Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

5 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Jumat 17 Apr 2026, 18:03 WIB
Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar. Dalam buku The History of Java karya Raffles, dituliskan bahwa Wong Kalang ini adalah suku di Jawa Tengah yang awalnya hidup nomaden menggunakan pedati. Karena mereka termasuk masyarakat yang tertutup, mereka dicap sebagai manusia kera atau manusia yang memiliki ekor dan lahir di hutan belantara.

Benarkah ada beberapa Wong Kalang yang bermigrasi ke barat Jawa? Kisah ini adalah kisah keluarga besar saya sendiri yang akan saya bahas di sini.

Wong Kalang atau suku Kalang adalah salah satu sub-suku yang terkenal di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur terutama di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka ini adalah para ahli kayu yang hidup di masa era kerajaan Majapahit. Mereka tinggal di hutan-hutan karena juga sebagai juru angkut yang memang bekerja di hutan demi kepentingan kerajaan pada saat itu. Dan Wong Kalang ini sangat berperan dalam membangun infrastruktur Kerajaan Majapahit.

Ada salah satu prasasti kuno yang bernama prasasti Kuburan Candi (831 M) di Magelang yang menyebutkan keberadaan Wong Kalang ini untuk pertama kalinya. Lalu pada era kerajaan Mataram Islam, keturunan-keturunan Wong Kalang ini ditempatkan oleh Sultan Agung di sebuah tempat khusus di Yogyakarta, yaitu tepatnya di kawasan Tegalgendu, Kota Gede, Yogyakarta.

Mereka dipisahkan dari lingkungan masyarakat umum atau dalam bahasa lokalnya dikalang (dipisahkan). Mereka ini sengaja dipisahkan oleh sultan, karena mereka memang bekerja sebagai tukang kayu atau yang mengatur pertukangan di kraton. Selain itu juga mereka bekerja sebagai tukang pembuat kapal-kapal VOC di Batavia.

Karena keahliannya dalam melakukan kegiatan pertukangan, mereka diberi kebebasan dalam melakukan aktivitas lain, yaitu membuka usaha perhiasan dari perak, hingga kawasan Kota Gede hingga kini terkenal dengan itu semua.

Selain itu dalam perkembangannya, para keturunan Wong Kalang diberikan kepercayaan oleh pihak kraton untuk membuka rumah-rumah gadai di kawasan Kota Gede. Hingga, para Wong Kalang ini terkenal sebagai para pengusaha yang kaya raya. Salah satu peninggalannya di kawasan Kota Gede sekarang masih dapat kita temui yaitu, Museum Kota Gede Intro Living dan Ndalem Natan Royal Heritage. Dari dua gedung di atas tersebut dapat dilihat arsitektur khas dari kediaman para Wong Kalang. Dari mulai ukiran-ukiran kayu, kaca patri hingga lantai-lantai indah penuh ornamen.

Karena keberhasilan mereka dalam berkarir, lalu muncullah stigma negatif dari masyarakat Kota Gede bahkan masyarakat Yogyakarta pada saat itu. Mereka dirumorkan sebagai manusia yang lahir dari seekor anjing bahkan ada yang mengatakan mereka adalah keturunan kera di pedalaman hutan, yang menyebabkan mereka dirumorkan memiliki ekor seperti kera. Mungkin ini terdengar konyol, tapi rumor ini meruntuhkan mentalitas sebagian besar dari para Wong Kalang. Ketika ibu dan kakek saya mengisahkan ini, kami sekeluarga menyebutnya dengan “perundungan tempo dulu”.

Dalam kisah keluarga kami, perundungan itu menyebabkan keluarga leluhur saya hidup dengan perundungan di setiap harinya. Hal ini yang mendasari keluarga besar leluhur saya untuk hijrah ke kawasan yang lain. Terpilihlah kawasan Pekalongan sebagai kawasan urban kami yang pertama.

Di Pekalongan keluarga besar memilih untuk merubah nama-nama mereka, menanggalkan semua identitas mereka di Yogyakarta. salah satunya adalah ibu Eyang, buyut kakek saya yang mengganti namanya yang asalnya Banowati menjadi Khodijah.

Di Pekalongan keluarga besar membuat bisnis batik kecil-kecilan yang akhirnya berkembang pesat dari tahun ke tahun. Namun di penghujung tahun 1878, kejadian tak mengenakan kembali terjadi. Identitas keluarga besar terbuka, akhirnya para pelanggan batik mengetahui bahwa keluarga besar kami adalah para Wong Kalang Kota Gede, dan perundungan pun terjadi lagi dan lagi. Seperti sebuah ironi bagi kami, namun seperti candaan bagi para perundung di masa lalu.

Akhirnya untuk kedua kalinya kami sekeluarga pindah ke kawasan yang jauh lebih barat, dan kami tidak sendirian kala itu. Kami keluarga besar adalah salah satu keluarga yang ikut pindah bersama keluarga-keluarga lainnya dari Jawa Tengah, ada yang dari kawasan Lasem, Trenggalek, Banyumas, Solo, Tegal, dan kami dari Pekalongan. Kebanyakan mereka yang ikut serta pindah adalah anak turun dari bekas pasukan Diponegoro yang dahulu berdomisili di Demak. Mereka semua bersama-sama pindah ke arah barat, untuk kehidupan yang lebih tenang dan lebih baik, berbekal keahlian berniaga kain batik.

Singgahlah rombongan tersebut di Cirebon, dan ada beberapa yang menikah atau berbesanan dengan orang-orang Tionghoa Cirebon. Lalu mereka terus menuju barat, dan sampailah mereka di kawasan sejuk, berkabut dan indah yaitu Bandung. Di Kota Bandunglah mereka dapat diterima dengan baik, dan mereka menetap di kawasan Pasar Baru Bandung, hingga mereka semua terkenal dengan sebutan “Keluarga Besar Pasar Baru Bandung” atau “Urang Pasar”.

Di Bandunglah mereka berlabuh dan dapat diterima dengan baik. Mereka bahkan menguasai perdagangan kain batik dan membuka bank pribumi pertama di 1906 yaitu “Bank Himpunan Saudara” yang sekarang bertransformasi menjadi Bank Woori Saudara.

Keluarga besar kami (Wong Kalang) menempati lahan di barat Braga atau Wangsalapiweg pada 1880. Keluarga kami membuka usaha kain batik, minyak wangi, percetakan buku-buku Teosofi hingga berbisnis telur asin. Dan tempat kami tinggal adalah kawasan Babakan Soeniaradja, karena ada yang berbesan dengan para Tionghoa Cirebon. Kawasan tempat tinggal kami sekarang bernama kampung atau Gang Apandi, Apandi adalah salah satu anggota keluarga kami para Wong Kalang. Ia adalah pengusaha Garut yang menikah dengan salah satu putri keluarga besar, yang akhirnya membuka percetakan pribumi pertama di utara Braga yang bernama “toko Tjitak Apandi”.

Di Bandunglah para Wong Kalang diterima, bahkan stigma manusia dengan ekor kera pun berakhir sudah, dan perundungan tersebut pun tidak pernah terjadi lagi. Terima kasih Bandung, karena telah menjadi rumah yang sebenarnya bagi kami para Wong Kalang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Bandung 10 Jun 2026, 17:55

Mengenal Kanemura, Brand Kuliner Jepang yang Mengusung Sistem Manajemen Terpusat dalam Bisnis Waralaba

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise).

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise). (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 10 Jun 2026, 17:29

Denyut Digitalisasi Perbankan yang Menghidupi Perajin Sepatu Kulit Cibaduyut

Sejak 2018, Mochamad Indra Yusuf Wahyudin aktif mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 15:08

Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

Transformasi digital telah membuka ruang publik semakin luas, tetapi membawa dampak pada kerusakan bahasa akibat kesalahan-kesalahan penafsiran masyarakat

Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)