Pengorbanan Mang Dadang Berbuah Manis

5 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Mang Dadang penjual kupat tahu petis (Sumber: dok penulis | Foto: Bram Herdiana)
Mang Dadang penjual kupat tahu petis (Sumber: dok penulis | Foto: Bram Herdiana)

Dalam warna pagi yang mulai menguning di kawasan Gatot Subroto Kota Bandung, nampak seorang lelaki bertopi sedang cingogo di depan gerobak yang dipinggirnya bertuliskan kupat tahu petis. Lelaki tersebut bernama Dadang atau Mang Dadang yang setiap harinya berjualan kupat tahu petis secara berkeliling menemui pelanggannya atau pembeli dadakan seperti penulis. Dengan cekatan Mang Dadang mengolah pesanan kupat tahu petis yang bahannya terdiri dari kacang tanah, bawang putih, gula merah, garam, cabe rawit, petis, toge,tahu goreng, kupat, kecap dengan topping mentimun, bawang goreng dan kerupuk kecil.

Sambil mengolah, Mang Dadang pun bertutur tentang perjalanan hidupnya selama ini yang harus terkadang melewati kerikil-kerikil tajam namun dia berhasil tapaki demi kelangsungan hidup keluarganya. Pengorbanan Mang Dadang bagi keluarga adalah sebuah perjuangan berat namun tetap dia lakoni sampai saat ini dengan menjadi pedagang kupat tahu petis keliling karena dia percaya bahwa pengorbanan untuk keluarga adalah sebuah kehormatan atau martabat diri. Harga diri lelaki terletak saat dia berjuang mencari nafkah demi keluarganya walau harus menjadi pedagang keliling, Mang Dadang memiliki keyakinan bahwa sesuatu mesti diusahakan biar bisa dipetik hasilnya.

Mang Dadang berasal dari Limbangan, Garut, Jawa Barat. Dilahirkan dari keluarga biasa yang hidupnya akrab dengan istilah 'cukup buat hari ini saja sudah bersyukur'. Tahun 1984, dua tahun setelah lulus SD, dia melimbang ke Bandung. Kala anak-anak sebayanya sibuk bersekolah atau mengerjakan tugas sekolah, dia sibuk berjualan yang semestinya belum boleh dilakukannya, namun Mang Dadang remaja tidak mengeluhkan keadaan tersebut bahkan menjadi pelecut dirinya untuk mulai berkorban demi keluarganya. Mang Dadang terpaksa memahami kerasnya kehidupan. Dia datang ke Bandung bukan membawa ijazah tinggi, tidak pula membawa setumpuk uang modal. tetapi hanyalah menancapkan keberanian dan tekad untuk bertahan hidup.

Mang Dadang remaja sudah memahami bahwa hidup tidak akan berubah hanya dengan rebahan sambil berkicau pada nasib. Kota Bandung waktu itu adalah kota yang menuntut warganya berkompetisi tinggi, tetapi Mang Dadang remaja datang walaupun hanya dengan modal nekat dan tenaga. Awalnya ia berjualan es orson keliling terutama sering mangkal di Lanud Sulaiman Kopo karena saat itu banyak anggota TNI AU melakukan latihan dan ketika istirahat, mereka sering membeli es orson Mang Dadang saat remaja tersebut.

Kota Jakarta menjadi pilihan berikut untuk dilimbang, Mang Dadang remaja singgah di ibu kota negara itu sampai memasuki tahun 1991. Mang Dadang hidup di Jakarta sebagai pelimbang yang berjuang keras, hidup seadanya, dan bekerja demi bertahan hidup. Jakarta mengajarkannya satu hal bahwa hidup tidak akan memberi makan kepada orang tidak punya darah kehidupan. Di tengah kerasnya hidup sebagai perantau, ada satu hal yang tak pernah putus dia lakukan mengirim uang ke kampung, meski sedikit, keluarga tetap menjadi prioritas.

Tahun 1991 menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia memutuskan kembali ke Kota Bandung karena diajak kakak sepupu untuk berjualan kupat tahu petis. Dari situlah perjalanan panjangnya dimulai. Awalnya sangat berat. Berjualan makanan bukan perkara mudah. Berdagang dari pagi sampai menjelang sore, kadang dagangan itu banyak yang beli atau kurang sering dialaminya.

Ada kondisi paling meresahkan hati dia, bukan letihnya berdagang, melainkan ketika dagangan tak banyak dibeli orang, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan. Kondisi lainnya yang membuat dia kelimbungan adalah ketika harga bahan-bahan untuk dagangannya naik membuat pembeli kadang mengeluhkan harga jualnya. Namun Mang Dadang tetap bertahan, karena baginya, menyerah bukan pilihan. Sebagai pedagang keliling, suka duka sudah menjadi balad akrab Mang Dadang sehari-hari.

Untuk sebagian orang, petis hanyalah saus hitam lengket yang aromanya cukup tajam. Tapi bagi Mang Dadang, petis adalah jalan hidup. Dari petis inilah anak-anaknya bisa sekolah, dapur di kampungnya selalu mengeluarkan wangi masakan. Dengan anak-anaknya bisa sekolah dan wanginya aroma masakan di dapur, menyeruak dan membentang harga diri seorang lelaki tetap tegak tanpa harus meminta-minta. Selama 35 tahun lamanya, Mang Dadang berdagang kupat tahu petis yang berarti juga telah membersamai tujuh Presiden di negeri pancasila ini.

Teknologi berubah cepat penggunaan serba mesin modern dan tenaga robot makin meninggi, tetapi Mang Dadang tetap setia mengulek petis setiap pagi dengan tangannya langsung. Menyiapkan dan mengolah segala bahan untuk berjualan masih dilakukan secara manual. Sore hari setelah istirahat di rumah, Mang Dadang mulai membuat kupat atau lontong yang direbus selama empat jam. Berlanjut lagi dengan menggoreng kacang tanah, kerupuk. lalu menata berbagai bumbu dan asesoris untuk kupat tahu petis.

Malam pun tiba setelah semuanya beres sampai jam 10 malam, Mang Dadang mulai terlelap dalam tidur untuk persiapan menyambut hari esok dengan berjualan kupat tahu petis keliling tanpa pesimis tetapi selalu penuh keyakinan mulai pagi sampai sore. Begitu rutinitas Mang Dadang setiap hari penuh kesabaran dari proses pembuatan sampai menunggu pembelinya.

Namun di balik kerasnya pengorbanan dan kesabaran Mang Dadang menjalani hidup dengan menjadi penjual kupat tahu petis, ada kebanggaan yang tidak bisa diganti dengan intan berlian semahal apapun. Mang Dadang telah berhasil membesarkan anggota keluarganya dari hasil jualan kupat tahu petis. Kehidupan ekonominya juga sedikit demi sedikit bergerak naik.

Dulu saat awal hidup di Kota Bandung, Mang Dadang hanya mampu mengontrak kamar sebagai tempat tinggal. Selalu muncul rasa deg-degan kalau hampir tiba tempo bayar kontrakan, namun dia terus berusaha supaya dapat membayarnya. Hidup memang memberi hadiah bagi orang yang penuh pengorbanan dan sabar, tidak bagi yang hanya berpangku tangan. Dengan ketekunannya menabung puluhan tahun, akhirnya kamar kontrakannya tadi berhasil menjadi milik Mang Dadang. Semburat sejuta warna kebahagiaan terlukis di wajah seorang lelaki sederhana yang dulu cuma mampu mengontrak, kini dengan suka cita berkata “Kini jadi milik saya.”

Pesanan sebungkus kupat tahu petis yang dipesan penulis beres. Saat sedang membayar sambil ngobrol-ngobrol tentang perjalanan hidupnya, tiba-tiba HP Mang Dadang berdering,, rupanya seorang pelanggan mau mengkonfirmasi apakah hari ini jualan atau tidak. Raut senyum bahagia mengembang di sudut bibir dan matanya. Tanpa ragu-ragu, dia menjawab "Saya jualan pak, sebentar lagi saya menuju ke rumah bapak."

Nuhun...Mang Dadang sudah membagikan pengalaman tentang arti pengorbanan dan kesabaran ketika melintasi jalannya kehidupan ini yang dipenuhi dengan kerikil-kerikil panas dan tajam. Laris terus Mang Dadang jualannya...Mang Dadang yang tidak pernah hariwang atau cemas dalam menjalani kehidupan di Kota Bandung. Gerobak bertuliskan kupat tahu petis itu makin menjauh sampai tidak nampak lagi dalam tatapan kagum penulis, saat memasuki sebuah tikungan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)