Di Balik Kalcer Bandung, Ada Tanah Bergerak yang Membentuk Cara Warganya Hidup

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Sabtu 16 Mei 2026, 16:46 WIB
Kegiatan komunitas Sesar Lembang Kalcer yang mencoba menghubungkan mitigasi bencana dengan budaya dan keseharian warga Bandung. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)

Kegiatan komunitas Sesar Lembang Kalcer yang mencoba menghubungkan mitigasi bencana dengan budaya dan keseharian warga Bandung. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)

AYOBANDUNG.ID - Di media sosial, kalimat “Bandung please diem” sering muncul sebagai lelucon. Kota ini dianggap terlalu ramai, terlalu kreatif, terlalu cepat melahirkan tren baru. Dari musik, fesyen, kopi, komunitas, sampai budaya nongkrong, Bandung seolah selalu punya cara untuk bergerak.

Namun bagi founder Sesar Lembang Kalcer, Adi Panuntun, kalimat itu bukan sekadar candaan internet.

Menurutnya, Bandung memang sejak awal tidak pernah benar-benar diam. Bukan hanya manusianya, tetapi juga tanah yang dipijak warga kota ini setiap hari.

“Bandung itu enggak pernah bisa diam. Orang-orang sering bercanda di media sosial bilang ‘Bandung please diem. Tapi memang tanahnya juga enggak diam. Kita hidup bersama patahan aktif yang bergerak dari dulu sampai sekarang,” ujarnya dalam podcast AyoTalk.

Di balik citra Bandung sebagai kota kreatif, terdapat ancaman besar bernama Sesar Lembang yang membentang di utara kota. Selama bertahun-tahun, narasi tentang sesar ini lebih sering hadir sebagai ancaman bencana yang menakutkan.

Namun Adi melihatnya dengan sudut pandang berbeda.

Alih-alih hanya memandang Sesar Lembang sebagai sumber ketakutan, ia justru percaya kondisi geologis Bandung turut membentuk karakter masyarakatnya hari ini.

“Kita tinggal di cekungan Bandung, dikelilingi gunung-gunung aktif. Pemandangan yang indah itu membentuk manusia-manusia yang berpikir estetis, kreatif, dan suka menciptakan sesuatu. Energi alam itu merambat juga ke manusianya,” katanya.

Pemikiran itu kemudian menjadi dasar lahirnya komunitas Sesar Lembang Kalcer, sebuah gerakan kreatif yang mencoba menghubungkan mitigasi bencana dengan budaya dan keseharian warga Bandung.

Bagi Adi, kreativitas Bandung tidak muncul begitu saja. Ia percaya ada hubungan panjang antara alam, sejarah, dan budaya masyarakat Sunda yang hidup di wilayah ini sejak dulu.

Ia mencontohkan bagaimana nenek moyang Sunda membangun rumah panggung dan leuit yang adaptif terhadap kondisi tanah bergerak.

“Tanah Bandung itu secara geologi seperti bubur. Mudah bergerak. Maka orang-orang dulu menciptakan arsitektur yang lentur terhadap alam. Leuit itu bukan sekadar bangunan tradisional, tapi bentuk kreativitas manusia Sunda dalam membaca tanah tempat dia hidup,” ujarnya.

Menurutnya, hubungan manusia dengan alam perlahan mulai terputus seiring perkembangan kota modern.

Warga semakin jauh dari ruang hijau, lebih banyak hidup di antara beton, kendaraan, dan layar gawai. Tanah hanya menjadi pijakan tanpa lagi dipahami sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

“Kita bangun tidur langsung pakai sandal. Ke kamar mandi lantainya keramik. Keluar rumah naik kendaraan. Kita makin jarang benar-benar menyentuh tanah. Padahal manusia itu bagian dari alam,” kata Adi.

Kesadaran itu membuat komunitasnya memilih membangun titik kumpul di ruang terbuka hijau kawasan Cigadung Barat. Tempat itu sengaja dipertahankan sebagai ruang bersama untuk berkumpul, berdiskusi, bermain musik, hingga menggelar pertunjukan video mapping di antara pepohonan.

Bagi mereka, mitigasi bukan cuma soal simulasi gempa atau jalur evakuasi, tetapi juga soal mengembalikan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Di tempat itu, anak-anak bermain tanpa alas kaki di atas rumput. Burung-burung singgah di pepohonan. Malam hari, cahaya video mapping diproyeksikan ke batang pohon sambil menghadirkan dongeng tentang bumi dan manusia.

“Pohon bukan cuma jadi layar pertunjukan. Pohon juga jadi bagian dari cerita. Kita ingin orang sadar bahwa kita hidup bersama alam, bukan di atas alam,” katanya.

Pendekatan itu lahir dari keresahan Adi melihat masyarakat yang semakin asing dengan akar budayanya sendiri. Ia merasa kreativitas Bandung hari ini sering kali hanya dipandang sebagai gaya hidup, tanpa memahami dari mana semua itu berasal.

Padahal menurutnya, budaya nongkrong, komunitas kreatif, musik independen, seni visual, hingga kebiasaan warga Bandung berkumpul dan berdiskusi memiliki hubungan panjang dengan kondisi geografis kota ini.

“Bandung itu cekungan yang dikelilingi gunung. Dulu ada danau purba, ada air terjun, ada kontur tanah yang dinamis. Alam seperti ini membuat manusia belajar beradaptasi dan akhirnya menjadi kreatif,” ujarnya.

Ia juga menyinggung bagaimana penjajahan dan modernisasi perlahan membuat masyarakat tercerabut dari pengetahuan lokal yang diwariskan leluhur.

Akibatnya, banyak tradisi yang sebenarnya lahir untuk membantu manusia hidup selaras dengan alam justru dianggap kuno dan ditinggalkan.

“Kita seperti lupa bahwa nenek moyang kita dulu hidup berdampingan dengan alam lewat cerita, permainan tradisional, musik, dan budaya. Semua itu sebenarnya punya pesan tentang bagaimana hidup supaya selamat,” kata Adi.

Lewat Sesar Lembang Kalcer, ia mencoba menghidupkan kembali pendekatan tersebut dalam bentuk yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

Video mapping, musik kontemporer, dongeng, sampai media sosial dipakai sebagai alat untuk menyampaikan kesadaran baru bahwa Bandung bukan hanya kota kreatif, tetapi juga kota yang hidup di atas tanah yang terus bergerak.

Dan mungkin, dari sanalah semua energi kreatif itu berasal.

“Jadi kalau orang bilang Bandung enggak bisa diam, ya memang begitu adanya. Tanahnya bergerak, manusianya ikut bergerak,” katanya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 16 Mei 2026, 16:57

Lewat Titik Kumpul Cigadung, Mitigasi Bencana Bisa Sesantai Budaya Nongkrong

Sesar Lembang Kalcer mengajak warga Bandung memahami mitigasi bencana lewat musik, seni, dan ruang komunitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di Sesar Lembang Kalcer, anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Komunitas 16 Mei 2026, 16:46

Di Balik Kalcer Bandung, Ada Tanah Bergerak yang Membentuk Cara Warganya Hidup

Di balik kalcer Bandung, tersimpan kisah tentang alam, Sesar Lembang, dan kreativitas warga yang tumbuh dari tanah yang terus bergerak.

Kegiatan komunitas Sesar Lembang Kalcer yang mencoba menghubungkan mitigasi bencana dengan budaya dan keseharian warga Bandung. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 20:08

'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

Pameran “Jejak Rupa” menghadirkan 123 karya Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam hubungan manusia dengan alam, ingatan, dan perubahan zaman.

Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 17:11

Pengorbanan Tidak Pernah Mati dalam Kehidupan Manusia

Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi bahwa manusia perlahan mulai memanfaatkan ketulusan seseorang dibanding menghargai pengorbanannya.

Ilustrasi peristiwa Kenaikan Yesus Kristus yang dimaknai sebagai simbol pengorbanan, harapan, dan ketulusan dalam kehidupan manusia. (Sumber: Designed by Freepik)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 14:22

Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

Media liberal telah menjadi “sekolah kedua” yang membentuk pelajar dengan nilai kekerasan, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas dalam sistem sekuler kapitalistik.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Wisata & Kuliner 15 Mei 2026, 10:56

Panduan Wisata Kebun Raya Cibodas, Taman Tertua di Kaki Gede Pangrango

Panduan wisata Kebun Raya Cibodas mencakup sejarah, koleksi tanaman, taman sakura, akses lokasi, harga tiket, serta tips berkunjung di kawasan dataran tinggi.

Kebun Raya Cibodas. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 15 Mei 2026, 10:49

Bandung dan Perjuangan Panjang Mengatasi Sampah

Kota Bandung tengah berjuang membenahi persoalan sampah lewat perubahan sistem, keterlibatan warga, dan upaya membangun budaya lingkungan yang berkelanjutan.

Warga RW 19 Kelurahan Antapani Tengah, Kecamatan Antapani mengadaptasi pola penyelesaian sampah tanpa harus melakukan pengiriman ke TPA. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Beranda 15 Mei 2026, 10:34

Bandung, Dongeng, dan Cara Baru Menjinakkan Ketakutan akan Sesar Lembang

Komunitas Sesar Lembang Kalcer memakai dongeng, musik, dan seni untuk membangun kesadaran mitigasi gempa di Bandung tanpa menebar ketakutan.

Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 10:25

Hari Lahir Tatar Sunda 18 Mei 669: Sulit untuk Disimpulkan karena 'Omong Kosong'

Amat banyak kritik terlontar saat Pemprov Jabar secara resmi menetapkan 18 Mei sebagai Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Kabupaten Sumedang, Sabtu malam (2/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 09:12

Bandung sebagai Ensiklopedi Buku

Peringatan Hari Buku Nasional tidak hanya menjadi seremonial belaka tetapi bagaimana bisa menjadi refleksi dalam membangun citra kota Bandung

Pasar Buku Bekas Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 20:19

Ketika Kemacetan Bisa Ditembus dengan Pengawalan

Fenomena pengawalan kendaraan di tengah kemacetan memunculkan persoalan keadilan ruang jalan, keselamatan lalu lintas, dan budaya privilese dalam sistem transportasi.

Rombongan kendaraan menembus antrean keluar Gerbang Tol Pasteur dengan bantuan pengawalan polisi. (Sumber: Dok. Penulis)
Wisata & Kuliner 14 Mei 2026, 17:18

Wisata Karang Tawulan, Pantai Tebing di Tasikmalaya dengan Lanskap Samudra Hindia

Karang Tawulan menawarkan panorama tebing karang, ombak besar Samudra Hindia, serta spot melihat Pulau Nusa Manuk dan situs ziarah ulama di Tasikmalaya selatan.

Pantai Karang Tawulan Tasikmalaya. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 15:40

Ketika GOR Saparua Bandung Berguncang oleh Deretan Rocker Kawakan

Atmosfer rock Bandung yang sedang bergairah membuat “Super Rock ’84” menjadi salah satu pertunjukan paling semarak.

Pentas musik Super Rock ’84 menghiasi halaman surat kabar INTI JAYA edisi Mei 1984, yang kala itu memberitakan gegap gempita konser rock di GOR Saparua Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 11:37

Simfoni Hijau Tanah Priangan: Mengupas Cita Rasa Kearifan Lokal Gastronomi Sunda

Tanah Priangan tidak hanya menjanjikan pemandangan hijau yang memanjakan mata, tetapi juga simfoni rasa yang berakar kuat pada kearifan lokal.

Makanan khas Sunda nasi tutug oncom, di Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 10:49

6 Tahapan Sertifikasi Profesi BNSP, Fresh Graduate Wajib Tahu!

Masih bingung bagaimana alur sertifikasi profesi BNSP? Simak 6 tahapan sertifikasi profesi BNSP lengkap mulai dari pendaftaran, asesmen, hingga terbit sertifikat kompetensi resmi.

Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)
Beranda 13 Mei 2026, 21:00

Satu Tahun ayobandung.id dan Krisis Ingatan Kota

Setahun ayobandung.id diperingati lewat seminar tentang krisis ingatan Kota Bandung, membahas toponimi, lingkungan, dan pentingnya menjaga hubungan warga dengan kotanya.

T. Bachtiar berfoto bersama mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran usai seminar tentang toponimi, lingkungan, dan krisis ingatan Kota Bandung di Jatinangor, Selasa (13/5/2026). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 20:39

KDM dan Mas Nunu di Tahun 1990-an

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore.

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore. (Sumber: Facebook | Foto: Jadulover)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 18:37

Panduan Wisata Situ Gede Tasikmalaya, Botram di Danau Kota dengan Lanskap Tenang

Panduan wisata Situ Gede Tasikmalaya, danau alami dengan Pulau Nusa, perahu wisata, serta kisah tradisi lisan tentang Eyang Prabudilaya.

Wisata Situ Gede Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 16:58

Bandung Lautan Sampah

Kota Bandung masih menghadapi tantangan serius dengan 200 ton sampah per hari tidak terangkut.

Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 14:15

Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

Kota Bandung tidak lepas dari peran seorang perempuan baik sebagai penggerak ekonomi kreatif maupun keterlibatannya dalam bidang sosial yang tidak luput dri tantangan sebagai perempuan multiidentitas.

Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)