Bukan Sekadar Budaya, Makna Mendalam Busana Pengantin Sukapura di Museum Sri Baduga

3 menit baca
Izzatul Syahiidah Nuraini
Ditulis oleh Izzatul Syahiidah Nuraini diterbitkan
Koleksi Busana Pengantin Sukapura di Museum Sri Baduga (30/10/2025). (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Izzatul Syahiidah Nuraini Badar)
Koleksi Busana Pengantin Sukapura di Museum Sri Baduga (30/10/2025). (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Izzatul Syahiidah Nuraini Badar)

Bandung, Kota Kembang, sebuah julukan yang tak hanya merujuk pada keindahan alamnya, tetapi juga merujuk pada cerita indah yang tercermin di berbagai koleksi peninggalan sejarah. Di salah satu sudut kota, tersimpan kisah masa lampau yang begitu elok dalam balutan kain yang menjadi simbol kemegahan pada abad ke-16, yaitu Busana Pengantin Sukapura. Koleksi busana ini diabadikan melalui sejarah yang bertempat di Museum Sri Baduga, Jalan BKR No.185, Astanaanyar, Kota Bandung (30/10/2025).

Sutresno, Pamong Budaya Museum Sri Baduga, menjelaskan bahwa museum ini menyimpan berbagai koleksi bersejarah dari zaman Kerajaan Pakuan Pajajaran hingga zaman kiwari. “Salah satu koleksi busana yang kerap kali mendapatkan atensi pengunjung ialah busana Pengantin Sukapura,” ujarnya. Busana Pengantin Sukapura bukan sekadar pakaian pelindung tubuh. Ia adalah simbol identitas busana dari wilayah Priangan yang diwariskan secara turun-temurun.

Selain itu terdapat beberapa ornamen mencolok yang membedakan busana ini.

“Yang membedakan busana ini dengan busana lain adalah tampilannya yang lebih tertutup karena hasil dari akulturasi kebudayaan Islam,” ungkap Sutresno.

Pria paruh baya itu menjelaskan bahwa pakaian pengantin pria mengenakan jas yang mencerminkan pengaruh Islam, sedangkan pengantin wanita menggunakan mahkota sebagai simbol kemegahan dan keanggunan bagi pengantin yang mengenakannya.

Pada masa itu, busana adat Pengantin Sukapura bisa dikenakan oleh kalangan menak atau bangsawan saja. Pada masa lampau, busana ini sulit didapatkan karena busana ini menjadi sebuah cerminan status sosial dan nilai-nilai kesopanan masyarakat Priangan pada abad ke-16, khususnya di wilayah Sukapura yang kini dikenal sebagai Tasikmalaya.

Busana Pengantin Sukapura juga merupakan busana hasil perpaduan ajaran Islam era Mataram dengan wilayah Priangan. Koleksi busana tersebut didapatkan dari perias pengantin daerah Sukapura. Ornamen busana yang tertutup serta aksesori kepala yang megah menggambarkan keharmonisan dua budaya yang saling melebur dan mengedepankan nilai norma yang dijunjung tinggi pada masa lampau.

"Keindahan busana ini tidak hanya berdiri sendiri tetapi ada beberapa ciri khas yang menjadi simbol prosesi adat yang dilakukan oleh pengantin,” lanjut Sutresno menjelaskan.

Prosesi ini menyimpan nilai filosofis mendalam terkait kehidupan bahtera rumah tangga. Seperti meuleum harupat, nincak endog, dan ngayak seureuh. Prosesi adat ini merupakan bentuk akulturasi antara kebudayaan Hindu dan Islam yang selaras dengan nilai-nilai kehidupan di masyarakat khususnya daerah Priangan. 

Prosesi nincak endog, misalnya, prosesi ini melambangkan bahwa pengantin telah menginjak kehidupan baru. Telur yang diinjak oleh pengantin pria melambangkan tanggung jawab suami sebagai pencari nafkah, sementara tindakan pengantin wanita membersihkan sisa telur menunjukkan kesetiaan dan kepatuhan dalam mendampingi bahtera rumah tangga.

Selain itu terdapat prosesi ngayak seureuh; prosesi ini mengajarkan sebuah kebijaksanaan agar pasangan dapat memilah-memilih mana yang baik dan menyingkirkan yang buruk. Adapun meuleum harupat, prosesi mematahkan batang lidi oleh kedua mempelai menjadi simbol kekuatan dan kebersamaan dalam menghadapi lika-liku kehidupan rumah tangga.

Prosesi ini tidak bersifat wajib, melainkan bentuk kreativitas budaya yang mengandung nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai filosofis tersebut dimaksudkan agar menyentuh hati dan memberi makna mendalam bagi pasangan yang menjalankannya, sekaligus menjaga kelestarian budaya. 

Sebagai upaya mempertahankan budaya ini, Museum Sri Baduga secara rutin mengadakan pameran koleksi dan lomba busana pengantin tradisional. Upaya tersebut bertujuan agar generasi muda tetap memahami dan melestarikan kekayaan budaya Sunda. Pemanfaatan teknologi juga diharapkan dapat menjadi penunjang agar kebudayaan ini tetap eksis dan tidak luntur oleh zaman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)