Saat Manusia Asing dengan Tanahnya Sendiri dan Nama Tempat Tinggalnya

5 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Pemandangan kota Bandung, jembatan Pasupati dengan latar belakang Gunung Tangkuban Parahu, Rabu 20 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pemandangan kota Bandung, jembatan Pasupati dengan latar belakang Gunung Tangkuban Parahu, Rabu 20 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Nama-nama tempat yang selama ini akrab di telinga ternyata menyimpan jejak alam, budaya, hingga peringatan tentang ruang hidup manusia. Namun bagi ahli toponimi Titi Bachtiar, masyarakat kini mulai kehilangan hubungan dengan tanah tempat mereka tinggal karena tak lagi memahami makna di balik nama-nama tersebut.

Pandangan itu ia sampaikan dalam seminar interaktif “Nama yang Bercerita” di Aula PSBJ Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Selasa (13/5/2026). Di hadapan mahasiswa dan dosen, ahli geografi, penulis, sekaligus peneliti Cekungan Bandung itu berbicara tentang kota yang perlahan kehilangan hubungan dengan tanah yang dipijaknya sendiri.

“Bandung hari ini mulai krisis ingatan. Mereka tidak memahami tempat di mana mereka tinggal,” ujar Bachtiar.

Menurutnya, Bandung bukan hanya kumpulan gedung, jalan raya, atau kawasan hunian baru. Kota ini adalah ruang hidup yang menyimpan rekam jejak geologi, budaya, hingga kebiasaan masyarakat selama ratusan tahun. Semua itu, kata Bachtiar, masih dapat dibaca melalui nama-nama tempat yang kini perlahan terlupakan maknanya.

Nama yang Menyimpan Ingatan

Rasa penasaran dan ketertarikan Bachtiar terhadap Bandung mulai muncul sejak ia pindah dari Pamulihan, Garut, ke Kota Bandung pada tahun 1974 saat melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pada waktu itu, ia merasakan kehilangan suasana alam yang mendampinginya di masa kecil. Perasaan tersebut memotivasi dirinya untuk menjelajahi bukit dan gunung di sekeliling Bandung.

Ia mengungkapkan sering menghabiskan waktu di Jayagiri, Tangkuban Parahu, dan lereng-lereng pegunungan lain melalui kegiatan pramuka dan pecinta alam. Dari situ, rasa ingin tahunya mengenai nama-nama tempat mulai berkembang perlahan.

“Kalau masih menempel dalam nama, karakter bumi pada masa lalu itu terarsipkan,” kata Bachtiar.

Ia berpendapat bahwa nama-nama tempat bukan hanya sekadar penanda administratif. Dengan latar belakang dari jurusan Geografi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung dan ketertarikannya terhadap sejarah nama tempat, ia kini dikenal sebagai ahli toponimi. Toponimi adalah ilmu yang mempelajari asal-usul penamaan tempat.

Bagi Bachtiar, toponimi menyimpan informasi mengenai bentuk alam, tradisi masyarakat, hingga potensi bencana di suatu daerah. Sebagai contoh, Bachtiar menyebutkan nama Cipariuk, kawasan yang berbatasan dengan Lembang dan Cimenyan, Bandung. Dalam penjelasannya, Cipariuk dinamai demikian untuk menunjukkan area cekung yang dekat dengan sumber air.

Bachtiar memberikan contoh bahwa banyak nama daerah di Bandung sebenarnya merupakan penanda ekologis. Nama seperti Cimaung, Cihargem, dan Rancabuaya dianggap mengandung informasi tentang keberadaan satwa pada masa lalu.

Dari nama-nama tersebut, masyarakat seharusnya dapat memahami cara hidup yang sesuai dengan lingkungan mereka.

“Dari nama tempat saja kita bisa tahu apa yang harus kita waspadai,” ucap Bachtiar.

Ia menyebut toponimi sebagai gerbang akses pertama untuk memahami budaya. Nama tempat, menurutnya, dapat merekam keberadaan flora, fauna, hingga lanskap yang mungkin kini telah hilang akibat pembangunan kota.

“Bisa jadi tumbuhannya sudah musnah, binatangnya sudah musnah, tapi toponimnya abadi,” tutur Bachtiar.

Kawasan padat penduduk di Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kawasan padat penduduk di Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kota yang Tak Lagi Seirama

Pandangan Bachtiar terhadap Bandung saat ini adalah kota ini tumbuh tanpa benar-benar memahami karakter alamnya. Ia menilai pembangunan kota semakin menjauh dari kondisi geografis Cekungan Bandung yang sejak awal memiliki risiko ekologis tinggi.

Ia menyoroti berkurangnya area resapan air, saluran drainase yang tidak memadai, serta pembangunan gedung yang dianggap mengabaikan keadaan lingkungan sekitar. Akibatnya, genangan air, peningkatan suhu kota, dan ancaman krisis air mulai semakin terasa di berbagai kawasan Bandung.

“Kalau mengenal tempat, perilaku hidupnya akan seirama dengan kondisi itu. Sekarang kan nggak seirama,” kata Bachtiar sambil sesekali melirik ke jok belakang mobil.

Ia memberikan contoh mengenai kondisi di beberapa jalan utama, seperti Jalan Dago dan Jalan Merdeka. Menurutnya, trotoar dan pembangunan baru sering kali menutupi jalur air yang seharusnya menjadi area resapan saat hujan tiba.

Bachtiar juga mengungkapkan pandangannya bahwa masyarakat mulai melupakan kenyataan bahwa Bandung terletak di atas bekas Danau Bandung Purba. Hal tersebut membuat wilayah Bandung memiliki kerentanan tertentu terkait air, tanah, serta potensi menghadapi bencana lainnya.

“Mereka lupa bahwa mereka tinggal di dasar cekungan. Mereka lupa bahwa mereka tinggal di atas endapan Danau Bandung Purba,” ujar Bachtiar.

Menurutnya, perubahan wajah kota juga tampak dari hilangnya pepohonan besar di ruang publik. Ia mengenang Bandung era 1970-an sebagai kota yang nyaman untuk berjalan kaki. Kini, suasana itu perlahan menghilang seiring meningkatnya suhu kota.

“Sekarang panas-panas dikit masuk mal,” ucap Bachtiar sambil tertawa kecil.

Ia kemudian membandingkan suasana Bandung puluhan tahun lalu dengan kondisi sekarang. Pada masa lalu, ruang terbuka kota menjadi tempat warga menikmati udara segar dan berjalan santai. Kini, sebagian besar aktivitas masyarakat beralih ke ruang tertutup berpendingin udara.

“Tahun 70-an, keindahan gadis Bandung itu di luar (jalan), bukan di dalam,” kata Bachtiar sambil sebelumnya menunjuk seorang ibu yang sempat terlihat berjalan kaki di trotoar sambil menundukkan wajahnya.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Bandung dan Masa Depan yang Dipertaruhkan

Bachtiar berpendapat bahwa kurangnya pemahaman terhadap ruang hidup dapat berdampak besar bagi generasi mendatang. Ia khawatir masyarakat hanya meniru pola pembangunan kota lain yang dianggap bagus, alih-alih memahami terlebih dahulu karakteristik lingkungan Bandung.

Ia menjelaskan bahwa situasi tersebut dapat memperburuk berbagai persoalan lingkungan, mulai dari meningkatnya suhu kota, frekuensi banjir yang semakin tinggi, hingga ancaman kekurangan air bersih di masa depan.

Ia juga menekankan kondisi lereng pegunungan di sekitar Bandung yang kini dipenuhi kebun sayur dan permukiman. Padahal, kawasan tersebut berperan penting sebagai daerah resapan air utama bagi wilayah Cekungan Bandung.

“Tolong jaga lereng gunungnya. Karena itu sumber kehidupan warga Bandung,” ujar Bachtiar saat ditanya mengenai pesan yang mungkin ingin disampaikan Bandung kepada warganya saat ini.

Ia mengingatkan bahwa kerusakan pada area resapan dapat menyebabkan berkurangnya cadangan air tanah secara signifikan. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat memicu penurunan muka tanah dan mengganggu pasokan air maupun listrik.

Di tengah situasi tersebut, Bachtiar meyakini perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Selain penting menumbuhkan kesadaran mengenai kondisi ekologis tanah sendiri, menurutnya hal itu perlu dilanjutkan dengan aksi nyata yang dilakukan secara kolektif.

“Minimum nanam pohon lah, di mana pun,” kata Bachtiar di akhir percakapan.

Baginya, kota bukan hanya ruang untuk ditinggali, tetapi juga tempat yang perlu dipahami dan dijaga bersama. Sebab ketika sebuah kota kehilangan ingatan tentang tanahnya, perlahan-lahan kota itu juga akan kehilangan cara untuk menjaga buminya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)