Sejarah Masjid Mungsolkanas, Tertua di Kota Bandung Sejak 1869

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Minggu 28 Des 2025, 08:58 WIB
Suasana Masjid Mungsolkanas zaman baheula.

Suasana Masjid Mungsolkanas zaman baheula.

AYOBANDUNG.ID - Sebelum Cihampelas mengenal mall Ciwalk dan proyek teras gagal, sebelum Bandung sibuk mengurus identitas kosmopolitan, Masjid Mungsolkanas sudah lebih dulu berdiri dan berfungsi. Ia dibangun untuk satu hal sederhana: orang datang, beribadah, lalu pulang dengan kepala sedikit lebih tenang.

Masjid ini berdiri sejak 1869, ketika Bandung belum menjadi kota wisata, belum menjadi ibu kota kreatif, bahkan belum sepenuhnya menjadi kota. Saat itu Bandung masih berupa hamparan kebun, perkampungan kecil, dan jalan tanah yang lebih sering dilalui kerbau daripada kendaraan bermotor. Jika Cihampelas hari ini dikenal sebagai pusat belanja, maka Cihampelas pada abad ke-19 lebih pantas disebut sebagai jalur sunyi di pinggiran kota kolonial.

Keberadaan Masjid Mungsolkanas menjadikannya masjid tertua di Bandung Utara. Usianya lebih dari satu setengah abad, lebih tua dari Masjid Cipaganti yang sering disebut sebagai ikon masjid bersejarah Bandung. Mungsolkanas lahir jauh sebelum Bandung sibuk memoles diri sebagai Paris van Java.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Sejarah mencatat Masjid Mungsolkanas didirikan oleh seorang ulama asal Garut bernama KH Abdurrohim, yang lebih dikenal oleh masyarakat Sunda dengan panggilan Mama Aden. Dalam tradisi Sunda, sebutan “Mama” bukan sekadar sapaan, melainkan penanda kewibawaan keilmuan. Ia disematkan kepada ulama yang bukan hanya paham kitab, tetapi juga menjadi rujukan masyarakat dan guru bagi banyak ajengan lainnya.

Kedatangan Mama Aden ke Bandung pada dekade 1860-an membawa misi yang sederhana sekaligus berat: membangun masjid dan menghidupkan pesantren. Saat itu, Bandung berada dalam cengkeraman pemerintahan kolonial Belanda. Kehidupan umat Islam berjalan dalam kesunyian, tanpa fasilitas besar, tanpa sokongan negara, dan sepenuhnya bergantung pada kekuatan komunitas.

Tanah tempat Masjid Mungsolkanas berdiri bukan hasil rampasan, bukan pula hadiah pemerintah kolonial. Ia berasal dari wakaf seorang perempuan bernama Siti Lantenas, seorang janda berada yang suaminya, R. Suradipura, wafat pada tahun yang sama dengan berdirinya masjid tersebut. Wakaf ini menjadi fondasi awal berdirinya masjid sekaligus pesantren, sebuah kombinasi klasik dalam sejarah Islam Nusantara.

Baca Juga: Sejarah Gereja Santo Petrus, Katedral Tertua di Bandung

Yang membuat Masjid Mungsolkanas semakin unik adalah namanya. Di tengah tradisi penamaan masjid yang lazim menggunakan istilah Arab atau nama tokoh Islam besar, Mungsolkanas justru memilih jalur berbeda. Nama ini merupakan akronim dari kalimat berbahasa Sunda yang mengajak umat untuk membaca salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pendek, lokal, dan langsung ke inti pesan.

Nama ini mencerminkan cara dakwah Mama Aden yang membumi. Islam tidak disampaikan dengan istilah yang menjauhkan, tetapi dengan bahasa sehari-hari yang akrab di telinga masyarakat. Jika masjid lain berbicara dalam bahasa langit, Mungsolkanas berbicara dalam bahasa dapur dan beranda rumah.

Baca Juga: Hikayat Cicadas, Kerasnya Hidup Kawasan Beling di Jantung Bandung

 (Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)
(Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)

Direnovasi jadi Dua Lantai

Ketika pertama kali berdiri, Masjid Mungsolkanas sama sekali tidak seperti bangunan yang bisa dibayangkan hari ini. Ia berupa rumah panggung sederhana dari bambu dan kayu, dengan bentuk tajug khas Sunda. Tidak ada kubah, tidak ada menara, apalagi pengeras suara. Fungsi masjid saat itu lebih menyerupai pusat komunitas: tempat salat, mengaji, dan bermalam bagi para santri.

Di sinilah Mama Aden mengajar Al-Qur’an, fikih, tasawuf, dan kitab-kitab klasik dengan metode pesantren tradisional. Hubungan antara guru dan murid terjalin dekat, nyaris tanpa jarak. Santri tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga belajar hidup sederhana, sabar, dan tekun.

Seiring waktu, jamaah bertambah. Bandung tumbuh perlahan, dan kawasan Cipaganti mulai ramai. Renovasi pertama tercatat terjadi pada 1933, bertepatan dengan era pembangunan Masjid Raya Cipaganti. Bedanya, jika masjid-masjid besar lain dibangun dengan dukungan dana kolonial, Mungsolkanas berdiri dan berkembang lewat gotong royong warga.

Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java

Renovasi terbesar terjadi pada 2009. Bangunan lama diganti sepenuhnya menjadi masjid dua lantai dengan struktur beton agar mampu menampung jamaah yang semakin banyak. Secara fisik, hampir tidak ada lagi sisa bangunan asli abad ke-19. Namun seperti banyak bangunan bersejarah di Nusantara, yang hilang adalah bentuk, bukan ruh.

Salah satu peninggalan paling berharga yang masih tersimpan hingga kini adalah mushaf Al-Qur’an tulisan tangan karya Mama Aden sendiri, yang ditulis sekitar tahun 1870-an. Mushaf ini menjadi bukti bahwa dakwah Islam di Bandung tidak hanya disampaikan lewat lisan, tetapi juga lewat ketekunan menulis ayat demi ayat dengan tangan sendiri, pada masa ketika kertas dan tinta bukan barang murah.

Di depan pintu masjid, sebuah batu hitam berukir mencatat tahun berdiri masjid dan ajakan bersalawat yang menjadi identitasnya sejak awal. Batu ini mungkin tampak sederhana, tetapi fungsinya mirip prasasti kerajaan kecil: penanda bahwa di tempat ini pernah lahir sebuah pusat spiritual yang bertahan lintas generasi.

Masjid Mungsolkanas juga menyimpan kisah yang sering dibisikkan dari mulut ke mulut tentang seorang mahasiswa teknik bernama Soekarno. Pada dekade 1920-an, ketika menempuh studi di Technische Hoogeschool te Bandoeng, Soekarno disebut pernah singgah dan bermalam di masjid ini. Benar atau tidaknya kisah tersebut, ia menambah lapisan romantisme sejarah: bahwa masjid sederhana di gang kecil pernah menjadi tempat singgah calon presiden pertama republik ini.

Baca Juga: Sejarah Masjid Cipaganti Bandung, Dibelit Kisah Ganjil Kemal Wolff Schoemaker

Hari ini, Masjid Mungsolkanas tidak menjadi museum. Ia tetap hidup sebagai masjid kampung yang aktif. Pengajian anak-anak, pengajian ibu-ibu, pendidikan usia dini, hingga kegiatan Ramadan masih berjalan rutin. Bahkan masjid ini secara berkala menyelenggarakan layanan kesehatan gratis bekerja sama dengan rumah sakit, sebuah tradisi kepedulian sosial yang terasa sangat relevan di tengah kota besar.

Letaknya yang tersembunyi justru menjadi kelebihannya. Di saat Cihampelas penuh dengan klakson dan antrean parkir, Mungsolkanas menawarkan suasana hening yang langka. Masuk ke gang kecil ini seperti melangkah ke lorong waktu, kembali ke Bandung yang lebih pelan, lebih ramah, dan lebih bersahaja.

Sebagai salah satu masjid tertua di Bandung, Mungsolkanas bukan hanya bangunan ibadah, tetapi juga penanda sejarah bagaimana Islam tumbuh di kota ini: lewat wakaf, gotong royong, bahasa lokal, dan keteladanan ulama. Ia mengingatkan bahwa dakwah tidak selalu harus megah, dan sejarah tidak selalu berdiri di jalan besar.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)