Membaca di Kota yang Sibuk

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kota Bandung terus bergerak dengan cepat. Jalanan dipenuhi kendaraan setiap harinya, tempat nongkrong di sudut-sudut kota semakin ramai, dan orang-orang sibuk mengejar banyak hal seperti mencari kerja di tengah kehidupan yang semakin sulit dijalani. Di tengah ritme kota yang seperti itu, membaca perlahan berubah menjadi kebiasaan yang semakin tersingkir. Banyak orang kini lebih akrab dengan layar ponsel dibanding halaman buku, bahkan sejak bangun pagi hal pertama yang dicari sering kali adalah telepon genggam.

Situasi rendahnya budaya membaca membuat Hari Buku Nasional setiap 17 Mei penting untuk kembali diingat. Hari Buku Nasional mulai diperingati sejak tahun 2002 atas gagasan Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Abdul Malik Fadjar, dan dipilih bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 1980.

Peringatan tersebut lahir dari kegelisahan terhadap kondisi literasi masyarakat Indonesia yang masih tertinggal dari negara-negara lain. Data dari UNESCO pada 2002 menunjukkan tingkat melek huruf masyarakat Indonesia usia dewasa hanya berada di angka 87,9 persen, lebih rendah dibanding beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.

Tidak hanya itu, industri buku nasional saat itu juga belum berkembang baik. Jumlah buku yang dicetak di Indonesia setiap tahunnya masih jauh tertinggal dibanding negara seperti Jepang dan China. Karena itu, Hari Buku Nasional bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pengingat bahwa membaca masih menjadi tantangan yang belum benar-benar selesai.

Ironisnya, di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi hari ini, orang justru semakin terbiasa dengan hal-hal yang serba cepat dan singkat. Banyak orang lebih akrab dengan ringkasan media sosial dibanding membaca buku secara utuh, padahal dari proses membaca yang pelan itulah seseorang belajar berpikir lebih dalam.

Di Kota Bandung, minat membaca yang pelan itu sebenarnya masih bertahan di beberapa sudut kota, salah satunya di Pasar Buku Palasari. Di tengah kota yang sibuk mengejar kecepatan, lorong-lorong Palasari masih dipenuhi tumpukan buku, halaman-halaman lama, dan orang-orang yang masih percaya bahwa pengetahuan membutuhkan proses untuk dipahami.

Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Palasari Masih Dipenuhi Buku, tetapi Pembacanya Tak Lagi Seramai Dulu

Pasar Buku Palasari bukan sekadar deretan kios buku di tengah Kota Bandung. Tempat ini menyimpan jejak panjang tentang bagaimana budaya membaca pernah tumbuh begitu dekat dengan kehidupan masyarakatnya. Sejak tahun 1980-an, para pedagang buku yang sebelumnya berjualan di kawasan Cikapundung dipindahkan ke Jalan Palasari oleh pemerintah kota.

Pada awal tahun 1990-an, kebakaran sempat melanda kawasan pasar dan membuat para pedagang berpindah ke area sementara bekas lahan parkir. Namun tempat sementara itu justru bertahan hingga sekarang dan dikenal luas sebagai Pasar Buku Palasari. Hingga hari ini, kawasan tersebut masih dipenuhi berbagai jenis buku, mulai dari buku pelajaran, novel, komik, buku agama, hingga buku-buku lama yang sulit ditemukan di toko besar. Pasar ini buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, tetapi suasananya tidak lagi seramai masa kejayaannya dulu.

Padahal di tempat seperti Palasari, membaca terasa lebih dari sekadar mencari informasi. Ada proses mencari, membuka halaman demi halaman, hingga berbincang dengan pedagang buku, sebuah kebiasaan yang perlahan mulai hilang di tengah masyarakat yang semakin terbiasa dengan hal-hal instan.

Hari Buku Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan yang hanya ramai dibahas selama sehari di media sosial. Di tengah kota yang semakin sibuk seperti Bandung, peringatan ini seharusnya menjadi pengingat bahwa budaya membaca perlahan mulai kalah oleh kebiasaan masyarakat yang menginginkan segala sesuatu secara cepat dan singkat. Keberadaan Pasar Buku Palasari menunjukkan bahwa minat membaca sebenarnya belum hilang sepenuhnya, tetapi ruang untuk mempertahankannya semakin sempit. Membaca buku sebenarnya bukan sekadar mencari pengetahuan, melainkan memberi ruang bagi seseorang untuk berhenti sejenak, memahami sesuatu secara perlahan, dan melihat kehidupan dengan lebih tenang.

Jika suatu hari Palasari benar-benar ditinggalkan, mungkin kota ini akan terus bergerak dengan cepat, tetapi membaca seharusnya tidak ikut kehilangan tempatnya. Di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin terburu-buru, keberadaan Pasar Buku Palasari menjadi pengingat bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari sesuatu yang instan.

Sebab ketika masyarakat mulai kehilangan waktu untuk membaca, yang perlahan hilang sebenarnya bukan hanya kebiasaan membuka buku, melainkan juga kemampuan untuk berpikir lebih tenang dan memahami sesuatu secara lebih mendalam. (*)

REFERENSI

  • Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pangkalpinang. (2023). Hari Buku Nasional 17 Mei, Ini Sejarah dan Cara Memperingatinya.

  • Susanti, R. (2022). Pasar Buku Palasari Bandung, Sejarah, Jam Buka, hingga Cara Menuju Lokasi. Kompas.com.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)