Pagi ini Bandung terasa lebih dingin tapi jalanan lenggang dari pengguna kendaraan. Cukup senang tapi siang menuju malam belum tentu bisa saja ada konvoi persib berkat kemenangannya melawan persija. Cukup pening jika itu terjadi karena akan banyak akses jalan yang terhambat oleh gerombolan manusia tapi bagaimana lagi mungkin itu cara selebrasi sebagian warga bandung terhadap bobotoh persib.
Melipir sedikit ke dalam kerumunan para pedagang yang berjualan di trototoar sebrang pintu keluar leuwi panjang. Gerobak khas soto madura bertuliskan warna merah cukup melambaikan kepada setiap individu yang lewat untuk duduk sejenak menikmati hangatnya soto di pagi hari.
Duduk seorang bapak berseragam DAMRI sambil menaikkan satu kakinya khas sedang makan di warteg—cara makannya yang lahap sontak membuat rasa penasaran saya terhadap soto tidak bisa terelakkan.
Sambil menunggu semangkuk soto banyak momen yang tersaji di depan mata. Diantara manusia yang hilir mudik untuk berangkat bekerja. Beberapa orang dengan nametag bertuliskan keluarga pasien yang sedang beristirahat sambil mencari sarapan. Beberapa orang yang memakai tas carrier dan membawa koper sedang menunggu tujuan bus mereka yang sedang berkelok dari pintu keluar leuwi panjang. Sementara di sebelah warung soto ada penjual gorengan dan berbagai macam minuman siap seduh sedang santai bermain ponsel sambil memasang speaker bluetooth yang sedang dinyalakannya.
“Mau dibawa kemana ? hubungan kita?
Salah satu lirik musik di tahun 2009 dari armada yang mungkin bisa menjadi nostalgia bagi mereka generasi yang lahir di tahun 90-an. Semangkuk soto panas pun datang menghampiri. Alih-alih asap aroma kaldu dan wanginya koya yang tercampur—eh kepulan asap rokok nyelonong masuk hidung duluan. Tarik napas lalu hembuskan perlahan cukup membantu emosi sedikit lebih stabil meski hati rasanya masih dongkol.
Hak menikmati fasilitas public sih hak bersama tapi masa iya nikmatin soto harus sekalian ngetes paru-paru. Ruang publik seharusnya bisa menjadi tempat yang tenang bagi semua orang bukan jadi ruang uji coba pasif smoking
Fokusku sedikit teralihkan kepada kepulan asap tersebut yang mengganggu jalur pernapasan. Rokok untuk sebagian orang mungkin menjadi distraksi dari rasa stress dan tekanan hidup sehari-hari. Rokok juga mungkin bisa menjadi penawar rasa masam yang kata sebagian penggunanya bisa menetralisir rasa tidak enak di bagian mulut.
Saya sebagai perokok pasif memang tidak memiliki kewenangan untuk melarang orang lain untuk berhenti merokok. Karena kemasan rokok saja yang sudah jelas-jelas memberitahu akan bahaya dan dampaknya di masa yang akan mendatang mereka hiraukan. Namun suara saya yang selalu ingin tersampaikan kepada mereka adalah “Silahkan merokok tapi jangan ajak-ajak kita terkena dampaknya”.
Ruang publik seharusnya menjadi ruang paling aman untuk saling menghargai hak orang lain. Salah satunya menghirup udara bersih dari apa yang sudah disediakan oleh semesta. Namun rasanya kebebasan tersebut terenggut tanpa bertanya apakah kita bersedia berbagi serpihan nikotin tersebut atau tidak.
Ruang publik yang Bandung miliki memang belum banyak menyediakan ruangan khusus bagi perokok. Namun meski sudah ada dibeberapa tempat yang menyediakan—kebanyakan literasi membaca masih sangat minim. Tetap saja para perokok aktif ini melakukan aktivitas merokoknya di ruang umum yang berpotensi menambah jumlah perokok pasif.
Meski pagi ini sedikit dongkol karena tidak bisa menikmati aroma soto secara utuh tapi beruntung tidak mempengaruhi rasanya. Seperti biasa kuah panas yang dicampurkan dengan nasi membuat hangat saat masuk ke kerongkongan dan perut. Rasa gurih yang bercampur dengan karbohidrat, protein juga serat dari sayuran menjadi paduan yang cukup pas untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Hidangan ini memang paling cocok ditutup dengan teh tawar panas yang asapnya masih mengepul. Namun setelah mendengar penjelasan dari dr. Tirta mengenai kandungan senyawa alami bernama tanin dan polifenol. Kedua senyawa tersebut bisa menghambat penyerapan zat besi dari makanan yang seharusnya dibutuhkan oleh tubuh. Sehingga kandungan zat besi pada ayam yang kita konsumsi dalam soto hanya bisa terserap sebanyak 30% nya.

Setelah mengetahui hal tersebut saya memilih minum air hangat saja. Adapun air teh harus diberikan jarak 1 sampai 2 jam sebelum atau sesudah makan jika ingin meminimalisir efek sampingnya. Adapun jika sudah terlanjur mengkonsumsi secara bersamaan maka cara lain yang bisa dilakukan adalah konsumsi vitamin c. Beruntungnya dalam soto biasanya terdapat jeruk untuk menambah cita rasa soto dan hal ini bisa sedikit membantu meski efeknya sangat minim.
Bolehkah memimpikan Bandung tanpa asap rokok ? boleh saja tapi tentunya hal ini tidak akan terealisasi tanpa kesadaran dari semua individu yang bersangkutan. Terlebih efek nikotin yang bersarang lama dalam tubuh sudah menyebabkan ketergantungan.
Suatu hari menjadi pemandangan yang indah ketika pagi hari yang sejuk dan indera penciuman mengendus aroma soto dengan utuh. (*)
