WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

3 menit baca
Henri Sinurat
Ditulis oleh Henri Sinurat diterbitkan
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)

Perdebatan mengenai work from home (WFH) kerap berhenti pada soal lokasi bekerja. Perdebatan tersebut kerap membahas bekerja dari rumah versus bekerja dari kantor. Dalam diskursus publik, WFH sering direduksi menjadi isu disiplin, absensi, atau kekhawatiran menurunnya pelayanan. Padahal, ada persoalan lain yang sesungguhnya jauh lebih mendasar. WFH bukan hanya memindahkan meja kerja dari kantor ke rumah, melainkan menantang cara lama kita memaknai kerja, kinerja, dan tanggung jawab.

Selama bertahun-tahun, baik birokrasi maupun korporasi di Indonesia tumbuh dalam budaya kerja yang menitikberatkan kehadiran fisik. Jam masuk, jam pulang, dan keberadaan pegawai di ruang kerja menjadi simbol utama produktivitas. Dalam kerangka ini, kerja dinilai dari waktu yang dilaksanakan seseorang dalam bekerja, bukan dari apa yang dihasilkan. WFH sejatinya bisa mengubah asumsi tersebut. Ketika kehadiran fisik tidak lagi dominan, ukuran kinerja mau tak mau harus bergeser ke hasil kerja (output).

Di sinilah WFH sesungguhnya bekerja sebagai alat transformasi budaya. WFH memaksa instansi menjawab pertanyaan “apa sebenarnya output pekerjaan pegawai?” Apa indikator keberhasilan yang nyata dan terukur? Ketika pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab dengan baik, WFH bisa saja dipersepsikan akan gagal. Namun, kegagalan itu bukan terletak pada sistem kerja jarak jauh, melainkan pada ketidakjelasan desain kerja itu sendiri.

Ilustrasi ASN. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi ASN. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

WFH juga berfungsi seperti cermin yang memantulkan kelemahan budaya organisasi. Dalam lingkungan kerja yang targetnya samar dan indikator kinerjanya normatif, maka ada kecenderungan bahwa kehadiran fisik akan terlihat sebagai formalitas saja. Meskipun perpektif ini bisa dibantahkan oleh para pegawai yang melaksanakan kegiatan pelayanan secara langsung. Sehingga paradigma budaya organisasi sudah selayaknya tidak lagi mengukur rutinitas kerja, melainkan pada hasil kerja yang berdampak.

Perubahan paradigma ini menuntut pergeseran peran kepemimpinan. Dalam budaya lama, pemimpin sering berfungsi sebagai pengawas kehadiran. Dalam budaya kerja berbasis hasil, pemimpin dituntut menjadi pengarah yang mampu menetapkan tujuan jelas dan menilai capaian secara objektif. WFH tidak ramah terhadap gaya kepemimpinan yang bertumpu pada mikromanajemen. Sebaliknya, keberadaan WFH menuntut kepemimpinan yang berbasis kepercayaan, kejelasan komunikasi, dan ketegasan dalam penilaian kinerja.

Tentu, tidak semua jenis pekerjaan cocok dilakukan secara penuh melalui WFH. Layanan publik tertentu menuntut kehadiran fisik dan respons langsung. Risiko penurunan kualitas layanan juga tidak bisa diabaikan. Namun, persoalannya bukan memilih antara WFH atau bekerja dari kantor secara mutlak. Persoalannya adalah apakah organisasi telah menyiapkan sistem kerja yang berbasis output, terlepas dari lokasi kerja. Tanpa sistem itu, bekerja di kantor pun tidak menjamin produktivitas dan pelayanan yang lebih baik.

WFH juga menantang etos kerja individual. Ketika pengawasan fisik berkurang, tanggung jawab personal menjadi penentu utama. Disiplin tidak lagi ditegakkan oleh jam absensi, melainkan oleh komitmen terhadap hasil. Dalam konteks ini, WFH sejatinya mendorong kedewasaan hubungan kerja. Baik hubungan kerja bagi pegawai maupun organisasi.

Bagi sektor publik, transformasi ini memiliki implikasi lebih luas. Kepercayaan masyarakat terhadap negara tidak dibangun dari keberadaan pegawai di kantor, melainkan dari kualitas layanan yang dirasakan. Jika WFH disertai dengan kejelasan standar layanan, transparansi kinerja, dan akuntabilitas hasil, kerja jarak jauh justru dapat memperkuat kepercayaan publik. Sebaliknya, jika WFH hanya dipahami sebagai kelonggaran administratif tanpa pembenahan sistem kinerja, maka WFH akan dengan mudah memicu sentimen sosial.

Pada akhirnya, WFH hanyalah alat yang bisa menjadi instrumen percepatan reformasi budaya kerja. WFH juga bukan tidak mungkin hanya akan melahirkan ketidakpercayaan publik dalam pelaksanaannya. Pilihan itu ditentukan oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang melaksanakan WFH.

WFH tidak sedang menguji di mana ASN bekerja, melainkan apakah ASN benar-benar memahami arti bekerja. Tanpa transformasi budaya kerja yang berorientasi pada output dan tanggung jawab, WFH hanyalah perpindahan alamat. Dengan transformasi tersebut, WFH dapat menjadi titik balik menuju budaya kerja yang lebih baik dan efektif. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Henri Sinurat
Tentang Henri Sinurat
Analis Kebijakan Pusat Pembelajaran Dan Strategi Kebijakan Talenta Aparatur Sipil Negara Nasional Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Jul 2026, 15:15

Pentingnya Merawat Imajinasi untuk Memahami Literasi

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis.

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 14:47

Mewujudkan MPLS yang Ramah dan Nyaman untuk Anak

MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) bertujuan mengajak siswa mengenal lingkungan sekolah sebelum akhirnya menjalani hari-hari dengan baik dan menyenangkan di sekolah.

Sejumlah siswa dari SMP-SMA Advent Cimindi memunguti sampah di Jalan Babakan Cianjur, Kota Bandung, saat para mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) 2023-2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 14 Jul 2026, 14:00

Malam Jalan Soekarno-Hatta Bandung yang Tak Tidur

Jalan Soekarno-Hatta Bandung tetap ramai hingga dini hari, dari lalu lintas, balap liar, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Suasana malam di Jalan Soekarno-Hatta Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 10:54

Asyiknya Menggambar, Mewarnai, dan Merawat Imajinasi

Setiap gambar memiliki cerita, dan setiap kisah layak untuk didengarkan dan disuarakan. Terlebih di tengah-tengah derasnya arus media informasi dan kecanduan gawai.

Aa Akil dan Kakang tengah asyik mewarnai di salah satu gerai es krim di Cipadung, Selasa 22 Juli 2025 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 09:54

Membangun Integritas sebagai DNA Utama Aparatur

Integritas benar-benar meresap menjadi DNA dalam setiap urat nadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kita.

Ilustrasi ASN. (Sumber: Dok. Kemenpan)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 08:56

Pesan Tersembunyi dari Empat Semifinalis Piala Dunia 2026

Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris memiliki satu kesamaan: mereka tidak hanya memiliki sebelas pemain hebat.

Ilustrasi semifinalis Piala Dunia 2026. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 19:03

Ketika Kebebasan Ber-(SUARA) Disalahpahami

Katanya Silahkan jadi Penulis yang Kritis tapi jangan abcd

Ilustrasi kebebasan berpendapat. (Sumber: Pexels | Foto: Dany Kurniawan)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 18:39

Anak Cerdas Tak Bisa Kuliah

Ribuan anak cerdas terancam gagal kuliah karena biaya. Persoalan bermuara pada paradigma pendidikan, bukan hanya UKT.

Ilustrasi topi wisuda saat simbolisasi lulus kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 17:25

Jelajah Leuwi Raksamala Ciamis, Lubuk Tersembunyi di Kawasan Curug Jami

Cari hidden gem di Ciamis? Leuwi Raksamala dekat Curug Jami menawarkan kolam alami, air jernih, dan suasana tenang. Cek panduan wisata lengkapnya di sini.

Leuwi Raksamala Ciamis. (Sumber: TikTok @heru_montana2)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 17:00

Tumbal Pembangunan Halus Berupa Pengusiran Pedagang Cicaheum demi Depo Bus Modern

Kios pedagang Terminal Cicaheum akan dibongkar demi depo BRT. Kompensasi Rp2-3 juta dinilai jauh dari nilai puluhan tahun mata pencaharian mereka.

Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:40

Selebrasi Ikonik Piala Dunia

Pertandingan Piala Dunia menghadirkan beberapa selebrasi gol ikonik yang masih menjadi perhatian masyarakat dunia sampai saat ini

Selebrasi khas Brian Laudrup di Piala Dunia 1998. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:06

Mengintip Strategi Public Relations Writing dalam Kampanye Brand Olahraga di Piala Dunia 2026

Analisis strategi public relations writing Adidas dalam kampanye “Backyard Legends” menjelang Piala Dunia 2026 melalui website dan Instagram untuk memperkuat citra brand.

Kampanye Piala Dunia 2026. (Sumber: .adidas.com/world-cup-2026)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:25

Saya, Lapar, dan Knut Hamsun

Entah ini memang takdir, atau kesengajaan yang konyol. Saya membaca Lapar (Sult/Hunger) karangan Knut Hamsun dalam keadaan lapar, benar-benar lapar.

Buku "Hunger" (Lapar) karya Knut Hamsun. (Sumber: oldsovereignpublishing.com)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:08

Politik Bandung Terlalu Sibuk Mencari Ikon

Politik perkotaan kerap bergerak di antara dua kepentingan: yang pertama adalah membangun citra kota, yang kedua adalah mengelola kehidupan kota sehari-hari. 

Sejumlah warga Bandung, dibantu sanggota Satlantas Polresta Bandung, sedang antre air bersih.
sedang mengantre air bersih, (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 13:19

Merayakan Keragaman, Memupuk Kerukunan 

Keragaman, kerukunan, toleransi sejatinya tidak hanya lahir dari ruang-ruang dialog, seminar, regulasi negara.

Warga mengikuti Upacara Adat Tutup Taun 1956 Ngemban Taun 1 Sura 1957 Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 11:48

Museum Kretek Kudus: Sejarah, Harga Tiket, Koleksi, dan Jam Buka

Museum Kretek Kudus merupakan satu-satunya museum rokok di Indonesia. Simak sejarah, koleksi, harga tiket, jam buka, dan daya tariknya di sini.

Museum Kretek Kudus. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 11:15

Budaya NG.O.P.I Anak Muda Sekarang: NGeluarin Opini 'Pragmatis vs Idealis'

Ketika pola pikir pragmatis dan idealis pada generasi muda yang memengaruhi orientasi dalam proses beropini.

Ilustrasi ngopi. (Sumber: Pexels | Foto: Thanh Bui)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 10:59

Pengaruh Pembangunan Rel Kereta di Ciwidey untuk Mata Pencaharian Pribumi (1917-1924)

Sedikit gambaran mengenai mata pencaharian masyarakat ketika pembangunan rel kereta di Ciwidey.

 (Sumber: ebay.com | Foto: ebay.com)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 09:07

Perjuangan Pustakawan Menghadirkan Buku Bergizi Gratis

Pustakawan tidak bisa dianggap sebagai profesi yang mudah.

Ilustrasi buku-buku di perpustakaan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 08:58

Urgensi Koperasi untuk Sektor Mekanisasi Pertanian Berkelanjutan

KDMP mestinya tumbuh menjadi koperasi yang mendukung peningkatan produksi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.

Ilustrasi Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 (Sumber: Kreasi dengan bantuan Gemini | Foto: dokpri Totok Siswantara)