Angkot 0 Rupiah yang Masih Sepi Penumpang, Cerita Feeder Metro Jabar Trans dan Harapan Mobilitas Warga Kota Bandung

5 menit baca
Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan
Penumpang feeder Metro Trans Jabar sedang membayar ongkos menggunakan mesin tapcash. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Penumpang feeder Metro Trans Jabar sedang membayar ongkos menggunakan mesin tapcash. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID - Transportasi umum dalam kota yang digadang-gadang sebagai moda kendaraan dengan biaya transaksi 0 rupiah kini hadir di sejumlah ruas Kota Bandung sejak 1 Oktober 2025.

Layanan transportasi ini merupakan bagian dari Program Metro Jabar Trans (MJT) yang dikembangkan dalam kategori berbeda, yakni berukuran lebih kecil menyerupai angkutan dalam kota dan disebut sebagai feeder. Angkutan ini memiliki visi utama sebagai penghubung kawasan permukiman di Kota Bandung, mendukung mobilitas harian warga, sekaligus menjadi perantara bagi pelancong yang ingin menjangkau destinasi wisata kota.

Namun demikian, meski telah diresmikan hampir lima bulan lalu, kehadiran angkot 0 rupiah ini belum sepenuhnya dikenal masyarakat. Hal tersebut terlihat dari jumlah penumpang yang masih relatif sedikit dan kondisi beberapa halte pemberhentian yang tampak lengang.

Padahal, jika ditelaah lebih jauh, feeder MJT hadir melalui rute strategis yang mencakup kawasan wisata kota. Rute ini dimulai dari Simpang Soekarno-Hatta (Soetta)–Kiara Condong (Kircon), hingga menyentuh kawasan Pasar Baru dan Jalan Braga.

Metode pembayaran feeder MJT menggunakan tapcash atau E-Money. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Metode pembayaran feeder MJT menggunakan tapcash atau E-Money. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Dalam praktiknya, metode pembayaran feeder MJT telah dilengkapi sistem digital. Penumpang diwajibkan menggunakan kartu tapcash atau e-money yang ditempelkan pada mesin pembayaran digital di dekat sopir setelah naik dan duduk di dalam angkot. Meski melakukan tap kartu, saldo penumpang tidak akan berkurang sama sekali.

“Lebih tepatnya, feeder MJT atau angkutan umum kota dengan biaya 0 rupiah ini masih dalam masa uji coba,” ungkap Harun Al-Rasyid (27), time table sopir feeder MJT. Ia sekaligus meluruskan anggapan di masyarakat yang kerap menyebut layanan ini gratis secara permanen.

Harun menambahkan, penggunaan tapcash juga berfungsi sebagai sistem pendataan jumlah penumpang yang masuk ke dalam sistem pihak ketiga setiap harinya.

Pelaksanaan uji coba feeder MJT sendiri belum memiliki batas waktu yang benar-benar pasti. Saat ditanya lebih lanjut, Harun menjelaskan bahwa pada perencanaan awal, uji coba hanya berlangsung selama dua minggu sejak Oktober 2025.

“Namun kemudian diperpanjang sampai November, lalu sampai akhir Desember 2025 tuntas. Syukur-syukur kalau masa uji coba 0 rupiah ini bisa diperpanjang hingga satu tahun ke depan,” jelas Harun.

Selama masa uji coba berlangsung, penumpang tidak dikenakan biaya apa pun. Namun, apabila kelak masa percobaan berakhir, akan diberlakukan tarif sebesar Rp4.900 untuk sekali perjalanan. Tarif ini setara dengan tarif dasar Bus Damri MJT yang saat ini berlaku di sejumlah koridor, salah satunya Koridor 5 dengan rute Dipatiukur–Jatinangor.

Menurut penuturan Harun, saat ini feeder MJT telah melayani dua koridor dengan rute berbeda. Koridor 1 melayani rute Simpang Soekarno-Hatta–Kiara Condong hingga Pasar Baru di Jalan ABC. Sementara Koridor 2 melayani rute dari kawasan Cicadas hingga Elang.

“Di antara rute Koridor 1, feeder MJT melewati Jalan Braga. Untuk saat ini, feeder MJT merupakan satu-satunya angkot yang melintasi jalur tengah Braga, kawasan wisata yang kerap dikunjungi turis di Bandung,” katanya.

Rute feeder MJT ditempel di kaca bagian belakang angkot. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Rute feeder MJT ditempel di kaca bagian belakang angkot. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Terkait pemetaan usia penumpang, Harun menyebut pihaknya memiliki data internal dari pihak ketiga selama satu bulan, yakni Oktober 2025—tepat setelah layanan diresmikan. Dari pemantauan tersebut, tercatat sekitar 5.400 penumpang telah menggunakan layanan feeder MJT 0 rupiah dalam kota.

Meski demikian, Harun mengungkapkan bahwa layanan ini lebih banyak diminati oleh Generasi Z, terutama untuk kebutuhan berangkat sekolah dan bekerja. Jam padat penumpang umumnya terjadi pada pukul 06.00–08.00 WIB.

“Kami berharap ke depannya feeder MJT bisa menarik minat masyarakat yang lebih luas dan benar-benar hadir sebagai transportasi umum yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga,” ujarnya.

“Kami ingin layanan ini bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali,” tambah Harun di akhir percakapan.

Dalam operasionalnya, feeder MJT menerapkan sejumlah aturan ketat, di antaranya larangan bagi sopir menyetir sambil merokok atau menggunakan gawai. Seluruh aktivitas sopir dan penumpang diawasi CCTV, serta tidak diperbolehkan praktik ngetem sebagaimana yang kerap terjadi pada angkot konvensional.

Pergerakan Feeder Metro Jabar Trans (MJT) terpantau secara digital melalui Advance Driver Assistance System yang dapat mendeteksi kondisi sopir dan juga GPS. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Pergerakan Feeder Metro Jabar Trans (MJT) terpantau secara digital melalui Advance Driver Assistance System yang dapat mendeteksi kondisi sopir dan juga GPS. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

“Enak sih, jadi nggak lama-lama nunggu buat pulang ke rumah kalau habis dari Pasar Baru ke Jalan Malabar,” ujar Siti Nurmala (65). Ia mengaku diuntungkan karena feeder MJT tidak bergantung pada jumlah penumpang.

Meski menawarkan banyak manfaat, feeder MJT masih memiliki sejumlah kekurangan.

“Memang nggak ada istilah ngetem, tapi kadang harus nunggu 10 menit atau bahkan lebih buat bisa naik,” keluh Aisyah (60) saat menunggu feeder MJT di kawasan Pasar Baru. Banyaknya halte pemberhentian dinilai memengaruhi jarak tempuh kendaraan menuju halte berikutnya.

Aisyah juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan kartu e-money. Tidak semua minimarket menyediakan layanan pembuatan kartu tersebut. Ia berharap layanan pemerintah seperti Samsat dapat menyediakan fasilitas pembuatan kartu e-money apabila memungkinkan.

Selain itu, kondisi halte pemberhentian feeder MJT dinilai belum sepenuhnya memadai. Hanya beberapa halte yang terawat dan layak, sementara sebagian lainnya masih bersifat “virtual” dan hanya diketahui oleh sopir. Mayoritas halte masih membutuhkan peningkatan kelayakan.

Dari sudut pandang pengemudi, feeder MJT juga bukan terobosan yang serta-merta mudah dijalani. Asep Suhendi (42) mengaku perlu beradaptasi, terutama saat dihadapkan pada dilema antara empati kepada penumpang yang belum memiliki kartu tapcash dan aturan yang melarang mengangkut penumpang tanpa kartu.

Asep mengakui bahwa sikap sopir terhadap penumpang tidak selalu sama. Namun, ia memilih tetap bersikap ramah dan mempersilakan penumpang duduk. Hal ini sejalan dengan pernyataan Siti Nurmala yang menyebut tidak semua sopir feeder MJT ramah dan murah senyum.

Terkait rekrutmen, Asep menjelaskan bahwa menjadi sopir feeder MJT tergolong mudah namun tetap ketat. “Biasanya diminta melengkapi administrasi, salah satunya SKCK. Banyak yang gugur di tahap ini karena akan ada tes urine lanjutan,” ujarnya.

“Tidak semua mantan sopir angkot reguler bersedia atau lolos tes urine. Kalau terindikasi pernah menggunakan obat-obatan terlarang, kandidat langsung gugur,” tambahnya.

Feeder Metro Trans jabat (MJT) (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Feeder Metro Trans jabat (MJT) (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Menurut Asep, selama mematuhi aturan dan menjaga disiplin, tak ada kendala berarti dalam menjalani profesi ini. Ia menyebut pernah ada sopir yang diberhentikan karena melanggar rute yang telah disepakati bersama pengelola.

Meski rutenya cukup padat—sekitar 105 ruas jalan—Asep mengungkapkan bahwa gaji sopir feeder MJT tergolong menjanjikan, dengan nominal setara UMK Kota Bandung setiap bulannya.

Program feeder MJT pada akhirnya tidak hanya membangun sistem transportasi, tetapi juga merangkai kebutuhan yang setara antara pengelola, staf, sopir, hingga penumpang. Akses yang semakin mudah serta sosialisasi yang lebih luas masih sangat dibutuhkan.

Ke depan, terdapat rencana penambahan Koridor 3 dengan rute Soreang–Ciwidey, meski hingga kini masih dalam tahap pembahasan bersama pihak pengelola.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)