Mengenalkan museum ke generasi Z dan Alpha merupakan kewajiban kita agar generasi selanjutnya memahami tentang pentingnya museum bagi keberlangsungan kehidupan. Mutlak museum harus dijadikan ruang belajar dan ruang reaktualisasi kehidupan di masa mendatang. Museum bukan sekadar tempat kosong. Museum sebagai tempat beraktivitas mendalami segala hal tentang sejarah, budaya, ilmu pengetahuan dan prinsip hidup berkelanjutan.
Hadirnya museum bagi manusia, hakikatnya memberikan kita kesadaran bahwa sejarah hidup bukan untuk dilupakan melainkan dijadikan pedoman yang abadi untuk masa depan.
Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia? Maka sudah sewajibnya museum diprioritaskan menjadi ruang yang dapat melekat di hati kita semua.
Tidak ada kehidupan yang tidak dapat kita telusuri selain kita pergi ke museum. KBBI menyebut bahwa museum berarti gedung tempat pameran tetap benda-benda bersejarah, seni, ilmu, atau penyimpanan barang kuno.
Indonesia memiliki total 506 museum. Berdasarkan data dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di tahun 2026 bahwa museum yang teregistrasi sebanyak 373 museum atau sekitar 72.3 persen. Museum yang terstandarisasi sebanyak 234 museum atau sekitar 45.3 persen.
Sebaran dari jumlah museum tersebut, berpusat di provinsi di pulau Jawa. Yaitu Jawa Tengah memiliki 63 museum, DKI Jakarta memiliki 63 museum, Jawa Timur memiliki 62 museum, Jawa Barat memiliki 39 museum, DI Yogyakarta memiliki 35 museum, Bali memiliki 34 museum, Sumatera Utara memiliki 21 museum, Sulawesi Selatan memiliki 17 museum, Sumatera Barat memiliki 12 museum, dan terakhir Aceh memiliki 9 museum.
Jumlah museum tersebut sangat berguna bagi kita. Secara keseluruhan, kita dibawa ke suatu tempat, kita akan mengetahui banyak hal dan kita akan menyadari satu hal. Dan aspek kehidupan yang sesungguhnya dapat kita temukan dan kita pelajari melalui hadir ke museum. Lantas siapkah kita ke museum?
Mengapa Kita ke Museum?
Wajib hadir ke museum untuk mengenalkan kembali sejarah kehidupan. Kita tidak bisa melepaskan diri dari sekadar menjalani kehidupan, melainkan kita tahu bahwa kehidupan masa lalu merupakan tonggak sejarah yang wajib dipahami dan direfleksi, agar kita menyadari bentuk kehidupan mesti selaras dan dapat kita jalankan dengan sebaik-baiknya.
Jika kita tidak tahu museum, dan kita tidak pernah sama sekali ke museum. Maka menjadi pertanyaannya, sejarah yang kita kenal seperti apa?
Terdapat museum umum yang mengoleksi dan memamerkan berbagai bukti material manusia atau lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu, dan teknologi. Seperti, Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah) di Jakarta dan Museum Sri Baduga di Bandung.
Juga museum khusus, museum yang koleksinya hanya berfokus pada satu cabang seni, satu cabang ilmu, satu peristiwa sejarah, atau riwayat hidup tokoh tertentu. Seperti, museum seni di Bali yaitu Galeri Nasional Indonesia dan The Blanco Renaissance Museum, museum iptek dan sains seperti Museum Geologi dan Museum Zoologi ITB, lalu museum militer seperti, Museum Mandala Wangsit Siliwangi dan Museum Kavaleri.
Terdapat pula museum biografi seperti Museum Bung Karno di Blitar dan Museum Nike Ardila. Lanjut juga museum khusus seperti, Museum Pos Indonesia dan Museum Tsunami Aceh.
Penting kita ketahui jika museum pada dasarnya memiliki fungsi utama, yang disebut oleh Nursaid (2023) menyebut fungsi utama museum adalah menyimpan, merawat, mengamankan, dan memanfaatkan koleksi museum berupa benda cagar budaya. Dengan demikian, museum memiliki fungsi besar yaitu sebagai tempat pelestarian. Secara lebih rinci fungsi museum mencakup kegiatan penyimpanan, perawatan, dan pengamanan.
Sehingga kita sewajibnya menyadari seksama, kita ke museum untuk mengenali secara mendalam tentang kehidupan. Kita menelusuri jejak-jejak sejarah besar yang belum pernah kita ketahui sebelumnya.

Wisata ke Museum
Tidak ada salahnya, kita menggunakan museum sebagai bagian dari prioritas liburan kita. Kita memaksimalkan kesempatan kita berkunjung dan mengenali lebih mendalam tentang museum. Bahkan kita dapat menjadikan museum untuk merekatkan kekeluargaan. Dibanding kita menghabiskan waktu yang tidak produktif. Maka museumlah yang menjadi tempat terbaik sebagai pilihan keluarga.
Berwisata ke museum bukanlah hal yang dihindari. Justru sebaliknya, kita membudayakan wisata yang unik dan representatif bagi semua kalangan. Di sinilah letak kehadiran pemerintah untuk menyiapkan secara tepat guna adanya museum.
Pemerintah memaksimalkan fasilitas bagi masyarakat agar masyarakat dapat berwisata ke museum dengan program yang menyenangkan dan mengedukasi masyarakat semakin mengenali dan mencintai sejarah negeri kita.
Keunikan dan nilai-nilai sejarah yang filosofis tentu memberikan makna kepada kita. Sebab dari museum pula, kita akan meyakini bahwa kekayaan nilai sejarah di Indonesia tak tertandingi.
Upaya mengenalkan dan menggagas tentang berwisata ke museum patut diselaraskan tidak sekadar program tahunan, melainkan memrakarsai terwujudnya kecintaan masyarakat kepada museum-museum yang ada di Indonesia.
Pada akhirnya, peradaban manusia akan selalu terkenang, sejarah demi sejarah akan tercetak dan tersusun rapi menjadi ruang berpikir bagi manusia lainnya.
Hadirnya museum, akan mengajak kita berwisata menelusuri jejak-jejak sejarah, jejak yang mengantarkan kita kepada pembelajaran, berkontemplasi betapa sejarah akan menjadikan kita memahami betul-betul merawat ingatan, membawa suasana ke kehidupan sebelum pada penutup, kita kenal sejarah, maka dari itu kita mencintai negeri, dengan adagiumnya gemah ripah repeh rapih loh jinawi. (*)