Dari Excelso ke Houston: Perjalanan Dua Dekade Mang Eko Membangun ‘Legacy’ Kopi di Bandung

11 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Muchtar Koswara pemilik Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara pemilik Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.IDKala penulis tiba di lokasi pada sore hari (11/5/2026), aroma sangrai kopi tercium tipis-tipis dari sebuah rumah ke jalanan kompleks di Golf Dalam, Arcamanik, Bandung Timur. 

Di balik kaca besar yang mengelilingi ruang roaster, seorang pria sibuk mengawasi mesin pemanggang berputar. Di depan ruangan itu, seorang pria berkaos putih sedang mengobrol bersama para mahasiswi. Dua pelajar itu sedang mengumpulkan bahan skripsi dan narasumbernya ialah pemilik Cikopi Mang Eko.

Saat penulis menghampiri dan menyapa narasumber, ia tersenyum, mempersilakan duduk, dan segera menawarkan kopi.

“Mau kopi serius atau tidak serius?” tanya Muchtar Koswara sembari melempar tawa, atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko.

Setelah para mahasiswi itu selesai mengumpulkan bahan dokumentasi, giliran penulis ayobandung.id yang melanjutkan Mang Eko tetap sibuk sore itu.

Belajar Kopi dari Dalam Industri

Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko (kaos putih). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko (kaos putih). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Sebelum bercerita tentang bisnisnya, Mang Eko bilang nama akrabnya ini merupakan perpaduan dari nama kedua orangtuanya. 

“Eko ini nama panggilan saya dari kecil, singkatan dari nama orang tua, Eti dan Kosasih. Sampai sekarang saya bawa nama itu. Bahkan kalau teman-teman yang baru kenal pas udah gede, bukan teman semasa sekolah, pasti tahunya ‘Eko’ bukan Muchtar,” tuturnya membuka obrolan.

Perjalanan Mang Eko di dunia kopi sudah dimulai jauh sebelum Cikopi Mang Eko ada. Setelah lulus SMA, ia diterima bekerja di anak perusahaan Kapal Api Group dan menjadi bagian dari tim opening kedai Excelso. Bertugas menyiapkan outlet baru dari nol, termasuk meracik kopi premium untuk pelanggan.

Selama delapan tahun ia berpindah dari satu outlet ke outlet lain, mengakumulasi ilmu yang tidak bisa didapat dari bangku sekolah: cara membaca karakter biji kopi, teknik roasting, hingga selera pasar.

Satu hal yang ia ingat dari pelatihan internal perusahaannya pada 2005: Kopi akan menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Keyakinannya itu ia simpan dalam-dalam.

“Saya kerja opening team-nya Excelso di Kapal Api Group, dari 2003 sampai 2011. Bagaimanapun saya hanya lulusan SMA, tidak kuliah karena keterbatasan, kalau misalnya untuk karier ini jenjangnya mentok. Zona saat itu sudah nyaman banget, karena kerja di perusahaan raksasa itu gaji sudah enak, tunjangan enak, status karyawan tetap, dapat pensiun segala macam, tetapi saya mikir ‘sudah 8 tahun kalau mentok seperti ini terus kemungkinan tidak akan bagus’. Akhirnya saya mutusin resign,” paparnya.

Sebab merasa sudah mendulang banyak ilmu semasa jadi karyawan, Mang Eko keluar dan memilih jalur yang tidak biasa: menjadi konsultan kopi. Karier barunya itu berjalan sejak 2012. Selama kisaran waktu 3 tahun (sampai 2015) ia membantu petani memahami pascapanen, mendampingi kafe yang ingin menyajikan kopi berkualitas, dan melatih barista dari berbagai kedai.

Posisi ini memberinya sesuatu yang berharga: ia melihat industri kopi dari semua sisi. Dari hulu, tengah, dan hilir, tanpa harus terikat satu peran.

“Saya jadi konsultan coffeshop. Orang mau bikin kafe, konsultasi dengan saya, mulai dari cari karyawannya, training karyawan, set up menu, pokoknya dari nol sampai jadi kafenya. Hanya saja konsultan itu kan tidak selalu ada kerjaannya, meskipun gede pendapatannya, paling hanya setahun sekali. Karena kan tidak setiap bulan orang buka kafe,” kenangnya.

Pertimbangan akan banyaknya waktu luang itulah yang membuatkan berpikir untuk mencoba lagi peruntungan baru di dunia kopi, selain sebagai konsultan coffeshop.

Cikopi Mang Eko Berdiri, Modalnya Rp 9 Juta

Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Tahun 2016, ia mewujudkan keputusan itu. Bermodal Rp 9 juta, ia mendirikan Cikopi Mang Eko. Bukan kafe, bukan kedai, tapi roastery sekaligus toko biji kopi. Badan usahanya ia namai CV Banyu Hitam Abadi: banyu hitam artinya air kopi, abadi berarti seperti candu yang terus berulang.

“Banyak orang sebetulnya mengira ini kafe. Ada yang pernah datang siang-siang jam 12 ke sini, rombongan 2 mobil, lalu ‘minta menunya?’ mereka bilang begitu. Mereka masih menyangka ini coffeshop. Padahal kita di sini (Arcamanik) coffee roastery. Kalau untuk coffeshop-nya ada di Rajamantri Kidul no.9, namanya juga Cikopi Mang Eko,” lanjutnya.

Pilihan menjadi supplier, bukan membuka kafe, adalah keputusan yang disengaja. Ia melihat kafe membutuhkan modal besar, biaya operasional tinggi, dan harus bersaing sengit di media sosial dengan pemain bermodal miliaran. Sebagai supplier, ia cukup menunggu pelanggan datang, dengan nilai transaksi yang jauh lebih besar dan konsisten.

Ia juga membuka layanan jasa maklun: pelanggan bisa membawa green bean mereka sendiri untuk disangrai di tempatnya, atau menyewa mesin roaster, atau langsung membeli biji kopi yang sudah di-roasting.

“Dengan pengalaman saya selama 8 tahun di Kapal Api Group itu jadi tahu ternyata kalau mau cari uang gede dan tidak terlalu capek itu kita harus main ‘di tengah’ dan tidak main ‘di hilir’. Jadi kalau di bisnis kopi itu ada hulu, tengah, dan hilir. Hulu itu adalah petani yang menanam kopi dan memproses kopi sampai jadi green bean (biji kopi mentah). Kalau saya di sini main tengah, kita mengambil green bean dari petani, kita roastery, kita sangrai di sini, sampai jadi roast bean, kita suplai ke hilir ke kafe-kafe,” jelas pria kelahiran 1981 itu. 

Dalam tiga tahun pertama, Cikopi Mang Eko tumbuh perlahan tapi konsisten. Awalnya hanya menjual sekitar 10 kilogram kopi per bulan. Pelanggannya mulai dari kedai-kedai kecil di sekitar Bandung Timur, yang datang bukan hanya untuk membeli, tapi juga untuk belajar.

Ia aktif bergabung dengan komunitas kopi di Bandung dan Indonesia, mensponsori berbagai kegiatan perkopian, dan membangun nama.

“Saya mem-branding Cikopi Mang Eko di Arcamanik ini tempat edukasi kopi gratis di tempat. Ada mesin espresso, grinder, dan segala macam, dipersiapkan untuk konsumen bisa belajar gratis. Itu adalah salah satu metode saya untuk menarik konsumen. Kita bisnisnya itu B2B (Business to Business), tidak mencari uang di situ (edukasi yang digratiskan di tempat), makanya kita per bulan bisa sampai jual 1,5-2 ton,” papar Mang Eko.

Namun perjalanan hidup tidak selalu selancar jalan tol kala dini hari. Tahun 2020, pandemi COVID-19 mengguncang Cikopi Mang Eko. Bisnisnya sebelumnya mencakup penjualan mesin kopi, tapi pandemi membuat para produsen mesin menjual langsung ke konsumen, memotong jalur distributor seperti dirinya. Ia pun banting setir, memfokuskan diri sepenuhnya pada produksi dan penjualan biji kopi.

Cobaan belum selesai. Tahun 2021, Mang Eko dinyatakan positif COVID-19 dan harus dirawat intensif di ICU selama satu bulan penuh. Satu per satu asetnya dijual untuk menanggung biaya rumah sakit yang tidak sedikit. Bisnis kopi yang dibangun susah payah itu nyaris gulung tikar dan sempat akan dijual.

“Kebodohan saya waktu itu tidak punya asuransi, BPJS Kesehatan pun tidak ada. Apa yang di-cover oleh pemerintah saat itu hanya sampai saya ditanyakan negatif. Setelah negatif (COVID-19) saya tidak bisa keluar rumah sakit (harus rawat inap) dan biayanya luar biasa. Makanya hancurlah usaha saya. Modal habis untuk biaya pengobatan, terkuras semuanya. Cikopi Mang Eko ini sebenarnya masih tetap berjalan selama saya dirawat itu, tetapi perputaran modalnya tersedot untuk biaya pengobatan,” lirihnya.

Selama 2020 sampai 2022 penjualan Cikopi Mang Eko pun menurun drastis ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Sebelum COVID-19, omzetnya mencapai Rp 3 miliar per tahun. Namun pandemi membuat pendapatan kotornya pernah jatuh sampai ke angka Rp 300 juta per tahun 2020. Di tahun 2021-2022, seiring pandemi dan pembatasan sosial mulai mereda (dengan kafe-kafe mulai diperbolehkan buka lagi dengan aturan ketat) omzetnya naik pelan ke angka Rp 500 jutaan per tahun. Bagaimanapun, angka ini masih jauh dibanding tahun-tahun sebelum COVID-19.

“Cikopi Mang Eko sempat akan dijual, akibat saya terlilit hutang untuk biaya perawatan dan pengobatan selama di rumah sakit. Akan dijual semuanya, termasuk toko online-nya, media sosialnya, dan peralatannya. Hanya saja waktu itu (tahun 2022) belum ketemu angka yang pas, saya mematok harga Rp 2 miliar, tapi yang nawar masih di angka 1 M,” kenangnya merasa beruntung niatnya tidak sampai terjadi.

Bangkit, Membangun Lagi Legacy

Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko saat memperlihatkan produk-produk jualannya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko saat memperlihatkan produk-produk jualannya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Sembuh dari COVID-19, Mang Eko melanjutkan bisnis kopinya yang hampir runtuh. Saat fase bangkitnya setelah pandemi, ia pun mengenal Rumah BUMN Bandung, yang berlokasi di Jalan Jurang No. 50, Sukajadi. Sebuah rumah yang mengubah nasib Mang Eko.

“Kondisi itu tahun 2022 usaha saya masih recovery COVID-19. Masih bingung harus melakukan apa lagi agar bangkit seperti dahulu. Saat scrolling Instagram, saya lihat posting-an Rumah BUMN tentang BRIncubator (2023). Ini untuk inkubasi bisnis UMKM; dan saya lihat kayaknya seru juga dan butuh ilmu baru. Akhirnya join-lah, daftar,” kenangnya.

Tahun 2023 pun menjadi tahun penuh lompatan. Mang Eko terpilih menjadi satu dari 25 UMKM yang mengikuti program BRIncubator. Selama dua bulan ia belajar membangun visi misi bisnis, membuat proposal, memperbaiki kemasan, berpromosi di media sosial, hingga membangun jaringan pemasaran.

Setelah berjuang sebagai yang terbaik dalam program itu, ia terpilih menjadi satu dari empat UMKM yang mewakili Rumah BUMN Bandung di pameran Brilianpreneur di Jakarta Convention Centre.

Ia mengaku kaget melihat ramainya pameran. Produk andalannya, 9 Jawara Kopi, habis terjual di hari pertama.

Di tahun yang sama, ia juga mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp 100 juta. Modal yang ia gunakan terutama untuk membeli bahan baku, karena biji kopi berkualitas tinggi seperti wine bisa mencapai Rp 10 juta per karung.

“Bermula dari BRIncubator itu saya belajar tentang wirausaha yang sebenarnya (profesional), karena sebelumnya saya cuma dagang saja dengan ilmu ala kadarnya. Saya belajar bikin company profile, diajarin cara bikin pitch deck, dan berbagai hal penting yang sebelumnya tidak tahu. Lanjut dari sana ikutlah Brilianpreneur,” ungkapnya.

Mang Eko sama sekali tidak menyangka bahwa semenjak bergabung jadi anggota Rumah BUMN banyak event BRI yang kemudian ia bisa ikuti. Makin banyak kenalan, kian banyak klien, semakin harum nama brand-nya.

“Pas Brilianpreneur itu (2023) ada yang namanya pitching online. Bingung pada saat itu, karena mau mengobrol dengan orang Taiwan. Ternyata pihak BRI menyediakan penerjemah. Di acara JCC, buyer dari Taiwan itu juga datang ke booth kita; dan di sana pun ia didampingi oleh penerjemah yang dipersiapkan BRI. Saya takjub, sekeren itu loh BRI,” semringah Mang Eko.

Memasuki 2024, Cikopi Mang Eko sudah memiliki lebih dari 50 kafe sebagai pelanggan tetap, tersebar di Bandung dan luar Bandung. Ada yang hanya membeli 3–5 kilogram per bulan, ada yang rutin memesan 2 kuintal. Produksi bulanan mencapai 1,2 hingga 1,86 ton.

Cikopi Mang Eko menyediakan lebih dari 27 item produk dari lebih dari 20 daerah asal (origin), mulai Aceh sampai Papua. Dua jenis utama yang diandalkannya: Arabika dan Robusta. Kopi dari Jawa Barat tetap menjadi andalannya: Malabar, Halu, Manglayang, dan Palasari paling laris. Untuk pasokan, ia menjalin kerja sama langsung dengan kelompok tani di Jawa Barat, seperti Puntang, Papandayan, dan Cikurai. Ia juga mulai merintis ekspor: kopi single origin Bandung rutin dikirim ke Malaysia sekitar 30–40 kilogram per bulan. 

Puncak pengakuan internasional datang pada April 2025. BRI memfasilitasi Ci Kopi Mang Eko (bersama Caldera Coffee dari Sumatera Utara) untuk tampil di Specialty Coffee Expo 2025, ajang kopi spesialti terbesar di dunia, yang digelar 25–27 April 2025 di Houston, Texas, Amerika Serikat. Fasilitasi ini melibatkan Kantor Perwakilan BRI New York dan KBRI Washington DC.

Keduanya mendapatkan booth di Paviliun Indonesia, terlibat dalam sesi cupping, lokakarya industri, dan menjalin jaringan dengan pelaku usaha dari seluruh dunia. Hasilnya: potensi kesepakatan bisnis senilai total USD 945.000 dari kedua UMKM tersebut.

Siapa sangka, setelah hampir bangkrut dan tinggal sejengkal lagi menjual bisnisnya, Mang Eko justru malah naik ke panggung lebih tinggi berkat keisengannya mengintin media sosial Rumah BUMN. Sebagai UMKM Kelas 3, ia pun ingin manfaat yang ia dapatkan dari BRI bisa didapatkan rekan-rekan seperjuangan.

“Mudah-mudahan Rumah BUMN di bawah Bank BRI dan acara-acara pelatihan yang sudah dilakukan itu jangan sampai hilang, ya. Saya inginnya wadah ini agar tetap bisa merangkul dan memberdayakan yang khususnya ada di Kota Bandung,” harapnya petang itu.

***

Azan Magrib pun berkumandang; dan tak terasa sudah hampir 3 jam lamanya penulis mengobrol bersama Mang Eko. Secangkir kopi yang sudah mulai dingin itu saya teguk lebih cepat, agar tidak kehilangan rasa nikmatnya.

Setelah perjalanan panjang bisnisnya, strategi pemasaran Cikopi Mang Eko tetap tidak berubah: tanpa iklan. Mang Eko memilih branding melalui edukasi. Siapa pun bisa datang ke tokonya untuk belajar manual brew, espresso, atau latte art, semuanya gratis. Konsep ini yang ia sebut experience store: bukan sekadar toko, tapi pusat edukasi kopi dari hulu ke hilir.

Dua dekade lalu, Mang Eko adalah karyawan yang berpindah-pindah outlet, menyeduh kopi untuk orang lain. Kini, ia yang menentukan kopi apa yang diseduh oleh ratusan kedai di Bandung, Jawa Barat, dan perlahan di berbagai negara asing.

Harapan masa pensiunnya sederhana. Setelah nanti sukses membangun Cikopi Mang Eko sebagai legacy (warisan usaha untuk anak-anaknya), ia ingin jadi petani.

“Lima tahun tahun ke depan saya sudah target masa pensiun, saya sudah tidak di sini. Masa pensiun saya nanti akan jadi petani,” tutup Mang Eko dengan yakin. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)