Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Senin 18 Mei 2026, 20:54 WIB
Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu. Dari lembaran koran yang mulai menguning, kita bisa melihat bagaimana denyut kehidupan sebuah kota bergerak puluhan tahun silam. Peristiwa apa yang terjadi dan apa yang mereka bicarakan, hingga hiburan apa yang ramai dinikmati masyarakat ketika itu.

Salah satu koran yang menarik untuk ditelusuri adalah Harian Umum Independent GALA, surat kabar legendaris asal Bandung yang pernah berjaya pada era 1970 hingga 1990-an. Koran ini didirikan pada 1966 oleh jurnalis senior Sjamsuyar Adnan, pada masa awal Orde Baru mulai membentuk wajah baru pers Indonesia.

Dengan slogan “Kreatif dan Konstruktif”, GALA tampil sebagai koran populer yang lugas, dekat dengan masyarakat, dan kerap menyajikan berita kriminal dengan gaya sensasional khas pers era itu.

Surat kabar GALA edisi Rabu, 16 Mei 1973 tepat 53 tahun silam, menjadi salah satu potret menarik Bandung tempo dulu. Saat itu GALA terbit hanya empat halaman dengan harga eceran Rp 20 per eksemplar untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Meski tipis, isi beritanya padat dan penuh warna.

Halaman depan GALA kala itu dipenuhi beragam berita sosial, ekonomi, kriminalitas, hingga dinamika pemerintahan daerah yang mencerminkan suasana Bandung, Jawa Barat dan Indonesia pada awal dekade 1970-an.

Berita utama menyoroti meningkatnya minat masyarakat terhadap perhiasan emas. Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, emas dianggap sebagai bentuk simpanan paling aman.

Pedagang emas di Bandung disebut mengalami peningkatan penjualan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa sejak dulu masyarakat sudah akrab dengan kebiasaan “menabung emas” ketika kondisi ekonomi dianggap tak menentu.

Headline lain memberitakan adanya laporan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Barat terkait dugaan penyimpangan dalam proyek dan administrasi pemerintahan.

Meski ditulis singkat, berita ini menunjukkan mulai munculnya sorotan terhadap praktik birokrasi dan penggunaan anggaran negara pada masa awal Orde Baru.

Seperti banyak koran populer tahun 1970-an, GALA juga dikenal gemar memakai judul-judul mencolok. Salah satunya berbunyi “Sadis & Kejam”, yang mengangkat kasus pembunuhan dan kekerasan.

Gaya bahasa seperti ini memang menjadi ciri khas pers populer kala itu vulgar,  langsung, keras, dan dirancang agar pembaca segera tertarik sejak melihat halaman muka.

Di tengah berita serius, GALA juga menyisipkan humor sosial lewat rubrik “Sketsa Masyarakat Kini”. Tulisan berjudul “Mas Oji Naik Gaji Horseeeh… Horseeh…!” menggambarkan kegembiraan rakyat kecil ketika mendapat kenaikan penghasilan. Bahasa yang ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat rubrik semacam ini cukup digemari pembaca Bandung saat itu.

Kabar kriminal juga menjadi menu utama GALA. Salah satunya tentang seorang perempuan yang berhasil diringkus polisi karena diduga terlibat kasus penipuan atau perdagangan ilegal.

Selain itu, ada pula berita mengenai anggota aparat yang akan “ditindak secara hukum” akibat melakukan pelanggaran disiplin.

Berita-berita seperti ini memperlihatkan bagaimana kriminalitas perkotaan menjadi perhatian besar masyarakat Bandung pada awal 1970-an.

Salah satu berita paling unik adalah artikel mengenai syarat-syarat menjadi bupati.

Tulisan ini terasa menarik karena bernuansa semi edukatif sekaligus politis. Pembaca diajak memahami bagaimana mekanisme pemerintahan daerah bekerja pada masa Orde Baru.

Kini, judul seperti itu mungkin terasa aneh muncul di halaman depan koran umum. Namun justru di situlah menariknya membaca surat kabar lama, banyak sudut pandang yang berbeda dengan media masa kini.

Penulis bersama jurnalis senior Enton Supriyatna Sind, Direktur Pemberitaan Koran Gala, penerus semangat dan perjalanan panjang surat kabar legendaris GALA. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Penulis bersama jurnalis senior Enton Supriyatna Sind, Direktur Pemberitaan Koran Gala, penerus semangat dan perjalanan panjang surat kabar legendaris GALA. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Selain berita utama, GALA juga memiliki sejumlah rubrik yang setia menghiasi tiap edisi, antara lain:

  • Sudut
  • Surat Pembaca
  • Siapa Mengapa
  • Campusmania
  • Agenda Gala
  • Cerpen
  • TTS
  • Olahraga
  • Ada Apa di Udara

Rubrik “Ada Apa di Udara” bahkan memuat jadwal acara TVRI dan RRI Bandung, sesuatu yang sangat penting pada masa ketika televisi masih menjadi barang mewah dan pilihan hiburan belum sebanyak sekarang.

Tak ketinggalan, informasi film bioskop Bandung juga selalu menjadi daya tarik tersendiri.

Pada pertengahan Mei 1973, kawasan Jalan Braga, Jalan Merdeka, hingga sekitar Alun-alun Bandung masih menjadi pusat hiburan dan perfilman kota.

Deretan bioskop ramai memutar film-film impor dari Hollywood, Eropa, hingga Bollywood.

Bioskop Panti Budaya

Bioskop yang berada di Jalan Merdeka ini memutar film Underground yang dibintangi Robert Goulet dan Danièle Gaubert. Harga karcisnya Rp 200,- sepuluh kali harga koran GALA ketika itu.

Bioskop Panti Karya dan Braga Sky

Kedua bioskop ini menayangkan The Menphisto Waltz, film horor psikologis Hollywood yang dibintangi Alan Alda, Jacqueline Bisset, dan Barbara Perkins.

Film seperti ini cukup populer di awal 1970-an ketika genre horor mulai digemari penonton Indonesia.

Majestic Theatre dan Dian Theatre

Dua bioskop tersebut memutar Lucky in the Inscrutable yang dibintangi Ray Danton, aktor yang kerap dijuluki “James Bond-nya Italia” karena sering tampil dalam film laga dan spionase Eropa.

Elita Theatre

Bioskop di kawasan Alun-alun Bandung ini memutar Last Known Address, film kriminal bertema mafia yang dibintangi Lino Ventura bersama Marlène Jobert dan Michel Constantin.

Roxy Theatre dan Demam Film India

Sementara itu, Roxy Theatre dekat Pasar Baru memutar film Bollywood Jorro Ka Ghulam.

Film India memang memiliki penggemar besar di Indonesia sejak dulu. Kehadiran Rajesh Khanna, aktor pujaan lintas generasi saat itu menjadi daya tarik utama.

Menariknya, iklan bioskop bahkan menyebut penonton yang menyukai film komedi Indonesia Biang Kerok wajib menonton film tersebut.

Membaca kembali GALA edisi 16 Mei 1973 terasa seperti berjalan menyusuri Bandung lama, ketika bioskop masih menjadi hiburan utama, Jalan Braga tetap hidup hingga malam, dan koran menjadi sumber informasi paling penting bagi masyarakat.

Dari berita emas, kriminalitas, birokrasi, hingga jadwal film bioskop, semuanya menjadi potret kecil kehidupan masyarakat Bandung pada masa itu.

Dan mungkin, di situlah letak menariknya surat kabar lawas bukan sekadar kumpulan berita, melainkan arsip suasana zaman yang tak akan pernah terulang kembali. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:18

Membaca di Kota yang Sibuk

Selama Hari Buku Nasional terus diperingati setiap tahun, budaya membaca justru perlahan semakin tersingkir di tengah kehidupan kota yang serba cepat.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 19:00

Demi Anak dan Istri, Setiap Hari Mang Amir Ngegas Motornya ‘Membelah Subuh’ Jualan Bubur Ayam

Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek.

Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 18:20

Menelusuri Jejak Gastronomi Legendaris di Kota Bandung

Metamorfosis Bandung menjadi pusat kuliner bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan simfoni akulturasi yang telah berjalan selama lebih dari satu abad.

Suasana Kopi Purnama yang jadi tempat ngopi legendaris di Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)
Wisata & Kuliner 18 Mei 2026, 17:43

Jelajah Gunung Lembu Purwakarta, Jalur Batu Purba dengan View Waduk Jatiluhur

Jelajahi Gunung Lembu Purwakarta, monolit batu purba dengan jalur berbatu curam dan panorama Waduk Jatiluhur.

Pemandangan Waduk Jatiluhur dari Gunung Lembu, Purwakarta.
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 13:18

Dari 'Teknik' ke 'Rekayasa: Sekadar Ganti Nama atau Perubahan Paradigma?

Perubahan nomenklatur “Teknik” menjadi “Rekayasa” memunculkan diskusi tentang internasionalisasi, identitas keilmuan, dan arah pendidikan engineering di Indonesia.

Kemendiktisaintek tetapkan perubahan nama prodi "teknik" jadi "rekayasa". (Foto: Istimewa)
Wisata & Kuliner 18 Mei 2026, 11:36

Wisata Bukit Gronggong, Lanskap Kota Cirebon dari Koridor Perbukitan Selatan

Bukit Gronggong di Cirebon menawarkan panorama kota dari ketinggian, lengkap dengan kafe, kuliner, dan suasana malam dengan gemerlap lampu urban.

Bukit Gronggong, Cirebon. (Sumber: Pemkab Cirebon)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 11:14

Semula, Ada Pandai Kuningan di Sayang dan di Bojongsayang

Di Jawa Barat, banyak toponim yang memakai kata sayang.

Contoh bokor yang dibuat dari kuningan. Tempat pembuatannya disebut sayang. (Sumber: Istimewa)
Beranda 18 Mei 2026, 10:43

Saat Manusia Asing dengan Tanahnya Sendiri dan Nama Tempat Tinggalnya

T. Bachtiar menjelaskan bagaimana nama tempat menyimpan jejak alam dan budaya, sekaligus mengungkap krisis ingatan manusia terhadap ruang hidupnya.

Pemandangan kota Bandung, jembatan Pasupati dengan latar belakang Gunung Tangkuban Parahu, Rabu 20 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Biz 18 Mei 2026, 10:05

Cikopi Mang Eko dan Jalan Panjang ‘UMKM Naik Kelas’

Mang Eko hampir menjual segala jerih payahnya. Lalu iseng membuka Instagram Rumah BUMN Bandung; dan nasib bisnisnya berubah.

Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 18 Mei 2026, 09:21

Antapani, Jalur yang Menghabiskan Umur Warga Kota Bandung

Jalan Terusan Jakarta di Antapani kerap dipenuhi antrean kendaraan akibat banjir, persimpangan padat, dan arus permukiman.

Situasi Jalan Ahmad Yani di kawasan Antapani Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 09:19

Di Serambi Masjid, Warga Bandung Belajar Arti Berkorban Melalui Donor Darah

Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan.

 Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 08:03

Semangkuk Soto dan Kepulan Asap Rokok

Apakah menjadi hal yang berlebihan ketika memimpikan Bandung yang bersih dari asap rokok sehingga aroma soto bisa dinikmati secara utuh?

Semangkuk Soto Madura di pagi yang dingin di Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Biz 17 Mei 2026, 19:36

Dari Excelso ke Houston: Perjalanan Dua Dekade Mang Eko Membangun ‘Legacy’ Kopi di Bandung

Mang Eko memilih jadi pemasok. Bukan kedai kopi biasa; dan pilihan itu membawa banyak perubahan dalam hidupnya.

Muchtar Koswara pemilik Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 15:20

Rawat Perbedaan, Perkuat Harmoni, dan Rayakan Kebersamaan

Rumah ibadah yang dihancurkan bukan hanya merobohkan bangunan. Justru melukai rasa kemanusiaan. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang berhasil menyeragamkan perbedaan

Suasana Upacara Kampung Adat Cireundeu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Mei 2026, 15:03

Camilan Gitrek Khas Subang, Singkong Bumbu Kencur Renyah dari Kasomalang

Ulasan gitrek singkong Subang dari produksi rumahan di Kasomalang, proses pembuatan berbasis singkong, hingga distribusi sebagai oleh-oleh populer.

Gitrek singkong khas Subang. (Sumber: Ayomedia)