Pengorbanan Mang Dadang Berbuah Manis

bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan Minggu 17 Mei 2026, 09:01 WIB
Mang Dadang penjual kupat tahu petis (Sumber: dok penulis | Foto: Bram Herdiana)

Mang Dadang penjual kupat tahu petis (Sumber: dok penulis | Foto: Bram Herdiana)

Dalam warna pagi yang mulai menguning di kawasan Gatot Subroto Kota Bandung, nampak seorang lelaki bertopi sedang cingogo di depan gerobak yang dipinggirnya bertuliskan kupat tahu petis. Lelaki tersebut bernama Dadang atau Mang Dadang yang setiap harinya berjualan kupat tahu petis secara berkeliling menemui pelanggannya atau pembeli dadakan seperti penulis. Dengan cekatan Mang Dadang mengolah pesanan kupat tahu petis yang bahannya terdiri dari kacang tanah, bawang putih, gula merah, garam, cabe rawit, petis, toge,tahu goreng, kupat, kecap dengan topping mentimun, bawang goreng dan kerupuk kecil.

Sambil mengolah, Mang Dadang pun bertutur tentang perjalanan hidupnya selama ini yang harus terkadang melewati kerikil-kerikil tajam namun dia berhasil tapaki demi kelangsungan hidup keluarganya. Pengorbanan Mang Dadang bagi keluarga adalah sebuah perjuangan berat namun tetap dia lakoni sampai saat ini dengan menjadi pedagang kupat tahu petis keliling karena dia percaya bahwa pengorbanan untuk keluarga adalah sebuah kehormatan atau martabat diri. Harga diri lelaki terletak saat dia berjuang mencari nafkah demi keluarganya walau harus menjadi pedagang keliling, Mang Dadang memiliki keyakinan bahwa sesuatu mesti diusahakan biar bisa dipetik hasilnya.

Mang Dadang berasal dari Limbangan, Garut, Jawa Barat. Dilahirkan dari keluarga biasa yang hidupnya akrab dengan istilah 'cukup buat hari ini saja sudah bersyukur'. Tahun 1984, dua tahun setelah lulus SD, dia melimbang ke Bandung. Kala anak-anak sebayanya sibuk bersekolah atau mengerjakan tugas sekolah, dia sibuk berjualan yang semestinya belum boleh dilakukannya, namun Mang Dadang remaja tidak mengeluhkan keadaan tersebut bahkan menjadi pelecut dirinya untuk mulai berkorban demi keluarganya. Mang Dadang terpaksa memahami kerasnya kehidupan. Dia datang ke Bandung bukan membawa ijazah tinggi, tidak pula membawa setumpuk uang modal. tetapi hanyalah menancapkan keberanian dan tekad untuk bertahan hidup.

Mang Dadang remaja sudah memahami bahwa hidup tidak akan berubah hanya dengan rebahan sambil berkicau pada nasib. Kota Bandung waktu itu adalah kota yang menuntut warganya berkompetisi tinggi, tetapi Mang Dadang remaja datang walaupun hanya dengan modal nekat dan tenaga. Awalnya ia berjualan es orson keliling terutama sering mangkal di Lanud Sulaiman Kopo karena saat itu banyak anggota TNI AU melakukan latihan dan ketika istirahat, mereka sering membeli es orson Mang Dadang saat remaja tersebut.

Kota Jakarta menjadi pilihan berikut untuk dilimbang, Mang Dadang remaja singgah di ibu kota negara itu sampai memasuki tahun 1991. Mang Dadang hidup di Jakarta sebagai pelimbang yang berjuang keras, hidup seadanya, dan bekerja demi bertahan hidup. Jakarta mengajarkannya satu hal bahwa hidup tidak akan memberi makan kepada orang tidak punya darah kehidupan. Di tengah kerasnya hidup sebagai perantau, ada satu hal yang tak pernah putus dia lakukan mengirim uang ke kampung, meski sedikit, keluarga tetap menjadi prioritas.

Tahun 1991 menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia memutuskan kembali ke Kota Bandung karena diajak kakak sepupu untuk berjualan kupat tahu petis. Dari situlah perjalanan panjangnya dimulai. Awalnya sangat berat. Berjualan makanan bukan perkara mudah. Berdagang dari pagi sampai menjelang sore, kadang dagangan itu banyak yang beli atau kurang sering dialaminya.

Ada kondisi paling meresahkan hati dia, bukan letihnya berdagang, melainkan ketika dagangan tak banyak dibeli orang, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan. Kondisi lainnya yang membuat dia kelimbungan adalah ketika harga bahan-bahan untuk dagangannya naik membuat pembeli kadang mengeluhkan harga jualnya. Namun Mang Dadang tetap bertahan, karena baginya, menyerah bukan pilihan. Sebagai pedagang keliling, suka duka sudah menjadi balad akrab Mang Dadang sehari-hari.

Untuk sebagian orang, petis hanyalah saus hitam lengket yang aromanya cukup tajam. Tapi bagi Mang Dadang, petis adalah jalan hidup. Dari petis inilah anak-anaknya bisa sekolah, dapur di kampungnya selalu mengeluarkan wangi masakan. Dengan anak-anaknya bisa sekolah dan wanginya aroma masakan di dapur, menyeruak dan membentang harga diri seorang lelaki tetap tegak tanpa harus meminta-minta. Selama 35 tahun lamanya, Mang Dadang berdagang kupat tahu petis yang berarti juga telah membersamai tujuh Presiden di negeri pancasila ini.

Teknologi berubah cepat penggunaan serba mesin modern dan tenaga robot makin meninggi, tetapi Mang Dadang tetap setia mengulek petis setiap pagi dengan tangannya langsung. Menyiapkan dan mengolah segala bahan untuk berjualan masih dilakukan secara manual. Sore hari setelah istirahat di rumah, Mang Dadang mulai membuat kupat atau lontong yang direbus selama empat jam. Berlanjut lagi dengan menggoreng kacang tanah, kerupuk. lalu menata berbagai bumbu dan asesoris untuk kupat tahu petis.

Malam pun tiba setelah semuanya beres sampai jam 10 malam, Mang Dadang mulai terlelap dalam tidur untuk persiapan menyambut hari esok dengan berjualan kupat tahu petis keliling tanpa pesimis tetapi selalu penuh keyakinan mulai pagi sampai sore. Begitu rutinitas Mang Dadang setiap hari penuh kesabaran dari proses pembuatan sampai menunggu pembelinya.

Namun di balik kerasnya pengorbanan dan kesabaran Mang Dadang menjalani hidup dengan menjadi penjual kupat tahu petis, ada kebanggaan yang tidak bisa diganti dengan intan berlian semahal apapun. Mang Dadang telah berhasil membesarkan anggota keluarganya dari hasil jualan kupat tahu petis. Kehidupan ekonominya juga sedikit demi sedikit bergerak naik.

Dulu saat awal hidup di Kota Bandung, Mang Dadang hanya mampu mengontrak kamar sebagai tempat tinggal. Selalu muncul rasa deg-degan kalau hampir tiba tempo bayar kontrakan, namun dia terus berusaha supaya dapat membayarnya. Hidup memang memberi hadiah bagi orang yang penuh pengorbanan dan sabar, tidak bagi yang hanya berpangku tangan. Dengan ketekunannya menabung puluhan tahun, akhirnya kamar kontrakannya tadi berhasil menjadi milik Mang Dadang. Semburat sejuta warna kebahagiaan terlukis di wajah seorang lelaki sederhana yang dulu cuma mampu mengontrak, kini dengan suka cita berkata “Kini jadi milik saya.”

Pesanan sebungkus kupat tahu petis yang dipesan penulis beres. Saat sedang membayar sambil ngobrol-ngobrol tentang perjalanan hidupnya, tiba-tiba HP Mang Dadang berdering,, rupanya seorang pelanggan mau mengkonfirmasi apakah hari ini jualan atau tidak. Raut senyum bahagia mengembang di sudut bibir dan matanya. Tanpa ragu-ragu, dia menjawab "Saya jualan pak, sebentar lagi saya menuju ke rumah bapak."

Nuhun...Mang Dadang sudah membagikan pengalaman tentang arti pengorbanan dan kesabaran ketika melintasi jalannya kehidupan ini yang dipenuhi dengan kerikil-kerikil panas dan tajam. Laris terus Mang Dadang jualannya...Mang Dadang yang tidak pernah hariwang atau cemas dalam menjalani kehidupan di Kota Bandung. Gerobak bertuliskan kupat tahu petis itu makin menjauh sampai tidak nampak lagi dalam tatapan kagum penulis, saat memasuki sebuah tikungan. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Mei 2026, 09:01

Pengorbanan Mang Dadang Berbuah Manis

Pengorbanan Mang Dadang adalah kebahagiaan untuk keluarga dan para pembeli kupat tahu petisnya serta kontribusi dia turut memutarkan cakra perekonomian.

Mang Dadang penjual kupat tahu petis (Sumber: dok penulis | Foto: Bram Herdiana)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 08:28

Mengapa TNKB Harus Sesuai Standar?

Pelanggaran TNKB masih sering ditemukan di jalan raya. Padahal, plat nomor sesuai standar penting untuk mendukung penegakan hukum, keselamatan, dan ketertiban lalu lintas.

Bentuk pelanggaran TNKB yang paling umum, yaitu modifikasi bentuk huruf dan penggunaan penutup plat berbahan mika gelap. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 16 Mei 2026, 16:57

Lewat Titik Kumpul Cigadung, Mitigasi Bencana Bisa Sesantai Budaya Nongkrong

Sesar Lembang Kalcer mengajak warga Bandung memahami mitigasi bencana lewat musik, seni, dan ruang komunitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di Sesar Lembang Kalcer, anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Komunitas 16 Mei 2026, 16:46

Di Balik Kalcer Bandung, Ada Tanah Bergerak yang Membentuk Cara Warganya Hidup

Di balik kalcer Bandung, tersimpan kisah tentang alam, Sesar Lembang, dan kreativitas warga yang tumbuh dari tanah yang terus bergerak.

Kegiatan komunitas Sesar Lembang Kalcer yang mencoba menghubungkan mitigasi bencana dengan budaya dan keseharian warga Bandung. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 20:08

'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

Pameran “Jejak Rupa” menghadirkan 123 karya Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam hubungan manusia dengan alam, ingatan, dan perubahan zaman.

Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 17:11

Pengorbanan Tidak Pernah Mati dalam Kehidupan Manusia

Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi bahwa manusia perlahan mulai memanfaatkan ketulusan seseorang dibanding menghargai pengorbanannya.

Ilustrasi peristiwa Kenaikan Yesus Kristus yang dimaknai sebagai simbol pengorbanan, harapan, dan ketulusan dalam kehidupan manusia. (Sumber: Designed by Freepik)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 14:22

Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

Media liberal telah menjadi “sekolah kedua” yang membentuk pelajar dengan nilai kekerasan, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas dalam sistem sekuler kapitalistik.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Wisata & Kuliner 15 Mei 2026, 10:56

Panduan Wisata Kebun Raya Cibodas, Taman Tertua di Kaki Gede Pangrango

Panduan wisata Kebun Raya Cibodas mencakup sejarah, koleksi tanaman, taman sakura, akses lokasi, harga tiket, serta tips berkunjung di kawasan dataran tinggi.

Kebun Raya Cibodas. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 15 Mei 2026, 10:49

Bandung dan Perjuangan Panjang Mengatasi Sampah

Kota Bandung tengah berjuang membenahi persoalan sampah lewat perubahan sistem, keterlibatan warga, dan upaya membangun budaya lingkungan yang berkelanjutan.

Warga RW 19 Kelurahan Antapani Tengah, Kecamatan Antapani mengadaptasi pola penyelesaian sampah tanpa harus melakukan pengiriman ke TPA. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Beranda 15 Mei 2026, 10:34

Bandung, Dongeng, dan Cara Baru Menjinakkan Ketakutan akan Sesar Lembang

Komunitas Sesar Lembang Kalcer memakai dongeng, musik, dan seni untuk membangun kesadaran mitigasi gempa di Bandung tanpa menebar ketakutan.

Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 10:25

Hari Lahir Tatar Sunda 18 Mei 669: Sulit untuk Disimpulkan karena 'Omong Kosong'

Amat banyak kritik terlontar saat Pemprov Jabar secara resmi menetapkan 18 Mei sebagai Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Kabupaten Sumedang, Sabtu malam (2/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 09:12

Bandung sebagai Ensiklopedi Buku

Peringatan Hari Buku Nasional tidak hanya menjadi seremonial belaka tetapi bagaimana bisa menjadi refleksi dalam membangun citra kota Bandung

Pasar Buku Bekas Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 20:19

Ketika Kemacetan Bisa Ditembus dengan Pengawalan

Fenomena pengawalan kendaraan di tengah kemacetan memunculkan persoalan keadilan ruang jalan, keselamatan lalu lintas, dan budaya privilese dalam sistem transportasi.

Rombongan kendaraan menembus antrean keluar Gerbang Tol Pasteur dengan bantuan pengawalan polisi. (Sumber: Dok. Penulis)
Wisata & Kuliner 14 Mei 2026, 17:18

Wisata Karang Tawulan, Pantai Tebing di Tasikmalaya dengan Lanskap Samudra Hindia

Karang Tawulan menawarkan panorama tebing karang, ombak besar Samudra Hindia, serta spot melihat Pulau Nusa Manuk dan situs ziarah ulama di Tasikmalaya selatan.

Pantai Karang Tawulan Tasikmalaya. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 15:40

Ketika GOR Saparua Bandung Berguncang oleh Deretan Rocker Kawakan

Atmosfer rock Bandung yang sedang bergairah membuat “Super Rock ’84” menjadi salah satu pertunjukan paling semarak.

Pentas musik Super Rock ’84 menghiasi halaman surat kabar INTI JAYA edisi Mei 1984, yang kala itu memberitakan gegap gempita konser rock di GOR Saparua Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 11:37

Simfoni Hijau Tanah Priangan: Mengupas Cita Rasa Kearifan Lokal Gastronomi Sunda

Tanah Priangan tidak hanya menjanjikan pemandangan hijau yang memanjakan mata, tetapi juga simfoni rasa yang berakar kuat pada kearifan lokal.

Makanan khas Sunda nasi tutug oncom, di Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 10:49

6 Tahapan Sertifikasi Profesi BNSP, Fresh Graduate Wajib Tahu!

Masih bingung bagaimana alur sertifikasi profesi BNSP? Simak 6 tahapan sertifikasi profesi BNSP lengkap mulai dari pendaftaran, asesmen, hingga terbit sertifikat kompetensi resmi.

Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)
Beranda 13 Mei 2026, 21:00

Satu Tahun ayobandung.id dan Krisis Ingatan Kota

Setahun ayobandung.id diperingati lewat seminar tentang krisis ingatan Kota Bandung, membahas toponimi, lingkungan, dan pentingnya menjaga hubungan warga dengan kotanya.

T. Bachtiar berfoto bersama mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran usai seminar tentang toponimi, lingkungan, dan krisis ingatan Kota Bandung di Jatinangor, Selasa (13/5/2026). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 20:39

KDM dan Mas Nunu di Tahun 1990-an

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore.

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore. (Sumber: Facebook | Foto: Jadulover)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 18:37

Panduan Wisata Situ Gede Tasikmalaya, Botram di Danau Kota dengan Lanskap Tenang

Panduan wisata Situ Gede Tasikmalaya, danau alami dengan Pulau Nusa, perahu wisata, serta kisah tradisi lisan tentang Eyang Prabudilaya.

Wisata Situ Gede Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)