Sebagaimana di Bandung maka di kota lain juga saya suka sekali mengamati perilaku sosial masyarakat dan kondisi lingkungannya. Sebagai pengguna transportasi umum saya sangat hafal jam-jam krusial kemacetan yang terjadi di sejumlah jalanan Kota Bandung. Bahkan tak hanya itu, saya rasa masyarakat kota Bandung pun dipaksa berdamai dan menjalani kemacetan itu tanpa menemukan solusi yang jelas.
Hampir menjelang tiga minggu tinggal di Cirebon saya cukup senang dengan lalu-lintas kota ini. Hampir setiap hari saya menggunakan jasa ojek online atau sesekali berjalan kaki menuju tempat PKPA dan jarang sekali perjalanan saya terhambat oleh kemacetan. Padahal kondisi jalanannya tidak jauh dari kota Bandung yang masih dipadati oleh sejumlah angkutan umum dan elf yang sesekali hilir-mudik dan ngetem di pinggir jalan.
Tak hanya itu ketika sesekali saya ingin mengeksplor kuliner dan kebudayaan Cirebon, bahkan saya sengaja menggunakan angkutan umum. Tak hanya ingin mencoba menyatu dan mengenal warga lokal dengan menggunakan angkutan umum ini juga saya ingin mengamati seberapa jauh tingkat kemacetan yang terjadi di Kota Cirebon.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari detikoto bahwa TomTom Traffic Index melakukan survei terhadap lima peringkat kota termacet di Indonesia diantaranya Bandung dengan tingkat kemacetan rata-rata mencapai 64.1 persen. Kedua, tingkat kemacetan di Jakarta yang mencapai 59.8 persen. Ketiga, tingkat kemacetan di medan dengan tingkat kemacetan rata-rata mencapai 54.2 persen. Keempat, tingkat kemacetan di palembang 52.7 persen. Dan kelima diduduki oleh Surabaya dengan tingkat kemacetan 43.7 persen.
Meski kota Cirebon tidak masuk ke dalam lima peringkat di atas bukan berarti selalu terhindar dari kemacetan. Berdasarkan sejumlah informasi yang dihimpun di internet bahwa kemacetan di kota Cirebon beberapa diantaranya terjadi di jalan Cipto Mangunkusumo, R.A Kartini, Siliwangi, ByPass, Pasuketan dan Stasiun Cirebon. Namun sejauh saya tinggal di Cirebon saya hanya baru merasakan kemacetan terjadi saat keluar pintu tol Bandung-Cirebon.
Entah mungkin karena eksplorasi saya yang belum jauh tapi satu hal yang pasti berdasarkan pengalaman saya selalu menemukan kondisi yang lenggang di jalanan. Misalnya ketika saya pulang dari acara literasi di Gramedia Grage Mall dari jalan Tentara Pelajar- Cipto Mangunkusumo- Pangeran Drajat- Dukuh Semar- Rajawali terpantau lancar di akhir pekan. Sebagai dokumentasi saya mengambil beberapa foto saat kondisi jalanan lenggang di jalan Pekiringan Cirebon.

Dengan kemacetan di Kota Bandung yang sangat sulit sekali teratasi tentu melihat kondisi jalanan Cirebon membuat saya merindukan ketenangan di jalanan yang sudah lama hilang. Bahkan waktu perjalanan yang selama ini tersita dengan sesaknya asap kendaraan tidak saya rasakan sama sekali.
Meski demikian saya menyadari bahwa membandingkan kedua kota ini memang bukan hal yang tepat karena secara luas wilayah juga jauh berbeda. Hanya saja tentu ada yang bisa kita pelajari dari tata ruang kota, keteraturan transportasi umum yang bisa membuat kondisi jalanan lebih damai dan meminimalisir tingkat kemacetan. (*)