Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

4 Ide Cerita untuk Kamu yang Merasa 'Terasing' di Bandung Kampung Halamanmu

5 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Minggu 12 Apr 2026, 13:26 WIB
Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.ID -- Ada yang aneh ketika kita kembali ke Bandung setelah bertahun-tahun pergi.

Bukan macetnya, itu sudah kita duga. Bukan juga gedung-gedung baru yang tumbuh di sudut-sudut yang dulu kita hafal. Yang aneh adalah perasaan kita: berdiri di kota tempat kita lahir, tapi merasa seperti tamu.

Kita mencoba menelusuri jalan yang dulu sering kita lewati pulang sekolah. Sebagian masih sama. Tapi sesuatu sudah bergeser. Entah jalannya, entah kita. Dan kita tidak tahu mana yang lebih menyedihkan.

Orang-orang sering bicara tentang Bandung dari sudut pandang pendatang: bagaimana kota ini mengecewakan atau melampaui ekspektasi mereka. Tapi tidak banyak yang bicara tentang kami — orang-orang yang pergi dari sini, lalu kembali dan mendapati bahwa rumah sudah tidak sepenuhnya mengenali kita.

Atau mungkin kita yang sudah lupa cara mengenalinya.

Bandung di bulan April selalu punya cara untuk mempertemukan masa lalu dan masa kini: dari peringatan Konferensi Asia-Afrika yang mengingatkan kejayaan yang pernah ada, hingga Hari Kartini yang bicara soal perempuan yang memilih melangkah—termasuk melangkah pergi. Bagi kita yang sudah pergi, momen-momen itu bukan lagi sekadar perayaan. Mereka adalah pertanyaan.

Apakah sebuah kota bisa terasa asing bagi orang yang justru tumbuh di dalamnya?

Kartini Hari Ini Memilih Pergi (21 April)

Dulu, perempuan-perempuan Bandung bermimpi tentang kebebasan. Sekarang, sebagian dari mereka mewujudkannya dengan cara yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya: meninggalkan kota.

Bukan karena Bandung buruk. Tapi karena peluang itu ada di tempat lain, di Jakarta, di Surabaya, bahkan di luar negeri. Dan semangat Kartini, yang selalu kita rayakan setiap 21 April, justru mendorong mereka untuk tidak diam.

Yang tidak pernah diceritakan adalah perasaan setelahnya. Ketika pulang saat Lebaran atau akhir tahun, kota yang dulu terasa seperti selimut hangat itu kini terasa berbeda ukurannya. Terlalu sempit di satu sisi, terlalu luas di sisi lain.

Kemandirian ternyata punya harga yang tidak tertulis di mana-mana: kita tumbuh, tapi kota kita tidak ikut tumbuh bersama kita. Atau sebaliknya, kota yang tumbuh terlalu cepat, sementara kenangan kita tertinggal di versi lamanya.

Kartini berbicara tentang perempuan yang ingin maju. Tapi tidak ada yang menceritakan bagaimana rasanya maju, lalu menoleh ke belakang, dan mendapati rumah sudah tidak lagi di tempat yang sama.

Berjalan di Asia-Afrika, Merasa Jadi Wisatawan (18 April)

Setiap tahun, Bandung memperingati Konferensi Asia-Afrika. Momen ketika kota ini berdiri di panggung dunia, menjadi simbol solidaritas dan harapan bangsa-bangsa yang baru merdeka.

Kita yang lahir dan besar di Bandung tumbuh dengan kebanggaan itu. Jalan Asia-Afrika bukan sekadar nama, tapi adalah bagian dari identitas kita.

Tapi coba kembali ke sana setelah lama pergi.

Bangunan-bangunan tua itu masih berdiri megah. Gedung Merdeka masih tegak seperti dulu. Tapi kita berjalan di trotoarnya dengan perasaan yang aneh — seperti turis yang membaca plakat sejarah di kota orang lain.

Orang-orang di sekitar kita memotret, berselfie, menikmati suasana. Kita juga melakukan hal yang sama dulu. Tapi sekarang, ada jarak yang tidak bisa dijelaskan antara kita dan tempat itu.

Solidaritas Asia-Afrika lahir dari perasaan senasib, dari rasa memiliki yang kuat. Ironinya, kita yang pernah benar-benar dari sini justru kehilangan rasa memiliki itu perlahan-lahan. Sementara para pendatang dan wisatawan menikmatinya dengan penuh semangat.

Mungkin memiliki sesuatu terlalu lama membuat kita lupa menghargainya. Dan kehilangan jarak membuat kita lupa cara merindukannya dengan benar.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Angkot yang Dulu Hafal, Kini Membingungkan (24 April)

Dulu, kita naik angkot tanpa berpikir. Hafal rutenya, hafal tembakan harganya, hafal cara memberi kode berhenti hanya dengan gerakan tangan kecil.

Sekarang, kita berdiri di pinggir jalan dengan ekspresi yang sama dengan pendatang baru: bingung.

Rute berubah. Beberapa trayek hilang. Nama-nama jalan yang dijadikan patokan sudah berganti wajah. Pertokoan lama jadi minimarket, warung nasi yang legendaris sudah tutup, gang yang dulu jadi shortcut kini ditutup pagar.

Hari Angkutan Nasional setiap 24 April seharusnya jadi pengingat tentang bagaimana transportasi menghubungkan orang dan kota. Tapi bagi kita yang sudah lama pergi, angkot justru menjadi cermin yang jujur: seberapa jauh kita sudah terputus dari ritme kota ini.

Yang paling mengena bukan ketika kita salah turun. Yang paling mengena adalah ketika penumpang lain— yang terlihat baru beberapa bulan tinggal di Bandung—justru lebih hafal rute daripada kita.

Di titik itu, kita sadar: kota ini sudah punya penghuni baru yang lebih akrab dengannya dari kita.

Rindu pada Kota yang Sudah Tidak Ada (28 April)

Hari Puisi Nasional jatuh setiap 28 April. Dan puisi, pada dasarnya, adalah cara manusia mengungkapkan apa yang tidak bisa dijelaskan dengan kalimat biasa.

Kerinduan pada Bandung adalah salah satu perasaan itu.

Tapi lama-lama kita menyadari sesuatu yang mengganggu: Bandung yang kita rindukan sebenarnya sudah tidak ada. Yang kita rindukan adalah gang kecil yang kini sudah jadi jalan besar. Warung yang sudah berganti nama. Suara adzan dari masjid yang kini tertutupi suara kendaraan.

Kita merindukan orang-orang yang sudah pindah, menua, atau pergi lebih dulu. Kita merindukan versi diri kita yang lebih muda, yang belum tahu bahwa suatu hari akan memilih pergi.

Bandung yang ada sekarang nyata dan hidup. Terus bergerak, terus berubah, terus menerima orang-orang baru yang akan jatuh cinta padanya. Tapi Bandung yang ada di dalam kepala kita adalah versi lain yang hanya bisa dikunjungi dalam diam.

Mungkin itulah yang tidak pernah kita siapkan sebelum memilih pergi: bahwa kepergian bukan hanya soal meninggalkan tempat. Ia juga soal meninggalkan versi diri kita yang pernah sangat mengenal tempat itu.

Bandung bukan kota yang kejam. Ia tidak mengusir kita. Ia hanya terus berjalan ketika kita memilih berhenti sejenak, atau memilih melangkah ke arah lain.

Dan ketika kita kembali, kota ini menyambut dengan caranya sendiri: tetap ramai, tetap hidup, tetap indah di mata orang-orang yang baru pertama kali melihatnya.

Hanya saja, kita bukan lagi orang-orang itu.

Kita adalah mereka yang tahu terlalu banyak tentang kota ini untuk bisa melihatnya dengan mata segar, tapi sudah terlalu lama pergi untuk bisa menyebutnya rumah tanpa ragu.

Di antara dua perasaan itulah kita berdiri. Dan mungkin, di situlah cerita yang paling jujur tentang Bandung sebenarnya dimulai. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 13:28

Kweekschool Goenoeng Sarie dan Legenda Persib di Lembang

Beberapa legenda Persib lahir dari sebuah lapangan sederhana di utara Pasar Panorama Lembang.

Keadaan kelas di Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang 1920-an. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 10:43

Hutan dalam Toponim, Indah, Damai, dan Menyejahterakan

Masyarakat Sunda, pada mulanya melebur dengan alam, dengan hutan.

Hutan yang terjaga memberikan kelimpahan sumberdaya alam. Masyarakat memanfaatkan tanpa merusak. (Foto: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 09:45

Serpihan Napas Kehidupan bagi Penarik Becak di Bandung

Bandung terus berjalan cepat mengikuti arus perkembangan zaman.

Begitu banyak cerita tentang transportasi di Bandung salah satunya becak yang sudah mulai ditinggalkan penumpangnya (Sumber: Ilustrasi ubah foto asli menjadi AI | Foto: Dias Ashari)
Beranda 29 Mei 2026, 08:43

Pengendara Ojol di Kota Bandung Mulai Beralih ke Motor Listrik, Nyaman tapi Belum Sepenuhnya Praktis

Pengemudi ojol di Bandung mulai mencoba motor listrik karena lebih nyaman dan hemat. Namun, keterbatasan infrastruktur baterai masih jadi tantangan utama.

Yusuf dan motor listriknya yang digunakannya untuk mengantar penumpang di kawasan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 19:21

Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamdu.

Warga menggelar tradisi takbiran di Kampung Bunut, Margahurip, Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 15:10

Kurban dan Masakan Ibu Saat Tahun 1980-an

Suasana Hari Raya Iduladha tahun 1980-an tentang bagaimana seorang Ibu mengolah daging kurban diolah menjadi masakan yang digemari anak-anaknya

Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)