Suasana Bandung Menjelang Lebaran dalam Iklan Koran Tahun 1960-an

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Jumat 06 Mar 2026, 18:02 WIB
Potongan iklan toko kain dan pakaian yang dimuat di surat kabar Bandung pada era 1960-1970-an, menggambarkan semarak persiapan masyarakat menyambut Lebaran pada masa itu. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Potongan iklan toko kain dan pakaian yang dimuat di surat kabar Bandung pada era 1960-1970-an, menggambarkan semarak persiapan masyarakat menyambut Lebaran pada masa itu. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Membaca koran lawas dan majalah lama selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Lembaran-lembaran kertas yang telah menguning itu seakan menjadi mesin waktu yang membawa kita mundur puluhan tahun ke masa ketika media cetak tersebut pertama kali terbit.

Bagi sebagian orang, surat kabar lama mungkin hanya dianggap tumpukan kertas usang yang tidak lagi memiliki nilai. Di era digital seperti sekarang, berita dapat dengan mudah diakses melalui berbagai perangkat elektronik. Tidak sedikit pula yang memilih membuang koran lama atau menjualnya kiloan kepada tukang rongsokan.

Padahal, jika dibuka kembali, surat kabar lawas menyimpan banyak cerita tentang kehidupan masa lalu. Ia bukan sekadar berita, tetapi juga rekaman suasana zaman.

Hal itu terasa ketika membuka kembali koran terbitan Bandung pada era 1960-1970-an. Suasana menjelang Hari Raya Idulfitri yang akrab disebut Lebaran tergambar jelas melalui berbagai iklan yang dimuat di  Harian Pikiran Rakyat terbitan tahun 1960-an. Sejumlah toko memasang iklan yang mengabarkan bahwa berbagai kebutuhan Lebaran telah tersedia di tempat mereka.

Iklan-iklan tempo doeloe ini memiliki daya tarik tersendiri. Selain menggunakan ilustrasi sketsa tangan yang sederhana, susunan kalimatnya sering kali unik dan mudah diingat.

Pada masa itu, sekitar tahun 1960–1970-an, jalanan Kota Bandung belum seramai sekarang. Kendaraan bermotor belum memadati jalan seperti hari ini, dan pedagang kaki lima pun belum sebanyak sekarang. Moda transportasi yang lazim ditemui adalah oplet dan bemo, dengan rute menuju pusat kota, terutama ke Alun-Alun Bandung atau Pasar Baru. Dua tempat ini menjadi tujuan utama masyarakat yang datang berbelanja ke Bandung, khususnya menjelang Lebaran.

Salah satu toko yang memasang iklan cukup mencolok adalah Toko Hassaram’s. Dalam iklannya tertulis dengan huruf kapital: “BARU TERIMA SARUNG. HASSARAM’S menyediakan sarung rupa-rupa warna.” Toko kain ini beralamat di Pasar Baru, tepatnya di Jalan Oto Iskandardinata No. 167 Bandung.

Toko Hassaram’s memang cukup dikenal pada masa itu. Selain beriklan di surat kabar, mereka juga rutin memasang iklan di RRI Bandung. Iklan radio tersebut terkenal karena suara pembukanya yang khas, seperti orang hendak bersin: “Has… hass… hasss… hassaram!”

Suara yang mengisi iklan itu konon milik Baskara, seorang penyiar radio yang kemudian sempat menjabat sebagai Kepala Stasiun RRI Bandung. Suaranya yang bariton namun lembut membuat iklan tersebut mudah diingat para pendengar.

Menariknya, Baskara tidak hanya menjadi “juru bicara” bagi Toko Hassaram’s. Ia juga mengisi iklan beberapa toko kain milik pedagang keturunan India di sepanjang Jalan Asia Afrika.

Di antaranya adalah Toko Kishordas, yang dalam iklannya diakronimkan secara jenaka dalam bahasa Sunda: “Aki-aki Sohor Tur Bedas.” Ada pula Toko Indra yang berlokasi di bawah Hotel Swarha, terkenal dengan slogan iklan: “Mahal, Uang Kembali!”.

Bagi orang yang melintas di depan toko tersebut, kalimat “Indra… Mahal Uang Kembali!” kerap terdengar berulang-ulang dari pengeras suara di dalam toko.

Penulis memperlihatkan edisi lama surat kabar Pikiran Rakyat yang memuat berbagai iklan usaha, dari toko kain hingga penjahit, yang menjadi bagian dari suasana persiapan Lebaran di masa lalu. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Penulis memperlihatkan edisi lama surat kabar Pikiran Rakyat yang memuat berbagai iklan usaha, dari toko kain hingga penjahit, yang menjadi bagian dari suasana persiapan Lebaran di masa lalu. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Menjelang Lebaran, kawasan Alun-Alun Bandung dan Pasar Baru memang menjadi pusat keramaian. Berbagai kebutuhan tersedia di sana, mulai dari sepatu, sandal, tas, hingga berbagai pernik-pernik lainnya. Toko-toko berjajar di sepanjang Jalan Asia Afrika dan Jalan Oto Iskandardinata, berdampingan dengan pedagang kaki lima yang ikut meramaikan suasana.

Jika membutuhkan bahan pakaian pria seperti celana atau jas, pembeli bahkan dapat langsung menjahitnya di toko. Salah satu tempat yang menawarkan layanan tersebut adalah Toko Indra yang berada di lantai satu Hotel Swarha, di kawasan Alun-Alun Bandung.

Pada masa itu, toko yang menjual pakaian jadi masih belum banyak. Karena itulah bahan kain menjadi komoditas utama, sementara penjahit memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan pakaian baru menjelang Lebaran.

Selain itu, ada pula iklan dari Toko Kishordas, toko sandang milik pengusaha keturunan India yang menjual berbagai bahan kain seperti brukat, sutra, hingga bahan celana pria. Iklan mereka di RRI Bandung cukup terkenal.

Sobekan iklan penjahit Rapih yang menawarkan jasa menjahit pakaian menjelang Hari Raya. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Sobekan iklan penjahit Rapih yang menawarkan jasa menjahit pakaian menjelang Hari Raya. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Salah satu bentuk iklannya bahkan dibuat seperti dialog singkat:

“Kiss?”

“No!”

“Hordas?”

“Yes!”

Maksudnya tentu saja merujuk pada nama toko Kishordas, tempat berbagai bahan pakaian berkualitas tersedia.

Toko ini beralamat di Jalan Asia Afrika No. 4, tak jauh dari kawasan Alun-Alun Bandung yang saat itu menjadi pusat perdagangan utama.

Selain toko kain, terdapat pula Toko Braga di Jalan Braga No. 20 Bandung. Toko ini mengiklankan berbagai hadiah untuk Lebaran. Barang-barang yang dijual antara lain tas wanita dari bambu, kulit, maupun plastik, serta aneka kerajinan kulit dan cinderamata ukiran Jepara yang antik.

Adapula iklan penjahit "Rapih"

menjadi penanda waktu bahwa Lebaran sudah di ambang pintu. Dengan judul yang menarik perhatian, “Taukah Anda!”, pembaca diingatkan bahwa inilah saat yang tepat untuk menyiapkan pakaian baru menjelang hari raya. Di masa ketika membeli pakaian jadi belum semudah sekarang, jasa penjahit menjadi pilihan utama masyarakat. 

Ahli Mendjahit Rapih yang sebelumnya dikenal dengan nama Jaklofsky, menawarkan layanan menjahit dengan “service penuh” di Djalan Riau 80 Bandung, lengkap dengan nomor telepon 2728 yang pada masanya tentu terasa modern. Iklan sederhana ini bukan sekadar promosi usaha jahit, tetapi juga menggambar kan tradisi lama menjelang Lebaran.

Baca Juga: Menjelang Lebaran di Peternakan Tua Lembang 1930

Dari potongan-potongan iklan di koran lawas tersebut, kita dapat membayangkan suasana Kota Bandung menjelang Lebaran pada masa itu. Koran tidak hanya berisi berita, tetapi juga menjadi jendela yang memperlihatkan kehidupan sosial dan budaya masyarakat pada zamannya.

Lembaran koran lama pada akhirnya bukan sekadar arsip. Ia adalah dokumen sejarah yang menyimpan rekam jejak kehidupan masa lalu termasuk bagaimana masyarakat Bandung mempersiapkan diri menyambut Hari Raya Idulfitri puluhan tahun silam.

Ketika membacanya kembali hari ini, kita seperti diajak kembali menyusuri suasana Bandung tempo doeloe. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)