Demi Anak dan Istri, Setiap Hari Mang Amir Ngegas Motornya ‘Membelah Subuh’ Jualan Bubur Ayam

3 menit baca
Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan
Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)
Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)

MASIH ingat tulisan saya yang berkisah tentang Mang Amir, 63 tahun, penjual bubur ayam termurah sedunia--pake motor Beat--asal Nengkelan, Ciwidey? Kakek beranak 5 dan bercucu 3 itu setiap hari tak pernah lelah nge-gas motor Beatnya “membelah subuh Ciwidey yang dingin” untuk berjualan bubur ayam dan menyapa pelanggannya di Komplek Parahyangan Kencana (Parken) dang Sanggar Indah, Soreang.

Namun, suatu pekan, di ujung April 2026 yang masih ada hujan, hampir seminggu pedagang bubur yang ramah senyum itu tidak tampak di komplek kami. Warga pun bertanya-tanya, “Ka mana Si Abah teh nya? Hampir seminggu tidak keliatan. Geuring kitu?”

“Iya, ke mana ya? Bisi meninggal?” tanya warga yang lain.

Ya, warga merindukan suara “kentrengan” mangkuk yang dipukul sendok yang menjadi tanda kedatangan bubur ayam khasnya.

Setelah seminggu, Mang Amir muncul dengan balutan di kakinya.

“Ka mana wae, Bah, warga pada nararoskeun?” tanya saya.

“Oh, iya, saya jatuh dari motor, pulang jualan, pas keluar dari Mapolresta. Tadinya menghindari ditabrak orang.”

“Naon nu karasa?”

“Kaki saya bengkak. Susah berjalan. Untung buburnya sudah habis.” 

“Deudeuh teuing, Abah. Kenapa atuh sudah berjualan lagi? Kan jalannya masih tampak terpincang-pincang?” 

“Maksakeun, Pak. Kalau tidak jualan, anak dan istri saya tidak makan.”

Ya, Mang Amir adalah seorang pedagang bubur ayam yang tidak berjualan di sekitar kampungnya. Justru ia memilih berjualan di Komplek Bumi Parahyangan Kencana dan Sanggar Indah di Kecamatan Cangkuang, yang jauhnya kurang lebih 12 kilometer dari rumah Mang Amir.

Hari masih gelap. Ciwidey yang dingin tidak menjadikannya menarik selimut untuk kembali tidur, tapi ia memilih nge-gas motor Honda Beatnya menurun melewati Pasir Jambu, melewati Sadu, melewati Soreang—demi menafkahi anak dan istrinya.

Pertanyaannya, mengapa ia tidak berjualan di sekitar Ciwidey atau mampir dulu di sekitar Pasir Jambu atau Soreang yang tempatnya kelewatan, Mang Amir. Kan lebih dekat biar gak capek?

“Ah, tidak. Setelah salat Subuh, saya langsung ke perumahan Parken ini. Tidak mampir dulu ke mana-mana. Saya sudah punya pelanggan di sini. Barangkali Allah sudah mengatur rezekiku harus dapat di sini,” katanya sambil melayani pembeli.

Pengakuan Mang Amir, ia sudah berjualan bubur ayam selama 25 tahun. “Tidak banyak, saya berjualan tiap hari hanya memasak 2,5 kilogram beras. Segitu, habis untuk pelanggannya di komplek Parken dan Sanggar Indah mulai dari pagi hingga jam sebelas atau dua belas siang. Sesudah itu, saya pulang kembali ke Ciwidey. Begitu usaha saya setiap hari,” katanya.

Tadinya saya jarang membeli bubur Ayam Mang Amir. Habis bau rokok. Sebab, si emangnya dulu melayani pembeli sambil merokok. Tapi, ia kini mengaku sudah berhenti merokok. “Sudah lama saya berhenti merokok. Sebab, rokok mahal, juga kadang ada pelanggan yang komplen buburnya bau rokok,” katanya.

Bukan tidak ingin ia menambah dan memperbanyak dagangannya, tapi ya sudah secukupnya saja. Asal ada untuk makan saya sudah cukup. Menurutnya, ia setiap hari bangun pukul 03.00 malam. Mulai memasak. Setelah salat Subuh, ia mulai berangkat dari Nengkelan Ciwidey ke Cangkuang menjajakan bubur ayam dengan memakai motor Honda Beat putihnya.

Tak mahal-mahal harga seporsi bubur ayam cukup dengan Rp5.000. “Kalau mau ditambah toping telor dan dua sate usus jadi Rp10.000,” katanya.

Mungkin ini bubur ayam Mang Amir ini bubur termurah se-dunia kata saya. Mang Amir hanya bisa ketawa. 

“Saya tak banyak mengambil untung. Asal ada untung dan cukup buat makan sehari-hari saja,” katanya lagi. 

Kami mengakhiri percakapan. Dan Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek.  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)