Jantung Konektivitas Kota yang Kurang Sehat dan Masalah Polusi Udara

Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan Rabu 15 Apr 2026, 13:50 WIB
Monumen Sepur Lempung di Stasiun Hall sebelah selatan yang merupakan ikon konektivitas kota Bandung sepanjang zaman (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Monumen Sepur Lempung di Stasiun Hall sebelah selatan yang merupakan ikon konektivitas kota Bandung sepanjang zaman (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Stasiun KA dan terminal angkutan darat merupakan jantung konektivitas yang memompa bermacam moda transportasi ke segala arah dan tujuan. Jantung konektifitas juga menjadi ikon kota bagi para pendatang yang memasuki kota Bandung. 

Stasiun Hall atau stasiun besar Bandung merupakan jantung dan ikon yang sekaligus menjadi pintu gerbang kota. Stasiun Hall adalah jantung transportasi yang setiap hari memompa sistem transportasi Masyarakat khususnya para penglaju untuk bekerja dan beraktifitas ke segala arah Bandung Raya.

Sejak tahun 80-an hingga kini, seperti yang penulis lihat dalam keseharian dan alami sendiri, jantung konektivitas kota itu dalam kondisi yang kurang sehat akibat dikepung kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas. Kawasan Stasiun Hall terus didera dengan masalah laten lalu lintas yang padat dan amburadul. Jalan raya di sebelah barat, timur, utara, dan selatan  Stasiun Hall setiap hari dalam kondisi macet dan tidak ada keteraturan.

Kondisi terkini infrastruktur Stasiun Bandung yang sudah dibangun dengan konstruksi yang megah dan sistem transportasi yang modern namun di sekelilingnya semakin padat, pengap dan kurang nyaman. Terlihat di kawasan Stasiun Bandung sebelah selatan yang menghubungkan dengan terminal angkot yang kondisinya semakin kumuh. Dinas Perhubungan, PT KAI, aparat keamanan dan Pemkot perlu segera menata secara tegas kawasan selatan stasiun hingga ke arah Pasar Baru.

Memasuki ruang tunggu Stasiun Hall bagian selatan tampak beberapa alat pendingin yakni kipas angin berukuran besar. Juga cukup banyak petugas kebersihan stasiun yang sangat rajin dan cekatan membereskan kebersihan dan utilitas di stasiun.  Di luar stasiun panas terik menyengat dan udara tidak lagi segar karena asap kendaraan yang kian padat. Apalagi di sekitar stasiun kekurangan jumlah pohon besar yang bisa membuat suasana menjadi teduh.

Stasiun Hall adalah jantung kota yang setiap hari memompa sistem transportasi ke segala penjuru (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Stasiun Hall adalah jantung kota yang setiap hari memompa sistem transportasi ke segala penjuru (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Polusi Udara Mengancam Kota Bandung

Warga kota dan para pendatang ke Kota Bandung ingin menghirup udara bersih dan sejuk. Nyatanya udara di kota ini tidak seperti yang mereka bayangkan. Kota ini masih bergelut mengatasi masalah pencemaran udara. Masalah tersebut tidak bisa dengan program sepotong-sepotong. Harus ada totalitas, karena ada keterkaitan antara berbagai faktor. Seperti jumlah kendaraan bermotor, senyawa BBM, zona industri, serta sistem bangunan gedung.

Pencemaran udara menyebabkan gangguan kesehatan yang sangat serius bagi warga kota. Zat pencemar udara yang timbul dapat digolongkan menjadi zat kimia, fisik dan biologik. Zat pencemar kimia terbanyak berupa karbon monoksida (CO), oksida sulfur, oksigen nitrogen, hidrokarbon dan partikel lainnya.

Produsen karbon monoksida sekitar 80 persennya berasal dari kendaraan bermotor. Pengaruh CO terhadap kesehatan adalah merusak hemoglobin darah. Akibatnya suplai oksigen pada jaringan sel tubuh bisa berkurang secara drastis. Selain kandungan kimia CO, asap kendaraan itu juga mengandung nitrogen oksida dan hidrokarbon. Kedua zat ini sangat berbahaya bagi manusia. Efek dari kedua zat ini tergantung dari seberapa besar pencemaran udara itu dihirup oleh seseorang. Jika konsentrasi 50 hingga 100 ppm akan menyebabkan peradangan paru-paru. Sedangkan jika mencapai konsentrasi 150 hingga 200 ppm menyebabkan gagal pernafasan atau bronkitis  fibrosis yang diikuti dengan kematian.

Ruang tunggu penumpang di Stasiun Hall (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ruang tunggu penumpang di Stasiun Hall (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Data statistik menunjukkan bahwa Kota Bandung memiliki populasi kendaraan mencapai 1.738.672 unit, sementara panjang jalan hanya 1.172,78 km. Hal ini menghasilkan angka kepadatan kendaraan sebesar 1.483 kendaraan per kilometer jalan. Kurangnya moda transportasi massal yang efisien dan nyaman membuat masyarakat, termasuk puluhan ribu mahasiswa, lebih memilih menggunakan sepeda motor atau mobil pribadi.

Bahaya pencemaran udara juga menyangkut kondisi basement ruang parkir gedung-gedung di kota Bandung yang sering mengabaikan prinsip pengendalian pencemaran udara secara benar. Sepertinya publik dipaksa menghirup gas beracun pada area basement ruang parkir yang tertutup. Masih banyak basement ruang parkir yang membuat sesak nafas karena tidak dilengkapi dengan fasilitas sirkulasi udara yang baik. Selain itu basement juga sangat rentan terhadap kebakaran dan sabotase.

Demi masa depan yang lebih sehat, dibutuhkan pemimpin daerah yang memiliki program yang konkret untuk menanggulangi pencemaran udara. Juga keteladanan untuk peduli udara bersih. Alangkah bahagianya jika para pemimpin berani membuat terobosan yang berani seperti zona larangan parkir di beberapa lokasi. Selain itu juga perlu program yang ketat untuk mengukur emisi.

Kewajiban melakukan uji emisi bagi kendaraan bermotor roda empat dan dua ternyata prosedurnya masih bisa dimanipulasi.  Perlu dicatat bahwa udara yang tercemar mengandung partikel berbahaya seperti PM2.5, karbon monoksida (CO), dan nitrogen dioksida (NO2) yang memiliki dampak buruk bagi kesehatan manusia.

 Paparan polusi udara yang terus-menerus di titik kemacetan kota dapat memicu berbagai penyakit sistemik  antara lain :

 - ​Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK): Peradangan kronis pada paru-paru yang bersifat progresif dan tidak dapat pulih kembali, menyebabkan sesak napas dan batuk berdahak permanen.

- ​Gangguan Kardiovaskular: Polutan yang terhirup masuk ke aliran darah melalui paru-paru, memicu peradangan sistemik yang memperkeras pembuluh darah, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

- ​Dampak pada Kehamilan: Partikel polusi dapat mengendap di plasenta janin, menyebabkan kelahiran prematur, berat bayi lahir rendah (BBLR), hingga kematian bayi.

- ​Kanker: Paparan zat karsinogen dalam asap kendaraan dalam jangka panjang meningkatkan risiko kanker paru-paru dan kanker kulit.

 Salah satu aspek yang sering terabaikan dalam perencanaan sistem transportasi kota adalah dampak psikologis dari kemacetan dan ketidakpastian lingkungan. Masyarakat yang setiap hari terjebak dalam kemacetan parah mengalami peningkatan tingkat stres dan kelelahan kronis. Stres yang dipicu oleh kemacetan tidak hanya menurunkan produktivitas kerja tetapi juga mengganggu keseimbangan kehidupan pribadi dan hubungan sosial.

Polusi udara pun memiliki kaitan erat dengan masalah kesehatan jiwa. Partikel debu dan polutan yang terhirup dapat mengganggu keseimbangan hormon endokrin, yang berkontribusi pada munculnya gejala depresi dan kecemasan. Anak-anak dan lansia merupakan kelompok yang paling rentan terhadap gangguan kejiwaan akibat paparan polusi kronis. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Totok Siswantara
Penulis lepas, pemulia tanaman, lulusan Program Profesi Insinyur

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)