Tergusur Kemajuan Teknologi, Loper Koran di Ambang Kepunahan

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Selasa 31 Mar 2026, 09:18 WIB
Loper koran tetap berjalan menyusuri antrean kendaraan, meski kini orang terbiasa mencari informasi lewat ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Loper koran tetap berjalan menyusuri antrean kendaraan, meski kini orang terbiasa mencari informasi lewat ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Pagi yang cerah menyambut aktivitas Kota Bandung di awal pekan. Di persimpangan Jalan BKR dan Jalan Sriwijaya, kendaraan silih berganti berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah. Suasana jalan terlihat ramai, namun tetap lancar. Hari Senin, 30 April, menjadi hari pertama sekolah setelah libur panjang, membuat lalu lintas sejak pukul 06.45 WIB sudah terasa hidup.

Di sela antrean kendaraan yang berhenti, seorang pria berjalan pelan sambil membawa setumpuk koran di tangannya. Di tangan kanannya, terdapat sekitar 20 eksemplar koran dari berbagai penerbitan. Ia mendekati satu per satu mobil yang berhenti, mengarah ke kaca yang tertutup rapat, berharap ada celah yang terbuka meski hanya selebar telunjuk. Ia mengasongkan koran kepada pengendara yang mungkin masih ingin membaca berita dari lembaran kertas.

Pria itu adalah YanYan Setiawan (48), yang lebih akrab disapa Iyan. Sudah hampir dua dekade ia menggantungkan hidup sebagai loper koran di jalanan Bandung, sejak bujangan. Setiap hari, rutinitasnya dimulai bahkan sebelum matahari terbit.

“Kalau sama loper mah jam 4 sudah berangkat dari rumah. Ngambil koran dulu, terus sebagian saya antar ke rumah langganan. Dulu yang langganan itu banyak, tapi sekarang mah tinggal sedikit, paling cuma delapan rumah saja. Setelah itu baru saya jualan di jalan, biasanya mulai sekitar jam lima atau setengah enam,” ujarnya.

“Ini mah pekerjaan utama dari dulu. Sudah hampir 18 tahun lebih saya jualan koran. Dulu sebelum ada HP pintar,” katanya.

Iyan menyusuri antrean kendaraan di persimpangan Jalan BKR, menawarkan koran yang pembelinya tinggal hitungan jari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Iyan menyusuri antrean kendaraan di persimpangan Jalan BKR, menawarkan koran yang pembelinya tinggal hitungan jari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Menurut Iyan, perubahan besar mulai terasa sekitar sepuluh tahun terakhir, ketika masyarakat beralih membaca berita melalui ponsel.

“Sekarang orang tinggal buka HP. Ada Google, ada internet, tinggal ngetik langsung keluar beritanya. Jadi orang yang beli koran semakin sedikit. Dulu mah koran juga banyak iklan, ada jual beli motor, lowongan kerja, macam-macam. Sekarang mah sudah jarang,” katanya.

Perubahan itu turut memengaruhi penghasilannya. Sistem kerja loper membuat mereka harus mengambil koran dari agen, lalu menyetorkan kembali hasil penjualannya.

“Untungnya kecil. Ada yang cuma Rp700, ada yang Rp1.500 dari satu koran. Kalau sehari dapat Rp150 ribu dari penjualan itu belum tentu semuanya buat saya, karena ada setoran juga. Paling bersihnya sekitar Rp50 ribu. Kadang malah cuma bawa pulang Rp10 ribu atau Rp20 ribu saja, bahkan pernah juga tidak bawa apa-apa,” tuturnya.

Meski begitu, Iyan tetap menjalani pekerjaannya dengan sabar dan selalu berhati-hati karena bersiunggungan dengan arus lalu lintas.

“Pernah juga saya ketabrak waktu lagi jualan. Ya namanya juga di jalan, risiko pasti ada. Kita harus saling memahami saja sama pengguna jalan. Yang penting sabar,” katanya.

Cuaca juga kerap menjadi tantangan bagi para loper koran.

“Kalau hujan itu yang paling susah. Koran sering tidak habis, jadi tidak bisa setoran. Kalau cuaca cerah seperti sekarang lumayan, orang juga masih ada yang beli,” ujarnya.

Ia berharap kondisi ekonomi bisa kembali membaik agar pekerjaan seperti ini tetap bisa bertahan.

“Harapan saya semoga ekonomi kembali normal lagi. Bukan cuma buat kita yang jualan, tapi buat semua orang. Soalnya kalau ekonomi susah, banyak juga orang yang jadi nekat macam-macam. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih baik lagi,” katanya.

Setali Tiga Uang

Di persimpangan lampu merah Tegalega, cerita serupa juga dijalani oleh Sutisna (67). Jika Iyan masih menyimpan semangat, Sutisna tampak lebih sunyi di bawah terik matahari Bandung yang mulai menyengat. Di usianya yang senja, ia masih setia berdiri di tepi jalan sambil membawa puluhan eksemplar koran. Setiap pagi ia mulai berjualan sekitar pukul enam.

“Biasanya mulai jam enam pagi, terus jualan sampai sekitar jam dua belas atau kadang sampai jam dua siang kalau korannya belum habis,” katanya.

Sutisna bercerita bahwa awalnya ia tidak pernah membayangkan akan menjadi loper koran.

Sutisna berdiri di bawah terik matahari di lampu merah Tegalega, menunggu pembelinya yang semakin jarang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sutisna berdiri di bawah terik matahari di lampu merah Tegalega, menunggu pembelinya yang semakin jarang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Awalnya saya ikut teman saja. Dia jualan koran juga di sini. Waktu itu saya ikut bantu. Lama-lama dia pulang sebulan sekali, jadi saya yang jualan sendiri di lampu merah ini,” ujarnya.

Namun seperti Iyan, ia juga merasakan penurunan jumlah pembeli yang cukup drastis.

“Sekarang mah menurun. Dulu sebelum ada HP, koran itu bisa diandalkan. Banyak yang beli. Sekarang orang sudah baca berita dari HP, jadi pembelinya makin sedikit,” katanya.

Kadang tidak semua koran yang dibawanya bisa terjual.

“Sekarang dua atau tiga lembar saja kadang susah jualnya. Kalau tidak habis biasanya dikumpulkan saja dulu, nanti dijual kiloan,” ujarnya.

Dari pekerjaan ini, ia biasanya mendapatkan sekitar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu dalam sehari. Namun, dari jumlah itu sebagian harus disetorkan kembali kepada agen koran.

“Dari situ ada setoran juga, sekitar Rp60 ribuan. Sisanya buat makan saja,” katanya.

Berbeda dengan Iyan yang masih cukup aktif menawarkan koran, ekspresi Sutisna tampak lebih tenang namun menyimpan kecemasan saat menunggu pembeli di bawah terik matahari. Meski demikian, ia tidak banyak berharap. Baginya, yang terpenting adalah masih bisa bekerja.

“Harapan saya yang penting sehat saja. Selama masih bisa berdiri di sini dan jualan, ya dijalani saja,” katanya.

News Update

Ayo Netizen 31 Mar 2026, 18:28

Memupuk Kerukunan, Menjaga Keharmonisan

Memupuk kerukunan dan menjaga keharmonisan menjadi keharusan dalam kerangka penguatan tiga pilar utama.

Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi saat menggelar Tradisi Tutup Taun 1957 dan Ngemban Taun 1 Sura 1958, Sabtu 3 Agustus 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 17:02

Ketika Drainase Jalan Menjadi Hazard bagi Pemotor saat Banjir

Drainase jalan seharusnya menjadi solusi saat banjir. Namun dalam beberapa kasus, justru berubah menjadi sumber bahaya tersembunyi bagi pemotor.

Luapan saluran drainase menyebabkan arus banjir deras menggenangi badan jalan di Cianjur. (Sumber: Dok. Satlantas Polres Cianjur)
Beranda 31 Mar 2026, 16:35

Merangkai Kepercayaan Diri Remaja Difabel, Langkah Kecil Menuju Mandiri

Di Percik Insani, remaja difabel belajar membangun kepercayaan diri melalui aktivitas sederhana misalnya memasak hingga bermusik sebagai langkah kecil menuju kemandirian.

Livia bersama teman-temannya berlatih memainkan alat musik untuk membangun kepercayaan diri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 31 Mar 2026, 16:03

Chuan Jianguo, Olokan Sarkastik Warganet China untuk Kamerad Trump

Warganet China menciptakan julukan Chuan Jianguo sebagai bentuk humor politik yang mengkritik dampak kebijakan Donald Trump.

Gambar Chuan Jianguo, Kamerad Donald Trump di Weibo. (Sumber: Weibo)
Sejarah 31 Mar 2026, 14:07

Sejarah Cirebon Dijuluki Kota Udang

Julukan Kota Udang di Cirebon berakar dari sejarah panjang udang rebon sebagai komoditas utama yang membentuk identitas pesisir sejak dulu.

Ilustrasi julukan Cirebon sebagai Kota Udang. (Sumber: Shutterstock)
Beranda 31 Mar 2026, 12:44

Harimau Huru dan Hara, Dua Nyawa yang Melayang di Tengah Ketidakpastian Bandung Zoo

Kematian dua anak harimau di Bandung Zoo mengungkap rapuhnya pengelolaan di tengah konflik berkepanjangan. Di baliknya, muncul pertanyaan besar tentang keselamatan satwa dan masa depan konservasi.

Huru dan Hara mati akibat terinfeksi virus feline panleukopenia. Hara lebih dulu mati pada 24 Maret 2026, disusul Huru pada 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 11:26

Melanjutkan Lebaranomics, Membuka Pintu Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

Lebaranomics telah memompa pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 di angka 5,4–5,5 persen

Ilustrasi kegiatan masyarakat pesisir (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arditya Pramono)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 10:01

Mars Renced Bergema di Lapas Majalengka

D'Renced adalah band yang secara terbuka melalui karyanya akan terus membawa ide, kritik dan gagasan yang berkelanjutan

 (Foto: TIM Media Lapas Kelas II B Majengka)
Beranda 31 Mar 2026, 09:18

Tergusur Kemajuan Teknologi, Loper Koran di Ambang Kepunahan

Penurunan pembeli yang drastis membuat mereka bertahan di batas, menjalani hari sambil menunggu nasib profesi ini yang perlahan mendekati kepunahan.

Loper koran tetap berjalan menyusuri antrean kendaraan, meski kini orang terbiasa mencari informasi lewat ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 31 Mar 2026, 09:16

Victory Water Park Soreang, Gabungan Wisata Air dengan Kebun Binatang

Objek wisata Bandung dengan kolam ombak, arus, hingga mini zoo di Victory Water Park Soreang. Cocok untuk liburan keluarga dengan tiket terjangkau.

Objek wisata Bandung Victory Water Park Soreang. (Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 31 Mar 2026, 08:49

Macet Jadi Rutinitas, Forum Warga Desak Transformasi Transportasi Umum Kota Bandung

Kemacetan yang kian menjadi rutinitas mendorong warga Bandung bersuara. Melalui forum diskusi, mereka mendesak transformasi transportasi umum yang lebih terintegrasi, manusiawi, dan benar-benar berdam

Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 08:35

Tradisi ‘Ngadem’ dan Cara Kita Menjemput Langkah Baru di Tanah Kelahiran

Kembali berkativitas setelah menjalankan beberapa ritual di hari Lebaran.

Pantai Pangandaran. (Sumber: Pexels | Foto: laylia)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 19:45

Ganti Profesi Usai Lebaran, Mencari yang Lebih Cocok dengan Semangat Zaman

Banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang tidak langsung cocok dengan pekerjaan atau profesi pertamanya.

Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Bandung 30 Mar 2026, 17:03

The Hallway Space: Menyulap Pasar Tradisional Jadi Ruang Bisnis Kreatif Anak Bandung

The Hallway Space, ruang kebebasan dengan fungsi sebagai wadah cakupan kolektif dari para pelaku industri kreatif yang memiliki visi untuk bertumbuh bersama dalam satu cakupan ekosistem.

The Hallway Space, ruang kebebasan dengan fungsi sebagai wadah cakupan kolektif dari para pelaku industri kreatif yang memiliki visi untuk bertumbuh bersama dalam satu cakupan ekosistem. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 16:24

Anomali Saat Lebaran Tahun 1980-an

Pada hari Lebaran banyak orang-orang yang terlibat dalam permainan lotre atau judi padahal kbaru saja menjalani shaum Ramadan

Masjid Agung Bandung (Alun-Alun) pada tahun 1980-an. (Sumber: Twitter | Foto: @arbainrambey)
Linimasa 30 Mar 2026, 15:12

Jejak Serangan Berdarah Israel terhadap Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon

Sejarah mencatat berbagai serangan terhadap UNIFIL di Lebanon, dari tragedi Qana 1996 hingga insiden terbaru yang menewaskan prajurit Indonesia.

Latihan bersama Kontingen Garuda dengan Lebanese Armed Forces. (Sumber: tniad.mil.id)
Beranda 30 Mar 2026, 14:43

Jejak Perjalanan Motor Pemudik dari Kiaracondong ke Kampung Halaman

Mudik tak selalu identik dengan lelah di jalan. Lewat program Motis, ratusan sepeda motor diangkut dengan kereta dari Kiaracondong, menghadirkan perjalanan pulang yang lebih aman, ringan, dan manusiaw

Rapi berjejer, sepeda motor pemudik yang sudah “dibungkus” siap diberangkatkan menuju tujuan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 13:56

Kakarén dan Hidup Setelah Lebaran

Kakarén Lebaran bisa dibaca sebagai metafora yang menarik.

produksi kue kering di pabrik kue J&C Cookies, Cimenyan, Kabupaten Bandung pada Rabu, 27 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 12:37

Transportasi Laut Pemudik: Antara Pelayaran Rakyat Anak Tiri dan Pelayaran Pelat Merah Anak Emas

Kegiatan penyeberangan dengan pelayaran rakyat sarat dengan bahaya.

Ilustrasi kapal pelayaran rakyat. (Sumber: Pexels | Foto: Agus Triwinarso)