4 Ide Cerita untuk Kamu yang Merasa 'Terasing' di Bandung Kampung Halamanmu

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Minggu 12 Apr 2026, 13:26 WIB
Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.ID -- Ada yang aneh ketika kita kembali ke Bandung setelah bertahun-tahun pergi.

Bukan macetnya, itu sudah kita duga. Bukan juga gedung-gedung baru yang tumbuh di sudut-sudut yang dulu kita hafal. Yang aneh adalah perasaan kita: berdiri di kota tempat kita lahir, tapi merasa seperti tamu.

Kita mencoba menelusuri jalan yang dulu sering kita lewati pulang sekolah. Sebagian masih sama. Tapi sesuatu sudah bergeser. Entah jalannya, entah kita. Dan kita tidak tahu mana yang lebih menyedihkan.

Orang-orang sering bicara tentang Bandung dari sudut pandang pendatang: bagaimana kota ini mengecewakan atau melampaui ekspektasi mereka. Tapi tidak banyak yang bicara tentang kami — orang-orang yang pergi dari sini, lalu kembali dan mendapati bahwa rumah sudah tidak sepenuhnya mengenali kita.

Atau mungkin kita yang sudah lupa cara mengenalinya.

Bandung di bulan April selalu punya cara untuk mempertemukan masa lalu dan masa kini: dari peringatan Konferensi Asia-Afrika yang mengingatkan kejayaan yang pernah ada, hingga Hari Kartini yang bicara soal perempuan yang memilih melangkah—termasuk melangkah pergi. Bagi kita yang sudah pergi, momen-momen itu bukan lagi sekadar perayaan. Mereka adalah pertanyaan.

Apakah sebuah kota bisa terasa asing bagi orang yang justru tumbuh di dalamnya?

Kartini Hari Ini Memilih Pergi (21 April)

Dulu, perempuan-perempuan Bandung bermimpi tentang kebebasan. Sekarang, sebagian dari mereka mewujudkannya dengan cara yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya: meninggalkan kota.

Bukan karena Bandung buruk. Tapi karena peluang itu ada di tempat lain, di Jakarta, di Surabaya, bahkan di luar negeri. Dan semangat Kartini, yang selalu kita rayakan setiap 21 April, justru mendorong mereka untuk tidak diam.

Yang tidak pernah diceritakan adalah perasaan setelahnya. Ketika pulang saat Lebaran atau akhir tahun, kota yang dulu terasa seperti selimut hangat itu kini terasa berbeda ukurannya. Terlalu sempit di satu sisi, terlalu luas di sisi lain.

Kemandirian ternyata punya harga yang tidak tertulis di mana-mana: kita tumbuh, tapi kota kita tidak ikut tumbuh bersama kita. Atau sebaliknya, kota yang tumbuh terlalu cepat, sementara kenangan kita tertinggal di versi lamanya.

Kartini berbicara tentang perempuan yang ingin maju. Tapi tidak ada yang menceritakan bagaimana rasanya maju, lalu menoleh ke belakang, dan mendapati rumah sudah tidak lagi di tempat yang sama.

Berjalan di Asia-Afrika, Merasa Jadi Wisatawan (18 April)

Setiap tahun, Bandung memperingati Konferensi Asia-Afrika. Momen ketika kota ini berdiri di panggung dunia, menjadi simbol solidaritas dan harapan bangsa-bangsa yang baru merdeka.

Kita yang lahir dan besar di Bandung tumbuh dengan kebanggaan itu. Jalan Asia-Afrika bukan sekadar nama, tapi adalah bagian dari identitas kita.

Tapi coba kembali ke sana setelah lama pergi.

Bangunan-bangunan tua itu masih berdiri megah. Gedung Merdeka masih tegak seperti dulu. Tapi kita berjalan di trotoarnya dengan perasaan yang aneh — seperti turis yang membaca plakat sejarah di kota orang lain.

Orang-orang di sekitar kita memotret, berselfie, menikmati suasana. Kita juga melakukan hal yang sama dulu. Tapi sekarang, ada jarak yang tidak bisa dijelaskan antara kita dan tempat itu.

Solidaritas Asia-Afrika lahir dari perasaan senasib, dari rasa memiliki yang kuat. Ironinya, kita yang pernah benar-benar dari sini justru kehilangan rasa memiliki itu perlahan-lahan. Sementara para pendatang dan wisatawan menikmatinya dengan penuh semangat.

Mungkin memiliki sesuatu terlalu lama membuat kita lupa menghargainya. Dan kehilangan jarak membuat kita lupa cara merindukannya dengan benar.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Angkot yang Dulu Hafal, Kini Membingungkan (24 April)

Dulu, kita naik angkot tanpa berpikir. Hafal rutenya, hafal tembakan harganya, hafal cara memberi kode berhenti hanya dengan gerakan tangan kecil.

Sekarang, kita berdiri di pinggir jalan dengan ekspresi yang sama dengan pendatang baru: bingung.

Rute berubah. Beberapa trayek hilang. Nama-nama jalan yang dijadikan patokan sudah berganti wajah. Pertokoan lama jadi minimarket, warung nasi yang legendaris sudah tutup, gang yang dulu jadi shortcut kini ditutup pagar.

Hari Angkutan Nasional setiap 24 April seharusnya jadi pengingat tentang bagaimana transportasi menghubungkan orang dan kota. Tapi bagi kita yang sudah lama pergi, angkot justru menjadi cermin yang jujur: seberapa jauh kita sudah terputus dari ritme kota ini.

Yang paling mengena bukan ketika kita salah turun. Yang paling mengena adalah ketika penumpang lain— yang terlihat baru beberapa bulan tinggal di Bandung—justru lebih hafal rute daripada kita.

Di titik itu, kita sadar: kota ini sudah punya penghuni baru yang lebih akrab dengannya dari kita.

Rindu pada Kota yang Sudah Tidak Ada (28 April)

Hari Puisi Nasional jatuh setiap 28 April. Dan puisi, pada dasarnya, adalah cara manusia mengungkapkan apa yang tidak bisa dijelaskan dengan kalimat biasa.

Kerinduan pada Bandung adalah salah satu perasaan itu.

Tapi lama-lama kita menyadari sesuatu yang mengganggu: Bandung yang kita rindukan sebenarnya sudah tidak ada. Yang kita rindukan adalah gang kecil yang kini sudah jadi jalan besar. Warung yang sudah berganti nama. Suara adzan dari masjid yang kini tertutupi suara kendaraan.

Kita merindukan orang-orang yang sudah pindah, menua, atau pergi lebih dulu. Kita merindukan versi diri kita yang lebih muda, yang belum tahu bahwa suatu hari akan memilih pergi.

Bandung yang ada sekarang nyata dan hidup. Terus bergerak, terus berubah, terus menerima orang-orang baru yang akan jatuh cinta padanya. Tapi Bandung yang ada di dalam kepala kita adalah versi lain yang hanya bisa dikunjungi dalam diam.

Mungkin itulah yang tidak pernah kita siapkan sebelum memilih pergi: bahwa kepergian bukan hanya soal meninggalkan tempat. Ia juga soal meninggalkan versi diri kita yang pernah sangat mengenal tempat itu.

Bandung bukan kota yang kejam. Ia tidak mengusir kita. Ia hanya terus berjalan ketika kita memilih berhenti sejenak, atau memilih melangkah ke arah lain.

Dan ketika kita kembali, kota ini menyambut dengan caranya sendiri: tetap ramai, tetap hidup, tetap indah di mata orang-orang yang baru pertama kali melihatnya.

Hanya saja, kita bukan lagi orang-orang itu.

Kita adalah mereka yang tahu terlalu banyak tentang kota ini untuk bisa melihatnya dengan mata segar, tapi sudah terlalu lama pergi untuk bisa menyebutnya rumah tanpa ragu.

Di antara dua perasaan itulah kita berdiri. Dan mungkin, di situlah cerita yang paling jujur tentang Bandung sebenarnya dimulai. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)