Di Balik Kalcer Bandung, Ada Tanah Bergerak yang Membentuk Cara Warganya Hidup

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Kegiatan komunitas Sesar Lembang Kalcer yang mencoba menghubungkan mitigasi bencana dengan budaya dan keseharian warga Bandung. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Kegiatan komunitas Sesar Lembang Kalcer yang mencoba menghubungkan mitigasi bencana dengan budaya dan keseharian warga Bandung. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)

AYOBANDUNG.ID - Di media sosial, kalimat “Bandung please diem” sering muncul sebagai lelucon. Kota ini dianggap terlalu ramai, terlalu kreatif, terlalu cepat melahirkan tren baru. Dari musik, fesyen, kopi, komunitas, sampai budaya nongkrong, Bandung seolah selalu punya cara untuk bergerak.

Namun bagi founder Sesar Lembang Kalcer, Adi Panuntun, kalimat itu bukan sekadar candaan internet.

Menurutnya, Bandung memang sejak awal tidak pernah benar-benar diam. Bukan hanya manusianya, tetapi juga tanah yang dipijak warga kota ini setiap hari.

“Bandung itu enggak pernah bisa diam. Orang-orang sering bercanda di media sosial bilang ‘Bandung please diem. Tapi memang tanahnya juga enggak diam. Kita hidup bersama patahan aktif yang bergerak dari dulu sampai sekarang,” ujarnya dalam podcast AyoTalk.

Di balik citra Bandung sebagai kota kreatif, terdapat ancaman besar bernama Sesar Lembang yang membentang di utara kota. Selama bertahun-tahun, narasi tentang sesar ini lebih sering hadir sebagai ancaman bencana yang menakutkan.

Namun Adi melihatnya dengan sudut pandang berbeda.

Alih-alih hanya memandang Sesar Lembang sebagai sumber ketakutan, ia justru percaya kondisi geologis Bandung turut membentuk karakter masyarakatnya hari ini.

“Kita tinggal di cekungan Bandung, dikelilingi gunung-gunung aktif. Pemandangan yang indah itu membentuk manusia-manusia yang berpikir estetis, kreatif, dan suka menciptakan sesuatu. Energi alam itu merambat juga ke manusianya,” katanya.

Pemikiran itu kemudian menjadi dasar lahirnya komunitas Sesar Lembang Kalcer, sebuah gerakan kreatif yang mencoba menghubungkan mitigasi bencana dengan budaya dan keseharian warga Bandung.

Bagi Adi, kreativitas Bandung tidak muncul begitu saja. Ia percaya ada hubungan panjang antara alam, sejarah, dan budaya masyarakat Sunda yang hidup di wilayah ini sejak dulu.

Ia mencontohkan bagaimana nenek moyang Sunda membangun rumah panggung dan leuit yang adaptif terhadap kondisi tanah bergerak.

“Tanah Bandung itu secara geologi seperti bubur. Mudah bergerak. Maka orang-orang dulu menciptakan arsitektur yang lentur terhadap alam. Leuit itu bukan sekadar bangunan tradisional, tapi bentuk kreativitas manusia Sunda dalam membaca tanah tempat dia hidup,” ujarnya.

Menurutnya, hubungan manusia dengan alam perlahan mulai terputus seiring perkembangan kota modern.

Warga semakin jauh dari ruang hijau, lebih banyak hidup di antara beton, kendaraan, dan layar gawai. Tanah hanya menjadi pijakan tanpa lagi dipahami sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

“Kita bangun tidur langsung pakai sandal. Ke kamar mandi lantainya keramik. Keluar rumah naik kendaraan. Kita makin jarang benar-benar menyentuh tanah. Padahal manusia itu bagian dari alam,” kata Adi.

Kesadaran itu membuat komunitasnya memilih membangun titik kumpul di ruang terbuka hijau kawasan Cigadung Barat. Tempat itu sengaja dipertahankan sebagai ruang bersama untuk berkumpul, berdiskusi, bermain musik, hingga menggelar pertunjukan video mapping di antara pepohonan.

Bagi mereka, mitigasi bukan cuma soal simulasi gempa atau jalur evakuasi, tetapi juga soal mengembalikan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Di tempat itu, anak-anak bermain tanpa alas kaki di atas rumput. Burung-burung singgah di pepohonan. Malam hari, cahaya video mapping diproyeksikan ke batang pohon sambil menghadirkan dongeng tentang bumi dan manusia.

“Pohon bukan cuma jadi layar pertunjukan. Pohon juga jadi bagian dari cerita. Kita ingin orang sadar bahwa kita hidup bersama alam, bukan di atas alam,” katanya.

Pendekatan itu lahir dari keresahan Adi melihat masyarakat yang semakin asing dengan akar budayanya sendiri. Ia merasa kreativitas Bandung hari ini sering kali hanya dipandang sebagai gaya hidup, tanpa memahami dari mana semua itu berasal.

Padahal menurutnya, budaya nongkrong, komunitas kreatif, musik independen, seni visual, hingga kebiasaan warga Bandung berkumpul dan berdiskusi memiliki hubungan panjang dengan kondisi geografis kota ini.

“Bandung itu cekungan yang dikelilingi gunung. Dulu ada danau purba, ada air terjun, ada kontur tanah yang dinamis. Alam seperti ini membuat manusia belajar beradaptasi dan akhirnya menjadi kreatif,” ujarnya.

Ia juga menyinggung bagaimana penjajahan dan modernisasi perlahan membuat masyarakat tercerabut dari pengetahuan lokal yang diwariskan leluhur.

Akibatnya, banyak tradisi yang sebenarnya lahir untuk membantu manusia hidup selaras dengan alam justru dianggap kuno dan ditinggalkan.

“Kita seperti lupa bahwa nenek moyang kita dulu hidup berdampingan dengan alam lewat cerita, permainan tradisional, musik, dan budaya. Semua itu sebenarnya punya pesan tentang bagaimana hidup supaya selamat,” kata Adi.

Lewat Sesar Lembang Kalcer, ia mencoba menghidupkan kembali pendekatan tersebut dalam bentuk yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

Video mapping, musik kontemporer, dongeng, sampai media sosial dipakai sebagai alat untuk menyampaikan kesadaran baru bahwa Bandung bukan hanya kota kreatif, tetapi juga kota yang hidup di atas tanah yang terus bergerak.

Dan mungkin, dari sanalah semua energi kreatif itu berasal.

“Jadi kalau orang bilang Bandung enggak bisa diam, ya memang begitu adanya. Tanahnya bergerak, manusianya ikut bergerak,” katanya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 07 Jul 2026, 10:49

Mengepakkan Sayap Ekonomi Kerakyatan Ketika Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara

Semenjak dinamakan Husein Sastranegara menjadi bandara komersial telah memberikan manfaat yang luas bagi penerbangan domestik maupun internasional.

Petugas membersihkan salahsatu fasilitas Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 09:06

Menjahit Harapan di Tengah Sepinya Pasar Thrifting Gedebage

Di tengah sepinya Pasar Cimol Gedebage, Dedi tetap bertahan sebagai penjahit pakaian thrifting. Feature ini mengangkat perjuangannya menghidupi keluarga sekaligus menjaga profesi warisan orang tuanya.

Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)
Wisata & Kuliner 05 Jul 2026, 17:23

Cara Berkunjung ke Suku Baduy Banten, Semua yang Wajib Diketahui Sebelum Datang ke Kanekes

Berencana ke Baduy? Ketahui rute menuju Ciboleger, larangan di Baduy Dalam, masa Kawalu, penginapan rumah warga, dan tips perjalanan sebelum berangkat.

Pemukiman di Desa Knekes, Banten, yang popular dengan sebutan Baduy. (Sumber: Wikimedia)