Dari Excelso ke Houston: Perjalanan Dua Dekade Mang Eko Membangun ‘Legacy’ Kopi di Bandung

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Minggu 17 Mei 2026, 19:36 WIB
Muchtar Koswara pemilik Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Muchtar Koswara pemilik Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.IDKala penulis tiba di lokasi pada sore hari (11/5/2026), aroma sangrai kopi tercium tipis-tipis dari sebuah rumah ke jalanan kompleks di Golf Dalam, Arcamanik, Bandung Timur. 

Di balik kaca besar yang mengelilingi ruang roaster, seorang pria sibuk mengawasi mesin pemanggang berputar. Di depan ruangan itu, seorang pria berkaos putih sedang mengobrol bersama para mahasiswi. Dua pelajar itu sedang mengumpulkan bahan skripsi dan narasumbernya ialah pemilik Cikopi Mang Eko.

Saat penulis menghampiri dan menyapa narasumber, ia tersenyum, mempersilakan duduk, dan segera menawarkan kopi.

“Mau kopi serius atau tidak serius?” tanya Muchtar Koswara sembari melempar tawa, atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko.

Setelah para mahasiswi itu selesai mengumpulkan bahan dokumentasi, giliran penulis ayobandung.id yang melanjutkan Mang Eko tetap sibuk sore itu.

Belajar Kopi dari Dalam Industri

Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko (kaos putih). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko (kaos putih). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Sebelum bercerita tentang bisnisnya, Mang Eko bilang nama akrabnya ini merupakan perpaduan dari nama kedua orangtuanya. 

“Eko ini nama panggilan saya dari kecil, singkatan dari nama orang tua, Eti dan Kosasih. Sampai sekarang saya bawa nama itu. Bahkan kalau teman-teman yang baru kenal pas udah gede, bukan teman semasa sekolah, pasti tahunya ‘Eko’ bukan Muchtar,” tuturnya membuka obrolan.

Perjalanan Mang Eko di dunia kopi sudah dimulai jauh sebelum Cikopi Mang Eko ada. Setelah lulus SMA, ia diterima bekerja di anak perusahaan Kapal Api Group dan menjadi bagian dari tim opening kedai Excelso. Bertugas menyiapkan outlet baru dari nol, termasuk meracik kopi premium untuk pelanggan.

Selama delapan tahun ia berpindah dari satu outlet ke outlet lain, mengakumulasi ilmu yang tidak bisa didapat dari bangku sekolah: cara membaca karakter biji kopi, teknik roasting, hingga selera pasar.

Satu hal yang ia ingat dari pelatihan internal perusahaannya pada 2005: Kopi akan menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Keyakinannya itu ia simpan dalam-dalam.

“Saya kerja opening team-nya Excelso di Kapal Api Group, dari 2003 sampai 2011. Bagaimanapun saya hanya lulusan SMA, tidak kuliah karena keterbatasan, kalau misalnya untuk karier ini jenjangnya mentok. Zona saat itu sudah nyaman banget, karena kerja di perusahaan raksasa itu gaji sudah enak, tunjangan enak, status karyawan tetap, dapat pensiun segala macam, tetapi saya mikir ‘sudah 8 tahun kalau mentok seperti ini terus kemungkinan tidak akan bagus’. Akhirnya saya mutusin resign,” paparnya.

Sebab merasa sudah mendulang banyak ilmu semasa jadi karyawan, Mang Eko keluar dan memilih jalur yang tidak biasa: menjadi konsultan kopi. Karier barunya itu berjalan sejak 2012. Selama kisaran waktu 3 tahun (sampai 2015) ia membantu petani memahami pascapanen, mendampingi kafe yang ingin menyajikan kopi berkualitas, dan melatih barista dari berbagai kedai.

Posisi ini memberinya sesuatu yang berharga: ia melihat industri kopi dari semua sisi. Dari hulu, tengah, dan hilir, tanpa harus terikat satu peran.

“Saya jadi konsultan coffeshop. Orang mau bikin kafe, konsultasi dengan saya, mulai dari cari karyawannya, training karyawan, set up menu, pokoknya dari nol sampai jadi kafenya. Hanya saja konsultan itu kan tidak selalu ada kerjaannya, meskipun gede pendapatannya, paling hanya setahun sekali. Karena kan tidak setiap bulan orang buka kafe,” kenangnya.

Pertimbangan akan banyaknya waktu luang itulah yang membuatkan berpikir untuk mencoba lagi peruntungan baru di dunia kopi, selain sebagai konsultan coffeshop.

Cikopi Mang Eko Berdiri, Modalnya Rp 9 Juta

Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Tahun 2016, ia mewujudkan keputusan itu. Bermodal Rp 9 juta, ia mendirikan Cikopi Mang Eko. Bukan kafe, bukan kedai, tapi roastery sekaligus toko biji kopi. Badan usahanya ia namai CV Banyu Hitam Abadi: banyu hitam artinya air kopi, abadi berarti seperti candu yang terus berulang.

“Banyak orang sebetulnya mengira ini kafe. Ada yang pernah datang siang-siang jam 12 ke sini, rombongan 2 mobil, lalu ‘minta menunya?’ mereka bilang begitu. Mereka masih menyangka ini coffeshop. Padahal kita di sini (Arcamanik) coffee roastery. Kalau untuk coffeshop-nya ada di Rajamantri Kidul no.9, namanya juga Cikopi Mang Eko,” lanjutnya.

Pilihan menjadi supplier, bukan membuka kafe, adalah keputusan yang disengaja. Ia melihat kafe membutuhkan modal besar, biaya operasional tinggi, dan harus bersaing sengit di media sosial dengan pemain bermodal miliaran. Sebagai supplier, ia cukup menunggu pelanggan datang, dengan nilai transaksi yang jauh lebih besar dan konsisten.

Ia juga membuka layanan jasa maklun: pelanggan bisa membawa green bean mereka sendiri untuk disangrai di tempatnya, atau menyewa mesin roaster, atau langsung membeli biji kopi yang sudah di-roasting.

“Dengan pengalaman saya selama 8 tahun di Kapal Api Group itu jadi tahu ternyata kalau mau cari uang gede dan tidak terlalu capek itu kita harus main ‘di tengah’ dan tidak main ‘di hilir’. Jadi kalau di bisnis kopi itu ada hulu, tengah, dan hilir. Hulu itu adalah petani yang menanam kopi dan memproses kopi sampai jadi green bean (biji kopi mentah). Kalau saya di sini main tengah, kita mengambil green bean dari petani, kita roastery, kita sangrai di sini, sampai jadi roast bean, kita suplai ke hilir ke kafe-kafe,” jelas pria kelahiran 1981 itu. 

Dalam tiga tahun pertama, Cikopi Mang Eko tumbuh perlahan tapi konsisten. Awalnya hanya menjual sekitar 10 kilogram kopi per bulan. Pelanggannya mulai dari kedai-kedai kecil di sekitar Bandung Timur, yang datang bukan hanya untuk membeli, tapi juga untuk belajar.

Ia aktif bergabung dengan komunitas kopi di Bandung dan Indonesia, mensponsori berbagai kegiatan perkopian, dan membangun nama.

“Saya mem-branding Cikopi Mang Eko di Arcamanik ini tempat edukasi kopi gratis di tempat. Ada mesin espresso, grinder, dan segala macam, dipersiapkan untuk konsumen bisa belajar gratis. Itu adalah salah satu metode saya untuk menarik konsumen. Kita bisnisnya itu B2B (Business to Business), tidak mencari uang di situ (edukasi yang digratiskan di tempat), makanya kita per bulan bisa sampai jual 1,5-2 ton,” papar Mang Eko.

Namun perjalanan hidup tidak selalu selancar jalan tol kala dini hari. Tahun 2020, pandemi COVID-19 mengguncang Cikopi Mang Eko. Bisnisnya sebelumnya mencakup penjualan mesin kopi, tapi pandemi membuat para produsen mesin menjual langsung ke konsumen, memotong jalur distributor seperti dirinya. Ia pun banting setir, memfokuskan diri sepenuhnya pada produksi dan penjualan biji kopi.

Cobaan belum selesai. Tahun 2021, Mang Eko dinyatakan positif COVID-19 dan harus dirawat intensif di ICU selama satu bulan penuh. Satu per satu asetnya dijual untuk menanggung biaya rumah sakit yang tidak sedikit. Bisnis kopi yang dibangun susah payah itu nyaris gulung tikar dan sempat akan dijual.

“Kebodohan saya waktu itu tidak punya asuransi, BPJS Kesehatan pun tidak ada. Apa yang di-cover oleh pemerintah saat itu hanya sampai saya ditanyakan negatif. Setelah negatif (COVID-19) saya tidak bisa keluar rumah sakit (harus rawat inap) dan biayanya luar biasa. Makanya hancurlah usaha saya. Modal habis untuk biaya pengobatan, terkuras semuanya. Cikopi Mang Eko ini sebenarnya masih tetap berjalan selama saya dirawat itu, tetapi perputaran modalnya tersedot untuk biaya pengobatan,” lirihnya.

Selama 2020 sampai 2022 penjualan Cikopi Mang Eko pun menurun drastis ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Sebelum COVID-19, omzetnya mencapai Rp 3 miliar per tahun. Namun pandemi membuat pendapatan kotornya pernah jatuh sampai ke angka Rp 300 juta per tahun 2020. Di tahun 2021-2022, seiring pandemi dan pembatasan sosial mulai mereda (dengan kafe-kafe mulai diperbolehkan buka lagi dengan aturan ketat) omzetnya naik pelan ke angka Rp 500 jutaan per tahun. Bagaimanapun, angka ini masih jauh dibanding tahun-tahun sebelum COVID-19.

“Cikopi Mang Eko sempat akan dijual, akibat saya terlilit hutang untuk biaya perawatan dan pengobatan selama di rumah sakit. Akan dijual semuanya, termasuk toko online-nya, media sosialnya, dan peralatannya. Hanya saja waktu itu (tahun 2022) belum ketemu angka yang pas, saya mematok harga Rp 2 miliar, tapi yang nawar masih di angka 1 M,” kenangnya merasa beruntung niatnya tidak sampai terjadi.

Bangkit, Membangun Lagi Legacy

Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko saat memperlihatkan produk-produk jualannya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko saat memperlihatkan produk-produk jualannya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Sembuh dari COVID-19, Mang Eko melanjutkan bisnis kopinya yang hampir runtuh. Saat fase bangkitnya setelah pandemi, ia pun mengenal Rumah BUMN Bandung, yang berlokasi di Jalan Jurang No. 50, Sukajadi. Sebuah rumah yang mengubah nasib Mang Eko.

“Kondisi itu tahun 2022 usaha saya masih recovery COVID-19. Masih bingung harus melakukan apa lagi agar bangkit seperti dahulu. Saat scrolling Instagram, saya lihat posting-an Rumah BUMN tentang BRIncubator (2023). Ini untuk inkubasi bisnis UMKM; dan saya lihat kayaknya seru juga dan butuh ilmu baru. Akhirnya join-lah, daftar,” kenangnya.

Tahun 2023 pun menjadi tahun penuh lompatan. Mang Eko terpilih menjadi satu dari 25 UMKM yang mengikuti program BRIncubator. Selama dua bulan ia belajar membangun visi misi bisnis, membuat proposal, memperbaiki kemasan, berpromosi di media sosial, hingga membangun jaringan pemasaran.

Setelah berjuang sebagai yang terbaik dalam program itu, ia terpilih menjadi satu dari empat UMKM yang mewakili Rumah BUMN Bandung di pameran Brilianpreneur di Jakarta Convention Centre.

Ia mengaku kaget melihat ramainya pameran. Produk andalannya, 9 Jawara Kopi, habis terjual di hari pertama.

Di tahun yang sama, ia juga mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp 100 juta. Modal yang ia gunakan terutama untuk membeli bahan baku, karena biji kopi berkualitas tinggi seperti wine bisa mencapai Rp 10 juta per karung.

“Bermula dari BRIncubator itu saya belajar tentang wirausaha yang sebenarnya (profesional), karena sebelumnya saya cuma dagang saja dengan ilmu ala kadarnya. Saya belajar bikin company profile, diajarin cara bikin pitch deck, dan berbagai hal penting yang sebelumnya tidak tahu. Lanjut dari sana ikutlah Brilianpreneur,” ungkapnya.

Mang Eko sama sekali tidak menyangka bahwa semenjak bergabung jadi anggota Rumah BUMN banyak event BRI yang kemudian ia bisa ikuti. Makin banyak kenalan, kian banyak klien, semakin harum nama brand-nya.

“Pas Brilianpreneur itu (2023) ada yang namanya pitching online. Bingung pada saat itu, karena mau mengobrol dengan orang Taiwan. Ternyata pihak BRI menyediakan penerjemah. Di acara JCC, buyer dari Taiwan itu juga datang ke booth kita; dan di sana pun ia didampingi oleh penerjemah yang dipersiapkan BRI. Saya takjub, sekeren itu loh BRI,” semringah Mang Eko.

Memasuki 2024, Cikopi Mang Eko sudah memiliki lebih dari 50 kafe sebagai pelanggan tetap, tersebar di Bandung dan luar Bandung. Ada yang hanya membeli 3–5 kilogram per bulan, ada yang rutin memesan 2 kuintal. Produksi bulanan mencapai 1,2 hingga 1,86 ton.

Cikopi Mang Eko menyediakan lebih dari 27 item produk dari lebih dari 20 daerah asal (origin), mulai Aceh sampai Papua. Dua jenis utama yang diandalkannya: Arabika dan Robusta. Kopi dari Jawa Barat tetap menjadi andalannya: Malabar, Halu, Manglayang, dan Palasari paling laris. Untuk pasokan, ia menjalin kerja sama langsung dengan kelompok tani di Jawa Barat, seperti Puntang, Papandayan, dan Cikurai. Ia juga mulai merintis ekspor: kopi single origin Bandung rutin dikirim ke Malaysia sekitar 30–40 kilogram per bulan. 

Puncak pengakuan internasional datang pada April 2025. BRI memfasilitasi Ci Kopi Mang Eko (bersama Caldera Coffee dari Sumatera Utara) untuk tampil di Specialty Coffee Expo 2025, ajang kopi spesialti terbesar di dunia, yang digelar 25–27 April 2025 di Houston, Texas, Amerika Serikat. Fasilitasi ini melibatkan Kantor Perwakilan BRI New York dan KBRI Washington DC.

Keduanya mendapatkan booth di Paviliun Indonesia, terlibat dalam sesi cupping, lokakarya industri, dan menjalin jaringan dengan pelaku usaha dari seluruh dunia. Hasilnya: potensi kesepakatan bisnis senilai total USD 945.000 dari kedua UMKM tersebut.

Siapa sangka, setelah hampir bangkrut dan tinggal sejengkal lagi menjual bisnisnya, Mang Eko justru malah naik ke panggung lebih tinggi berkat keisengannya mengintin media sosial Rumah BUMN. Sebagai UMKM Kelas 3, ia pun ingin manfaat yang ia dapatkan dari BRI bisa didapatkan rekan-rekan seperjuangan.

“Mudah-mudahan Rumah BUMN di bawah Bank BRI dan acara-acara pelatihan yang sudah dilakukan itu jangan sampai hilang, ya. Saya inginnya wadah ini agar tetap bisa merangkul dan memberdayakan yang khususnya ada di Kota Bandung,” harapnya petang itu.

***

Azan Magrib pun berkumandang; dan tak terasa sudah hampir 3 jam lamanya penulis mengobrol bersama Mang Eko. Secangkir kopi yang sudah mulai dingin itu saya teguk lebih cepat, agar tidak kehilangan rasa nikmatnya.

Setelah perjalanan panjang bisnisnya, strategi pemasaran Cikopi Mang Eko tetap tidak berubah: tanpa iklan. Mang Eko memilih branding melalui edukasi. Siapa pun bisa datang ke tokonya untuk belajar manual brew, espresso, atau latte art, semuanya gratis. Konsep ini yang ia sebut experience store: bukan sekadar toko, tapi pusat edukasi kopi dari hulu ke hilir.

Dua dekade lalu, Mang Eko adalah karyawan yang berpindah-pindah outlet, menyeduh kopi untuk orang lain. Kini, ia yang menentukan kopi apa yang diseduh oleh ratusan kedai di Bandung, Jawa Barat, dan perlahan di berbagai negara asing.

Harapan masa pensiunnya sederhana. Setelah nanti sukses membangun Cikopi Mang Eko sebagai legacy (warisan usaha untuk anak-anaknya), ia ingin jadi petani.

“Lima tahun tahun ke depan saya sudah target masa pensiun, saya sudah tidak di sini. Masa pensiun saya nanti akan jadi petani,” tutup Mang Eko dengan yakin. (*)

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Mei 2026, 11:14

Semula, Ada Pandai Kuningan di Sayang dan di Bojongsayang

Di Jawa Barat, banyak toponim yang memakai kata sayang.

Contoh bokor yang dibuat dari kuningan. Tempat pembuatannya disebut sayang. (Sumber: Istimewa)
Beranda 18 Mei 2026, 10:43

Saat Manusia Asing dengan Tanahnya Sendiri dan Nama Tempat Tinggalnya

T. Bachtiar menjelaskan bagaimana nama tempat menyimpan jejak alam dan budaya, sekaligus mengungkap krisis ingatan manusia terhadap ruang hidupnya.

Pemandangan kota Bandung, jembatan Pasupati dengan latar belakang Gunung Tangkuban Parahu, Rabu 20 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Biz 18 Mei 2026, 10:05

Cikopi Mang Eko dan Jalan Panjang ‘UMKM Naik Kelas’

Mang Eko hampir menjual segala jerih payahnya. Lalu iseng membuka Instagram Rumah BUMN Bandung; dan nasib bisnisnya berubah.

Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 18 Mei 2026, 09:21

Antapani, Jalur yang Menghabiskan Umur Warga Kota Bandung

Jalan Terusan Jakarta di Antapani kerap dipenuhi antrean kendaraan akibat banjir, persimpangan padat, dan arus permukiman.

Situasi Jalan Ahmad Yani di kawasan Antapani Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 09:19

Di Serambi Masjid, Warga Bandung Belajar Arti Berkorban Melalui Donor Darah

Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan.

 Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 08:03

Semangkuk Soto dan Kepulan Asap Rokok

Apakah menjadi hal yang berlebihan ketika memimpikan Bandung yang bersih dari asap rokok sehingga aroma soto bisa dinikmati secara utuh?

Semangkuk Soto Madura di pagi yang dingin di Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Biz 17 Mei 2026, 19:36

Dari Excelso ke Houston: Perjalanan Dua Dekade Mang Eko Membangun ‘Legacy’ Kopi di Bandung

Mang Eko memilih jadi pemasok. Bukan kedai kopi biasa; dan pilihan itu membawa banyak perubahan dalam hidupnya.

Muchtar Koswara pemilik Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 15:20

Rawat Perbedaan, Perkuat Harmoni, dan Rayakan Kebersamaan

Rumah ibadah yang dihancurkan bukan hanya merobohkan bangunan. Justru melukai rasa kemanusiaan. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang berhasil menyeragamkan perbedaan

Suasana Upacara Kampung Adat Cireundeu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Mei 2026, 15:03

Camilan Gitrek Khas Subang, Singkong Bumbu Kencur Renyah dari Kasomalang

Ulasan gitrek singkong Subang dari produksi rumahan di Kasomalang, proses pembuatan berbasis singkong, hingga distribusi sebagai oleh-oleh populer.

Gitrek singkong khas Subang. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 12:52

Bukan Perdebatan Ilmiah, Kekonyolan Semata yang Sebabkan Cerita ‘Tahun Lahir Persib 1919’ Tidak Punya Nilai!

Perdebatan semacam apakah Persib lahir 1919 atau 1933 dst. rupanya sudah tidak lagi penting dipersoalkan.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 17 Mei 2026, 12:41

Inovasi Tiramisu Push Pop, Strategi Memissu Pikat Pencinta Dessert di Bandung

Memissu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat urban yang menginginkan produk dessert modern yang estetis, praktis, dan dinamis.

Memissu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat urban yang menginginkan produk dessert modern yang estetis, praktis, dan dinamis. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 11:19

Ketika Tren Generasi Z Lebih Takut Menikah, daripada Takut Kehilangan Arah

Generasi Z makin takut menikah, tapi pergaulan bebas justru makin dinormalisasi. Sedang terjadi apa hari ini?

Pernikahan adalah wujud keseriusan dalam membangun arah masa depan (Sumber: Pixeabay | Foto: Rizky_Motion)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 09:01

Pengorbanan Mang Dadang Berbuah Manis

Pengorbanan Mang Dadang adalah kebahagiaan untuk keluarga dan para pembeli kupat tahu petisnya serta kontribusi dia turut memutarkan cakra perekonomian.

Mang Dadang penjual kupat tahu petis (Sumber: dok penulis | Foto: Bram Herdiana)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 08:28

Mengapa TNKB Harus Sesuai Standar?

Pelanggaran TNKB masih sering ditemukan di jalan raya. Padahal, plat nomor sesuai standar penting untuk mendukung penegakan hukum, keselamatan, dan ketertiban lalu lintas.

Bentuk pelanggaran TNKB yang paling umum, yaitu modifikasi bentuk huruf dan penggunaan penutup plat berbahan mika gelap. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 16 Mei 2026, 16:57

Lewat Titik Kumpul Cigadung, Mitigasi Bencana Bisa Sesantai Budaya Nongkrong

Sesar Lembang Kalcer mengajak warga Bandung memahami mitigasi bencana lewat musik, seni, dan ruang komunitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di Sesar Lembang Kalcer, anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Komunitas 16 Mei 2026, 16:46

Di Balik Kalcer Bandung, Ada Tanah Bergerak yang Membentuk Cara Warganya Hidup

Di balik kalcer Bandung, tersimpan kisah tentang alam, Sesar Lembang, dan kreativitas warga yang tumbuh dari tanah yang terus bergerak.

Kegiatan komunitas Sesar Lembang Kalcer yang mencoba menghubungkan mitigasi bencana dengan budaya dan keseharian warga Bandung. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 20:08

'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

Pameran “Jejak Rupa” menghadirkan 123 karya Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam hubungan manusia dengan alam, ingatan, dan perubahan zaman.

Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 17:11

Pengorbanan Tidak Pernah Mati dalam Kehidupan Manusia

Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi bahwa manusia perlahan mulai memanfaatkan ketulusan seseorang dibanding menghargai pengorbanannya.

Ilustrasi peristiwa Kenaikan Yesus Kristus yang dimaknai sebagai simbol pengorbanan, harapan, dan ketulusan dalam kehidupan manusia. (Sumber: Designed by Freepik)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 14:22

Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

Media liberal telah menjadi “sekolah kedua” yang membentuk pelajar dengan nilai kekerasan, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas dalam sistem sekuler kapitalistik.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Wisata & Kuliner 15 Mei 2026, 10:56

Panduan Wisata Kebun Raya Cibodas, Taman Tertua di Kaki Gede Pangrango

Panduan wisata Kebun Raya Cibodas mencakup sejarah, koleksi tanaman, taman sakura, akses lokasi, harga tiket, serta tips berkunjung di kawasan dataran tinggi.

Kebun Raya Cibodas. (Sumber: Wikimedia)