Saat Manusia Asing dengan Tanahnya Sendiri dan Nama Tempat Tinggalnya

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Senin 18 Mei 2026, 10:43 WIB
Pemandangan kota Bandung, jembatan Pasupati dengan latar belakang Gunung Tangkuban Parahu, Rabu 20 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Pemandangan kota Bandung, jembatan Pasupati dengan latar belakang Gunung Tangkuban Parahu, Rabu 20 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Nama-nama tempat yang selama ini akrab di telinga ternyata menyimpan jejak alam, budaya, hingga peringatan tentang ruang hidup manusia. Namun bagi ahli toponimi Titi Bachtiar, masyarakat kini mulai kehilangan hubungan dengan tanah tempat mereka tinggal karena tak lagi memahami makna di balik nama-nama tersebut.

Pandangan itu ia sampaikan dalam seminar interaktif “Nama yang Bercerita” di Aula PSBJ Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Selasa (13/5/2026). Di hadapan mahasiswa dan dosen, ahli geografi, penulis, sekaligus peneliti Cekungan Bandung itu berbicara tentang kota yang perlahan kehilangan hubungan dengan tanah yang dipijaknya sendiri.

“Bandung hari ini mulai krisis ingatan. Mereka tidak memahami tempat di mana mereka tinggal,” ujar Bachtiar.

Menurutnya, Bandung bukan hanya kumpulan gedung, jalan raya, atau kawasan hunian baru. Kota ini adalah ruang hidup yang menyimpan rekam jejak geologi, budaya, hingga kebiasaan masyarakat selama ratusan tahun. Semua itu, kata Bachtiar, masih dapat dibaca melalui nama-nama tempat yang kini perlahan terlupakan maknanya.

Nama yang Menyimpan Ingatan

Rasa penasaran dan ketertarikan Bachtiar terhadap Bandung mulai muncul sejak ia pindah dari Pamulihan, Garut, ke Kota Bandung pada tahun 1974 saat melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pada waktu itu, ia merasakan kehilangan suasana alam yang mendampinginya di masa kecil. Perasaan tersebut memotivasi dirinya untuk menjelajahi bukit dan gunung di sekeliling Bandung.

Ia mengungkapkan sering menghabiskan waktu di Jayagiri, Tangkuban Parahu, dan lereng-lereng pegunungan lain melalui kegiatan pramuka dan pecinta alam. Dari situ, rasa ingin tahunya mengenai nama-nama tempat mulai berkembang perlahan.

“Kalau masih menempel dalam nama, karakter bumi pada masa lalu itu terarsipkan,” kata Bachtiar.

Ia berpendapat bahwa nama-nama tempat bukan hanya sekadar penanda administratif. Dengan latar belakang dari jurusan Geografi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung dan ketertarikannya terhadap sejarah nama tempat, ia kini dikenal sebagai ahli toponimi. Toponimi adalah ilmu yang mempelajari asal-usul penamaan tempat.

Bagi Bachtiar, toponimi menyimpan informasi mengenai bentuk alam, tradisi masyarakat, hingga potensi bencana di suatu daerah. Sebagai contoh, Bachtiar menyebutkan nama Cipariuk, kawasan yang berbatasan dengan Lembang dan Cimenyan, Bandung. Dalam penjelasannya, Cipariuk dinamai demikian untuk menunjukkan area cekung yang dekat dengan sumber air.

Bachtiar memberikan contoh bahwa banyak nama daerah di Bandung sebenarnya merupakan penanda ekologis. Nama seperti Cimaung, Cihargem, dan Rancabuaya dianggap mengandung informasi tentang keberadaan satwa pada masa lalu.

Dari nama-nama tersebut, masyarakat seharusnya dapat memahami cara hidup yang sesuai dengan lingkungan mereka.

“Dari nama tempat saja kita bisa tahu apa yang harus kita waspadai,” ucap Bachtiar.

Ia menyebut toponimi sebagai gerbang akses pertama untuk memahami budaya. Nama tempat, menurutnya, dapat merekam keberadaan flora, fauna, hingga lanskap yang mungkin kini telah hilang akibat pembangunan kota.

“Bisa jadi tumbuhannya sudah musnah, binatangnya sudah musnah, tapi toponimnya abadi,” tutur Bachtiar.

Kawasan padat penduduk di Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kawasan padat penduduk di Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kota yang Tak Lagi Seirama

Pandangan Bachtiar terhadap Bandung saat ini adalah kota ini tumbuh tanpa benar-benar memahami karakter alamnya. Ia menilai pembangunan kota semakin menjauh dari kondisi geografis Cekungan Bandung yang sejak awal memiliki risiko ekologis tinggi.

Ia menyoroti berkurangnya area resapan air, saluran drainase yang tidak memadai, serta pembangunan gedung yang dianggap mengabaikan keadaan lingkungan sekitar. Akibatnya, genangan air, peningkatan suhu kota, dan ancaman krisis air mulai semakin terasa di berbagai kawasan Bandung.

“Kalau mengenal tempat, perilaku hidupnya akan seirama dengan kondisi itu. Sekarang kan nggak seirama,” kata Bachtiar sambil sesekali melirik ke jok belakang mobil.

Ia memberikan contoh mengenai kondisi di beberapa jalan utama, seperti Jalan Dago dan Jalan Merdeka. Menurutnya, trotoar dan pembangunan baru sering kali menutupi jalur air yang seharusnya menjadi area resapan saat hujan tiba.

Bachtiar juga mengungkapkan pandangannya bahwa masyarakat mulai melupakan kenyataan bahwa Bandung terletak di atas bekas Danau Bandung Purba. Hal tersebut membuat wilayah Bandung memiliki kerentanan tertentu terkait air, tanah, serta potensi menghadapi bencana lainnya.

“Mereka lupa bahwa mereka tinggal di dasar cekungan. Mereka lupa bahwa mereka tinggal di atas endapan Danau Bandung Purba,” ujar Bachtiar.

Menurutnya, perubahan wajah kota juga tampak dari hilangnya pepohonan besar di ruang publik. Ia mengenang Bandung era 1970-an sebagai kota yang nyaman untuk berjalan kaki. Kini, suasana itu perlahan menghilang seiring meningkatnya suhu kota.

“Sekarang panas-panas dikit masuk mal,” ucap Bachtiar sambil tertawa kecil.

Ia kemudian membandingkan suasana Bandung puluhan tahun lalu dengan kondisi sekarang. Pada masa lalu, ruang terbuka kota menjadi tempat warga menikmati udara segar dan berjalan santai. Kini, sebagian besar aktivitas masyarakat beralih ke ruang tertutup berpendingin udara.

“Tahun 70-an, keindahan gadis Bandung itu di luar (jalan), bukan di dalam,” kata Bachtiar sambil sebelumnya menunjuk seorang ibu yang sempat terlihat berjalan kaki di trotoar sambil menundukkan wajahnya.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Bandung dan Masa Depan yang Dipertaruhkan

Bachtiar berpendapat bahwa kurangnya pemahaman terhadap ruang hidup dapat berdampak besar bagi generasi mendatang. Ia khawatir masyarakat hanya meniru pola pembangunan kota lain yang dianggap bagus, alih-alih memahami terlebih dahulu karakteristik lingkungan Bandung.

Ia menjelaskan bahwa situasi tersebut dapat memperburuk berbagai persoalan lingkungan, mulai dari meningkatnya suhu kota, frekuensi banjir yang semakin tinggi, hingga ancaman kekurangan air bersih di masa depan.

Ia juga menekankan kondisi lereng pegunungan di sekitar Bandung yang kini dipenuhi kebun sayur dan permukiman. Padahal, kawasan tersebut berperan penting sebagai daerah resapan air utama bagi wilayah Cekungan Bandung.

“Tolong jaga lereng gunungnya. Karena itu sumber kehidupan warga Bandung,” ujar Bachtiar saat ditanya mengenai pesan yang mungkin ingin disampaikan Bandung kepada warganya saat ini.

Ia mengingatkan bahwa kerusakan pada area resapan dapat menyebabkan berkurangnya cadangan air tanah secara signifikan. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat memicu penurunan muka tanah dan mengganggu pasokan air maupun listrik.

Di tengah situasi tersebut, Bachtiar meyakini perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Selain penting menumbuhkan kesadaran mengenai kondisi ekologis tanah sendiri, menurutnya hal itu perlu dilanjutkan dengan aksi nyata yang dilakukan secara kolektif.

“Minimum nanam pohon lah, di mana pun,” kata Bachtiar di akhir percakapan.

Baginya, kota bukan hanya ruang untuk ditinggali, tetapi juga tempat yang perlu dipahami dan dijaga bersama. Sebab ketika sebuah kota kehilangan ingatan tentang tanahnya, perlahan-lahan kota itu juga akan kehilangan cara untuk menjaga buminya.

News Update

Wisata & Kuliner 18 Mei 2026, 11:36

Wisata Bukit Gronggong, Lanskap Kota Cirebon dari Koridor Perbukitan Selatan

Bukit Gronggong di Cirebon menawarkan panorama kota dari ketinggian, lengkap dengan kafe, kuliner, dan suasana malam dengan gemerlap lampu urban.

Bukit Gronggong, Cirebon. (Sumber: Pemkab Cirebon)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 11:14

Semula, Ada Pandai Kuningan di Sayang dan di Bojongsayang

Di Jawa Barat, banyak toponim yang memakai kata sayang.

Contoh bokor yang dibuat dari kuningan. Tempat pembuatannya disebut sayang. (Sumber: Istimewa)
Beranda 18 Mei 2026, 10:43

Saat Manusia Asing dengan Tanahnya Sendiri dan Nama Tempat Tinggalnya

T. Bachtiar menjelaskan bagaimana nama tempat menyimpan jejak alam dan budaya, sekaligus mengungkap krisis ingatan manusia terhadap ruang hidupnya.

Pemandangan kota Bandung, jembatan Pasupati dengan latar belakang Gunung Tangkuban Parahu, Rabu 20 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Biz 18 Mei 2026, 10:05

Cikopi Mang Eko dan Jalan Panjang ‘UMKM Naik Kelas’

Mang Eko hampir menjual segala jerih payahnya. Lalu iseng membuka Instagram Rumah BUMN Bandung; dan nasib bisnisnya berubah.

Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 18 Mei 2026, 09:21

Antapani, Jalur yang Menghabiskan Umur Warga Kota Bandung

Jalan Terusan Jakarta di Antapani kerap dipenuhi antrean kendaraan akibat banjir, persimpangan padat, dan arus permukiman.

Situasi Jalan Ahmad Yani di kawasan Antapani Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 09:19

Di Serambi Masjid, Warga Bandung Belajar Arti Berkorban Melalui Donor Darah

Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan.

 Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 08:03

Semangkuk Soto dan Kepulan Asap Rokok

Apakah menjadi hal yang berlebihan ketika memimpikan Bandung yang bersih dari asap rokok sehingga aroma soto bisa dinikmati secara utuh?

Semangkuk Soto Madura di pagi yang dingin di Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Biz 17 Mei 2026, 19:36

Dari Excelso ke Houston: Perjalanan Dua Dekade Mang Eko Membangun ‘Legacy’ Kopi di Bandung

Mang Eko memilih jadi pemasok. Bukan kedai kopi biasa; dan pilihan itu membawa banyak perubahan dalam hidupnya.

Muchtar Koswara pemilik Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 15:20

Rawat Perbedaan, Perkuat Harmoni, dan Rayakan Kebersamaan

Rumah ibadah yang dihancurkan bukan hanya merobohkan bangunan. Justru melukai rasa kemanusiaan. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang berhasil menyeragamkan perbedaan

Suasana Upacara Kampung Adat Cireundeu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Mei 2026, 15:03

Camilan Gitrek Khas Subang, Singkong Bumbu Kencur Renyah dari Kasomalang

Ulasan gitrek singkong Subang dari produksi rumahan di Kasomalang, proses pembuatan berbasis singkong, hingga distribusi sebagai oleh-oleh populer.

Gitrek singkong khas Subang. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 12:52

Bukan Perdebatan Ilmiah, Kekonyolan Semata yang Sebabkan Cerita ‘Tahun Lahir Persib 1919’ Tidak Punya Nilai!

Perdebatan semacam apakah Persib lahir 1919 atau 1933 dst. rupanya sudah tidak lagi penting dipersoalkan.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 17 Mei 2026, 12:41

Inovasi Tiramisu Push Pop, Strategi Memissu Pikat Pencinta Dessert di Bandung

Memissu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat urban yang menginginkan produk dessert modern yang estetis, praktis, dan dinamis.

Memissu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat urban yang menginginkan produk dessert modern yang estetis, praktis, dan dinamis. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 11:19

Ketika Tren Generasi Z Lebih Takut Menikah, daripada Takut Kehilangan Arah

Generasi Z makin takut menikah, tapi pergaulan bebas justru makin dinormalisasi. Sedang terjadi apa hari ini?

Pernikahan adalah wujud keseriusan dalam membangun arah masa depan (Sumber: Pixeabay | Foto: Rizky_Motion)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 09:01

Pengorbanan Mang Dadang Berbuah Manis

Pengorbanan Mang Dadang adalah kebahagiaan untuk keluarga dan para pembeli kupat tahu petisnya serta kontribusi dia turut memutarkan cakra perekonomian.

Mang Dadang penjual kupat tahu petis (Sumber: dok penulis | Foto: Bram Herdiana)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 08:28

Mengapa TNKB Harus Sesuai Standar?

Pelanggaran TNKB masih sering ditemukan di jalan raya. Padahal, plat nomor sesuai standar penting untuk mendukung penegakan hukum, keselamatan, dan ketertiban lalu lintas.

Bentuk pelanggaran TNKB yang paling umum, yaitu modifikasi bentuk huruf dan penggunaan penutup plat berbahan mika gelap. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 16 Mei 2026, 16:57

Lewat Titik Kumpul Cigadung, Mitigasi Bencana Bisa Sesantai Budaya Nongkrong

Sesar Lembang Kalcer mengajak warga Bandung memahami mitigasi bencana lewat musik, seni, dan ruang komunitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di Sesar Lembang Kalcer, anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Komunitas 16 Mei 2026, 16:46

Di Balik Kalcer Bandung, Ada Tanah Bergerak yang Membentuk Cara Warganya Hidup

Di balik kalcer Bandung, tersimpan kisah tentang alam, Sesar Lembang, dan kreativitas warga yang tumbuh dari tanah yang terus bergerak.

Kegiatan komunitas Sesar Lembang Kalcer yang mencoba menghubungkan mitigasi bencana dengan budaya dan keseharian warga Bandung. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 20:08

'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

Pameran “Jejak Rupa” menghadirkan 123 karya Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam hubungan manusia dengan alam, ingatan, dan perubahan zaman.

Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 17:11

Pengorbanan Tidak Pernah Mati dalam Kehidupan Manusia

Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi bahwa manusia perlahan mulai memanfaatkan ketulusan seseorang dibanding menghargai pengorbanannya.

Ilustrasi peristiwa Kenaikan Yesus Kristus yang dimaknai sebagai simbol pengorbanan, harapan, dan ketulusan dalam kehidupan manusia. (Sumber: Designed by Freepik)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 14:22

Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

Media liberal telah menjadi “sekolah kedua” yang membentuk pelajar dengan nilai kekerasan, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas dalam sistem sekuler kapitalistik.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)