Dari Padel ke Hyrox: Komodifikasi Olahraga dan Representasi Gengsi Kelas Atas dalam Budaya Populer

5 menit baca
Rafiiqul Hariz
Ditulis oleh Rafiiqul Hariz diterbitkan
Olahraga hyrox. (Sumber: universe.roboflow.com)
Olahraga hyrox. (Sumber: universe.roboflow.com)

Dalam beberapa tahun terakhir ini fenomena olahraga di Indonesia mengalami perubahan yang cukup cepat dan signifikan, dari mulai bersepeda, golf, lari, dan yang terbaru padel dan juga yang paling terbaru dan menjadi tren di tahun 2026 yaitu olahraga hyrox. Sebelumnya padel menguasai tren olahraga di Indonesia sekarang sudah mulai di imbangi oleh kehadiran Hyrox sebagai olahraga baru yang lebih kompetitif dan menantang. Kedua fenomena ini tidak hanya sekedar mencerminkan sebuah aktvitas fisik semarta, tetapi juga menunjukan bagaimana sebuah olahraga menjadi bagian dari gaya hidup yang sarat akan makna sosial dan simbolik. Dalam konteks ini, olahraga tidak lagi dipahami hanya sebagai kebutuhan untuk Kesehatan, melainkan telah bertranformasi menjadi lambing atau representasi gengsi dan status sosial.

Perkembangan tren olahraga padel sangat pesat di Indonesia dalam kurun waktu yang cukup sebentar, lapangan paadel sudah bertebaran di daerah – daerah indonesi. Padel dikenal sebagai olahraga untuk kelas atas karena identic dengan lingkungan yang ekslusif, seperti klub-klub premium dan komunitas kelas atas, sehingga aktivitas padel sering kali menjadi tempat untung membangun relasi sosial dan menunjukan identitas kelompok. Dan sering di jadikan ajang gengsi dengan di unggah di media sosial. Seiring berjalannya waktu, munculah olahrga Hyrox sebagai olahrga berbasis komeptisi dan ketahanan fisik menghadirkan bentuk baru dari representasi gaya hidup, di mana individu tidak hanya menunjukan akses terhadap fasilitas ekslusif, tetapi juga menunjukan bahwa mereka memiliki kemampuan fisik yang bagus karena kedisiplinan diri yang tinggi.

Dalam perspektif Komodifikasi, fenomena ini menunjukan adanya perubahan nilai olahraga dari nilai guna menjadi nilai tukar, Olahraga yang pada dasarnya berfungsi untuk menjaga kebugaran tubuh kita, kini mengalami pergeseran menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi dan simbolik, olahraga padel dan hyrox dikemas sebagai produk gaya hidup melalui berbagai media, seperti media sosial, event internasional, hingga endorsement oleh figure public. Hal ini membuat olahraga tidak lagi sekedar aktivitas, melainkan menjadi sesuatu yang dapat kita konsumsi untuk membangun branding di ruang publik.

Peran media sosial menjadi faktor penting dalam mempercepat proses komodifikasi tersebut. Representasi visual yang di tampilkan lewat media sosial memperlihatkan padel sebagai olahraga yang santai, sosial, dan berkelas. Sementara hyrox direpresentasikan sebagai olahraga yang menantang, disipilin, dan ekslusif, kedua citra ini membentuk pesepsi Masyarakat bahwa partisipasi dalam olahraga tersebut tidak hanya berkaitan dengan Kesehatan, tetapi juga ada identitas atau gengsi yang di cari, dalam hal ini, media berperan dalam menciptakan standar gaya hidup tertentu yang kemudian diikuti oleh masyrakat, khususnya kalangan kelas atas.

Lebih jauh, tren pergeseran dari padel ke Hyrox juga mencerminkan adanya perubuhan dalam cara kalangan kelas atas mengekspresikan gengsi mereka. Jika sebelumnya gengsi ditampilkan melalui aktivitas sosial yang santai dan eksklusif seperti padel, kini bergeser kearah pencapain personal dan performa fisik yang ditunjukan melalui Hyrox. Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari logika komodifikasi olahraga, Dimana sport telah menjadi bagian dari sistem kapitalisme global yang, sebagaimana disebutkan bahwa “sport has been transformed into a commodity” (Jha, 2021). Selain itu, hyrox sendiri kini berkembang menjadi ladang cuan baru, industry besar dengan potensi ekonomi yang signifikan, bahkan di sebut fenomena baru yang memiliki omset triliunan rupiah. Namun demikian, baik padel maupun Hyrox tetap berada dalam kerangka yang sama, yaitu sebagai alat menunjukan gengsi sosial. Dengan kata lain olahraga menjadi lambing dari suatu kelompok sosial dan membedakan kemampuan dan representasi gaya hidup seseorang.

Di balik fenomena tersebut, muncul pertanyaan kritis mengenai makna sebenarnya dari aktivitas olahraga itu sendiri. Apakah olahraga masih menjadi sarana untuk mencapai kesehatan, atau justru telah bergeser menjadi bagian dari konsumsi simbolik dalam budaya populer? Komodifikasi yang terjadi menunjukkan bahwa batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur, di mana individu terdorong untuk mengikuti tren bukan semata-mata karena kebutuhan, tetapi karena dorongan untuk menjadi bagian dari kelompok sosial tertentu. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa dalam budaya konsumsi, “the exchange value of a commodity becomes more important than its use value”(Jha, 2021).Bahkan dalam konteks tren Hyrox, fenomena ini juga kerap dipandang sebagai ajang untuk menunjukkan eksistensi atau bahkan “flexing” gaya hidup di media sosial . Dengan demikian, olahraga tidak lagi sekadar aktivitas fisik, tetapi telah menjadi bagian dari konsumsi simbolik yang sarat akan makna sosial.

Dengan demikian, fenomena pergeseran tren dari padel ke Hyrox tidak hanya mencerminkan perubahan preferensi olahraga, tetapi juga menunjukkan bagaimana olahraga telah menjadi bagian dari praktik komodifikasi dalam budaya populer. Olahraga berfungsi sebagai simbol gengsi dan alat representasi kelas atas yang terus berkembang mengikuti sifat kenafsuan manusia dalam hal ingin menjadi yang terbaik. Dalam konteks ini, olahraga sebagai komoditas tidak hanya diproduksi untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga untuk menciptakan nilai dan identitas tertentu, sebagaimana dijelaskan bahwa “komoditas tidak selalu bersifat material”(Jha, 2021), melainkan juga dapat berupa budaya dan pengalaman yang dipertukarkan dalam pasar. Fenomena ini pada akhirnya menjadi refleksi dari hubungan yang kompleks antara gaya hidup, konsumsi, dan identitas dalam masyarakat modern, di mana olahraga telah mengalami transformasi dari aktivitas kesehatan menjadi bagian dari sistem representasi sosial yang lebih luas.

Referensi:

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)