Hikayat Cicadas, Kerasnya Hidup Kawasan Beling di Jantung Bandung

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Suasana Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung. (Sumber: Google Earth)
Suasana Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung. (Sumber: Google Earth)

AYOBANDUNG.ID - Cicadas tidak pernah lahir sebagai kawasan pinggiran yang tenang. Sejak awal abad ke-20, wilayah ini sudah tercatat dalam peta dan arsip kolonial sebagai simpul penting pergerakan manusia, barang, dan kekuasaan di sisi timur Kota Bandung. Letaknya yang berada di jalur utama penghubung timur–selatan menjadikan Cicadas lebih dulu ramai dibanding banyak kawasan lain yang kini dianggap “tua” di Bandung.

Jejak nama Cicadas sudah muncul dalam arsip kolonial sejak awal abad ke-20. Pada peta Bandung terbitan Inggris tahun 1945, kawasan ini tercatat sebagai wilayah strategis di tikungan Engelenweg, jalan yang kini dikenal sebagai Jalan Cikutra. Di masa itu, Cicadas diapit oleh wilayah-wilayah yang kini terdengar akrab di telinga warga Bandung Timur: Sekepondok, Lemahneundeut, Cidurian, Cimuncang, hingga Jelekong. Sungai Cibeunying menjadi batas alam yang sekaligus berfungsi sebagai penanda bahwa kawasan ini berada di ambang antara kota dan pinggiran.

Sebelum Bandung melebar seperti sekarang, Cicadas memegang peran penting sebagai gerbang kota dari arah timur. Jalur utama yang melintasinya terhubung langsung ke simpang selatan menuju Stasiun Kiaracondong. Jalan ini merupakan bagian dari Groote Postweg, jalan raya pos legendaris yang menjadi tulang punggung transportasi Pulau Jawa. Seiring waktu, namanya berubah-ubah hingga akhirnya menetap sebagai Jalan Ahmad Yani, salah satu arteri terpadat di Bandung.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

Tapi, posisi strategis tidak selalu berarti reputasi baik. Pada dekade 1920-an, Cicadas dikenal sebagai kawasan yang bikin orang berpikir dua kali untuk melintas saat malam tiba. Wilayah ini sering dicap rawan, keras, dan penuh urusan yang lebih cocok diselesaikan dengan otot ketimbang musyawarah. Polisi jarang terlihat, sementara pencuri dan pemabuk justru merasa seperti tuan rumah. Cicadas pun menjadi alamat pertama yang dituju aparat setiap kali terjadi kejahatan di pusat kota.

Kendati demikian, sejarah Cicadas tidak berhenti pada label gelap itu. Memasuki pertengahan 1930-an, wajah kawasan ini mulai berubah. Pasar rakyat didirikan dan menjadi pusat ekonomi baru yang mengundang keramaian sejak pagi hingga sore. Kehadiran pasar membuat Cicadas tak lagi sekadar jalur lintasan, melainkan tujuan. Orang datang bukan hanya untuk lewat, tetapi untuk bertransaksi, berjumpa, dan membangun kehidupan.

Tak lama berselang, fasilitas kesehatan mulai hadir. Klinik sederhana yang kelak berkembang menjadi Rumah Sakit Santo Yusup berdiri dan menjadi penopang penting bagi warga Bandung Timur. Dari sinilah Cicadas perlahan bergeser dari kawasan pinggiran yang dicurigai menjadi ruang hidup yang dibutuhkan. Pemerintah kolonial bahkan sempat merancang berbagai fasilitas publik lain, termasuk tempat perawatan kesehatan jiwa, sebuah gagasan yang pada zamannya terbilang progresif.

Peran Cicadas semakin penting dengan hadirnya pusat pengembangan tekstil. Sejak awal abad ke-20, kawasan ini menjadi rumah bagi institusi tekstil yang kelak berpengaruh besar terhadap industri rakyat di Priangan. Dari sinilah teknologi alat tenun bukan mesin diperkenalkan, memungkinkan produksi kain tanpa ketergantungan pada listrik. Dampaknya menjalar jauh hingga Majalaya, melahirkan generasi pengrajin dan fondasi industri tekstil rakyat Jawa Barat. Cicadas pun diam-diam berperan sebagai laboratorium ekonomi yang hasilnya dinikmati wilayah lain.

Baca Juga: Hikayat Bandung Lautan Sampah, Kota yang Hampir Dikubur Ulahnya Sendiri

Tapi sejarah lempeng itu kemudian berkelok. Masa revolusi kemerdekaan meninggalkan luka mendalam. Kawasan ini menjadi salah satu titik terpadat kekuatan bersenjata rakyat. Situasi itu menjadikannya sasaran serangan udara pada akhir 1945. Bom-bom dijatuhkan, bangunan runtuh, rumah warga hancur, dan korban sipil berjatuhan. Jalan utama berlubang, bukan oleh usia, melainkan oleh ledakan perang. Tragedi itu menorehkan memori kelam yang lama tersimpan di balik hiruk-pikuk keseharian.

Pasca revolusi, Cicadas justru tumbuh semakin padat. Pasar diperluas, toko-toko bermunculan, kantor pos dan pos polisi dibangun, selokan diperbaiki, dan arus pendatang tak terbendung. Jalan Raya Timur berubah menjadi jalur ekonomi yang hidup. Kawasan ini menjelma salah satu pusat urban Bandung Timur, bersaing dengan Kosambi dan kawasan pusat kota lama.

Gang-gang di sekitar Cicadas pun membentuk dunia kecilnya sendiri. Nama-nama gang yang kini akrab terdengar seperti peta ingatan kolektif warga Bandung Timur. Bioskop-bioskop sempat berjaya, pusat hiburan berdiri, lalu satu per satu tumbang ditelan zaman. Cicadas selalu bergerak, kadang maju dengan cepat, kadang tersandung oleh masalah klasik kota besar.

Pada era modern, Cicadas menjadi kawasan pendidikan, perdagangan, dan hunian yang kompleks. Kampus-kampus berdiri, rumah sakit berkembang, pasar bertransformasi menjadi pusat niaga terpadu. Industri mikro konveksi tumbuh di sela gang, sementara apartemen dan hotel mulai menjulang, membawa kelas sosial baru ke lingkungan lama. Cicadas menjadi contoh bagaimana kota tumbuh bukan dengan menghapus masa lalu, melainkan menumpuknya lapis demi lapis.

Baca Juga: Geger Bandung 1934, Pembunuhan Berdarah di Rumah Asep Berlian

Suasana dipan gang Jalan Asep Berlian, Cicadas, Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Suasana dipan gang Jalan Asep Berlian, Cicadas, Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Pernah jadi Sarang Penyamun dan Kriminal

Tak lengkap membicarakan sejarah Cicadas tanpa menyinggung julukan legendarisnya: Negara Beling. Di antara ratusan kawasan yang menjalar di Kota Bandung, Cicadas memiliki tempat tersendiri dalam ingatan kolektif warganya. Bukan karena keindahan arsitekturnya atau pesona alamnya, melainkan karena sebuah julukan yang melekat seperti stigma: Negara Beling. Nama itu terdengar asing sekaligus menakutkan, seolah menandai sebuah wilayah yang berada di luar jangkauan hukum formal, tempat di mana aturan main ditentukan oleh logika jalanan yang keras dan tak kenal kompromi.

Sosok Antropolog Joshua Barker dari University of Toronto yang melakukan penelitian mendalam di kawasan Cicadas memberikan penjelasan komprehensif tentang asal-usul istilah ini dalam bukunya State of Authority. Barker mencatat dua etimologi rakyat yang beredar di kalangan masyarakat Bandung. Yang pertama merujuk pada banyaknya tukang beling di kawasan tersebut, yakni orang-orang yang mengumpulkan pecahan kaca dan menjualnya kembali. Dalam imajinasi populer masyarakat urban, profesi ini sering dikaitkan dengan kegiatan ilegal dan dunia gelap. Etimologi kedua lebih metaforis: Cicadas disebut negara beling karena daerah itu dianggap berbahaya, tajam, dan bisa melukai seperti pecahan kaca.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Kedua pengertian tersebut, menurut Barker, sama-sama menekankan aspek kriminal dari lingkungan ini. Pada dekade 1990-an, julukan negara beling atau kampung beling tidak hanya disematkan pada Cicadas, tetapi juga pada sejumlah wilayah lain di Bandung seperti Liogenteng, Nyengseret, Pasirkoja, Sukapakir, dan Babakan Irigasi. Semua kawasan ini memiliki kesamaan: kelas ekonomi menengah ke bawah dengan tingkat kejahatan yang tinggi. Namun Cicadas tampaknya menjadi yang paling ikonik, bahkan mendapat sebutan alternatif "Kawasan Ninja" yang menambah dimensi mistis dan berbahaya pada citranya.

Citra Cicadas sebagai Negara Beling kemudian melekat kuat dalam ingatan masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari mitos kekerasan serta legenda kelompok pemuda yang berkembang pada tahun 1970-an hingga 1990-an. Pada akhir 1970-an muncul kelompok Ravana dan Sakarima, disusul Dollar Club pada 1980-an, serta Ninja Cicadas pada 1990-an. Selain kelompok-kelompok tersebut, Cicadas juga dikenal memiliki tokoh-tokoh lokal yang dihormati di wilayah Bandung Timur, seperti Maman Sport, Nana Berlit, Maman Skogar, dan Eman Suhada, serta figur jeger dan jawara yang berpengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat.

Dalam pada itu, Cicadas identik dengan premanisme, kepadatan ekstrem, dan konflik jalanan. Kelompok-kelompok pemuda dengan nama-nama sangar menguasai wilayah, menciptakan sistem keamanan informal yang ironisnya justru memberikan rasa aman bagi warga lokal. Hukum negara sering kali kalah cepat dibanding aturan gang. Siapa yang kuat, dia yang didengar.

Yang menarik, penelitian Barker mengungkapkan bahwa kawasan kumuh seperti Cicadas bisa menjadi domain yang berada di luar batas otoritas negara modern. Di sini berlaku sistem pemerintahan informal yang didasarkan pada kharisma personal dan kemampuan fisik, bukan pada legitimasi hukum formal. Ini menjelaskan mengapa masyarakat Cicadas lebih patuh pada para jeger ketimbang pada aparat negara. Keberadaan para figur otoritas informal ini justru memberikan rasa aman bagi warga lokal, meski bagi orang luar terlihat menakutkan.

Kepadatan penduduk yang sangat tinggi di Cicadas melahirkan ketegangan-ketegangan yang terkadang berujung pada berbagai bentuk tindak kriminal. Satu keluarga di kawasan ini rata-rata memiliki lebih dari tiga orang anak. Para pendatang yang terus berdatangan menambah kepadatan yang sudah tinggi. Kondisi ekonomi yang sulit memaksa banyak warga untuk bertahan hidup dengan cara apa pun, termasuk melakukan kejahatan. Dalam konteks ini, Negara Beling bukan hanya label geografis, tetapi juga representasi dari kondisi sosial-ekonomi yang marginal.

Tapi waktu punya cara sendiri untuk melunakkan sudut-sudut tajam. Memasuki abad ke-21, wajah Cicadas perlahan berubah. Para tokoh lama menghilang, generasi baru muncul, organisasi warga dibentuk, dan upaya membangun identitas baru mulai dilakukan. Negara beling beralih fungsi menjadi cerita nostalgia yang diceritakan ulang dengan tawa setengah getir.

Baca Juga: Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

Hari ini, Cicadas bukan lagi kawasan yang hanya dikenal karena stigma. Ia adalah simpul penting Bandung Timur, dengan segala problem dan potensinya. Sanitasi, sungai tercemar, kemacetan, dan kepadatan masih menjadi pekerjaan rumah, tetapi di balik itu ada energi komunitas yang terus bergerak. Cicadas mengajarkan bahwa kota bukan sekadar bangunan dan jalan, melainkan ingatan kolektif yang terus dinegosiasikan.

Sejarah Cicadas Bandung pada akhirnya adalah kisah tentang bertahan. Dari gerbang kota, medan perang, pusat tekstil, negara beling, hingga kawasan urban modern. Ia mungkin tidak selalu rapi, tetapi justru di sanalah Bandung menemukan wajahnya yang paling jujur.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)