Tergusur Kemajuan Teknologi, Loper Koran di Ambang Kepunahan

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Loper koran tetap berjalan menyusuri antrean kendaraan, meski kini orang terbiasa mencari informasi lewat ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Loper koran tetap berjalan menyusuri antrean kendaraan, meski kini orang terbiasa mencari informasi lewat ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Pagi yang cerah menyambut aktivitas Kota Bandung di awal pekan. Di persimpangan Jalan BKR dan Jalan Sriwijaya, kendaraan silih berganti berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah. Suasana jalan terlihat ramai, namun tetap lancar. Hari Senin, 30 April, menjadi hari pertama sekolah setelah libur panjang, membuat lalu lintas sejak pukul 06.45 WIB sudah terasa hidup.

Di sela antrean kendaraan yang berhenti, seorang pria berjalan pelan sambil membawa setumpuk koran di tangannya. Di tangan kanannya, terdapat sekitar 20 eksemplar koran dari berbagai penerbitan. Ia mendekati satu per satu mobil yang berhenti, mengarah ke kaca yang tertutup rapat, berharap ada celah yang terbuka meski hanya selebar telunjuk. Ia mengasongkan koran kepada pengendara yang mungkin masih ingin membaca berita dari lembaran kertas.

Pria itu adalah YanYan Setiawan (48), yang lebih akrab disapa Iyan. Sudah hampir dua dekade ia menggantungkan hidup sebagai loper koran di jalanan Bandung, sejak bujangan. Setiap hari, rutinitasnya dimulai bahkan sebelum matahari terbit.

“Kalau sama loper mah jam 4 sudah berangkat dari rumah. Ngambil koran dulu, terus sebagian saya antar ke rumah langganan. Dulu yang langganan itu banyak, tapi sekarang mah tinggal sedikit, paling cuma delapan rumah saja. Setelah itu baru saya jualan di jalan, biasanya mulai sekitar jam lima atau setengah enam,” ujarnya.

“Ini mah pekerjaan utama dari dulu. Sudah hampir 18 tahun lebih saya jualan koran. Dulu sebelum ada HP pintar,” katanya.

Iyan menyusuri antrean kendaraan di persimpangan Jalan BKR, menawarkan koran yang pembelinya tinggal hitungan jari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Iyan menyusuri antrean kendaraan di persimpangan Jalan BKR, menawarkan koran yang pembelinya tinggal hitungan jari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Menurut Iyan, perubahan besar mulai terasa sekitar sepuluh tahun terakhir, ketika masyarakat beralih membaca berita melalui ponsel.

“Sekarang orang tinggal buka HP. Ada Google, ada internet, tinggal ngetik langsung keluar beritanya. Jadi orang yang beli koran semakin sedikit. Dulu mah koran juga banyak iklan, ada jual beli motor, lowongan kerja, macam-macam. Sekarang mah sudah jarang,” katanya.

Perubahan itu turut memengaruhi penghasilannya. Sistem kerja loper membuat mereka harus mengambil koran dari agen, lalu menyetorkan kembali hasil penjualannya.

“Untungnya kecil. Ada yang cuma Rp700, ada yang Rp1.500 dari satu koran. Kalau sehari dapat Rp150 ribu dari penjualan itu belum tentu semuanya buat saya, karena ada setoran juga. Paling bersihnya sekitar Rp50 ribu. Kadang malah cuma bawa pulang Rp10 ribu atau Rp20 ribu saja, bahkan pernah juga tidak bawa apa-apa,” tuturnya.

Meski begitu, Iyan tetap menjalani pekerjaannya dengan sabar dan selalu berhati-hati karena bersiunggungan dengan arus lalu lintas.

“Pernah juga saya ketabrak waktu lagi jualan. Ya namanya juga di jalan, risiko pasti ada. Kita harus saling memahami saja sama pengguna jalan. Yang penting sabar,” katanya.

Cuaca juga kerap menjadi tantangan bagi para loper koran.

“Kalau hujan itu yang paling susah. Koran sering tidak habis, jadi tidak bisa setoran. Kalau cuaca cerah seperti sekarang lumayan, orang juga masih ada yang beli,” ujarnya.

Ia berharap kondisi ekonomi bisa kembali membaik agar pekerjaan seperti ini tetap bisa bertahan.

“Harapan saya semoga ekonomi kembali normal lagi. Bukan cuma buat kita yang jualan, tapi buat semua orang. Soalnya kalau ekonomi susah, banyak juga orang yang jadi nekat macam-macam. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih baik lagi,” katanya.

Setali Tiga Uang

Di persimpangan lampu merah Tegalega, cerita serupa juga dijalani oleh Sutisna (67). Jika Iyan masih menyimpan semangat, Sutisna tampak lebih sunyi di bawah terik matahari Bandung yang mulai menyengat. Di usianya yang senja, ia masih setia berdiri di tepi jalan sambil membawa puluhan eksemplar koran. Setiap pagi ia mulai berjualan sekitar pukul enam.

“Biasanya mulai jam enam pagi, terus jualan sampai sekitar jam dua belas atau kadang sampai jam dua siang kalau korannya belum habis,” katanya.

Sutisna bercerita bahwa awalnya ia tidak pernah membayangkan akan menjadi loper koran.

Sutisna berdiri di bawah terik matahari di lampu merah Tegalega, menunggu pembelinya yang semakin jarang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sutisna berdiri di bawah terik matahari di lampu merah Tegalega, menunggu pembelinya yang semakin jarang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Awalnya saya ikut teman saja. Dia jualan koran juga di sini. Waktu itu saya ikut bantu. Lama-lama dia pulang sebulan sekali, jadi saya yang jualan sendiri di lampu merah ini,” ujarnya.

Namun seperti Iyan, ia juga merasakan penurunan jumlah pembeli yang cukup drastis.

“Sekarang mah menurun. Dulu sebelum ada HP, koran itu bisa diandalkan. Banyak yang beli. Sekarang orang sudah baca berita dari HP, jadi pembelinya makin sedikit,” katanya.

Kadang tidak semua koran yang dibawanya bisa terjual.

“Sekarang dua atau tiga lembar saja kadang susah jualnya. Kalau tidak habis biasanya dikumpulkan saja dulu, nanti dijual kiloan,” ujarnya.

Dari pekerjaan ini, ia biasanya mendapatkan sekitar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu dalam sehari. Namun, dari jumlah itu sebagian harus disetorkan kembali kepada agen koran.

“Dari situ ada setoran juga, sekitar Rp60 ribuan. Sisanya buat makan saja,” katanya.

Berbeda dengan Iyan yang masih cukup aktif menawarkan koran, ekspresi Sutisna tampak lebih tenang namun menyimpan kecemasan saat menunggu pembeli di bawah terik matahari. Meski demikian, ia tidak banyak berharap. Baginya, yang terpenting adalah masih bisa bekerja.

“Harapan saya yang penting sehat saja. Selama masih bisa berdiri di sini dan jualan, ya dijalani saja,” katanya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)