Ngemuseum, Yuk!

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Kamis 23 Apr 2026, 13:24 WIB
Museum Sri Baduga (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Museum Sri Baduga (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Malam itu udara Cibiru terasa lebih dingin dari biasanya. Saat asyik membaca buku lawas Made in Bandung karya Sherly A. Suherman, tiba-tiba Aa Akil, anak kedua (11 tahun), datang menghampiri.

“Bah, kapan ke Museum Konferensi Asia Afrika?” tanya bocah kelas lima SD ini dengan polos.

Kujawab singkat, “Sanes atos?”

“Kan waktu dulu baru ke Museum Geologi, Sri Baduga, sama Gedung Sate. Kalau Museum KAA mah cuma lewat waktu festival,” ujarnya sambil tertawa dan garuk-garuk kepala.

Lalu menjelaskan dengan mata berbinar, “Ada perayaan 71 tahun Konferensi Asia Afrika. Pasti seru ya Bah!”

Sambil mengusap rambut yang baru dipotong dan tersenyum. “Aa terang ti mana?”

“Ini dari koran, Bah!”

4 Museum di Bandung yang Wajib Dikunjungi

Bandung dikenal sebagai kota kreatif yang kaya akan sejarah, budaya, pendidikan, kuliner, dan wisata alam. Memang Kota Kembang memiliki banyak museum menarik yang cocok dijadikan destinasi wisata edukasi. 

Berikut empat museum populer di Bandung yang layak dikunjungi sebagai ruang belajar, rekreasi, dan refleksi.

Museum Geologi Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Museum Geologi Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

1. Museum Geologi Bandung

Museum Geologi Bandung merupakan salah satu destinasi wisata edukasi favorit di Kota Bandung. Museum ini berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 57, Cihaur Geulis, Kecamatan Cibeunying Kaler.

Museum ini menyimpan beragam koleksi geologi, seperti fosil, batuan, mineral, serta informasi perkembangan bumi dan kehidupan purba. Sebagian besar koleksi merupakan hasil penelitian lapangan di Indonesia sejak tahun 1850.

Museum Geologi didirikan pada 16 Mei 1929 atas prakarsa Dinas Pertambangan pada masa Hindia Belanda. Bangunannya bergaya Art Deco dan sempat direnovasi sebelum dibuka kembali pada tahun 2000.

Dengan memiliki daya tarik luar biasa yang  terdiri atas dua lantai:

Lantai 1, ruang orientasi berisi peta relief Indonesia dan animasi geologi. Sayap barat menampilkan sejarah terbentuknya bumi dan geologi Indonesia. Sayap timur menampilkan evolusi makhluk hidup, fosil manusia purba, serta perkembangan budaya.

Lantai 2,  menampilkan pertambangan emas Papua. Miniatur pengeboran minyak dan gas bumi. Informasi manfaat serta dampak geologi bagi kehidupan manusia.

Museum Geologi ini buka pada Selasa–Minggu pukul 10.00–13.00 WIB. Harga tiket: Pelajar: Rp2.000, Umum: Rp3.000, Wisatawan asing: Rp10.000 (Kompas 27 Februari 2022, 11:22 WIB)

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Alfarisi)

2. Museum Sri Baduga

Museum Sri Baduga terletak di Jalan BKR Nomor 185, Bandung. Museum ini merupakan museum negeri Provinsi Jawa Barat yang menyimpan berbagai benda bersejarah dan koleksi budaya Sunda.

Nama Sri Baduga diambil dari raja besar Kerajaan Sunda, Sri Baduga Maharaja. Museum ini memiliki koleksi yang terbagi ke dalam berbagai klasifikasi, antara lain: Geologika (batuan, fosil), Numismatika (mata uang), Biologika (rangka hewan), Filologika (naskah kuno), Etnografika (hasil budaya), Arkeologika, Historika, Teknologika dan Seni rupa.

Terdapat beberapa benda menarik yang dipamerkan antara lain kereta kencana, pakaian adat, arca, gramofon, hingga naskah kuno. Bangunan museum mengusung desain rumah panggung khas Jawa Barat.

Dengan Harga tiket: Anak-anak/TK-SMP: Rp2.000, Pelajar dewasa/Mahasiswa/Umum: Rp3.000, Wisatawan asing dewasa: Rp5.000, Wisatawan asing anak-anak: Rp4.000 Jam buka: Selasa–Jumat pukul 08.00–16.00 WIB. Senin dan hari libur nasional tutup. (Kompas 20 Desember 2022, 22:45 WIB)

Pengunjung saat mengunjungi Museum Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

3. Museum Gedung Sate

Museum Gedung Sate merupakan museum modern yang berada di lantai dasar Gedung Sate, ikon Kota Bandung. Lokasinya berada di Jalan Diponegoro Nomor 22, Bandung.

Museum ini dibangun untuk menjelaskan sejarah, arsitektur, dan perjalanan Gedung Sate yang mulai dibangun pada 27 Juli 1920. Berisi informasi sejarah, museum ini menghadirkan teknologi interaktif dan koleksi visual mengenai perkembangan Bandung serta pemerintahan Jawa Barat.

Museum Gedung Sate buka setiap Selasa–Minggu pukul 09.30–16.00 WIB. Harga tiket masuk mulai Rp5.000 per orang. (Kompas 14 Agustus 2023, 09:34 WIB)

Museum Konperensi Asia Afrika (Museum KAA). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

4. Museum Konferensi Asia Afrika

Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) berada di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika Nomor 65, Bandung. Museum ini menyimpan sejarah penting peristiwa Konferensi Asia Afrika tahun 1955 yang menjadi tonggak solidaritas negara-negara Asia dan Afrika.

Museum ini diresmikan Presiden Soeharto pada 24 April 1980. Dengan  memiliki ruang pameran tetap yang menampilkan: Foto dokumentasi Konferensi Asia Afrika 1955,  Peristiwa Pertemuan Tugu, Konferensi Kolombo, dan Konferensi Bogor, Diorama pembukaan Konferensi Asia Afrika, Profil negara peserta konferensi dan Sejarah Gedung Merdeka dari masa ke masa.

Museum ini memiliki perpustakaan dengan koleksi buku sejarah, politik, sosial, dan budaya negara-negara Asia-Afrika.

Untuk Jam Kunjungan Museum berlangsung Rabu, Kamis, Sabtu: 09.00–12.00 WIB dan 13.00–15.00 WIB. Jumat: 09.00–11.30 WIB dan 13.30–15.30 WIB dan hari Minggu, Senin, Selasa, dan hari libur nasional: Tutup. Terlebih dahulu harus melakukan reservasi online di bit.ly/simkuringmkaa 

Dalam laporan Antara pengunjung Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung meningkat signifikan, mencapai 400-500 orang per hari menjelang peringatan ke-71 Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18-24 April 2026. Lonjakan ini didorong oleh wisatawan domestik dan mancanegara yang antusias melihat sejarah Gedung Merdeka.  (Ayo Bandung Kamis, 12 Oktober 2023 | 07:18 WIB, Antara Rabu, 15 April 2026 17:39 WIB, https://mkaa.kemlu.go.id)

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Jejak Mahakarya Cagar Budaya

Dalam UU No. 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya, disebutkan bahwa museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, berupa benda, bangunan, dan atau struktur yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya atau yang bukan Cagar Budaya, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat.

Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan bendabenda yang berhubungan dengan sejarah perkembangan umat manusia, tetapi juga berkewajiban untuk mentransfer nilai-nilai yang terkandung dalam benda koleksinya.

Uniknya, museum memiliki peranan yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran sejarah, selain sebagai sumber pembelajaran juga dapat menjadi media pembelajaran. Sebagai sumber pembelajaran, museum menjadi tempat peserta didik memperoleh informasi dan pengetahuan, sedangkan sebagai media pembelajaran, museum memberikan kemudahan bagi peserta didik menerima sarana pengetahuan dari guru.

Kegiatan observasi di museum, tidak hanya meningkatkan motivasi peserta didik, tetapi juga merangsang peserta didik untuk berfikir kritis. Oleh karena itu, sudah sewajarnya dunia  pendidikan memanfaatkan keberadaan museum untuk mengoptimalkan pembelajaran.

Keberadaan museum menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran Sejarah. Untuk guru dan calon guru, museum menjadi tempat mengawinkan teori dan kenyataan, sehingga akan menambah ketajaman dalam menganalisis sebuah peristiwa. Untuk peserta didik, museum memberikan ruang dalam berimajinasi secara lebih terarah dalam memadupadankan materi yang diberikan guru dan bentuk peninggalannya, sehingga dapat merangsang kemampuan berfikir kritis.

Akan tetapi, implementasi museum sebagai wahana edukasi selayaknya tidak hanya diupayakan oleh akademisi (pendidik dan peserta didik), tetapi oleh pengelola museum.

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1995 Pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

Sutaarga (1995: 1) mengatakan bahwa museum adalah tempat mengumpulkan, menyimpan, merawat, melestarikan, mengkaji, mengkomunikasikan bukti material hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya. Dalam definisi ini, fungsi museum mengalami pergeseran dikarenakan adanya upaya untuk menjadikan museum sebagai tempat yang lebih berguna dan lebih digemari oleh masyarakat.  (Jurnal Artefak Vol.7 No.2 September 2020: 82)

Sejumlah prajurit angkatan laut dari berbagai negara mengamati salah satu koleksi saat mengunjungi Museum Sri Baduga, Jalan BKR, Kota Bandung, Selasa 14 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Museum sebagai Media Pembelajaran

Bagi masyarakat sekarang, museum hanya dipandang sebagai tempat menyimpan benda antik saja, padahal Museum bisa dijadikan tempat untuk bertamasya dan belajar masa lampau. Saat ini masih banyak sekolah yang hanya menggunakan buku dan LKS untuk sumber pembelajaran sejarah.

Padahal selain menggunakan buku, Museum bisa menjadi salah satu opsi yang bagus. Dengan memanfaatkan Museum yang ada di tiap daerah atau tiap kota, sekolah bisa memperkenalkan sejarah-sejarah yang ada mulai dari museum kecil hingga museum nasional dengan berbagai macam koleksi yang ada, seperti Museum Brawijaya Malang yang terkenal dengan Gerbong Mautnya. Untuk di Bandung ada Museum Geologi, Sri Baduga, Gedung Sate, Museum Konferensi Asia Afrika (KAA).

Tentunya, mengunjungi museum memiliki banyak manfaat, contohnya untuk sumber belajar para pelajar dan mahasiswa dalam pelajaran sejarah. Dalam kegiatan kunjungan museum, para pelajar bisa melaksanakannya secara individu atau sendiri ke museum, atau bisa dilaksanakan dengan satu warga sekolah dengan kegiatan kunjungan museum yang nantinya didampingi oleh guru mapel IPS atau Sejarah.

Museum sebagai sumber belajar memiliki kedudukan yang penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, khusunya sebagai media pembelajaran. Sebagai sumber pembelajaran, museum menjadi wahana bagi peserta didik untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan, sedangkan sebagai media pembelajaran, museum menyuguhkan fasilitas bagi peserta didik untuk menerima pengetahuan dari guru (Evitasari dkk., 2021:46).

Meski demikian, kegiatan belajar mengajar sejarah di sekolah adalah patokan utama karena tidak semua guru akan melaksanakan kegiatan kunjungan ke museum. Hal ini kembali lagi dengan sekolah.  

Pada awalnya, museum dikenal sebagai tempat untuk menyimpan koleksi, tetapi seiring dengan perubahan waktu banyak sekolah-sekolah yang melakukan outclass, terutama mengunjungi Museum, baik dari jenjang sekolah SD, SMP, dan SMA, bahkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melaksanakan kunjungan ke museum untuk menambah wawasan sejarah.

Museum untuk sumber belajar sejarah menyesuaikan materi sejarah yang diberikan di sekolah. Kegunaan museum sebagai sumber belajar dimulai dari berkembangnya media pembelajaran di luar sekolah. Hal ini membuat beberapa sekolah mewajibkan pelaksanaan kegiatan belajar tambahan dengan mengunjungi suatu museum yang ada di daerah masing-masing.

Untuk sumber belajar Museum tidak jauh dari kurikulum, karena dengan adanya kurikulum kunjungan museum bisa dilaksanakan itu pun harus dirapatkan terlebih dahulu oleh para guru di sekolah sebelum bertemu kepala Museum.

Dengan koleksi museum yang ada, para peserta didik dapat menggunakan sumber belajar yang baru dan yang paling dekat dengan lingkungan budaya dan masyarakat sekitar. Para peserta didik di museum akan mengetahui pengetahuan yang lebih luas dan informasi yang belum tentu mereka dapatkan sebelumnya, bahkan belum tentu ada (tersedia) di internet.

Sebagai sumber belajar bagi dunia pendidikan, museum memberikan banyak informasi yang nantinya diajarkan para peserta didik dalam kegiatan kunjungan museum yang nantinya para siswa dan siswi akan melihat berbagai jenis koleksi yang menurut orang lain harusnya di rosok tapi masih tersimpan di museum.

Jika tidak ada museum para guru sejarah dan pengajar sejarah tidak bisa mencari informasi dan tidak bisa melaksanakan kegiatan kunjungan museum. Padahal dari kegiatan ini berfungsi untuk menambah wawasan para peserta didiknya, tidak lupa dengan adanya kegiatan ini membuat para siswa dan siswi betah di luar kelas.

Museum memiliki koleksi yang benar adanya dan tidak direkayasa berarti real koleksinya tanpa ada yang diganti. Museum adalah sumber belajar yang konkret dan tidak tergantikan dalam pembelajaran sejarah baik di jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, Sekolah Atas dan Sekolah Kejuruan.

Dari salah satu koleksi yang ada pasti ada yang menarik perhatian para peserta didik, terutama mereka pasti berpikir kenapa ya benda lama ini ada di tempat ini, dan apa fungsi benda ini di masa lalu. Di sini peserta didik diharuskan untuk berpikir positif dan kreatif supaya dapat menemukan jawaban yang ada. (Muhammad Iqbal Birsyada, dkk [Nurrahmawati, Editor], 2022: 57-80)

Anak-anak sedang asyik belajar seni tari tradisional di Museum Sri Baduga, Jalan BKR, Kota Bandung, Selasa 14 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Anak-anak sedang asyik belajar seni tari tradisional di Museum Sri Baduga, Jalan BKR, Kota Bandung, Selasa 14 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Tempat Belajar yang Mengasyikkan

Keberadaan empat museum di Bandung ini menawarkan pengalaman wisata yang berbeda-beda, mulai dari ilmu pengetahuan, budaya Sunda, sejarah arsitektur, hingga diplomasi dunia. Sangat cocok dikunjungi bersama keluarga, pelajar, maupun wisatawan yang ingin mengenal Bandung lebih dekat.

Rupanya, dari percakapan sederhana itu sadar, museum bukan sekadar gedung tua berisi benda lama. Justru menjadi ruang untuk membangunkan dan merawat rasa ingin tahu. Pasalnya, dari tempat lura biasa ini anak-anak belajar sejarah tanpa merasa digurui, dan orang dewasa diingatkan soal masa depan tak dapat dibangun tanpa memahami masa lalu.

Kendati, museum sering disalahpahami sebagai tempat sunyi berdebu yang hanya menyimpan benda mati. Padahal museum adalah ruang hidup yang menyimpan memori kolektif, menyalakan imajinasi, dan mendidik tanpa memaksa.

Bila untuk pelajar, museum adalah kelas yang dindingnya berbicara. Bagi orang tua, museum menjadi tempat yang tepat dalam menanamkan karakter dan untuk keutuhan negara, museum adalah penjaga identitas dan jati diri bangsa. 

Saat anak bertanya kapan pergi ke museum, sesungguhnya tengah mengetuk pintu peradaban dan tugas kita hanyalah membukakan pintu pandoranya. Hayu ngamuseum ah! (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Beranda 23 Apr 2026, 18:22

Cerita di Balik Volume Sampah di Cikapundung Cikalapa Turun Drastis dari 1 Ton ke 100 Kilogram

Aksi bersih rutin selama 17 tahun berhasil menekan volume sampah di Cikapundung Cikalapa dari satu ton hingga tersisa 100 kg, mengembalikan kelestarian sungai melalui konsistensi komunitas lokal.

Volume sampah di Sungai Cikapundung kawasan Cikalapa kini berkurang drastis dari satu ton menjadi 100 kilogram berkat aksi pembersihan rutin selama 17 tahun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 18:13

Diskon PPN Rumah 2026, Stimulus Ekonomi atau Ilusi Akses Hunian?

Pemerintah kembali memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk sektor perumahan pada tahun 2026.

Dukungan Pemerintah dalam Program Prioritas Presiden dalam penyediaan 3 juta rumah bagi masyarakat (Sumber: jabarprov.go.id | Foto: Diskominfo Kab. Bekasi)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 17:20

Dari Timur ke Tren Nasional, Apresiasi Budaya atau Komodifikasi ‘Timurnesia’?

Membahas bagaimana 'Timurnesia' sebagai bentuk apresiasi budaya sekaligus memunculkan potensi komodifikasi.

Fenomena popularitas musik timur menjadi momentum yang penting seiring perkembangan teknologi. (Sumber: Pexels | Foto: teras dondon)
Bandung 23 Apr 2026, 17:07

Cari Makan di TikTok Bukan Google? Ini Rahasia Brand F&B Bandung Tetap Viral dan Relevan

Di tengah menjamurnya bisnis F&B yang kian masif, fokus industri telah bergeser, bukan lagi soal siapa yang paling enak melainkan siapa yang paling kuat melekat dalam ingatan konsumen.

Public Relations Kopi Cantel & Bruasusual, Nida Yasmin. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 17:07

Temuan (Dugaan) Terowongan di Banceuy

Catatan harian arkeolog (ngawur) tentang penemuan terowongan di Jl. Banceuy saat proyek IPT 2026. Melalui riset literatur, terungkap temuan itu sebagai sistem riol kolonial dari rencana sanitasi 1919.

Gambar 3D temuan "Terowongan" Banceuy. (Sumber: PT. Bandung Investama)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 15:10

Makna Persahabatan Sejati di Tengah Kehidupan Modern

Persahabatan bukan tentang siapa yang paling sering bersama, tetapi siapa yang tetap ada ketika keadaan tidak mudah.

Ilustrasi sahabat. (Sumber: Pexels | Foto: irwan zahuri)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 14:39

Melihat Persoalan Pelestarian Gedung Sate

Setiap pengembangan Cagar Budaya harus mematuhi koridor regulasi, mengedepankan transparansi melalui Kajian Dampak Cagar Budaya (KDCB), serta mengintegrasikan partisipasi publik yang inklusif.

Gedung Sate, tempat pemerintahan Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Ari Nuraya)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 14:09

Ngomong Keras Bukan Berarti Benar: Logika yang Kalah oleh Emosi

Dominasi emosi dalam debat membuat kebenaran sering kalah oleh suara yang lebih keras daripada argumen yang lebih logis.

Buku Ajar Logika Untuk Berpikir Kritis Dalam Menghadapi Sesat Pikir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 13:24

Ngemuseum, Yuk!

Museum adalah ruang hidup yang menyimpan memori kolektif, menyalakan imajinasi, dan mendidik tanpa memaksa.

Museum Sri Baduga (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 23 Apr 2026, 11:08

7 Jajanan yang Cocok Disantap Saat Cuaca Dingin: Hangat, Gurih, dan Sulit Ditolak

Rekomendasi 7 jajanan hangat seperti seblak, cireng, batagor kuah, hingga sosis bakar yang cocok disantap saat cuaca dingin.

Seblak.
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 09:01

Rupiah Terus Melemah, Krisis Bahan Baku Industri Kian Parah  

Perlu menerapkan strategi Industrialisasi Substitusi Impor (ISI) untuk mengatasi krisis bahan baku.

Ilustrasi pekerja yang tengah mempersiapkan bahan baku (Sumber: petrotrainingasia.com)
Beranda 23 Apr 2026, 08:27

Sukses Tak Harus Gengsi, Cerita Fandi Bangun Mimpi Lewat Roda Kopi Keliling di Tamansari

Fandi Ginanjar membuktikan sukses tak butuh gengsi. Lewat Tony’s Coffee, ia merajut mimpi di jalanan Tamansari, Bandung, menjajakan kopi estetik yang dia bangun secara mandiri dari nol.

Penjual kopi keliling, Fandi Ginanjar, melayani pembeli dengan memanfaatkan sepeda listrik hasil modifikasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 23 Apr 2026, 05:00

Panduan Wisata Ciater: Pilihan Itenerary, Harga Tiket, hingga Berburu Kuliner

Panduan wisata Ciater dengan rencana perjalanan satu hari dari pemandian air panas hingga kuliner khas seperti sate kelinci.

Pemandian air panas Sari Ater di Ciater, Subang. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 19:21

Refleksi Hari Bumi dan Masa Depan Ekowisata Geopark Ciletuh

Geopark Ciletuh adalah objek yang lengkap untuk kategori ekowisata

Pemandangan Geopark Ciletuh yang fantastis. (Sumber: disparbud.jabarprov.go.id)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 18:08

Hari Bumi di Bandung: Krisis Transportasi dan Jalan Panjang Menuju Mobilitas Berkelanjutan

Kemacetan, rendahnya layanan transportasi publik, serta buruknya infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda cermin krisis transportasi Bandung. Hari Bumi mengingatkan pentingnya mobilitas berkelanjutan.

Ilustrasi yang menggambarkan kontradiksi antara transportasi polutif dan transportasi berkelanjutan, dengan fokus pada pelestarian bumi. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 17:00

Kisah Kaum Urban 'Hikayat Urang Pasar' (Bagian 1)

Mereka yang sering disebut Urang Pasar, mampu menunjukkan diri mereka sebagai “Saudagar Bandung”.

Penulis bersama rekan-rekan saat mengunjungi rumah keluarga Pasar Baru Bandung yang masih terjaga keasliannya, dan berada di tengah Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 16:25

Dari Padel ke Hyrox: Komodifikasi Olahraga dan Representasi Gengsi Kelas Atas dalam Budaya Populer

Pergeseran tren olahraga dari padel ke Hyrox sebagai simbol gaya hidup kelas atas.

Olahraga hyrox. (Sumber: universe.roboflow.com)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 12:53

Buruh Digital yang Bahagia: Menelaah Eksploitasi di Balik Fenomena Fan-Edit TikTok

Fenomena fan-edit TikTok adalah bentuk digital labour.

Program Google AI Tools for Journalist yang digelar selama dua hari, 23–24 Desember 2025 di Kantor Ayo Media Network. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 22 Apr 2026, 11:26

7 Kuliner yang Cocok Disantap Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kuliner hangat seperti bakso, soto, mi instan, hingga sekoteng yang cocok disantap saat cuaca dingin dan hujan.

Mi instan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 11:25

Hari Puisi Nasional: Bandung, Antara Ekspektasi dan Kenyataan yang Dijalani

Di Hari Puisi Nasional, Bandung tidak hanya sebagai kota yang indah, tetapi juga sebagai ruang pengalaman yang memperlihatkan jarak antara ekspektasi dan kenyataan yang dijalani.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)