4 Ide Cerita untuk Kamu yang Merasa 'Terasing' di Bandung Kampung Halamanmu

5 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.ID -- Ada yang aneh ketika kita kembali ke Bandung setelah bertahun-tahun pergi.

Bukan macetnya, itu sudah kita duga. Bukan juga gedung-gedung baru yang tumbuh di sudut-sudut yang dulu kita hafal. Yang aneh adalah perasaan kita: berdiri di kota tempat kita lahir, tapi merasa seperti tamu.

Kita mencoba menelusuri jalan yang dulu sering kita lewati pulang sekolah. Sebagian masih sama. Tapi sesuatu sudah bergeser. Entah jalannya, entah kita. Dan kita tidak tahu mana yang lebih menyedihkan.

Orang-orang sering bicara tentang Bandung dari sudut pandang pendatang: bagaimana kota ini mengecewakan atau melampaui ekspektasi mereka. Tapi tidak banyak yang bicara tentang kami — orang-orang yang pergi dari sini, lalu kembali dan mendapati bahwa rumah sudah tidak sepenuhnya mengenali kita.

Atau mungkin kita yang sudah lupa cara mengenalinya.

Bandung di bulan April selalu punya cara untuk mempertemukan masa lalu dan masa kini: dari peringatan Konferensi Asia-Afrika yang mengingatkan kejayaan yang pernah ada, hingga Hari Kartini yang bicara soal perempuan yang memilih melangkah—termasuk melangkah pergi. Bagi kita yang sudah pergi, momen-momen itu bukan lagi sekadar perayaan. Mereka adalah pertanyaan.

Apakah sebuah kota bisa terasa asing bagi orang yang justru tumbuh di dalamnya?

Kartini Hari Ini Memilih Pergi (21 April)

Dulu, perempuan-perempuan Bandung bermimpi tentang kebebasan. Sekarang, sebagian dari mereka mewujudkannya dengan cara yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya: meninggalkan kota.

Bukan karena Bandung buruk. Tapi karena peluang itu ada di tempat lain, di Jakarta, di Surabaya, bahkan di luar negeri. Dan semangat Kartini, yang selalu kita rayakan setiap 21 April, justru mendorong mereka untuk tidak diam.

Yang tidak pernah diceritakan adalah perasaan setelahnya. Ketika pulang saat Lebaran atau akhir tahun, kota yang dulu terasa seperti selimut hangat itu kini terasa berbeda ukurannya. Terlalu sempit di satu sisi, terlalu luas di sisi lain.

Kemandirian ternyata punya harga yang tidak tertulis di mana-mana: kita tumbuh, tapi kota kita tidak ikut tumbuh bersama kita. Atau sebaliknya, kota yang tumbuh terlalu cepat, sementara kenangan kita tertinggal di versi lamanya.

Kartini berbicara tentang perempuan yang ingin maju. Tapi tidak ada yang menceritakan bagaimana rasanya maju, lalu menoleh ke belakang, dan mendapati rumah sudah tidak lagi di tempat yang sama.

Berjalan di Asia-Afrika, Merasa Jadi Wisatawan (18 April)

Setiap tahun, Bandung memperingati Konferensi Asia-Afrika. Momen ketika kota ini berdiri di panggung dunia, menjadi simbol solidaritas dan harapan bangsa-bangsa yang baru merdeka.

Kita yang lahir dan besar di Bandung tumbuh dengan kebanggaan itu. Jalan Asia-Afrika bukan sekadar nama, tapi adalah bagian dari identitas kita.

Tapi coba kembali ke sana setelah lama pergi.

Bangunan-bangunan tua itu masih berdiri megah. Gedung Merdeka masih tegak seperti dulu. Tapi kita berjalan di trotoarnya dengan perasaan yang aneh — seperti turis yang membaca plakat sejarah di kota orang lain.

Orang-orang di sekitar kita memotret, berselfie, menikmati suasana. Kita juga melakukan hal yang sama dulu. Tapi sekarang, ada jarak yang tidak bisa dijelaskan antara kita dan tempat itu.

Solidaritas Asia-Afrika lahir dari perasaan senasib, dari rasa memiliki yang kuat. Ironinya, kita yang pernah benar-benar dari sini justru kehilangan rasa memiliki itu perlahan-lahan. Sementara para pendatang dan wisatawan menikmatinya dengan penuh semangat.

Mungkin memiliki sesuatu terlalu lama membuat kita lupa menghargainya. Dan kehilangan jarak membuat kita lupa cara merindukannya dengan benar.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Angkot yang Dulu Hafal, Kini Membingungkan (24 April)

Dulu, kita naik angkot tanpa berpikir. Hafal rutenya, hafal tembakan harganya, hafal cara memberi kode berhenti hanya dengan gerakan tangan kecil.

Sekarang, kita berdiri di pinggir jalan dengan ekspresi yang sama dengan pendatang baru: bingung.

Rute berubah. Beberapa trayek hilang. Nama-nama jalan yang dijadikan patokan sudah berganti wajah. Pertokoan lama jadi minimarket, warung nasi yang legendaris sudah tutup, gang yang dulu jadi shortcut kini ditutup pagar.

Hari Angkutan Nasional setiap 24 April seharusnya jadi pengingat tentang bagaimana transportasi menghubungkan orang dan kota. Tapi bagi kita yang sudah lama pergi, angkot justru menjadi cermin yang jujur: seberapa jauh kita sudah terputus dari ritme kota ini.

Yang paling mengena bukan ketika kita salah turun. Yang paling mengena adalah ketika penumpang lain— yang terlihat baru beberapa bulan tinggal di Bandung—justru lebih hafal rute daripada kita.

Di titik itu, kita sadar: kota ini sudah punya penghuni baru yang lebih akrab dengannya dari kita.

Rindu pada Kota yang Sudah Tidak Ada (28 April)

Hari Puisi Nasional jatuh setiap 28 April. Dan puisi, pada dasarnya, adalah cara manusia mengungkapkan apa yang tidak bisa dijelaskan dengan kalimat biasa.

Kerinduan pada Bandung adalah salah satu perasaan itu.

Tapi lama-lama kita menyadari sesuatu yang mengganggu: Bandung yang kita rindukan sebenarnya sudah tidak ada. Yang kita rindukan adalah gang kecil yang kini sudah jadi jalan besar. Warung yang sudah berganti nama. Suara adzan dari masjid yang kini tertutupi suara kendaraan.

Kita merindukan orang-orang yang sudah pindah, menua, atau pergi lebih dulu. Kita merindukan versi diri kita yang lebih muda, yang belum tahu bahwa suatu hari akan memilih pergi.

Bandung yang ada sekarang nyata dan hidup. Terus bergerak, terus berubah, terus menerima orang-orang baru yang akan jatuh cinta padanya. Tapi Bandung yang ada di dalam kepala kita adalah versi lain yang hanya bisa dikunjungi dalam diam.

Mungkin itulah yang tidak pernah kita siapkan sebelum memilih pergi: bahwa kepergian bukan hanya soal meninggalkan tempat. Ia juga soal meninggalkan versi diri kita yang pernah sangat mengenal tempat itu.

Bandung bukan kota yang kejam. Ia tidak mengusir kita. Ia hanya terus berjalan ketika kita memilih berhenti sejenak, atau memilih melangkah ke arah lain.

Dan ketika kita kembali, kota ini menyambut dengan caranya sendiri: tetap ramai, tetap hidup, tetap indah di mata orang-orang yang baru pertama kali melihatnya.

Hanya saja, kita bukan lagi orang-orang itu.

Kita adalah mereka yang tahu terlalu banyak tentang kota ini untuk bisa melihatnya dengan mata segar, tapi sudah terlalu lama pergi untuk bisa menyebutnya rumah tanpa ragu.

Di antara dua perasaan itulah kita berdiri. Dan mungkin, di situlah cerita yang paling jujur tentang Bandung sebenarnya dimulai. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)