Rupiah Terus Melemah, Krisis Bahan Baku Industri Kian Parah  

5 menit baca
Arif Minardi
Ditulis oleh Arif Minardi diterbitkan
Ilustrasi pekerja yang tengah mempersiapkan bahan baku (Sumber: petrotrainingasia.com)
Ilustrasi pekerja yang tengah mempersiapkan bahan baku (Sumber: petrotrainingasia.com)

Pengusaha saat ini tengah menghadapi krisis bahan baku industri yang serius, ditandai dengan lonjakan harga yang signifikan dan gangguan pasokan. Kondisi ini berdampak luas terhadap pelaku UMKM dan industri manufaktur. Rupiah yang terus melemah dan krisis bahan baku yang kian parah bisa berujung PHK massal atau kepailitan perusahaan. Hal itu sangat menyengsarakan kaum buruh.

Untuk sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) dan sektor plastik harga bahan baku naik antara 40  hingga 50 persen, bahkan ada yang mengalami kenaikan hingga dua kali lipat.

Lonjakan harga bahan baku plastik dipicu oleh kenaikan kebutuhan nafta dan gangguan pasokan dari Timur Tengah. Selain itu, ketegangan geopolitik (perang Iran vs AS-Israel) ikut memperparah kondisi pasar global yang berdampak langsung pada harga bahan baku lokal.

Para pengusaha didorong untuk memperkuat jejaring komunitas dan mencari solusi alternatif agar dapat bertahan di tengah krisis pasokan dan tingginya harga bahan baku ini.

Merosotnya nilai tukar rupiah berdampak fatal terhadap sektor industri karena meningkatnya biaya impor bahan baku. Tekanan terhadap rupiah akan menyebar, biaya modal akan meningkat dan menyebabkan berbagai pukulan terhadap sektor riil. Hal ini juga akan menimbulkan persoalan serius terhadap belanja modal oleh lembaga pemerintah.

 Belanja modal merupakan pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang sifatnya  menambah aset tetap atau inventaris yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Termasuk di dalamnya adalah pengeluaran untuk biaya pemeliharaan yang sifatnya mempertahankan atau menambah masa manfaat, meningkatkan kapasitas dan kualitas aset. Belanja modal pemerintah seperti peralatan dan permesinan mestinya mengutamakan buatan lokal.

 Pemerintah sering mendesak perusahaan dan pelaksana proyek untuk menggunakan peralatan dan komponen lokal. Desakan itu merupakan paradoksal, mengingat kondisi industri dalam negeri sendiri justru kurang berdaya. Apalagi stimulus fiskal yang dilakukan oleh pemerintah ibaratnya justru menggelar karpet merah bagi komponen impor. Karena stimulus itu menanggung pajak dan bea masuk berbagai perusahaan yang terlibat dalam proyek nasional berskala besar seperti misalnya proyek ketenagalistrikan dan transportasi. Ternyata strategi dan tahapan pembangunan proyek nasional tanpa optimalisasi sumber daya dari dalam negeri. Sehingga menimbulkan krisis lokalisasi atau penggunaan komponen lokal.

Industrialisasi Substitusi Impor

Komitmen pemerintah untuk menggenjot lokalisasi komponen perlu disertai dengan langkah detail. Mestinya pemerintah menerapkan secara konsisten strategi Industrialisasi Substitusi Impor (ISI) untuk perangkat keras dan lunak yang dibutuhkan oleh negeri ini. Secara sederhana ISI dapat didefinisikan sebagai usaha suatu negara untuk melakukan substitusi barang-barang impor dengan barang-barang sejenis yang diproduksi oleh industri domestik.

Berdasarkan jenis barang yang diproduksi, ISI dikelompokkan menjadi dua hal. Pertama, yang berorientasi pada pasar atau market-based, di mana suatu negara memusatkan diri pada produksi barang-barang konsumtif dengan tetap mengimpor barang-barang kapital seperti mesin-mesin dan berbagai perlengkapan pabrik dan perkantoran. Kedua, yang berorientasi pada kapital atau capital based yang memusatkan pada produksi barang-barang kapital maupun bahan baku industri seperti mesin-mesin, peralatan industri, logam, semen, petrokimia, dan lain-lain. Mestinya, pemerintah menerapkan dua orientasi ISI di atas sekaligus terhadap program pembangunan infrastruktur.

Sebagai suatu strategi pembangunan, ISI diperkenalkan untuk pertama kalinya di Amerika Latin pada pertengahan dekade 1950-an. Strategi ini merupakan tindak lanjut dari rekomendasi ECLA (Economic Commission on Latin America) untuk mengatasi krisis neraca pembayaran yang dialami beberapa negara di kawasan itu. Dalam rekomendasinya, lembaga yang diketuai oleh Raul Prebisch, seorang mantan direktur Bank Sentral Argentina, menyebut pentingnya upaya bersama negara-negara Amerika Latin untuk mengurangi secara signifikan ketergantungan impornya dari negara-negara maju dengan membuat sendiri barang-barang konsumtif dan barang modal di dalam negeri. Strategi yang kemudian dikenal dengan nama ISI ini diberlakukan secara luas di kawasan Amerika Latin bersamaan dengan makin kuatnya pengaruh teori ketergantungan yang dipelopori para pemikir radikal di kawasan itu seperti Andre Gunder Frank, Osvaldo Sunkel, Fernando Henrique Cardoso, dan lain-lain.

Berbagai sektor industri mengalami pukulan hebat akibat melemahnya rupiah. Dari sektor industri perajin tahu-tempe hingga industri kertas.  Asosiasi Pengusaha Pulp dan Kertas Indonesia menyatakan bahwa biaya impor kertas bekas meningkat hingga 50 persen menjadikan harga kertas berbahan baku kertas bekas di dalam negeri meningkat.

Saat ini pasar dalam negeri baru dapat memenuhi 30 persen dari total kebutuhan kertas bekas untuk didaur ulang menjadi kertas kemasan, koran, dan kertas tulis. Padahal kebutuhan kertas bekas dalam negeri diperkirakan mencapai 6 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sekira 4,5 juta ton digunakan untuk industri kemasan dan sisanya 1,5 juta ton untuk industri koran. Yang paling berpengaruh langsung terhadap rakyat dengan melemahnya rupiah adalah menyebabkan harga makanan dan minuman olahan meningkat. Karena bahan bakunya masih banyak yang diimpor.

 Fundamental nilai tukar ditentukan oleh terms of trade, yaitu perbandingan antara harga barang luar negeri dan harga barang domestik. Indonesia yang bergantung pada produk komoditas saat ini sangat terpukul karena harga komoditas di tingkat global relatif turun sehingga terms of trade kita relatif memburuk.

Untuk melihat kinerja nilai tukar rupiah terhadap dollar memakai teori purchasing power parity atau paritas daya beli. Seharusnya nilai satu dollar di mana pun di seluruh dunia dapat membeli barang atau jasa yang sama dengan jumlah yang sama pula. Dalam kondisi tersebut, seharusnya nilai tukar bisa mencerminkan perbandingan harga relatif di beberapa negara. Menurut The Economist, kondisi Indonesia telah mengalami undervalue sekitar 25 persen sejak 2013. Hal itu bisa diartikan bahwa nilai tukar rupiah yang aktual dinilai terlalu lemah dibandingkan fundamental yang dinilai berdasarkan teori paritas daya beli.

Perlu merumuskan kembali strategi dasar pelaku industri yang mengedepankan faktor nilai tambah. Indonesia harus totalitas untuk mendorong Industri dengan produk yang memiliki nilai tambah besar.  

Menurut Haller dan Stolowy definisi nilai tambah atau value added adalah perbedaan antara nilai dari output suatu perusahaan atau suatu industri, yaitu total pendapatan yang diterima dari penjualan output tersebut, dan biaya masukan dari bahan-bahan mentah, komponen-komponen atau jasa-jasa yang dibeli untuk memproduksi komponen tersebut.

Nilai tambah diketahui dengan melihat selisih antara nilai output dengan nilai input suatu industri. Value added (VA) merupakan konsep utama pengukuran income suatu negara. Konsep ini secara tradisional berakar pada ilmu ekonomi makro, terutama yang berhubungan dengan penghitungan pendapatan nasional yang diukur dengan performance produktif dari ekonomi nasional yang biasanya dinamakan produk domestik. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)