Bukan Sekadar Budaya, Makna Mendalam Busana Pengantin Sukapura di Museum Sri Baduga

Izzatul Syahiidah Nuraini
Ditulis oleh Izzatul Syahiidah Nuraini diterbitkan Kamis 13 Nov 2025, 16:46 WIB
Koleksi Busana Pengantin Sukapura di Museum Sri Baduga (30/10/2025). (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Izzatul Syahiidah Nuraini Badar)

Koleksi Busana Pengantin Sukapura di Museum Sri Baduga (30/10/2025). (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Izzatul Syahiidah Nuraini Badar)

Bandung, Kota Kembang, sebuah julukan yang tak hanya merujuk pada keindahan alamnya, tetapi juga merujuk pada cerita indah yang tercermin di berbagai koleksi peninggalan sejarah. Di salah satu sudut kota, tersimpan kisah masa lampau yang begitu elok dalam balutan kain yang menjadi simbol kemegahan pada abad ke-16, yaitu Busana Pengantin Sukapura. Koleksi busana ini diabadikan melalui sejarah yang bertempat di Museum Sri Baduga, Jalan BKR No.185, Astanaanyar, Kota Bandung (30/10/2025).

Sutresno, Pamong Budaya Museum Sri Baduga, menjelaskan bahwa museum ini menyimpan berbagai koleksi bersejarah dari zaman Kerajaan Pakuan Pajajaran hingga zaman kiwari. “Salah satu koleksi busana yang kerap kali mendapatkan atensi pengunjung ialah busana Pengantin Sukapura,” ujarnya. Busana Pengantin Sukapura bukan sekadar pakaian pelindung tubuh. Ia adalah simbol identitas busana dari wilayah Priangan yang diwariskan secara turun-temurun.

Selain itu terdapat beberapa ornamen mencolok yang membedakan busana ini.

“Yang membedakan busana ini dengan busana lain adalah tampilannya yang lebih tertutup karena hasil dari akulturasi kebudayaan Islam,” ungkap Sutresno.

Pria paruh baya itu menjelaskan bahwa pakaian pengantin pria mengenakan jas yang mencerminkan pengaruh Islam, sedangkan pengantin wanita menggunakan mahkota sebagai simbol kemegahan dan keanggunan bagi pengantin yang mengenakannya.

Pada masa itu, busana adat Pengantin Sukapura bisa dikenakan oleh kalangan menak atau bangsawan saja. Pada masa lampau, busana ini sulit didapatkan karena busana ini menjadi sebuah cerminan status sosial dan nilai-nilai kesopanan masyarakat Priangan pada abad ke-16, khususnya di wilayah Sukapura yang kini dikenal sebagai Tasikmalaya.

Busana Pengantin Sukapura juga merupakan busana hasil perpaduan ajaran Islam era Mataram dengan wilayah Priangan. Koleksi busana tersebut didapatkan dari perias pengantin daerah Sukapura. Ornamen busana yang tertutup serta aksesori kepala yang megah menggambarkan keharmonisan dua budaya yang saling melebur dan mengedepankan nilai norma yang dijunjung tinggi pada masa lampau.

"Keindahan busana ini tidak hanya berdiri sendiri tetapi ada beberapa ciri khas yang menjadi simbol prosesi adat yang dilakukan oleh pengantin,” lanjut Sutresno menjelaskan.

Prosesi ini menyimpan nilai filosofis mendalam terkait kehidupan bahtera rumah tangga. Seperti meuleum harupat, nincak endog, dan ngayak seureuh. Prosesi adat ini merupakan bentuk akulturasi antara kebudayaan Hindu dan Islam yang selaras dengan nilai-nilai kehidupan di masyarakat khususnya daerah Priangan. 

Prosesi nincak endog, misalnya, prosesi ini melambangkan bahwa pengantin telah menginjak kehidupan baru. Telur yang diinjak oleh pengantin pria melambangkan tanggung jawab suami sebagai pencari nafkah, sementara tindakan pengantin wanita membersihkan sisa telur menunjukkan kesetiaan dan kepatuhan dalam mendampingi bahtera rumah tangga.

Selain itu terdapat prosesi ngayak seureuh; prosesi ini mengajarkan sebuah kebijaksanaan agar pasangan dapat memilah-memilih mana yang baik dan menyingkirkan yang buruk. Adapun meuleum harupat, prosesi mematahkan batang lidi oleh kedua mempelai menjadi simbol kekuatan dan kebersamaan dalam menghadapi lika-liku kehidupan rumah tangga.

Prosesi ini tidak bersifat wajib, melainkan bentuk kreativitas budaya yang mengandung nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai filosofis tersebut dimaksudkan agar menyentuh hati dan memberi makna mendalam bagi pasangan yang menjalankannya, sekaligus menjaga kelestarian budaya. 

Sebagai upaya mempertahankan budaya ini, Museum Sri Baduga secara rutin mengadakan pameran koleksi dan lomba busana pengantin tradisional. Upaya tersebut bertujuan agar generasi muda tetap memahami dan melestarikan kekayaan budaya Sunda. Pemanfaatan teknologi juga diharapkan dapat menjadi penunjang agar kebudayaan ini tetap eksis dan tidak luntur oleh zaman. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Berita Terkait

News Update

Beranda 26 Feb 2026, 07:00

Tantangan Kelurahan Sukapura Kawal Balita dari Risiko Stunting

Data Kelurahan Sukapura Tahun 2025 menunjukkan jumlah anak berisiko stunting menurun dari 83 anak pada 2024 menjadi 53 anak pada 2025.

Kader kesehatan di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong memberikan imunisasi untuk anak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 25 Feb 2026, 20:40

Satgas PASTI Hentikan AMG Pantheon dan MBAStack, Waspada Penipuan Investasi yang Mencatut Nama Perusahaan Global!

Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) kembali mengambil langkah tegas dalam melindungi masyarakat dari jeratan investasi bodong yang semakin canggih.

Ilustrasi ancaman penipuan investasi ilegal. (Sumber: Freepik)
Bandung 25 Feb 2026, 19:54

Strategi OJK Jawa Barat Perkuat Literasi Keuangan Syariah dan Tangkal Investasi Ilegal Lewat GERAK Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah).
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 18:42

Bahasa Sunda dalam Ritme Ramadan

Bahasa Sunda menyimpan jejak pengalaman kolektif itu melalui kata-kata berawalan “nga-”.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 25 Feb 2026, 17:03

Kisah Lius Menjaga Nyala Pukis Beng-beng: Warisan Ayah Sejak 1989 yang Bertahan di Tengah Modernitas Bandung

Cetakan besi, adonan pukis, hingga topping coklat, keju, maupun pandan merupakan pemandangan sehari-hari yang dilihat oleh Lius (40), pemilik usaha Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak.

Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 15:00

Ketika Lema Arab Menjadi Milik Indonesia: Perjalanan Kosakata Ramadan

Mayoritas kosakata khas Ramadan yang digunakan masyarakat Indonesia berasal dari bahasa Arab dan telah mengalami penyesuaian.

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 25 Feb 2026, 13:33

Di Balik Kilau Manusia Silver: Lendir Hitam dari Hidung, Kulit Memerah, dan Panas yang Harus Ditahan

Teguh mengatakan bahwa setiap kali kehujanan, dari hidungnya kerap keluar lendir berwarna hitam. Ia juga mengaku penglihatannya menjadi buram ketika matanya kemasukan cat.

Erwin melumuri badanya mengggunakan tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 25 Feb 2026, 11:18

Rumah untuk Siapa: Potret Pembiayaan Perumahan di Tengah Rekor Pertumbuhan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat bahwa backlog perumahan nasional mencapai 9,9 juta unit.

Salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)