Sejarah Rumah Sakit Cicendo Bandung, Lawan Kebutaan Sejak 1909

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Rabu 14 Jan 2026, 15:12 WIB
RS Mata Cicendo, Bandung. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)

RS Mata Cicendo, Bandung. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)

AYOBANDUNG.ID - Bagi banyak orang, Cicendo bukan sekadar nama kawasan di Bandung. Ia sudah berubah menjadi sinonim urusan mata. Begitu pendengaran menangkap kata Cicendo, bayangan yang muncul bukan persimpangan jalan atau deretan rumah, melainkan antrean pasien, ruang periksa, dan dokter mata. Semua itu berkat satu institusi yang telah berdiri lebih dari satu abad: Rumah Sakit Mata Cicendo.

Pengasosiasian semacam ini jarang terjadi. Tidak banyak wilayah yang namanya melekat kuat pada satu jenis layanan kesehatan. Cicendo mengalaminya bukan karena kebetulan, melainkan karena konsistensi peran. Selama lebih dari satu abad, rumah sakit ini terus berada di pusat persoalan penglihatan masyarakat Indonesia, dari penyakit mata akibat kekurangan gizi hingga gangguan retina yang membutuhkan teknologi mutakhir.

RS Mata Cicendo lahir pada 3 Januari 1909, saat Bandung masih berstatus kota kolonial yang sedang tumbuh. Nama aslinya cukup panjang dan berbau kerajaan, Koningen Wilhelmina Gasthuis voor Ooglijders. Kurang lebih artinya rumah sakit Ratu Wilhelmina untuk penderita penyakit mata. Dari namanya saja sudah jelas, urusan mata waktu itu dianggap cukup serius sampai butuh rumah sakit khusus. Bukan tanpa alasan, wabah penyakit mata seperti trachoma dan xerophthalmia yang bisa menyebabkan kebutaan kala itu menyebar luas, terutama di kalangan masyarakat pribumi.

Cicendo didirikan bukan sebagai proyek mercusuar, melainkan respons darurat. Klinik mata rawat jalan di Bandung sejak 1905 kebanjiran pasien. Orang datang dengan mata merah, perih, kabur, bahkan sudah tak bisa melihat. Di balik antrean itu, pemerintah kolonial mulai sadar bahwa kebutaan bukan sekadar masalah individu, tapi urusan sosial dan ekonomi. Maka lahirlah rumah sakit mata permanen, dipimpin oleh dokter mata Belanda bernama C.H.A. Westhoff.

Baca Juga: Sejarah Masjid Mungsolkanas, Tertua di Kota Bandung Sejak 1869

Westhoff bukan tipe dokter yang betah duduk di balik meja. Selain mengelola rumah sakit, ia aktif mendorong layanan kesehatan mata keluar dari tembok gedung. Cicendo sejak awal tidak puas hanya menunggu pasien datang. Pada dekade 1930-an, layanan keliling mulai digerakkan ke daerah sekitar Bandung seperti Sumedang, Tanjungsari, Conggeang, Darmaraja, Situraja, hingga Legok. Untuk ukuran zamannya, ini langkah maju. Jalan belum mulus, transportasi terbatas, tapi dokter dan perawat tetap berangkat. Mata orang kampung tak boleh kalah oleh jarak.

RS Cicendo zaman baheula. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)
RS Cicendo zaman baheula. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)

Dari Rumah Sakit Kolonial ke Sekolah Para Dokter

Perjalanan RS Mata Cicendo tidak selalu lurus. Masa pendudukan Jepang 1942 sampai 1945 menjadi periode ketika identitasnya sempat berubah. Rumah sakit ini dialihfungsikan menjadi rumah sakit umum, menggantikan RS Rancabadak yang dijadikan rumah sakit militer. Spesialisasi mata sementara dikesampingkan. Dalam situasi perang dan krisis, rumah sakit harus lentur. Bertahan dulu, soal fokus bisa menyusul.

Setelah Indonesia merdeka, Cicendo kembali ke khitahnya. Tahun 1961 menjadi titik penting ketika rumah sakit ini resmi menjadi rumah sakit pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Artinya, Cicendo tidak lagi sekadar tempat berobat, tetapi juga tempat belajar. Mahasiswa kedokteran mulai mengenal bau obat mata, ruang operasi kecil, dan pasien yang matanya ditutup perban putih.

Tahun 1968, perannya bertambah. Cicendo mulai menjadi tempat pendidikan dokter spesialis mata. Dari sinilah banyak dokter mata Indonesia lahir, kemudian pulang ke daerah masing masing membawa ilmu. Jika hari ini hampir setiap provinsi punya dokter spesialis mata, salah satu akarnya bisa ditarik ke Cicendo.

Baca Juga: Hikayat Bandara Kertajati: Lahir dari Keyakinan, Sepi Ditinggal Kenyataan

Pada dekade 1970-an, peran rumah sakit ini makin strategis. Tahun 1976, Cicendo ditetapkan sebagai pusat kegiatan bank mata dan pusat peringatan Hari Kesehatan Sedunia dengan tema pencegahan kebutaan. Bank mata bukan sekadar istilah medis, melainkan upaya konkret menyelamatkan penglihatan melalui transplantasi kornea. Mata bukan lagi takdir, tetapi sesuatu yang bisa diperjuangkan.

Fungsi nasional RS Mata Cicendo juga terlihat dari perannya sebagai pusat bank mata dan rujukan kasus-kasus kompleks. Pasien dengan gangguan mata berat dari berbagai penjuru Indonesia akhirnya bermuara ke Bandung. Dari Aceh hingga Papua, nama Cicendo dikenal sebagai tempat terakhir untuk mencari harapan penglihatan. Status sebagai rumah sakit rujukan nasional bukan sekadar label administratif, melainkan refleksi dari kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun.

Pada periode yang sama, RS Mata Cicendo juga terlibat dalam riset pencegahan defisiensi vitamin A. Penelitian ini berkontribusi besar pada kebijakan suplementasi vitamin A nasional yang kemudian berhasil menurunkan kasus xerophtalmia secara signifikan. Data penerimaan pasien pada dekade berikutnya menunjukkan penurunan tajam kasus penyakit tersebut, menandai keberhasilan pendekatan berbasis riset dan kebijakan kesehatan masyarakat.

Pengakuan kelembagaan terus meningkat. Pada akhir 1970-an, RS Mata Cicendo ditetapkan sebagai rumah sakit tipe C, sebelum kemudian berkembang menjadi rumah sakit rujukan nasional tipe B pada 1992. Status ini menempatkan Cicendo sebagai tujuan akhir bagi kasus-kasus mata yang kompleks dari berbagai daerah, termasuk wilayah yang belum memiliki layanan spesialis memadai.

Era 2000-an, RS Mata Cicendo berada di persimpangan yang khas dialami banyak rumah sakit pemerintah. Di satu sisi ada tuntutan reformasi layanan kesehatan, di sisi lain ada warisan sistem lama yang tidak mudah ditinggalkan. Akreditasi pun mulai dijalankan secara bertahap. Rumah sakit ini tetap menjadi rujukan pasien dari berbagai daerah, tetapi wajah pelayanannya mulai menyesuaikan diri dengan zaman yang bergerak lebih cepat. Jumlah pasien terus bertambah, ragam keluhan makin beragam, dan ekspektasi masyarakat terhadap layanan kesehatan tak lagi sama seperti satu atau dua dekade sebelumnya. Di ruang-ruang tunggu, orang tak hanya berharap sembuh, tetapi juga ingin dilayani dengan lebih layak.

Perubahan itu terasa dalam hal-hal yang sederhana. Alur pelayanan diperbaiki agar antrean tidak selalu berujung pada kelelahan berjam-jam. Peralatan medis diperbarui secara bertahap, memungkinkan dokter bekerja dengan ketelitian yang lebih tinggi. Banyak tindakan yang dulu membutuhkan waktu lama kemudian bisa dilakukan lebih cepat, meski tetap dengan kehati-hatian.

Pada 2007, RS Mata Cicendo ditetapkan sebagai rumah sakit khusus kelas A pendidikan. Penetapan ini menandai peran Cicendo sebagai tempat rujukan sekaligus ruang belajar bagi pendidikan dokter mata. Mahasiswa dan dokter muda datang dan pergi, belajar dari kasus-kasus nyata yang setiap hari memenuhi ruang periksa. Rumah sakit ini menjadi semacam laboratorium hidup, tempat teori bertemu dengan kenyataan: mata yang rusak oleh usia, penyakit, kecelakaan, atau kemiskinan yang membuat pengobatan tertunda terlalu lama. Dari sanalah pengetahuan berkembang, bukan hanya dari buku, tetapi dari tatapan pasien yang berharap bisa melihat kembali.

Baca Juga: Sejarah RSHS Bandung, Rumah Sakit Tertua di Jawa Barat Warisan Era Hindia Belanda

Pada 2009, ketika RS Mata Cicendo ditetapkan sebagai Pusat Mata Nasional, maknanya terasa lebih luas daripada sekadar penambahan status. Rumah sakit ini semakin sering menjadi tujuan rujukan untuk kasus-kasus yang tidak bisa ditangani di daerah. Pasien datang dari berbagai penjuru Indonesia, membawa cerita dan latar belakang yang berbeda-beda. Cicendo pun perlahan berubah menjadi cermin persoalan kesehatan mata nasional: ketimpangan akses, keterlambatan penanganan, dan beban penyakit yang seharusnya bisa dicegah sejak awal.

Dalam tahun-tahun berikutnya, upaya mendekatkan layanan ke masyarakat dilakukan melalui pembukaan klinik-klinik satelit. Meski tidak selalu berada di pusat perhatian, keberadaan klinik ini membantu banyak orang mendapatkan layanan lebih awal, sebelum penyakit mata berkembang terlalu jauh.

Setelah lebih dari satu abad, RS Mata Cicendo berdiri sebagai institusi yang terus bergerak mengikuti perubahan, tanpa sepenuhnya meninggalkan beban masa lalu. Dari masa ketika penyakit mata menular menjadi ancaman utama, hingga era operasi berteknologi tinggi yang menuntut ketepatan ekstrem, Cicendo mencatat perjalanan panjang kesehatan mata di Indonesia. Setiap pasien yang datang selalu membawa harapan paling sederhana: bisa melihat dunia dengan lebih jelas

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Bandung 06 Mar 2026, 21:24

Simfoni Terakhir Risa Saraswati: Mengapa "Danur: The Last Chapter" Menjadi Ritual Horor Lebaran yang Wajib Ditonton

Setelah jeda panjang sejak 2019, film Danur: The Last Chapter bersiap menduduki takhta bioskop mulai 18 Maret 2026 sebagai puncak dari semesta Danur Universe yang fenomenal.

Setelah jeda panjang sejak 2019, film Danur: The Last Chapter bersiap menduduki takhta bioskop mulai 18 Maret 2026 sebagai puncak dari semesta Danur Universe yang fenomenal. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Sejarah 06 Mar 2026, 20:27

Sejarah THR di Indonesia, Berawal dari Persekot Pamong Praja

Sejarah THR menyimpan kisah mogok kerja, regulasi yang setengah hati, hingga perubahan istilah dari hadiah menjadi tunjangan yang wajib dibayar.

Ilustrasi THR lebaran.
Ayo Netizen 06 Mar 2026, 20:23

Perang, Arang, dan Haruedang

Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum untuk meredam “perang” (perang melawan hawa nafsu) yang paling dekat dengan diri manusia.

Anak-anak yang tergabung dalam Komunitas Hong sedang asyik bermain kaulinan tradisional, babalonan sarung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Danny)
Ayo Netizen 06 Mar 2026, 18:02

Suasana Bandung Menjelang Lebaran dalam Iklan Koran Tahun 1960-an

Membaca koran lawas dan majalah lama selalu menghadirkan sensasi tersendiri.

Potongan iklan toko kain dan pakaian yang dimuat di surat kabar Bandung pada era 1960-1970-an, menggambarkan semarak persiapan masyarakat menyambut Lebaran pada masa itu. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Bandung 06 Mar 2026, 18:00

Meminang Gaya di Hari Raya, Tradisi 'Baju Baru' dan Kebangkitan Brand Lokal di Trademark Market 2026

Trademark Market 2026 hadir menjadi jawaban bagi mereka yang ingin merayakan Lebaran dengan sentuhan otentik jenama lokal.

Trademark Market 2026 hadir menjadi jawaban bagi mereka yang ingin merayakan Lebaran dengan sentuhan otentik jenama lokal. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 06 Mar 2026, 16:09

Menelusuri Jejak Rasa Soto Banjir, Kuliner Legendaris Cibadak sejak 1955

Tak seperti anak kemarin sore, usaha Soto Banjir telah didirikan sejak tahun 1955 yang pada akhirnya diwariskan secara turun-temurun sesuai jumlah anak laki-laki di keluarga.

Tak seperti anak kemarin sore, usaha Soto Banjir telah didirikan sejak tahun 1955 yang pada akhirnya diwariskan secara turun-temurun sesuai jumlah anak laki-laki di keluarga. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 06 Mar 2026, 15:05

Sejarah Tarawih Berjamaah di Times Square

Dimulai pada Ramadan 2022, tarawih di Times Square berkembang menjadi agenda tahunan yang memperlihatkan kehadiran Muslim di ruang publik New York.

Suasana tarawih di New York Times Square.
Ayo Netizen 06 Mar 2026, 14:30

Menjelang Lebaran di Peternakan Tua Lembang 1930

Suasana Lembang saat akan Lebaran pada masa kolonial.

Pemandangan jalan menuju Observatorium Bosscha tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 06 Mar 2026, 11:53

Antara Romantisme Syawal dan Realita Selat Hormuz

Kemenangan Syawal tahun ini bukan lagi soal selebrasi, melainkan ketangguhan setiap individu dalam mengelola dompet di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Selat Hormuz. (Sumber: Wikimedia Commons /Lisensi CC)
Ayo Netizen 06 Mar 2026, 10:16

Percuma Menahan Lapar Jika 5 Hal Ini Masih Dilakukan: Pelajaran dari Kitab Durratun Nasihin

Mengkaji kitab klasik Durratun Nasihin, membedah 5 hal sepele di media sosial yang tanpa sadar menghanguskan seluruh berkah Ramadan kita.

Distraksi sosial media (Sumber: Unplash)
Linimasa 06 Mar 2026, 09:32

Madrasah Rumi, Mengkaji Syair Jalaluddin Rumi Saat Ramadan

Madrasah Rumi menggelar pengajian Ramadan di UIN Bandung dengan membedah puisi Jalaluddin Rumi melalui diskusi, pembacaan, dan musikalisasi puisi.

Kegiatan Ramadan Madrasah Rumi. (Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 06 Mar 2026, 07:09

Ngabuburit di Tengah Pembatasan: Cerita Pengunjung dan Pedagang di Alun-Alun Bandung

Hamparan rumput sintetis yang biasanya dipenuhi keluarga dan anak-anak tampak lengang. Area taman di tengah alun-alun ditutup sementara.

Warga memanfaatkan Majid Agung Bandung untuk ngebuburit. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 05 Mar 2026, 21:19

UIN Bandung Sebelum dan Sesudah Magrib Saat Ramadan

Setiap Ramadan, kawasan UIN Sunan Gunung Djati Bandung berubah ramai oleh mahasiswa yang ngabuburit dan berburu takjil.

Suasana menjelang magrib saat Ramadan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)