Lewat Titik Kumpul Cigadung, Mitigasi Bencana Bisa Sesantai Budaya Nongkrong

3 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Di Sesar Lembang Kalcer, anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Di Sesar Lembang Kalcer, anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah pembicaraan tentang ancaman Sesar Lembang, satu hal yang paling sering muncul adalah pertanyaan tentang kesiapan pemerintah menghadapi kemungkinan gempa besar di Bandung Raya.

Namun bagi Adi Panuntun, pendiri Sesar Lembang Kalcer, mitigasi tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Ia percaya kesiapsiagaan justru harus lahir dari warga dan komunitas yang hidup langsung di tengah risiko tersebut.

“Kalau hanya mengandalkan pendekatan top down, itu berat. Pemerintah tugasnya banyak, orangnya terbatas, waktunya terbatas. Maka kesadaran mitigasi harus tumbuh dari komunitas dan warga sendiri,” ujarnya dalam podcast AyoTalk.

Kesadaran itulah yang kemudian mendorong lahirnya Sesar Lembang Kalcer, komunitas yang mencoba membangun literasi kebencanaan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Alih-alih menghadirkan seminar formal atau narasi menakutkan tentang gempa bumi, mereka memilih membuat ruang berkumpul yang terbuka bagi siapa saja. Tempat itu mereka sebut sebagai “titik kumpul”.

Titik kumpul Sesar Lembang Kalcer warga saling terhubung untuk membangun kesadaran hidup berdampingan dengan risiko bencana. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Titik kumpul Sesar Lembang Kalcer warga saling terhubung untuk membangun kesadaran hidup berdampingan dengan risiko bencana. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)

Berlokasi di kawasan Cigadung Barat, titik kumpul tersebut berdiri di area ruang terbuka hijau yang dipenuhi pepohonan dan hamparan rumput. Di sana, warga bisa berdiskusi, menonton pertunjukan seni, mengikuti simulasi mitigasi, hingga sekadar duduk dan berbincang santai.

Menurut Adi, konsep titik kumpul sengaja dibuat untuk menggabungkan kreativitas dan mitigasi dalam satu ruang yang sama.

“Kita sadar bahwa kreativitas butuh creative hub, sementara mitigasi juga butuh titik kumpul evakuasi. Akhirnya dua hal itu kita gabungkan,” katanya.

Dari situ, berbagai kegiatan mulai dilakukan bersama komunitas lain, relawan kebencanaan, seniman, musisi, hingga warga sekitar.

Anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. Musik dipakai sebagai media edukasi. Simulasi evakuasi dilakukan tanpa suasana mencekam. Bahkan video mapping dijadikan alat untuk menyampaikan cerita tentang hubungan manusia dengan bumi.

“Kita ingin mitigasi terasa fun, bukan menyeramkan. Karena kalau orang sudah takut duluan, mereka justru akan menjauh dari informasi,” ujar Adi.

Ia percaya pendekatan komunitas memiliki kekuatan besar karena bergerak secara horizontal. Kesadaran menyebar dari warga ke warga lain, bukan sekadar instruksi satu arah.

“Kalau komunitas bergerak, energinya akan merambat. Sama seperti gempa yang merambat lewat tanah, kesadaran juga harus merambat lewat manusia,” katanya.

Menurutnya, warga memiliki peran penting karena merekalah yang pertama kali akan menghadapi situasi darurat ketika bencana terjadi.

Ia menilai komunitas bisa menjadi first mover yang membantu masyarakat lebih siap menghadapi kondisi terburuk.

“Gempa itu sesuatu yang pasti terjadi, tapi kita enggak tahu kapan. Sama seperti kematian. Karena kita enggak tahu kapan datangnya, maka yang bisa dilakukan adalah persiapan,” ujar Adi.

Ia kemudian mengibaratkan mitigasi seperti keimanan terhadap keselamatan. Manusia tidak tahu kapan bencana datang, tetapi memiliki pilihan untuk mempersiapkan diri atau mengabaikannya.

“Kalau nanti gempa terjadi, kita mau selamat atau celaka? Kalau mau selamat ya harus ada persiapan. Harus belajar, harus latihan, harus saling bantu,” katanya.

Bagi Adi, gotong royong menjadi bagian penting dalam mitigasi kebencanaan di Bandung. Ia percaya masyarakat Sunda sejak dulu sebenarnya memiliki budaya kolektif yang kuat untuk menghadapi tantangan bersama.

Namun budaya itu perlahan memudar ketika masyarakat semakin individual dan terputus dari lingkungannya. Karena itu, Sesar Lembang Kalcer mencoba menghadirkan kembali ruang-ruang pertemuan yang memungkinkan warga saling mengenal dan bergerak bersama.

Di titik kumpul mereka, komunitas musik bisa bertemu dengan relawan kebencanaan. Seniman bisa berdiskusi dengan akademisi. Anak muda nongkrong berdampingan dengan warga sekitar.

Semua dipertemukan lewat satu tujuan yang sama: membangun kesadaran hidup berdampingan dengan risiko bencana.

“Kita enggak bisa bergerak sendiri-sendiri. Pemerintah penting, akademisi penting, komunitas penting, warga juga penting. Kalau semuanya nyambung, kesadaran itu akan jauh lebih kuat,” ujar Adi.

Ia berharap gerakan seperti ini bisa terus berkembang dan menjangkau lebih banyak orang, terutama generasi muda Bandung yang selama ini dikenal dekat dengan dunia kreatif.

Sebab menurutnya, kreativitas bukan hanya soal gaya hidup atau tren media sosial, tetapi juga bisa menjadi alat untuk menjaga keselamatan manusia.

“Bandung punya energi kreativitas yang besar. Tinggal bagaimana energi itu dipakai untuk menjaga hidup bersama,” katanya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)