AYOBANDUNG.ID - Di media sosial, kalimat “Bandung please diem” sering muncul sebagai lelucon. Kota ini dianggap terlalu ramai, terlalu kreatif, terlalu cepat melahirkan tren baru. Dari musik, fesyen, kopi, komunitas, sampai budaya nongkrong, Bandung seolah selalu punya cara untuk bergerak.
Namun bagi founder Sesar Lembang Kalcer, Adi Panuntun, kalimat itu bukan sekadar candaan internet.
Menurutnya, Bandung memang sejak awal tidak pernah benar-benar diam. Bukan hanya manusianya, tetapi juga tanah yang dipijak warga kota ini setiap hari.
“Bandung itu enggak pernah bisa diam. Orang-orang sering bercanda di media sosial bilang ‘Bandung please diem. Tapi memang tanahnya juga enggak diam. Kita hidup bersama patahan aktif yang bergerak dari dulu sampai sekarang,” ujarnya dalam podcast AyoTalk.
Di balik citra Bandung sebagai kota kreatif, terdapat ancaman besar bernama Sesar Lembang yang membentang di utara kota. Selama bertahun-tahun, narasi tentang sesar ini lebih sering hadir sebagai ancaman bencana yang menakutkan.
Namun Adi melihatnya dengan sudut pandang berbeda.
Alih-alih hanya memandang Sesar Lembang sebagai sumber ketakutan, ia justru percaya kondisi geologis Bandung turut membentuk karakter masyarakatnya hari ini.
“Kita tinggal di cekungan Bandung, dikelilingi gunung-gunung aktif. Pemandangan yang indah itu membentuk manusia-manusia yang berpikir estetis, kreatif, dan suka menciptakan sesuatu. Energi alam itu merambat juga ke manusianya,” katanya.
Pemikiran itu kemudian menjadi dasar lahirnya komunitas Sesar Lembang Kalcer, sebuah gerakan kreatif yang mencoba menghubungkan mitigasi bencana dengan budaya dan keseharian warga Bandung.
Bagi Adi, kreativitas Bandung tidak muncul begitu saja. Ia percaya ada hubungan panjang antara alam, sejarah, dan budaya masyarakat Sunda yang hidup di wilayah ini sejak dulu.
Ia mencontohkan bagaimana nenek moyang Sunda membangun rumah panggung dan leuit yang adaptif terhadap kondisi tanah bergerak.
“Tanah Bandung itu secara geologi seperti bubur. Mudah bergerak. Maka orang-orang dulu menciptakan arsitektur yang lentur terhadap alam. Leuit itu bukan sekadar bangunan tradisional, tapi bentuk kreativitas manusia Sunda dalam membaca tanah tempat dia hidup,” ujarnya.
Menurutnya, hubungan manusia dengan alam perlahan mulai terputus seiring perkembangan kota modern.
Warga semakin jauh dari ruang hijau, lebih banyak hidup di antara beton, kendaraan, dan layar gawai. Tanah hanya menjadi pijakan tanpa lagi dipahami sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
“Kita bangun tidur langsung pakai sandal. Ke kamar mandi lantainya keramik. Keluar rumah naik kendaraan. Kita makin jarang benar-benar menyentuh tanah. Padahal manusia itu bagian dari alam,” kata Adi.
Kesadaran itu membuat komunitasnya memilih membangun titik kumpul di ruang terbuka hijau kawasan Cigadung Barat. Tempat itu sengaja dipertahankan sebagai ruang bersama untuk berkumpul, berdiskusi, bermain musik, hingga menggelar pertunjukan video mapping di antara pepohonan.
Bagi mereka, mitigasi bukan cuma soal simulasi gempa atau jalur evakuasi, tetapi juga soal mengembalikan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Di tempat itu, anak-anak bermain tanpa alas kaki di atas rumput. Burung-burung singgah di pepohonan. Malam hari, cahaya video mapping diproyeksikan ke batang pohon sambil menghadirkan dongeng tentang bumi dan manusia.
“Pohon bukan cuma jadi layar pertunjukan. Pohon juga jadi bagian dari cerita. Kita ingin orang sadar bahwa kita hidup bersama alam, bukan di atas alam,” katanya.
Pendekatan itu lahir dari keresahan Adi melihat masyarakat yang semakin asing dengan akar budayanya sendiri. Ia merasa kreativitas Bandung hari ini sering kali hanya dipandang sebagai gaya hidup, tanpa memahami dari mana semua itu berasal.
Padahal menurutnya, budaya nongkrong, komunitas kreatif, musik independen, seni visual, hingga kebiasaan warga Bandung berkumpul dan berdiskusi memiliki hubungan panjang dengan kondisi geografis kota ini.
“Bandung itu cekungan yang dikelilingi gunung. Dulu ada danau purba, ada air terjun, ada kontur tanah yang dinamis. Alam seperti ini membuat manusia belajar beradaptasi dan akhirnya menjadi kreatif,” ujarnya.
Ia juga menyinggung bagaimana penjajahan dan modernisasi perlahan membuat masyarakat tercerabut dari pengetahuan lokal yang diwariskan leluhur.
Akibatnya, banyak tradisi yang sebenarnya lahir untuk membantu manusia hidup selaras dengan alam justru dianggap kuno dan ditinggalkan.
“Kita seperti lupa bahwa nenek moyang kita dulu hidup berdampingan dengan alam lewat cerita, permainan tradisional, musik, dan budaya. Semua itu sebenarnya punya pesan tentang bagaimana hidup supaya selamat,” kata Adi.
Lewat Sesar Lembang Kalcer, ia mencoba menghidupkan kembali pendekatan tersebut dalam bentuk yang lebih dekat dengan generasi sekarang.
Video mapping, musik kontemporer, dongeng, sampai media sosial dipakai sebagai alat untuk menyampaikan kesadaran baru bahwa Bandung bukan hanya kota kreatif, tetapi juga kota yang hidup di atas tanah yang terus bergerak.
Dan mungkin, dari sanalah semua energi kreatif itu berasal.
“Jadi kalau orang bilang Bandung enggak bisa diam, ya memang begitu adanya. Tanahnya bergerak, manusianya ikut bergerak,” katanya.
