Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

5 menit baca
Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan
Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Bandung Kota Jamu sesungguhnya bukan gagasan yang sepenuhnya baru. Jauh sebelum minuman herbal dikemas modern dan disajikan di kafe, Kota Bandung telah memiliki jejak sejarah jamu melalui sosok Inggit Garnasih. Perempuan yang pernah mendampingi Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, itu dikenal bukan hanya karena perannya dalam perjuangan kemerdekaan, tetapi juga karena keterampilan meracik jamu dan mengembangkan usaha rumahan.

Kisah Inggit Garnasih memperlihatkan bahwa jamu memiliki dua dimensi penting. Pertama, sebagai bagian dari tradisi pemeliharaan kesehatan masyarakat. Kedua, sebagai sumber penghidupan dan kekuatan ekonomi keluarga. Dari dapur dan peralatan sederhana, termasuk coet atau cobek untuk menumbuk bahan ramuan, usaha jamu menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang perempuan yang turut menopang perjuangan bangsa.

Berbagai catatan biografis mengenai Inggit menyebutkan keterampilannya membuat ramuan tradisional, bedak dingin, dan produk perawatan tubuh. Ia juga menjahit serta meracik rokok kawung untuk menambah penghasilan keluarga. Ketika mendampingi Soekarno dalam masa perjuangan, termasuk saat pengasingan, kemampuan mengolah bahan-bahan tradisional menjadi bagian dari kecakapan hidup yang dimilikinya.

Peran tersebut layak dikenang dalam upaya membangun Bandung sebagai kota yang menghargai warisan jamu. Bukan sekadar menjadikannya simbol nostalgia, melainkan mengembangkan tradisi tersebut menjadi gerakan kebudayaan, kesehatan, dan ekonomi kreatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Jamu, Warisan Budaya yang Mendunia

Pengakuan internasional terhadap jamu semakin memperkuat alasan untuk mengembangkan potensi tersebut. Pada 2023, UNESCO menetapkan budaya kesehatan jamu Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak benda pada Daftar Representatif Warisan Budaya Tak benda Kemanusiaan.

Pengakuan ini bukan semata-mata penghargaan terhadap minuman herbal. Budaya jamu mencakup pengetahuan mengenai tanaman, keterampilan meracik, pewarisan tradisi antargenerasi, serta hubungan sosial antara peracik dan penggunanya. Dengan demikian, pelestarian jamu juga berarti menjaga pengetahuan lokal dan membuka peluang ekonomi bagi petani rempah, peracik, serta pelaku usaha kecil.

Bandung memiliki modal untuk mengembangkan ekosistem tersebut. Kota ini dikenal dengan kreativitas kuliner, budaya nongkrong, komunitas anak muda, dan tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Jamu dapat masuk ke dalam kehidupan perkotaan tanpa harus kehilangan identitas tradisionalnya.

Paduan Rempah, Contoh Inovasi UMKM Bandung

Salah satu contoh inovasi tersebut ialah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya di Kecamatan Coblong, Kota Bandung.

Berangkat dari kecintaan terhadap jamu tradisional, usaha ini mengembangkan rempah menjadi minuman cair siap konsumsi dalam kemasan botol berukuran 250 mililiter dan satu liter. Pendekatan tersebut menjawab kebutuhan konsumen yang menginginkan minuman praktis tanpa harus menumbuk atau merebus rempah sendiri.

Paduan Rempah menawarkan delapan varian, antara lain Sereh Harum, Kuseja yang memadukan kunyit, serai, jahe, dan asam jawa, serta Rosella Bloom. Produk tersebut menggunakan madu sebagai pemanis dan dikembangkan dengan pendekatan kemasan modern.

Dalam sekitar delapan bulan sejak dirintis, Paduan Rempah dilaporkan telah memiliki 16 mitra di Bandung dan Cimahi. Usaha ini juga disebut meraih juara pertama kategori UMKM dalam rangkaian Hari Jadi Kota Bandung ke-216 pada 2026. Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana pengetahuan tradisional dapat dipadukan dengan kreativitas bisnis untuk memperluas pasar.

Meski demikian, klaim bahwa suatu minuman mampu melakukan detoksifikasi, menyembuhkan peradangan, atau memperbaiki fungsi organ tidak boleh hanya didasarkan pada komposisi rempahnya. Keberhasilan usaha dan manfaat kesehatan merupakan dua hal berbeda yang perlu dinilai dengan ukuran masing-masing.

Dari Jamu Gendong ke Kafe Herbal

Transformasi jamu juga terlihat dari perubahan cara penyajiannya. Jamu yang dahulu identik dengan penjual berkeliling dan minuman berwarna pekat kini hadir dalam kemasan modern, menu kafe, hingga berbagai kreasi minuman dingin.

Kafe Acaraki, yang dikenal mengembangkan penyajian jamu dengan teknik modern, merupakan salah satu contoh upaya memperkenalkan kembali minuman tradisional kepada konsumen perkotaan. Penyajian yang menarik, penjelasan mengenai bahan, dan pengalaman menikmati minuman menjadi bagian dari strategi membangun minat generasi muda.

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Kreativitas bahkan dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara usaha jamu dan usaha kuliner lainnya. Jamu beras kencur, kunyit asam, atau temulawak, misalnya, dapat dieksplorasi sebagai bahan kreasi minuman maupun pendamping hidangan pencuci mulut. Perpaduan dengan es krim dapat menjadi inovasi menarik selama cita rasa, keamanan pangan, kandungan gula, dan karakter produk tetap diperhatikan.

Pendekatan ini dikenal sebagai co-creation, yakni penciptaan nilai melalui kolaborasi antarpelaku usaha. Dengan cara tersebut, jamu tidak harus bersaing dengan minuman modern, tetapi dapat masuk ke dalam tren kuliner baru dengan identitasnya sendiri.

Membaca Jamu dari Perspektif Ilmiah

Perkembangan jamu masa kini perlu berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan. Berbagai penelitian telah mengidentifikasi senyawa bioaktif dalam tanaman yang lazim digunakan sebagai bahan jamu, seperti kurkuminoid pada kunyit, gingerol pada jahe, serta senyawa fenolik pada rosela.

Sejumlah penelitian laboratorium dan praklinis menunjukkan potensi aktivitas antioksidan dan antiinflamasi dari bahan-bahan tersebut. Namun, hasil penelitian pada sel atau hewan tidak otomatis membuktikan bahwa minuman jamu yang dikonsumsi sehari-hari memiliki khasiat klinis yang sama pada manusia.

Tinjauan sistematis mengenai jamu yang diterbitkan pada 2024 juga menemukan adanya bukti farmakologis awal untuk sejumlah ramuan, tetapi menekankan bahwa penelitian klinis berkualitas tinggi dengan jumlah peserta yang memadai masih diperlukan. Komposisi, dosis, metode pengolahan, dan keamanan produk menjadi faktor penting dalam menilai manfaatnya.

Di Indonesia, pengembangan obat bahan alam mengenal tiga kategori penting, yakni jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Jamu bertumpu pada bukti empiris penggunaan tradisional, sedangkan OHT memerlukan standardisasi bahan baku dan bukti praklinis. Fitofarmaka memiliki persyaratan pembuktian klinis yang lebih tinggi. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tradisi dan sains dapat saling melengkapi, tanpa harus mencampuradukkan tingkat bukti yang tersedia.

Karena itu, pelaku usaha jamu perlu memperhatikan kebersihan bahan, konsistensi formulasi, keamanan produksi, pelabelan, serta ketentuan perizinan yang berlaku. Konsumen pun perlu memahami bahwa bahan alami tidak selalu bebas risiko, terutama bagi orang yang memiliki penyakit tertentu atau sedang menggunakan obat medis.

Baca Juga: Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Menuju Bandung Kota Jamu

Mewujudkan Bandung Kota Jamu memerlukan kerja sama pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas budaya, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Pemerintah dapat mendorong pendataan pelaku usaha jamu, pelatihan keamanan pangan, penguatan pemasaran digital, serta kemitraan dengan petani rempah.

Perguruan tinggi dapat membantu menguji mutu produk, meneliti kandungan bahan, dan mengembangkan inovasi yang bertanggung jawab. Sementara itu, komunitas budaya dapat mendokumentasikan sejarah peracik jamu, termasuk warisan Inggit Garnasih, agar pengetahuan tersebut tidak terputus dari generasi muda.

Mewujudkan Bandung Kota Jamu bukan hanya tentang banyaknya kedai herbal atau ragam minuman yang dijual. Maknanya lebih dari itu, gagasan ini menyatukan pelestarian budaya, pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi kerakyatan.

Dari tangan Inggit Garnasih hingga kreativitas UMKM seperti Paduan Rempah, terdapat benang merah yang patut diteruskan. Keniscayaan, pengetahuan tradisional dapat menjadi kekuatan apabila dirawat, dikembangkan, dan dipertanggungjawabkan. Dengan greget tersebut, Bandung berpeluang menjadikan jamu bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian dari kehidupan kota yang sehat, kreatif, dan berdaya saing. (SRI)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)