Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu. Dari lembaran koran yang mulai menguning, kita bisa melihat bagaimana denyut kehidupan sebuah kota bergerak puluhan tahun silam. Peristiwa apa yang terjadi dan apa yang mereka bicarakan, hingga hiburan apa yang ramai dinikmati masyarakat ketika itu.
Salah satu koran yang menarik untuk ditelusuri adalah Harian Umum Independent GALA, surat kabar legendaris asal Bandung yang pernah berjaya pada era 1970 hingga 1990-an. Koran ini didirikan pada 1966 oleh jurnalis senior Sjamsuyar Adnan, pada masa awal Orde Baru mulai membentuk wajah baru pers Indonesia.
Dengan slogan “Kreatif dan Konstruktif”, GALA tampil sebagai koran populer yang lugas, dekat dengan masyarakat, dan kerap menyajikan berita kriminal dengan gaya sensasional khas pers era itu.
Surat kabar GALA edisi Rabu, 16 Mei 1973 tepat 53 tahun silam, menjadi salah satu potret menarik Bandung tempo dulu. Saat itu GALA terbit hanya empat halaman dengan harga eceran Rp 20 per eksemplar untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Meski tipis, isi beritanya padat dan penuh warna.
Halaman depan GALA kala itu dipenuhi beragam berita sosial, ekonomi, kriminalitas, hingga dinamika pemerintahan daerah yang mencerminkan suasana Bandung, Jawa Barat dan Indonesia pada awal dekade 1970-an.
Berita utama menyoroti meningkatnya minat masyarakat terhadap perhiasan emas. Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, emas dianggap sebagai bentuk simpanan paling aman.
Pedagang emas di Bandung disebut mengalami peningkatan penjualan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa sejak dulu masyarakat sudah akrab dengan kebiasaan “menabung emas” ketika kondisi ekonomi dianggap tak menentu.
Headline lain memberitakan adanya laporan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Barat terkait dugaan penyimpangan dalam proyek dan administrasi pemerintahan.
Meski ditulis singkat, berita ini menunjukkan mulai munculnya sorotan terhadap praktik birokrasi dan penggunaan anggaran negara pada masa awal Orde Baru.
Seperti banyak koran populer tahun 1970-an, GALA juga dikenal gemar memakai judul-judul mencolok. Salah satunya berbunyi “Sadis & Kejam”, yang mengangkat kasus pembunuhan dan kekerasan.
Gaya bahasa seperti ini memang menjadi ciri khas pers populer kala itu vulgar, langsung, keras, dan dirancang agar pembaca segera tertarik sejak melihat halaman muka.
Di tengah berita serius, GALA juga menyisipkan humor sosial lewat rubrik “Sketsa Masyarakat Kini”. Tulisan berjudul “Mas Oji Naik Gaji Horseeeh… Horseeh…!” menggambarkan kegembiraan rakyat kecil ketika mendapat kenaikan penghasilan. Bahasa yang ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat rubrik semacam ini cukup digemari pembaca Bandung saat itu.
Kabar kriminal juga menjadi menu utama GALA. Salah satunya tentang seorang perempuan yang berhasil diringkus polisi karena diduga terlibat kasus penipuan atau perdagangan ilegal.
Selain itu, ada pula berita mengenai anggota aparat yang akan “ditindak secara hukum” akibat melakukan pelanggaran disiplin.
Berita-berita seperti ini memperlihatkan bagaimana kriminalitas perkotaan menjadi perhatian besar masyarakat Bandung pada awal 1970-an.
Salah satu berita paling unik adalah artikel mengenai syarat-syarat menjadi bupati.
Tulisan ini terasa menarik karena bernuansa semi edukatif sekaligus politis. Pembaca diajak memahami bagaimana mekanisme pemerintahan daerah bekerja pada masa Orde Baru.
Kini, judul seperti itu mungkin terasa aneh muncul di halaman depan koran umum. Namun justru di situlah menariknya membaca surat kabar lama, banyak sudut pandang yang berbeda dengan media masa kini.

Selain berita utama, GALA juga memiliki sejumlah rubrik yang setia menghiasi tiap edisi, antara lain:
- Sudut
- Surat Pembaca
- Siapa Mengapa
- Campusmania
- Agenda Gala
- Cerpen
- TTS
- Olahraga
- Ada Apa di Udara
Rubrik “Ada Apa di Udara” bahkan memuat jadwal acara TVRI dan RRI Bandung, sesuatu yang sangat penting pada masa ketika televisi masih menjadi barang mewah dan pilihan hiburan belum sebanyak sekarang.
Tak ketinggalan, informasi film bioskop Bandung juga selalu menjadi daya tarik tersendiri.
Pada pertengahan Mei 1973, kawasan Jalan Braga, Jalan Merdeka, hingga sekitar Alun-alun Bandung masih menjadi pusat hiburan dan perfilman kota.
Deretan bioskop ramai memutar film-film impor dari Hollywood, Eropa, hingga Bollywood.
Bioskop Panti Budaya
Bioskop yang berada di Jalan Merdeka ini memutar film Underground yang dibintangi Robert Goulet dan Danièle Gaubert. Harga karcisnya Rp 200,- sepuluh kali harga koran GALA ketika itu.
Bioskop Panti Karya dan Braga Sky
Kedua bioskop ini menayangkan The Menphisto Waltz, film horor psikologis Hollywood yang dibintangi Alan Alda, Jacqueline Bisset, dan Barbara Perkins.
Film seperti ini cukup populer di awal 1970-an ketika genre horor mulai digemari penonton Indonesia.
Majestic Theatre dan Dian Theatre
Dua bioskop tersebut memutar Lucky in the Inscrutable yang dibintangi Ray Danton, aktor yang kerap dijuluki “James Bond-nya Italia” karena sering tampil dalam film laga dan spionase Eropa.
Elita Theatre
Bioskop di kawasan Alun-alun Bandung ini memutar Last Known Address, film kriminal bertema mafia yang dibintangi Lino Ventura bersama Marlène Jobert dan Michel Constantin.
Roxy Theatre dan Demam Film India
Sementara itu, Roxy Theatre dekat Pasar Baru memutar film Bollywood Jorro Ka Ghulam.
Film India memang memiliki penggemar besar di Indonesia sejak dulu. Kehadiran Rajesh Khanna, aktor pujaan lintas generasi saat itu menjadi daya tarik utama.
Menariknya, iklan bioskop bahkan menyebut penonton yang menyukai film komedi Indonesia Biang Kerok wajib menonton film tersebut.

Membaca kembali GALA edisi 16 Mei 1973 terasa seperti berjalan menyusuri Bandung lama, ketika bioskop masih menjadi hiburan utama, Jalan Braga tetap hidup hingga malam, dan koran menjadi sumber informasi paling penting bagi masyarakat.
Dari berita emas, kriminalitas, birokrasi, hingga jadwal film bioskop, semuanya menjadi potret kecil kehidupan masyarakat Bandung pada masa itu.
Dan mungkin, di situlah letak menariknya surat kabar lawas bukan sekadar kumpulan berita, melainkan arsip suasana zaman yang tak akan pernah terulang kembali. (*)
