Sejarah Rumah Sakit Cicendo Bandung, Lawan Kebutaan Sejak 1909

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
RS Mata Cicendo, Bandung. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)
RS Mata Cicendo, Bandung. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)

AYOBANDUNG.ID - Bagi banyak orang, Cicendo bukan sekadar nama kawasan di Bandung. Ia sudah berubah menjadi sinonim urusan mata. Begitu pendengaran menangkap kata Cicendo, bayangan yang muncul bukan persimpangan jalan atau deretan rumah, melainkan antrean pasien, ruang periksa, dan dokter mata. Semua itu berkat satu institusi yang telah berdiri lebih dari satu abad: Rumah Sakit Mata Cicendo.

Pengasosiasian semacam ini jarang terjadi. Tidak banyak wilayah yang namanya melekat kuat pada satu jenis layanan kesehatan. Cicendo mengalaminya bukan karena kebetulan, melainkan karena konsistensi peran. Selama lebih dari satu abad, rumah sakit ini terus berada di pusat persoalan penglihatan masyarakat Indonesia, dari penyakit mata akibat kekurangan gizi hingga gangguan retina yang membutuhkan teknologi mutakhir.

RS Mata Cicendo lahir pada 3 Januari 1909, saat Bandung masih berstatus kota kolonial yang sedang tumbuh. Nama aslinya cukup panjang dan berbau kerajaan, Koningen Wilhelmina Gasthuis voor Ooglijders. Kurang lebih artinya rumah sakit Ratu Wilhelmina untuk penderita penyakit mata. Dari namanya saja sudah jelas, urusan mata waktu itu dianggap cukup serius sampai butuh rumah sakit khusus. Bukan tanpa alasan, wabah penyakit mata seperti trachoma dan xerophthalmia yang bisa menyebabkan kebutaan kala itu menyebar luas, terutama di kalangan masyarakat pribumi.

Cicendo didirikan bukan sebagai proyek mercusuar, melainkan respons darurat. Klinik mata rawat jalan di Bandung sejak 1905 kebanjiran pasien. Orang datang dengan mata merah, perih, kabur, bahkan sudah tak bisa melihat. Di balik antrean itu, pemerintah kolonial mulai sadar bahwa kebutaan bukan sekadar masalah individu, tapi urusan sosial dan ekonomi. Maka lahirlah rumah sakit mata permanen, dipimpin oleh dokter mata Belanda bernama C.H.A. Westhoff.

Baca Juga: Sejarah Masjid Mungsolkanas, Tertua di Kota Bandung Sejak 1869

Westhoff bukan tipe dokter yang betah duduk di balik meja. Selain mengelola rumah sakit, ia aktif mendorong layanan kesehatan mata keluar dari tembok gedung. Cicendo sejak awal tidak puas hanya menunggu pasien datang. Pada dekade 1930-an, layanan keliling mulai digerakkan ke daerah sekitar Bandung seperti Sumedang, Tanjungsari, Conggeang, Darmaraja, Situraja, hingga Legok. Untuk ukuran zamannya, ini langkah maju. Jalan belum mulus, transportasi terbatas, tapi dokter dan perawat tetap berangkat. Mata orang kampung tak boleh kalah oleh jarak.

RS Cicendo zaman baheula. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)
RS Cicendo zaman baheula. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)

Dari Rumah Sakit Kolonial ke Sekolah Para Dokter

Perjalanan RS Mata Cicendo tidak selalu lurus. Masa pendudukan Jepang 1942 sampai 1945 menjadi periode ketika identitasnya sempat berubah. Rumah sakit ini dialihfungsikan menjadi rumah sakit umum, menggantikan RS Rancabadak yang dijadikan rumah sakit militer. Spesialisasi mata sementara dikesampingkan. Dalam situasi perang dan krisis, rumah sakit harus lentur. Bertahan dulu, soal fokus bisa menyusul.

Setelah Indonesia merdeka, Cicendo kembali ke khitahnya. Tahun 1961 menjadi titik penting ketika rumah sakit ini resmi menjadi rumah sakit pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Artinya, Cicendo tidak lagi sekadar tempat berobat, tetapi juga tempat belajar. Mahasiswa kedokteran mulai mengenal bau obat mata, ruang operasi kecil, dan pasien yang matanya ditutup perban putih.

Tahun 1968, perannya bertambah. Cicendo mulai menjadi tempat pendidikan dokter spesialis mata. Dari sinilah banyak dokter mata Indonesia lahir, kemudian pulang ke daerah masing masing membawa ilmu. Jika hari ini hampir setiap provinsi punya dokter spesialis mata, salah satu akarnya bisa ditarik ke Cicendo.

Baca Juga: Hikayat Bandara Kertajati: Lahir dari Keyakinan, Sepi Ditinggal Kenyataan

Pada dekade 1970-an, peran rumah sakit ini makin strategis. Tahun 1976, Cicendo ditetapkan sebagai pusat kegiatan bank mata dan pusat peringatan Hari Kesehatan Sedunia dengan tema pencegahan kebutaan. Bank mata bukan sekadar istilah medis, melainkan upaya konkret menyelamatkan penglihatan melalui transplantasi kornea. Mata bukan lagi takdir, tetapi sesuatu yang bisa diperjuangkan.

Fungsi nasional RS Mata Cicendo juga terlihat dari perannya sebagai pusat bank mata dan rujukan kasus-kasus kompleks. Pasien dengan gangguan mata berat dari berbagai penjuru Indonesia akhirnya bermuara ke Bandung. Dari Aceh hingga Papua, nama Cicendo dikenal sebagai tempat terakhir untuk mencari harapan penglihatan. Status sebagai rumah sakit rujukan nasional bukan sekadar label administratif, melainkan refleksi dari kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun.

Pada periode yang sama, RS Mata Cicendo juga terlibat dalam riset pencegahan defisiensi vitamin A. Penelitian ini berkontribusi besar pada kebijakan suplementasi vitamin A nasional yang kemudian berhasil menurunkan kasus xerophtalmia secara signifikan. Data penerimaan pasien pada dekade berikutnya menunjukkan penurunan tajam kasus penyakit tersebut, menandai keberhasilan pendekatan berbasis riset dan kebijakan kesehatan masyarakat.

Pengakuan kelembagaan terus meningkat. Pada akhir 1970-an, RS Mata Cicendo ditetapkan sebagai rumah sakit tipe C, sebelum kemudian berkembang menjadi rumah sakit rujukan nasional tipe B pada 1992. Status ini menempatkan Cicendo sebagai tujuan akhir bagi kasus-kasus mata yang kompleks dari berbagai daerah, termasuk wilayah yang belum memiliki layanan spesialis memadai.

Era 2000-an, RS Mata Cicendo berada di persimpangan yang khas dialami banyak rumah sakit pemerintah. Di satu sisi ada tuntutan reformasi layanan kesehatan, di sisi lain ada warisan sistem lama yang tidak mudah ditinggalkan. Akreditasi pun mulai dijalankan secara bertahap. Rumah sakit ini tetap menjadi rujukan pasien dari berbagai daerah, tetapi wajah pelayanannya mulai menyesuaikan diri dengan zaman yang bergerak lebih cepat. Jumlah pasien terus bertambah, ragam keluhan makin beragam, dan ekspektasi masyarakat terhadap layanan kesehatan tak lagi sama seperti satu atau dua dekade sebelumnya. Di ruang-ruang tunggu, orang tak hanya berharap sembuh, tetapi juga ingin dilayani dengan lebih layak.

Perubahan itu terasa dalam hal-hal yang sederhana. Alur pelayanan diperbaiki agar antrean tidak selalu berujung pada kelelahan berjam-jam. Peralatan medis diperbarui secara bertahap, memungkinkan dokter bekerja dengan ketelitian yang lebih tinggi. Banyak tindakan yang dulu membutuhkan waktu lama kemudian bisa dilakukan lebih cepat, meski tetap dengan kehati-hatian.

Pada 2007, RS Mata Cicendo ditetapkan sebagai rumah sakit khusus kelas A pendidikan. Penetapan ini menandai peran Cicendo sebagai tempat rujukan sekaligus ruang belajar bagi pendidikan dokter mata. Mahasiswa dan dokter muda datang dan pergi, belajar dari kasus-kasus nyata yang setiap hari memenuhi ruang periksa. Rumah sakit ini menjadi semacam laboratorium hidup, tempat teori bertemu dengan kenyataan: mata yang rusak oleh usia, penyakit, kecelakaan, atau kemiskinan yang membuat pengobatan tertunda terlalu lama. Dari sanalah pengetahuan berkembang, bukan hanya dari buku, tetapi dari tatapan pasien yang berharap bisa melihat kembali.

Baca Juga: Sejarah RSHS Bandung, Rumah Sakit Tertua di Jawa Barat Warisan Era Hindia Belanda

Pada 2009, ketika RS Mata Cicendo ditetapkan sebagai Pusat Mata Nasional, maknanya terasa lebih luas daripada sekadar penambahan status. Rumah sakit ini semakin sering menjadi tujuan rujukan untuk kasus-kasus yang tidak bisa ditangani di daerah. Pasien datang dari berbagai penjuru Indonesia, membawa cerita dan latar belakang yang berbeda-beda. Cicendo pun perlahan berubah menjadi cermin persoalan kesehatan mata nasional: ketimpangan akses, keterlambatan penanganan, dan beban penyakit yang seharusnya bisa dicegah sejak awal.

Dalam tahun-tahun berikutnya, upaya mendekatkan layanan ke masyarakat dilakukan melalui pembukaan klinik-klinik satelit. Meski tidak selalu berada di pusat perhatian, keberadaan klinik ini membantu banyak orang mendapatkan layanan lebih awal, sebelum penyakit mata berkembang terlalu jauh.

Setelah lebih dari satu abad, RS Mata Cicendo berdiri sebagai institusi yang terus bergerak mengikuti perubahan, tanpa sepenuhnya meninggalkan beban masa lalu. Dari masa ketika penyakit mata menular menjadi ancaman utama, hingga era operasi berteknologi tinggi yang menuntut ketepatan ekstrem, Cicendo mencatat perjalanan panjang kesehatan mata di Indonesia. Setiap pasien yang datang selalu membawa harapan paling sederhana: bisa melihat dunia dengan lebih jelas

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.