Ngemuseum, Yuk!

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Museum Sri Baduga (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Museum Sri Baduga (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Malam itu udara Cibiru terasa lebih dingin dari biasanya. Saat asyik membaca buku lawas Made in Bandung karya Sherly A. Suherman, tiba-tiba Aa Akil, anak kedua (11 tahun), datang menghampiri.

“Bah, kapan ke Museum Konferensi Asia Afrika?” tanya bocah kelas lima SD ini dengan polos.

Kujawab singkat, “Sanes atos?”

“Kan waktu dulu baru ke Museum Geologi, Sri Baduga, sama Gedung Sate. Kalau Museum KAA mah cuma lewat waktu festival,” ujarnya sambil tertawa dan garuk-garuk kepala.

Lalu menjelaskan dengan mata berbinar, “Ada perayaan 71 tahun Konferensi Asia Afrika. Pasti seru ya Bah!”

Sambil mengusap rambut yang baru dipotong dan tersenyum. “Aa terang ti mana?”

“Ini dari koran, Bah!”

4 Museum di Bandung yang Wajib Dikunjungi

Bandung dikenal sebagai kota kreatif yang kaya akan sejarah, budaya, pendidikan, kuliner, dan wisata alam. Memang Kota Kembang memiliki banyak museum menarik yang cocok dijadikan destinasi wisata edukasi. 

Berikut empat museum populer di Bandung yang layak dikunjungi sebagai ruang belajar, rekreasi, dan refleksi.

Museum Geologi Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Museum Geologi Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

1. Museum Geologi Bandung

Museum Geologi Bandung merupakan salah satu destinasi wisata edukasi favorit di Kota Bandung. Museum ini berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 57, Cihaur Geulis, Kecamatan Cibeunying Kaler.

Museum ini menyimpan beragam koleksi geologi, seperti fosil, batuan, mineral, serta informasi perkembangan bumi dan kehidupan purba. Sebagian besar koleksi merupakan hasil penelitian lapangan di Indonesia sejak tahun 1850.

Museum Geologi didirikan pada 16 Mei 1929 atas prakarsa Dinas Pertambangan pada masa Hindia Belanda. Bangunannya bergaya Art Deco dan sempat direnovasi sebelum dibuka kembali pada tahun 2000.

Dengan memiliki daya tarik luar biasa yang  terdiri atas dua lantai:

Lantai 1, ruang orientasi berisi peta relief Indonesia dan animasi geologi. Sayap barat menampilkan sejarah terbentuknya bumi dan geologi Indonesia. Sayap timur menampilkan evolusi makhluk hidup, fosil manusia purba, serta perkembangan budaya.

Lantai 2,  menampilkan pertambangan emas Papua. Miniatur pengeboran minyak dan gas bumi. Informasi manfaat serta dampak geologi bagi kehidupan manusia.

Museum Geologi ini buka pada Selasa–Minggu pukul 10.00–13.00 WIB. Harga tiket: Pelajar: Rp2.000, Umum: Rp3.000, Wisatawan asing: Rp10.000 (Kompas 27 Februari 2022, 11:22 WIB)

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Alfarisi)

2. Museum Sri Baduga

Museum Sri Baduga terletak di Jalan BKR Nomor 185, Bandung. Museum ini merupakan museum negeri Provinsi Jawa Barat yang menyimpan berbagai benda bersejarah dan koleksi budaya Sunda.

Nama Sri Baduga diambil dari raja besar Kerajaan Sunda, Sri Baduga Maharaja. Museum ini memiliki koleksi yang terbagi ke dalam berbagai klasifikasi, antara lain: Geologika (batuan, fosil), Numismatika (mata uang), Biologika (rangka hewan), Filologika (naskah kuno), Etnografika (hasil budaya), Arkeologika, Historika, Teknologika dan Seni rupa.

Terdapat beberapa benda menarik yang dipamerkan antara lain kereta kencana, pakaian adat, arca, gramofon, hingga naskah kuno. Bangunan museum mengusung desain rumah panggung khas Jawa Barat.

Dengan Harga tiket: Anak-anak/TK-SMP: Rp2.000, Pelajar dewasa/Mahasiswa/Umum: Rp3.000, Wisatawan asing dewasa: Rp5.000, Wisatawan asing anak-anak: Rp4.000 Jam buka: Selasa–Jumat pukul 08.00–16.00 WIB. Senin dan hari libur nasional tutup. (Kompas 20 Desember 2022, 22:45 WIB)

Pengunjung saat mengunjungi Museum Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

3. Museum Gedung Sate

Museum Gedung Sate merupakan museum modern yang berada di lantai dasar Gedung Sate, ikon Kota Bandung. Lokasinya berada di Jalan Diponegoro Nomor 22, Bandung.

Museum ini dibangun untuk menjelaskan sejarah, arsitektur, dan perjalanan Gedung Sate yang mulai dibangun pada 27 Juli 1920. Berisi informasi sejarah, museum ini menghadirkan teknologi interaktif dan koleksi visual mengenai perkembangan Bandung serta pemerintahan Jawa Barat.

Museum Gedung Sate buka setiap Selasa–Minggu pukul 09.30–16.00 WIB. Harga tiket masuk mulai Rp5.000 per orang. (Kompas 14 Agustus 2023, 09:34 WIB)

Museum Konperensi Asia Afrika (Museum KAA). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

4. Museum Konferensi Asia Afrika

Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) berada di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika Nomor 65, Bandung. Museum ini menyimpan sejarah penting peristiwa Konferensi Asia Afrika tahun 1955 yang menjadi tonggak solidaritas negara-negara Asia dan Afrika.

Museum ini diresmikan Presiden Soeharto pada 24 April 1980. Dengan  memiliki ruang pameran tetap yang menampilkan: Foto dokumentasi Konferensi Asia Afrika 1955,  Peristiwa Pertemuan Tugu, Konferensi Kolombo, dan Konferensi Bogor, Diorama pembukaan Konferensi Asia Afrika, Profil negara peserta konferensi dan Sejarah Gedung Merdeka dari masa ke masa.

Museum ini memiliki perpustakaan dengan koleksi buku sejarah, politik, sosial, dan budaya negara-negara Asia-Afrika.

Untuk Jam Kunjungan Museum berlangsung Rabu, Kamis, Sabtu: 09.00–12.00 WIB dan 13.00–15.00 WIB. Jumat: 09.00–11.30 WIB dan 13.30–15.30 WIB dan hari Minggu, Senin, Selasa, dan hari libur nasional: Tutup. Terlebih dahulu harus melakukan reservasi online di bit.ly/simkuringmkaa 

Dalam laporan Antara pengunjung Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung meningkat signifikan, mencapai 400-500 orang per hari menjelang peringatan ke-71 Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18-24 April 2026. Lonjakan ini didorong oleh wisatawan domestik dan mancanegara yang antusias melihat sejarah Gedung Merdeka.  (Ayo Bandung Kamis, 12 Oktober 2023 | 07:18 WIB, Antara Rabu, 15 April 2026 17:39 WIB, https://mkaa.kemlu.go.id)

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Jejak Mahakarya Cagar Budaya

Dalam UU No. 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya, disebutkan bahwa museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, berupa benda, bangunan, dan atau struktur yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya atau yang bukan Cagar Budaya, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat.

Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan bendabenda yang berhubungan dengan sejarah perkembangan umat manusia, tetapi juga berkewajiban untuk mentransfer nilai-nilai yang terkandung dalam benda koleksinya.

Uniknya, museum memiliki peranan yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran sejarah, selain sebagai sumber pembelajaran juga dapat menjadi media pembelajaran. Sebagai sumber pembelajaran, museum menjadi tempat peserta didik memperoleh informasi dan pengetahuan, sedangkan sebagai media pembelajaran, museum memberikan kemudahan bagi peserta didik menerima sarana pengetahuan dari guru.

Kegiatan observasi di museum, tidak hanya meningkatkan motivasi peserta didik, tetapi juga merangsang peserta didik untuk berfikir kritis. Oleh karena itu, sudah sewajarnya dunia  pendidikan memanfaatkan keberadaan museum untuk mengoptimalkan pembelajaran.

Keberadaan museum menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran Sejarah. Untuk guru dan calon guru, museum menjadi tempat mengawinkan teori dan kenyataan, sehingga akan menambah ketajaman dalam menganalisis sebuah peristiwa. Untuk peserta didik, museum memberikan ruang dalam berimajinasi secara lebih terarah dalam memadupadankan materi yang diberikan guru dan bentuk peninggalannya, sehingga dapat merangsang kemampuan berfikir kritis.

Akan tetapi, implementasi museum sebagai wahana edukasi selayaknya tidak hanya diupayakan oleh akademisi (pendidik dan peserta didik), tetapi oleh pengelola museum.

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1995 Pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

Sutaarga (1995: 1) mengatakan bahwa museum adalah tempat mengumpulkan, menyimpan, merawat, melestarikan, mengkaji, mengkomunikasikan bukti material hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya. Dalam definisi ini, fungsi museum mengalami pergeseran dikarenakan adanya upaya untuk menjadikan museum sebagai tempat yang lebih berguna dan lebih digemari oleh masyarakat.  (Jurnal Artefak Vol.7 No.2 September 2020: 82)

Sejumlah prajurit angkatan laut dari berbagai negara mengamati salah satu koleksi saat mengunjungi Museum Sri Baduga, Jalan BKR, Kota Bandung, Selasa 14 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Museum sebagai Media Pembelajaran

Bagi masyarakat sekarang, museum hanya dipandang sebagai tempat menyimpan benda antik saja, padahal Museum bisa dijadikan tempat untuk bertamasya dan belajar masa lampau. Saat ini masih banyak sekolah yang hanya menggunakan buku dan LKS untuk sumber pembelajaran sejarah.

Padahal selain menggunakan buku, Museum bisa menjadi salah satu opsi yang bagus. Dengan memanfaatkan Museum yang ada di tiap daerah atau tiap kota, sekolah bisa memperkenalkan sejarah-sejarah yang ada mulai dari museum kecil hingga museum nasional dengan berbagai macam koleksi yang ada, seperti Museum Brawijaya Malang yang terkenal dengan Gerbong Mautnya. Untuk di Bandung ada Museum Geologi, Sri Baduga, Gedung Sate, Museum Konferensi Asia Afrika (KAA).

Tentunya, mengunjungi museum memiliki banyak manfaat, contohnya untuk sumber belajar para pelajar dan mahasiswa dalam pelajaran sejarah. Dalam kegiatan kunjungan museum, para pelajar bisa melaksanakannya secara individu atau sendiri ke museum, atau bisa dilaksanakan dengan satu warga sekolah dengan kegiatan kunjungan museum yang nantinya didampingi oleh guru mapel IPS atau Sejarah.

Museum sebagai sumber belajar memiliki kedudukan yang penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, khusunya sebagai media pembelajaran. Sebagai sumber pembelajaran, museum menjadi wahana bagi peserta didik untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan, sedangkan sebagai media pembelajaran, museum menyuguhkan fasilitas bagi peserta didik untuk menerima pengetahuan dari guru (Evitasari dkk., 2021:46).

Meski demikian, kegiatan belajar mengajar sejarah di sekolah adalah patokan utama karena tidak semua guru akan melaksanakan kegiatan kunjungan ke museum. Hal ini kembali lagi dengan sekolah.  

Pada awalnya, museum dikenal sebagai tempat untuk menyimpan koleksi, tetapi seiring dengan perubahan waktu banyak sekolah-sekolah yang melakukan outclass, terutama mengunjungi Museum, baik dari jenjang sekolah SD, SMP, dan SMA, bahkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melaksanakan kunjungan ke museum untuk menambah wawasan sejarah.

Museum untuk sumber belajar sejarah menyesuaikan materi sejarah yang diberikan di sekolah. Kegunaan museum sebagai sumber belajar dimulai dari berkembangnya media pembelajaran di luar sekolah. Hal ini membuat beberapa sekolah mewajibkan pelaksanaan kegiatan belajar tambahan dengan mengunjungi suatu museum yang ada di daerah masing-masing.

Untuk sumber belajar Museum tidak jauh dari kurikulum, karena dengan adanya kurikulum kunjungan museum bisa dilaksanakan itu pun harus dirapatkan terlebih dahulu oleh para guru di sekolah sebelum bertemu kepala Museum.

Dengan koleksi museum yang ada, para peserta didik dapat menggunakan sumber belajar yang baru dan yang paling dekat dengan lingkungan budaya dan masyarakat sekitar. Para peserta didik di museum akan mengetahui pengetahuan yang lebih luas dan informasi yang belum tentu mereka dapatkan sebelumnya, bahkan belum tentu ada (tersedia) di internet.

Sebagai sumber belajar bagi dunia pendidikan, museum memberikan banyak informasi yang nantinya diajarkan para peserta didik dalam kegiatan kunjungan museum yang nantinya para siswa dan siswi akan melihat berbagai jenis koleksi yang menurut orang lain harusnya di rosok tapi masih tersimpan di museum.

Jika tidak ada museum para guru sejarah dan pengajar sejarah tidak bisa mencari informasi dan tidak bisa melaksanakan kegiatan kunjungan museum. Padahal dari kegiatan ini berfungsi untuk menambah wawasan para peserta didiknya, tidak lupa dengan adanya kegiatan ini membuat para siswa dan siswi betah di luar kelas.

Museum memiliki koleksi yang benar adanya dan tidak direkayasa berarti real koleksinya tanpa ada yang diganti. Museum adalah sumber belajar yang konkret dan tidak tergantikan dalam pembelajaran sejarah baik di jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, Sekolah Atas dan Sekolah Kejuruan.

Dari salah satu koleksi yang ada pasti ada yang menarik perhatian para peserta didik, terutama mereka pasti berpikir kenapa ya benda lama ini ada di tempat ini, dan apa fungsi benda ini di masa lalu. Di sini peserta didik diharuskan untuk berpikir positif dan kreatif supaya dapat menemukan jawaban yang ada. (Muhammad Iqbal Birsyada, dkk [Nurrahmawati, Editor], 2022: 57-80)

Anak-anak sedang asyik belajar seni tari tradisional di Museum Sri Baduga, Jalan BKR, Kota Bandung, Selasa 14 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Anak-anak sedang asyik belajar seni tari tradisional di Museum Sri Baduga, Jalan BKR, Kota Bandung, Selasa 14 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Tempat Belajar yang Mengasyikkan

Keberadaan empat museum di Bandung ini menawarkan pengalaman wisata yang berbeda-beda, mulai dari ilmu pengetahuan, budaya Sunda, sejarah arsitektur, hingga diplomasi dunia. Sangat cocok dikunjungi bersama keluarga, pelajar, maupun wisatawan yang ingin mengenal Bandung lebih dekat.

Rupanya, dari percakapan sederhana itu sadar, museum bukan sekadar gedung tua berisi benda lama. Justru menjadi ruang untuk membangunkan dan merawat rasa ingin tahu. Pasalnya, dari tempat lura biasa ini anak-anak belajar sejarah tanpa merasa digurui, dan orang dewasa diingatkan soal masa depan tak dapat dibangun tanpa memahami masa lalu.

Kendati, museum sering disalahpahami sebagai tempat sunyi berdebu yang hanya menyimpan benda mati. Padahal museum adalah ruang hidup yang menyimpan memori kolektif, menyalakan imajinasi, dan mendidik tanpa memaksa.

Bila untuk pelajar, museum adalah kelas yang dindingnya berbicara. Bagi orang tua, museum menjadi tempat yang tepat dalam menanamkan karakter dan untuk keutuhan negara, museum adalah penjaga identitas dan jati diri bangsa. 

Saat anak bertanya kapan pergi ke museum, sesungguhnya tengah mengetuk pintu peradaban dan tugas kita hanyalah membukakan pintu pandoranya. Hayu ngamuseum ah! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)