Sejarah Masjid Mungsolkanas, Tertua di Kota Bandung Sejak 1869

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Suasana Masjid Mungsolkanas zaman baheula.
Suasana Masjid Mungsolkanas zaman baheula.

AYOBANDUNG.ID - Sebelum Cihampelas mengenal mall Ciwalk dan proyek teras gagal, sebelum Bandung sibuk mengurus identitas kosmopolitan, Masjid Mungsolkanas sudah lebih dulu berdiri dan berfungsi. Ia dibangun untuk satu hal sederhana: orang datang, beribadah, lalu pulang dengan kepala sedikit lebih tenang.

Masjid ini berdiri sejak 1869, ketika Bandung belum menjadi kota wisata, belum menjadi ibu kota kreatif, bahkan belum sepenuhnya menjadi kota. Saat itu Bandung masih berupa hamparan kebun, perkampungan kecil, dan jalan tanah yang lebih sering dilalui kerbau daripada kendaraan bermotor. Jika Cihampelas hari ini dikenal sebagai pusat belanja, maka Cihampelas pada abad ke-19 lebih pantas disebut sebagai jalur sunyi di pinggiran kota kolonial.

Keberadaan Masjid Mungsolkanas menjadikannya masjid tertua di Bandung Utara. Usianya lebih dari satu setengah abad, lebih tua dari Masjid Cipaganti yang sering disebut sebagai ikon masjid bersejarah Bandung. Mungsolkanas lahir jauh sebelum Bandung sibuk memoles diri sebagai Paris van Java.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Sejarah mencatat Masjid Mungsolkanas didirikan oleh seorang ulama asal Garut bernama KH Abdurrohim, yang lebih dikenal oleh masyarakat Sunda dengan panggilan Mama Aden. Dalam tradisi Sunda, sebutan “Mama” bukan sekadar sapaan, melainkan penanda kewibawaan keilmuan. Ia disematkan kepada ulama yang bukan hanya paham kitab, tetapi juga menjadi rujukan masyarakat dan guru bagi banyak ajengan lainnya.

Kedatangan Mama Aden ke Bandung pada dekade 1860-an membawa misi yang sederhana sekaligus berat: membangun masjid dan menghidupkan pesantren. Saat itu, Bandung berada dalam cengkeraman pemerintahan kolonial Belanda. Kehidupan umat Islam berjalan dalam kesunyian, tanpa fasilitas besar, tanpa sokongan negara, dan sepenuhnya bergantung pada kekuatan komunitas.

Tanah tempat Masjid Mungsolkanas berdiri bukan hasil rampasan, bukan pula hadiah pemerintah kolonial. Ia berasal dari wakaf seorang perempuan bernama Siti Lantenas, seorang janda berada yang suaminya, R. Suradipura, wafat pada tahun yang sama dengan berdirinya masjid tersebut. Wakaf ini menjadi fondasi awal berdirinya masjid sekaligus pesantren, sebuah kombinasi klasik dalam sejarah Islam Nusantara.

Baca Juga: Sejarah Gereja Santo Petrus, Katedral Tertua di Bandung

Yang membuat Masjid Mungsolkanas semakin unik adalah namanya. Di tengah tradisi penamaan masjid yang lazim menggunakan istilah Arab atau nama tokoh Islam besar, Mungsolkanas justru memilih jalur berbeda. Nama ini merupakan akronim dari kalimat berbahasa Sunda yang mengajak umat untuk membaca salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pendek, lokal, dan langsung ke inti pesan.

Nama ini mencerminkan cara dakwah Mama Aden yang membumi. Islam tidak disampaikan dengan istilah yang menjauhkan, tetapi dengan bahasa sehari-hari yang akrab di telinga masyarakat. Jika masjid lain berbicara dalam bahasa langit, Mungsolkanas berbicara dalam bahasa dapur dan beranda rumah.

Baca Juga: Hikayat Cicadas, Kerasnya Hidup Kawasan Beling di Jantung Bandung

 (Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)
(Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)

Direnovasi jadi Dua Lantai

Ketika pertama kali berdiri, Masjid Mungsolkanas sama sekali tidak seperti bangunan yang bisa dibayangkan hari ini. Ia berupa rumah panggung sederhana dari bambu dan kayu, dengan bentuk tajug khas Sunda. Tidak ada kubah, tidak ada menara, apalagi pengeras suara. Fungsi masjid saat itu lebih menyerupai pusat komunitas: tempat salat, mengaji, dan bermalam bagi para santri.

Di sinilah Mama Aden mengajar Al-Qur’an, fikih, tasawuf, dan kitab-kitab klasik dengan metode pesantren tradisional. Hubungan antara guru dan murid terjalin dekat, nyaris tanpa jarak. Santri tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga belajar hidup sederhana, sabar, dan tekun.

Seiring waktu, jamaah bertambah. Bandung tumbuh perlahan, dan kawasan Cipaganti mulai ramai. Renovasi pertama tercatat terjadi pada 1933, bertepatan dengan era pembangunan Masjid Raya Cipaganti. Bedanya, jika masjid-masjid besar lain dibangun dengan dukungan dana kolonial, Mungsolkanas berdiri dan berkembang lewat gotong royong warga.

Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java

Renovasi terbesar terjadi pada 2009. Bangunan lama diganti sepenuhnya menjadi masjid dua lantai dengan struktur beton agar mampu menampung jamaah yang semakin banyak. Secara fisik, hampir tidak ada lagi sisa bangunan asli abad ke-19. Namun seperti banyak bangunan bersejarah di Nusantara, yang hilang adalah bentuk, bukan ruh.

Salah satu peninggalan paling berharga yang masih tersimpan hingga kini adalah mushaf Al-Qur’an tulisan tangan karya Mama Aden sendiri, yang ditulis sekitar tahun 1870-an. Mushaf ini menjadi bukti bahwa dakwah Islam di Bandung tidak hanya disampaikan lewat lisan, tetapi juga lewat ketekunan menulis ayat demi ayat dengan tangan sendiri, pada masa ketika kertas dan tinta bukan barang murah.

Di depan pintu masjid, sebuah batu hitam berukir mencatat tahun berdiri masjid dan ajakan bersalawat yang menjadi identitasnya sejak awal. Batu ini mungkin tampak sederhana, tetapi fungsinya mirip prasasti kerajaan kecil: penanda bahwa di tempat ini pernah lahir sebuah pusat spiritual yang bertahan lintas generasi.

Masjid Mungsolkanas juga menyimpan kisah yang sering dibisikkan dari mulut ke mulut tentang seorang mahasiswa teknik bernama Soekarno. Pada dekade 1920-an, ketika menempuh studi di Technische Hoogeschool te Bandoeng, Soekarno disebut pernah singgah dan bermalam di masjid ini. Benar atau tidaknya kisah tersebut, ia menambah lapisan romantisme sejarah: bahwa masjid sederhana di gang kecil pernah menjadi tempat singgah calon presiden pertama republik ini.

Baca Juga: Sejarah Masjid Cipaganti Bandung, Dibelit Kisah Ganjil Kemal Wolff Schoemaker

Hari ini, Masjid Mungsolkanas tidak menjadi museum. Ia tetap hidup sebagai masjid kampung yang aktif. Pengajian anak-anak, pengajian ibu-ibu, pendidikan usia dini, hingga kegiatan Ramadan masih berjalan rutin. Bahkan masjid ini secara berkala menyelenggarakan layanan kesehatan gratis bekerja sama dengan rumah sakit, sebuah tradisi kepedulian sosial yang terasa sangat relevan di tengah kota besar.

Letaknya yang tersembunyi justru menjadi kelebihannya. Di saat Cihampelas penuh dengan klakson dan antrean parkir, Mungsolkanas menawarkan suasana hening yang langka. Masuk ke gang kecil ini seperti melangkah ke lorong waktu, kembali ke Bandung yang lebih pelan, lebih ramah, dan lebih bersahaja.

Sebagai salah satu masjid tertua di Bandung, Mungsolkanas bukan hanya bangunan ibadah, tetapi juga penanda sejarah bagaimana Islam tumbuh di kota ini: lewat wakaf, gotong royong, bahasa lokal, dan keteladanan ulama. Ia mengingatkan bahwa dakwah tidak selalu harus megah, dan sejarah tidak selalu berdiri di jalan besar.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)