Hikayat Cicadas, Kerasnya Hidup Kawasan Beling di Jantung Bandung

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 23 Des 2025, 14:24 WIB
Suasana Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung. (Sumber: Google Earth)

Suasana Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung. (Sumber: Google Earth)

AYOBANDUNG.ID - Cicadas tidak pernah lahir sebagai kawasan pinggiran yang tenang. Sejak awal abad ke-20, wilayah ini sudah tercatat dalam peta dan arsip kolonial sebagai simpul penting pergerakan manusia, barang, dan kekuasaan di sisi timur Kota Bandung. Letaknya yang berada di jalur utama penghubung timur–selatan menjadikan Cicadas lebih dulu ramai dibanding banyak kawasan lain yang kini dianggap “tua” di Bandung.

Jejak nama Cicadas sudah muncul dalam arsip kolonial sejak awal abad ke-20. Pada peta Bandung terbitan Inggris tahun 1945, kawasan ini tercatat sebagai wilayah strategis di tikungan Engelenweg, jalan yang kini dikenal sebagai Jalan Cikutra. Di masa itu, Cicadas diapit oleh wilayah-wilayah yang kini terdengar akrab di telinga warga Bandung Timur: Sekepondok, Lemahneundeut, Cidurian, Cimuncang, hingga Jelekong. Sungai Cibeunying menjadi batas alam yang sekaligus berfungsi sebagai penanda bahwa kawasan ini berada di ambang antara kota dan pinggiran.

Sebelum Bandung melebar seperti sekarang, Cicadas memegang peran penting sebagai gerbang kota dari arah timur. Jalur utama yang melintasinya terhubung langsung ke simpang selatan menuju Stasiun Kiaracondong. Jalan ini merupakan bagian dari Groote Postweg, jalan raya pos legendaris yang menjadi tulang punggung transportasi Pulau Jawa. Seiring waktu, namanya berubah-ubah hingga akhirnya menetap sebagai Jalan Ahmad Yani, salah satu arteri terpadat di Bandung.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

Tapi, posisi strategis tidak selalu berarti reputasi baik. Pada dekade 1920-an, Cicadas dikenal sebagai kawasan yang bikin orang berpikir dua kali untuk melintas saat malam tiba. Wilayah ini sering dicap rawan, keras, dan penuh urusan yang lebih cocok diselesaikan dengan otot ketimbang musyawarah. Polisi jarang terlihat, sementara pencuri dan pemabuk justru merasa seperti tuan rumah. Cicadas pun menjadi alamat pertama yang dituju aparat setiap kali terjadi kejahatan di pusat kota.

Kendati demikian, sejarah Cicadas tidak berhenti pada label gelap itu. Memasuki pertengahan 1930-an, wajah kawasan ini mulai berubah. Pasar rakyat didirikan dan menjadi pusat ekonomi baru yang mengundang keramaian sejak pagi hingga sore. Kehadiran pasar membuat Cicadas tak lagi sekadar jalur lintasan, melainkan tujuan. Orang datang bukan hanya untuk lewat, tetapi untuk bertransaksi, berjumpa, dan membangun kehidupan.

Tak lama berselang, fasilitas kesehatan mulai hadir. Klinik sederhana yang kelak berkembang menjadi Rumah Sakit Santo Yusup berdiri dan menjadi penopang penting bagi warga Bandung Timur. Dari sinilah Cicadas perlahan bergeser dari kawasan pinggiran yang dicurigai menjadi ruang hidup yang dibutuhkan. Pemerintah kolonial bahkan sempat merancang berbagai fasilitas publik lain, termasuk tempat perawatan kesehatan jiwa, sebuah gagasan yang pada zamannya terbilang progresif.

Peran Cicadas semakin penting dengan hadirnya pusat pengembangan tekstil. Sejak awal abad ke-20, kawasan ini menjadi rumah bagi institusi tekstil yang kelak berpengaruh besar terhadap industri rakyat di Priangan. Dari sinilah teknologi alat tenun bukan mesin diperkenalkan, memungkinkan produksi kain tanpa ketergantungan pada listrik. Dampaknya menjalar jauh hingga Majalaya, melahirkan generasi pengrajin dan fondasi industri tekstil rakyat Jawa Barat. Cicadas pun diam-diam berperan sebagai laboratorium ekonomi yang hasilnya dinikmati wilayah lain.

Baca Juga: Hikayat Bandung Lautan Sampah, Kota yang Hampir Dikubur Ulahnya Sendiri

Tapi sejarah lempeng itu kemudian berkelok. Masa revolusi kemerdekaan meninggalkan luka mendalam. Kawasan ini menjadi salah satu titik terpadat kekuatan bersenjata rakyat. Situasi itu menjadikannya sasaran serangan udara pada akhir 1945. Bom-bom dijatuhkan, bangunan runtuh, rumah warga hancur, dan korban sipil berjatuhan. Jalan utama berlubang, bukan oleh usia, melainkan oleh ledakan perang. Tragedi itu menorehkan memori kelam yang lama tersimpan di balik hiruk-pikuk keseharian.

Pasca revolusi, Cicadas justru tumbuh semakin padat. Pasar diperluas, toko-toko bermunculan, kantor pos dan pos polisi dibangun, selokan diperbaiki, dan arus pendatang tak terbendung. Jalan Raya Timur berubah menjadi jalur ekonomi yang hidup. Kawasan ini menjelma salah satu pusat urban Bandung Timur, bersaing dengan Kosambi dan kawasan pusat kota lama.

Gang-gang di sekitar Cicadas pun membentuk dunia kecilnya sendiri. Nama-nama gang yang kini akrab terdengar seperti peta ingatan kolektif warga Bandung Timur. Bioskop-bioskop sempat berjaya, pusat hiburan berdiri, lalu satu per satu tumbang ditelan zaman. Cicadas selalu bergerak, kadang maju dengan cepat, kadang tersandung oleh masalah klasik kota besar.

Pada era modern, Cicadas menjadi kawasan pendidikan, perdagangan, dan hunian yang kompleks. Kampus-kampus berdiri, rumah sakit berkembang, pasar bertransformasi menjadi pusat niaga terpadu. Industri mikro konveksi tumbuh di sela gang, sementara apartemen dan hotel mulai menjulang, membawa kelas sosial baru ke lingkungan lama. Cicadas menjadi contoh bagaimana kota tumbuh bukan dengan menghapus masa lalu, melainkan menumpuknya lapis demi lapis.

Baca Juga: Geger Bandung 1934, Pembunuhan Berdarah di Rumah Asep Berlian

Suasana dipan gang Jalan Asep Berlian, Cicadas, Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Suasana dipan gang Jalan Asep Berlian, Cicadas, Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Pernah jadi Sarang Penyamun dan Kriminal

Tak lengkap membicarakan sejarah Cicadas tanpa menyinggung julukan legendarisnya: Negara Beling. Di antara ratusan kawasan yang menjalar di Kota Bandung, Cicadas memiliki tempat tersendiri dalam ingatan kolektif warganya. Bukan karena keindahan arsitekturnya atau pesona alamnya, melainkan karena sebuah julukan yang melekat seperti stigma: Negara Beling. Nama itu terdengar asing sekaligus menakutkan, seolah menandai sebuah wilayah yang berada di luar jangkauan hukum formal, tempat di mana aturan main ditentukan oleh logika jalanan yang keras dan tak kenal kompromi.

Sosok Antropolog Joshua Barker dari University of Toronto yang melakukan penelitian mendalam di kawasan Cicadas memberikan penjelasan komprehensif tentang asal-usul istilah ini dalam bukunya State of Authority. Barker mencatat dua etimologi rakyat yang beredar di kalangan masyarakat Bandung. Yang pertama merujuk pada banyaknya tukang beling di kawasan tersebut, yakni orang-orang yang mengumpulkan pecahan kaca dan menjualnya kembali. Dalam imajinasi populer masyarakat urban, profesi ini sering dikaitkan dengan kegiatan ilegal dan dunia gelap. Etimologi kedua lebih metaforis: Cicadas disebut negara beling karena daerah itu dianggap berbahaya, tajam, dan bisa melukai seperti pecahan kaca.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Kedua pengertian tersebut, menurut Barker, sama-sama menekankan aspek kriminal dari lingkungan ini. Pada dekade 1990-an, julukan negara beling atau kampung beling tidak hanya disematkan pada Cicadas, tetapi juga pada sejumlah wilayah lain di Bandung seperti Liogenteng, Nyengseret, Pasirkoja, Sukapakir, dan Babakan Irigasi. Semua kawasan ini memiliki kesamaan: kelas ekonomi menengah ke bawah dengan tingkat kejahatan yang tinggi. Namun Cicadas tampaknya menjadi yang paling ikonik, bahkan mendapat sebutan alternatif "Kawasan Ninja" yang menambah dimensi mistis dan berbahaya pada citranya.

Citra Cicadas sebagai Negara Beling kemudian melekat kuat dalam ingatan masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari mitos kekerasan serta legenda kelompok pemuda yang berkembang pada tahun 1970-an hingga 1990-an. Pada akhir 1970-an muncul kelompok Ravana dan Sakarima, disusul Dollar Club pada 1980-an, serta Ninja Cicadas pada 1990-an. Selain kelompok-kelompok tersebut, Cicadas juga dikenal memiliki tokoh-tokoh lokal yang dihormati di wilayah Bandung Timur, seperti Maman Sport, Nana Berlit, Maman Skogar, dan Eman Suhada, serta figur jeger dan jawara yang berpengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat.

Dalam pada itu, Cicadas identik dengan premanisme, kepadatan ekstrem, dan konflik jalanan. Kelompok-kelompok pemuda dengan nama-nama sangar menguasai wilayah, menciptakan sistem keamanan informal yang ironisnya justru memberikan rasa aman bagi warga lokal. Hukum negara sering kali kalah cepat dibanding aturan gang. Siapa yang kuat, dia yang didengar.

Yang menarik, penelitian Barker mengungkapkan bahwa kawasan kumuh seperti Cicadas bisa menjadi domain yang berada di luar batas otoritas negara modern. Di sini berlaku sistem pemerintahan informal yang didasarkan pada kharisma personal dan kemampuan fisik, bukan pada legitimasi hukum formal. Ini menjelaskan mengapa masyarakat Cicadas lebih patuh pada para jeger ketimbang pada aparat negara. Keberadaan para figur otoritas informal ini justru memberikan rasa aman bagi warga lokal, meski bagi orang luar terlihat menakutkan.

Kepadatan penduduk yang sangat tinggi di Cicadas melahirkan ketegangan-ketegangan yang terkadang berujung pada berbagai bentuk tindak kriminal. Satu keluarga di kawasan ini rata-rata memiliki lebih dari tiga orang anak. Para pendatang yang terus berdatangan menambah kepadatan yang sudah tinggi. Kondisi ekonomi yang sulit memaksa banyak warga untuk bertahan hidup dengan cara apa pun, termasuk melakukan kejahatan. Dalam konteks ini, Negara Beling bukan hanya label geografis, tetapi juga representasi dari kondisi sosial-ekonomi yang marginal.

Tapi waktu punya cara sendiri untuk melunakkan sudut-sudut tajam. Memasuki abad ke-21, wajah Cicadas perlahan berubah. Para tokoh lama menghilang, generasi baru muncul, organisasi warga dibentuk, dan upaya membangun identitas baru mulai dilakukan. Negara beling beralih fungsi menjadi cerita nostalgia yang diceritakan ulang dengan tawa setengah getir.

Baca Juga: Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

Hari ini, Cicadas bukan lagi kawasan yang hanya dikenal karena stigma. Ia adalah simpul penting Bandung Timur, dengan segala problem dan potensinya. Sanitasi, sungai tercemar, kemacetan, dan kepadatan masih menjadi pekerjaan rumah, tetapi di balik itu ada energi komunitas yang terus bergerak. Cicadas mengajarkan bahwa kota bukan sekadar bangunan dan jalan, melainkan ingatan kolektif yang terus dinegosiasikan.

Sejarah Cicadas Bandung pada akhirnya adalah kisah tentang bertahan. Dari gerbang kota, medan perang, pusat tekstil, negara beling, hingga kawasan urban modern. Ia mungkin tidak selalu rapi, tetapi justru di sanalah Bandung menemukan wajahnya yang paling jujur.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)