Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

5 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar. Dalam buku The History of Java karya Raffles, dituliskan bahwa Wong Kalang ini adalah suku di Jawa Tengah yang awalnya hidup nomaden menggunakan pedati. Karena mereka termasuk masyarakat yang tertutup, mereka dicap sebagai manusia kera atau manusia yang memiliki ekor dan lahir di hutan belantara.

Benarkah ada beberapa Wong Kalang yang bermigrasi ke barat Jawa? Kisah ini adalah kisah keluarga besar saya sendiri yang akan saya bahas di sini.

Wong Kalang atau suku Kalang adalah salah satu sub-suku yang terkenal di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur terutama di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka ini adalah para ahli kayu yang hidup di masa era kerajaan Majapahit. Mereka tinggal di hutan-hutan karena juga sebagai juru angkut yang memang bekerja di hutan demi kepentingan kerajaan pada saat itu. Dan Wong Kalang ini sangat berperan dalam membangun infrastruktur Kerajaan Majapahit.

Ada salah satu prasasti kuno yang bernama prasasti Kuburan Candi (831 M) di Magelang yang menyebutkan keberadaan Wong Kalang ini untuk pertama kalinya. Lalu pada era kerajaan Mataram Islam, keturunan-keturunan Wong Kalang ini ditempatkan oleh Sultan Agung di sebuah tempat khusus di Yogyakarta, yaitu tepatnya di kawasan Tegalgendu, Kota Gede, Yogyakarta.

Mereka dipisahkan dari lingkungan masyarakat umum atau dalam bahasa lokalnya dikalang (dipisahkan). Mereka ini sengaja dipisahkan oleh sultan, karena mereka memang bekerja sebagai tukang kayu atau yang mengatur pertukangan di kraton. Selain itu juga mereka bekerja sebagai tukang pembuat kapal-kapal VOC di Batavia.

Karena keahliannya dalam melakukan kegiatan pertukangan, mereka diberi kebebasan dalam melakukan aktivitas lain, yaitu membuka usaha perhiasan dari perak, hingga kawasan Kota Gede hingga kini terkenal dengan itu semua.

Selain itu dalam perkembangannya, para keturunan Wong Kalang diberikan kepercayaan oleh pihak kraton untuk membuka rumah-rumah gadai di kawasan Kota Gede. Hingga, para Wong Kalang ini terkenal sebagai para pengusaha yang kaya raya. Salah satu peninggalannya di kawasan Kota Gede sekarang masih dapat kita temui yaitu, Museum Kota Gede Intro Living dan Ndalem Natan Royal Heritage. Dari dua gedung di atas tersebut dapat dilihat arsitektur khas dari kediaman para Wong Kalang. Dari mulai ukiran-ukiran kayu, kaca patri hingga lantai-lantai indah penuh ornamen.

Karena keberhasilan mereka dalam berkarir, lalu muncullah stigma negatif dari masyarakat Kota Gede bahkan masyarakat Yogyakarta pada saat itu. Mereka dirumorkan sebagai manusia yang lahir dari seekor anjing bahkan ada yang mengatakan mereka adalah keturunan kera di pedalaman hutan, yang menyebabkan mereka dirumorkan memiliki ekor seperti kera. Mungkin ini terdengar konyol, tapi rumor ini meruntuhkan mentalitas sebagian besar dari para Wong Kalang. Ketika ibu dan kakek saya mengisahkan ini, kami sekeluarga menyebutnya dengan “perundungan tempo dulu”.

Dalam kisah keluarga kami, perundungan itu menyebabkan keluarga leluhur saya hidup dengan perundungan di setiap harinya. Hal ini yang mendasari keluarga besar leluhur saya untuk hijrah ke kawasan yang lain. Terpilihlah kawasan Pekalongan sebagai kawasan urban kami yang pertama.

Di Pekalongan keluarga besar memilih untuk merubah nama-nama mereka, menanggalkan semua identitas mereka di Yogyakarta. salah satunya adalah ibu Eyang, buyut kakek saya yang mengganti namanya yang asalnya Banowati menjadi Khodijah.

Di Pekalongan keluarga besar membuat bisnis batik kecil-kecilan yang akhirnya berkembang pesat dari tahun ke tahun. Namun di penghujung tahun 1878, kejadian tak mengenakan kembali terjadi. Identitas keluarga besar terbuka, akhirnya para pelanggan batik mengetahui bahwa keluarga besar kami adalah para Wong Kalang Kota Gede, dan perundungan pun terjadi lagi dan lagi. Seperti sebuah ironi bagi kami, namun seperti candaan bagi para perundung di masa lalu.

Akhirnya untuk kedua kalinya kami sekeluarga pindah ke kawasan yang jauh lebih barat, dan kami tidak sendirian kala itu. Kami keluarga besar adalah salah satu keluarga yang ikut pindah bersama keluarga-keluarga lainnya dari Jawa Tengah, ada yang dari kawasan Lasem, Trenggalek, Banyumas, Solo, Tegal, dan kami dari Pekalongan. Kebanyakan mereka yang ikut serta pindah adalah anak turun dari bekas pasukan Diponegoro yang dahulu berdomisili di Demak. Mereka semua bersama-sama pindah ke arah barat, untuk kehidupan yang lebih tenang dan lebih baik, berbekal keahlian berniaga kain batik.

Singgahlah rombongan tersebut di Cirebon, dan ada beberapa yang menikah atau berbesanan dengan orang-orang Tionghoa Cirebon. Lalu mereka terus menuju barat, dan sampailah mereka di kawasan sejuk, berkabut dan indah yaitu Bandung. Di Kota Bandunglah mereka dapat diterima dengan baik, dan mereka menetap di kawasan Pasar Baru Bandung, hingga mereka semua terkenal dengan sebutan “Keluarga Besar Pasar Baru Bandung” atau “Urang Pasar”.

Di Bandunglah mereka berlabuh dan dapat diterima dengan baik. Mereka bahkan menguasai perdagangan kain batik dan membuka bank pribumi pertama di 1906 yaitu “Bank Himpunan Saudara” yang sekarang bertransformasi menjadi Bank Woori Saudara.

Keluarga besar kami (Wong Kalang) menempati lahan di barat Braga atau Wangsalapiweg pada 1880. Keluarga kami membuka usaha kain batik, minyak wangi, percetakan buku-buku Teosofi hingga berbisnis telur asin. Dan tempat kami tinggal adalah kawasan Babakan Soeniaradja, karena ada yang berbesan dengan para Tionghoa Cirebon. Kawasan tempat tinggal kami sekarang bernama kampung atau Gang Apandi, Apandi adalah salah satu anggota keluarga kami para Wong Kalang. Ia adalah pengusaha Garut yang menikah dengan salah satu putri keluarga besar, yang akhirnya membuka percetakan pribumi pertama di utara Braga yang bernama “toko Tjitak Apandi”.

Di Bandunglah para Wong Kalang diterima, bahkan stigma manusia dengan ekor kera pun berakhir sudah, dan perundungan tersebut pun tidak pernah terjadi lagi. Terima kasih Bandung, karena telah menjadi rumah yang sebenarnya bagi kami para Wong Kalang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)