Membaca di Kota yang Sibuk

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Senin 18 Mei 2026, 20:18 WIB
Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kota Bandung terus bergerak dengan cepat. Jalanan dipenuhi kendaraan setiap harinya, tempat nongkrong di sudut-sudut kota semakin ramai, dan orang-orang sibuk mengejar banyak hal seperti mencari kerja di tengah kehidupan yang semakin sulit dijalani. Di tengah ritme kota yang seperti itu, membaca perlahan berubah menjadi kebiasaan yang semakin tersingkir. Banyak orang kini lebih akrab dengan layar ponsel dibanding halaman buku, bahkan sejak bangun pagi hal pertama yang dicari sering kali adalah telepon genggam.

Situasi rendahnya budaya membaca membuat Hari Buku Nasional setiap 17 Mei penting untuk kembali diingat. Hari Buku Nasional mulai diperingati sejak tahun 2002 atas gagasan Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Abdul Malik Fadjar, dan dipilih bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 1980.

Peringatan tersebut lahir dari kegelisahan terhadap kondisi literasi masyarakat Indonesia yang masih tertinggal dari negara-negara lain. Data dari UNESCO pada 2002 menunjukkan tingkat melek huruf masyarakat Indonesia usia dewasa hanya berada di angka 87,9 persen, lebih rendah dibanding beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.

Tidak hanya itu, industri buku nasional saat itu juga belum berkembang baik. Jumlah buku yang dicetak di Indonesia setiap tahunnya masih jauh tertinggal dibanding negara seperti Jepang dan China. Karena itu, Hari Buku Nasional bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pengingat bahwa membaca masih menjadi tantangan yang belum benar-benar selesai.

Ironisnya, di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi hari ini, orang justru semakin terbiasa dengan hal-hal yang serba cepat dan singkat. Banyak orang lebih akrab dengan ringkasan media sosial dibanding membaca buku secara utuh, padahal dari proses membaca yang pelan itulah seseorang belajar berpikir lebih dalam.

Di Kota Bandung, minat membaca yang pelan itu sebenarnya masih bertahan di beberapa sudut kota, salah satunya di Pasar Buku Palasari. Di tengah kota yang sibuk mengejar kecepatan, lorong-lorong Palasari masih dipenuhi tumpukan buku, halaman-halaman lama, dan orang-orang yang masih percaya bahwa pengetahuan membutuhkan proses untuk dipahami.

Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Palasari Masih Dipenuhi Buku, tetapi Pembacanya Tak Lagi Seramai Dulu

Pasar Buku Palasari bukan sekadar deretan kios buku di tengah Kota Bandung. Tempat ini menyimpan jejak panjang tentang bagaimana budaya membaca pernah tumbuh begitu dekat dengan kehidupan masyarakatnya. Sejak tahun 1980-an, para pedagang buku yang sebelumnya berjualan di kawasan Cikapundung dipindahkan ke Jalan Palasari oleh pemerintah kota.

Pada awal tahun 1990-an, kebakaran sempat melanda kawasan pasar dan membuat para pedagang berpindah ke area sementara bekas lahan parkir. Namun tempat sementara itu justru bertahan hingga sekarang dan dikenal luas sebagai Pasar Buku Palasari. Hingga hari ini, kawasan tersebut masih dipenuhi berbagai jenis buku, mulai dari buku pelajaran, novel, komik, buku agama, hingga buku-buku lama yang sulit ditemukan di toko besar. Pasar ini buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, tetapi suasananya tidak lagi seramai masa kejayaannya dulu.

Padahal di tempat seperti Palasari, membaca terasa lebih dari sekadar mencari informasi. Ada proses mencari, membuka halaman demi halaman, hingga berbincang dengan pedagang buku, sebuah kebiasaan yang perlahan mulai hilang di tengah masyarakat yang semakin terbiasa dengan hal-hal instan.

Hari Buku Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan yang hanya ramai dibahas selama sehari di media sosial. Di tengah kota yang semakin sibuk seperti Bandung, peringatan ini seharusnya menjadi pengingat bahwa budaya membaca perlahan mulai kalah oleh kebiasaan masyarakat yang menginginkan segala sesuatu secara cepat dan singkat. Keberadaan Pasar Buku Palasari menunjukkan bahwa minat membaca sebenarnya belum hilang sepenuhnya, tetapi ruang untuk mempertahankannya semakin sempit. Membaca buku sebenarnya bukan sekadar mencari pengetahuan, melainkan memberi ruang bagi seseorang untuk berhenti sejenak, memahami sesuatu secara perlahan, dan melihat kehidupan dengan lebih tenang.

Jika suatu hari Palasari benar-benar ditinggalkan, mungkin kota ini akan terus bergerak dengan cepat, tetapi membaca seharusnya tidak ikut kehilangan tempatnya. Di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin terburu-buru, keberadaan Pasar Buku Palasari menjadi pengingat bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari sesuatu yang instan.

Sebab ketika masyarakat mulai kehilangan waktu untuk membaca, yang perlahan hilang sebenarnya bukan hanya kebiasaan membuka buku, melainkan juga kemampuan untuk berpikir lebih tenang dan memahami sesuatu secara lebih mendalam. (*)

REFERENSI

  • Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pangkalpinang. (2023). Hari Buku Nasional 17 Mei, Ini Sejarah dan Cara Memperingatinya.

  • Susanti, R. (2022). Pasar Buku Palasari Bandung, Sejarah, Jam Buka, hingga Cara Menuju Lokasi. Kompas.com.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)