki sengaja diperlambat. Di tangan, selembar koran masih setia terbawa.

Tepatnya ketika berada di belakang Gedung Fakultas Sains dan Teknologi UIN Bandung, sebelum pintu Doraemon, rindangnya pohon mangga di sekitar Tugu Elektro, dan suasana asri di depan GOR bulutangkis yang selalu menyimpan keteduhan dan kenangan.

Di tengah langkah yang tenang itu, berpapasan dengan seorang kawan lama (seangkatan). Obrolan santai mengalir, dimulai dari kabar keluarga, lalu berlabuh pada anak-anak yang kian tumbuh besar.

“Wih, masih ada koran?” celetuknya, setengah heran, sambil bernostalgia.

“Muhun, bari sakanteunan diajar maca,” jawabku pelan sambil tersenyum.

Laki-laki bertubuh gemuk itu berkata, "Belajar mencari huruf kaya dulu waktu mengeja pas jadi mahasiswa baru lulus atau tidak ya!"

Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Menjaga Kebiasaan dan Rasa Ingin Tahu

Memang ada kebahagiaan sederhana yang sulit digantikan layar gawai ketika suara kertas dibuka, aroma tinta cetak, dan jeda-jeda kecil saat mata menelusuri tiap kolom (rubrik) berita.

Terlebih, Anak kedua, Aa Akil (11 tahun), suka berburu Koran ketika pulang kerja.

Ya, paling senang membaca rubrik Tunggu Dulu dan halaman Gelora, terutama bila memuat kabar tentang Persib nu Aing.

Tanpa disadari, dari kebiasaan itu membaca bukan sekadar mengeja kata, melainkan berusaha merawat rasa ingin tahu dan menumbuhkan kedekatan pada dunia literasi yang disukai.

Senja menjelang magrib itu, koran di tangan justru membawa pikiran melayang jauh ke awal 2000-an, tepatnya sekitar 2002.

Pasalnya, dalam media cetak itu terdapat berita pengumuman kelulusan. Ada masa ketika berburu koran bukan sekadar kebiasaan, melainkan denyut harapan dan merawat asa kehidupan.

Jejak suasana dan gedung Al-Jamiah IAIN Sunan Gunung Djati tempo dulu (Sumber: Humas UIN Bandung | Foto: Istimewa)
Jejak suasana dan gedung Al-Jamiah IAIN Sunan Gunung Djati tempo dulu (Sumber: Humas UIN Bandung | Foto: Istimewa)

Merawat Ingatan dan Mengeja Kehidupan

Ketika pengumuman kelulusan masuk IAIN Bandung, diterima atau tidak, sering kali ditunggu lewat lembar-lembar koran yang diburu sejak pagi.

Dengan harga yang fantastis. Biasanya diecer seribu, waktu kelulusan dapat dijual lima sampai sepuluh ribu. Baru setelah petang kembali normal harganya.

Betapa tegang, harap-harap cemas, mendebarkannya masa kejayaan media cetak itu. Nama-nama yang tercetak di koran bukan sekadar deretan huruf, melainkan nasib, doa orang tua, dan jalan hidup yang sedang memilih arahnya.

Koran menjadi saksi dari perjumpaan antara ikhtiar, doa dan takdir.

Foto tahun 1971, suasana pasar koran di Cikapundung Bandung yang terlengkap. (Sumber: Facebook Indonesian Overseas History II | Foto: Wilford Peloquin)
Foto tahun 1971, suasana pasar koran di Cikapundung Bandung yang terlengkap. (Sumber: Facebook Indonesian Overseas History II | Foto: Wilford Peloquin)

Cikapundung Saksi dan Jejak Kejayaan Media Cetak

Bandung pernah menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan surat kabar yang sangat masif, terutama sejak paruh awal 1900-an hingga akhir 2000-an.

Berbagai koran lahir dan berkembang di Kota Kembang, mulai dari AID de Preanger Bode yang dikenal sebagai salah satu surat kabar tertua, hingga nama-nama yang melegenda seperti Harian Banten, Harian Karya, Indonesia Express, dan Pikiran Rakjat.

Pada masanya, media-media ini tumbuh subur dan menjadi bagian penting denyut kehidupan kota, diburu oleh berbagai lapisan masyarakat, dari kalangan atas hingga pekerja jalanan.

Jejak kejayaan itu dahulu begitu mudah ditemui di setiap sudut kota. Para penjaja koran hadir di persimpangan jalan, menawarkan berbagai terbitan dengan harga yang bersaing, seiring kompetisi antar perusahaan pers yang begitu hidup.

Surat kabar bukan sekadar lembaran informasi, tetapi menjadi penanda pagi warga Bandung, medium pengetahuan, ruang publik yang mempertemukan gagasan dan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.

Meski puluhan tahun telah berlalu, sisa-sisa masa keemasan itu masih dapat disaksikan di sudut Kota Bandung, tepatnya di kawasan Cikapundung. Wilayah ini menjadi salah satu daerah yang tersisa dari kejayaan media cetak dan tetap bertahan di tengah senjakala yang mengancam keberadaannya.

Bagi siapa saja yang ingin mengenang romantika era surat kabar, kawasan ini layak menjadi tujuan, dengan beberapa loper koran paruh baya yang masih setia dan penuh semangat menjajakan koran-koran terbaru.

Di sudut Kota Bandung, tak jauh dari Alun-Alun dan Gedung Merdeka yang menjadi penanda sejarah Konferensi Asia Afrika, Cikapundung menyimpan kisah sunyi ihwal jejak kejayaan media cetak.

Kawasan yang sejak dekade 1970-an dikenal sebagai pusat distribusi surat kabar ini bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan panggung peradaban informasi.

Suasana pagi hari pernah lahir lebih awal, ketika lembar-lembar berita menjadi jembatan antara peristiwa dan kesadaran publik, antara kota yang bergerak dan warga yang ingin memahami zamannya.

Pada awal 2000-an, denyut itu terasa begitu hidup. Sejak pukul 03.00 WIB dini hari, mobil-mobil sirkulasi berdatangan membawa tumpukan koran, tabloid, dan majalah dengan tajuk utama yang beragam.

Orang-orang bergerak cepat, membagi, mengelompokkan, lalu menyiapkan ribuan eksemplar untuk berangkat menuju tangan pembaca. Menjelang pukul 04.00 hingga 05.00 WIB, para loper koran datang silih berganti, bekerja dalam ritme yang nyaris seperti koreografi, sigap, presisi, dan berpacu dengan waktu.

Dalam dunia cetak, kecepatan bukan hanya soal distribusi, tetapi soal menjaga relevansi kabar sebelum pagi benar-benar datang.

Ada romantika, dinamika dan taruhan nyawa dalam pekerjaan itu. Seorang mantan pekerja media mengenang laju mobil distribusi menuju Cikapundung yang begitu cepat, seolah-olah sedang mengantar hidup dan mati dalam satu perjalanan.

Rupanya, dalam suasana itu tampak filsafat kerja media cetak yang terus menghadirkan informasi, selalu menuntut pengorbanan, disiplin, dan keberanian untuk hadir paling awal.

Koran bukan sekadar kertas bertinta, melainkan simbol kesungguhan manusia dalam merawat pengetahuan kolektif. Setiap lembar yang tiba di teras rumah pembaca adalah hasil dari kerja sunyi banyak tangan yang jarang dikenang.

Kini, suasana itu masih tersisa, tetapi tidak lagi sepadat dulu. Di tengah derasnya konvergensi media ke platform daring, para loper masih datang menjelang Subuh dengan sepeda motor dan tas khusus di jok belakang, mengambil koran dari agen untuk segera diantar.

Keramaian yang dulu menjadi denyut kawasan perlahan berubah menjadi gema kenangan. Mamay, penjual kopi dan gorengan yang hampir tiga dekade berjualan di sana, menjadi saksi atas derasnya perubahan itu.

Sambil mengingat masa ketika Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), yang kini menjelma menjadi berbagai sistem seleksi (SNMPTN, SBMPTN, tes CPNS) digital yang membuat kawasan ini penuh antrean mahasiswa sejak malam hari. Kini, ruang tunggu fisik itu hilang, digantikan dengan layar-layar gawai yang lebih senyap dan individual.

Sejak era konvergensi media cetak ke daring dekade 2010, penyusutan omzet mulai dirasakan para agen koran di Cikapundung.

Nyatanya, perubahan zaman paling terasa dalam angka-angka yang memendekkan nostalgia menjadi statistik.

Betapa tidak, para agen koran seperti Eneng mengalami penurunan omzet hingga sepuluh kali lipat dibanding dua dekade lalu, dari sekitar Rp15 juta per hari menjadi hanya Rp1,5 juta. Penjualan yang dahulu mencapai 1.500 eksemplar per hari kini menyusut menjadi sekitar 180 eksemplar.

Di balik angka itu, tersimpan pelajaran filosofis bahwa teknologi tidak pernah benar-benar mematikan masa lalu dan hanya menggeser kebiasaan manusia. Medium berubah, tetapi kebutuhan akan informasi tetap hidup, mencari bentuk baru sesuai semangat zaman.

Meski tak lagi seramai era keemasan, Cikapundung belum kehilangan maknanya. Surat kabar masih bertahan dalam segmen tertentu, mulai dari perkantoran, pemerintahan, pelanggan lama, sampai rumah-rumah yang masih percaya pada sentuhan fisik berita.

Salah satu loper koran, Agus Mulyana yang sejak 1993 menekuni profesi ini tetap mengantar ratusan eksemplar setiap pagi, menjadi penjaga ritus lama di tengah budaya digital.

Dari Cikapundung kita belajar, sejarah tidak selalu lenyap, terkadang hanya mengecil menjadi kebiasaan yang bertahan di tangan orang-orang setia.

Dalam kesunyian pagi antara pukul 05.00 hingga 07.00 WIB itu, kita bisa mendengar kembali suara zaman yang pernah begitu berisik. Suara halaman koran yang dibuka, dibaca, lalu menjadi ingatan bersama. (Kompas, 9 Februari 2022, 15:57 WIB dan Merdeka, Senin, 01 Jul 2024 14:05:00)

PO. Mios merupakan perusahaan bus asal Bandung yang melayani bus pariwisata serta AKDP. (Sumber: Facebook Sejarah Transportasi)
PO. Mios merupakan perusahaan bus asal Bandung yang melayani bus pariwisata serta AKDP. (Sumber: Facebook Sejarah Transportasi)

Waktu itu, belum ada (tersedia) portal kampus, tidak ada laman yang bisa disegarkan berkali-kali, apalagi pesan instan yang datang dalam hitungan detik.

Walhasil, yang ada satu-satunya cara hanyalah ritual berburu koran.

Memang ada beberapa penjual koran berdiri, hilir mudik, lalu lalang, tepat di depan kampus, sambil berteriak, "Koran-koran 10 ribu, 10 ribu!"

Setiap orang (calon mahasiswa baru) membelinya dan membuka halaman dengan jari gemetar, menyusuri kolom nama satu demi satu, berharap semesta (keajaiban) menuliskan takdir baik di atas tinta.

Ada yang bersorak kecil, mengucapkan selamat, syukur alhamdulilah, saling berpelukan sambil menangis, ada yang diam lama seribu bahasa, tak bisa ditanya seperti kawan seperjuangan dulu (dari lima orang satu belum berhasil), ada pula yang hanya melipat kembali koran dengan wajah datar sambil menyimpan kecewa berat untuk dirinya sendiri dan keluarga tercinta.

Bingung menjelaskan kepada kedua orang tuanya. Pulang ke Garut seakan-akan butuh waktu, terasa berat dan tak mau menerima keadaan ketika tidak lulus.

Sambil dikuatkan dan diberikan penjelasan masih ada jalur lain untuk bisa kuliah. Barulah bangkit, mulai senyum dan berdiri menuju ke depan gerbang kampus untuk memberhentikan bus Mios, pulang ke kampung halaman.

Asyiknya, berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat. Alhamdulillah diterima jadi mahasiswa! Hore! (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 08:59

Taman Uncal Soreang, Wisata Edukatif Murah Meriah

Taman Uncal di Soreang menawarkan wisata edukatif gratis dengan rusa totol. Cocok untuk liburan keluarga murah meriah di Bandung.

Taman Uncal Soreang, tempat wisata murah meriah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 08:49

'Mana Tahan ...' dan Kosakata Gaul Tahun 1980-an

Mengenang kata-kata para kawula muda khususnya Bandung tahun 1980-an penuh persahabatan dan canda.

Ilustrasi anak muda tahun 1980-an. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Seni Budaya 09 Apr 2026, 00:12

Hikayat Degung, Gamelan Istana yang jadi Warisan Budaya Sunda

Degung tumbuh dari tradisi istana, mengalami perubahan instrumen dan fungsi, hingga menjadi bagian penting identitas budaya Sunda hari ini.

Pementasan degung. (Sumber: YouTube ThisIsBandung)
Mayantara 08 Apr 2026, 18:17

Ketakwaan Terlangka di Era Digital Religion

Di era digital hari ini, pengakuan tidak lagi menunggu ruang fisik, melainkan hadir dalam genggaman melalui likes, views, dan komentar.

Salah berjamaah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 08 Apr 2026, 17:15

Menjembatani Celah Kreativitas dan Hukum dalam Ekosistem Ekraf Bandung

Dialog Ekraf Bandung bedah celah hukum dan nilai ekonomi industri kreatif guna ciptakan ekosistem yang lebih kokoh bagi pelaku seni

Dialog Ekraf Bandung bedah celah hukum dan nilai ekonomi industri kreatif guna ciptakan ekosistem yang lebih kokoh bagi pelaku seni (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 08 Apr 2026, 15:50

Plastik Makin Mahal, Saatnya Warga Bandung 'Putus Hubungan' dengan Kantong Sekali Pakai

Harga plastik di Bandung naik, jadi momentum warga beralih dari kantong sekali pakai untuk mengurangi sampah.

Kenaikan harga plastik di Pasar Kosambi membuat pedagang dan pembeli sama-sama merasakan dampaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Beranda 08 Apr 2026, 15:39

Cerita Ricky, Pemain Biola Jalanan yang Kerap Kucing-kucingan dengan Satpol PP

Di tengah kerasnya jalanan Bandung, Ricky Rustandi Pratama memilih bertahan hidup lewat alunan biola di sela-sela ancaman penertiban petugas.

Di tengah lalu lintas Kota Bandung, Ricky menghibur pengendara dengan alunan biola dari hasil belajar otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 14:08

Tombolo Pangandaran Menghubungkan Pulau Pananjung dengan Daratan Utama

Tombolo itu terbentuk bukan karena sebab tunggal. Prosesnya rumit dan memakan waktu yang panjang.

Tombolo Pangandaran, menyambung Pulau Pananjung dengan Daratan Utama dengan endapan pasir yang terbentuk secara bertahap. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Wisata & Kuliner 08 Apr 2026, 13:33

Jelajah Situ Cileunca sampai Hilir: dari Wisata, Pembangkit Listrik hingga Kearifan Lokal

Dibangun sejak era kolonial, Situ Cileunca berkembang menjadi sumber listrik, destinasi wisata unggulan, serta ruang aktivitas olahraga air bagi masyarakat Pangalengan.

Situ Cileunca, salah satu objek wisata favorit di Kabupaten Bandung. (Sumber: Wikimedia)