Disabilitas Antara Kemanusiaan dan Egaliter

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Tidak jarang, hal-hal yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan, hanya menjadi simbolitas dalam kehidupan sehari-hari. Mudah untuk diucapkan, tetapi terasa berat untuk menjaganya. Di era kini dalam fenomena umum, adalah makin tumbuhnya nilai-nilai egosentris serta semakin krisis sikap toleransi. Stigma sosial sudah bergeser kepada pragmatic value.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang rumit. Meski faktanya tergantung pada individu masing-masing untuk menemukan cara yang dianggap paling ideal, dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Sebab, acapkali pilihan itu adalah kegetiran yang tidak perlu disuarakan.

Sebuah gagasan tentang inklusivitas, tentu sebagai upaya untuk mengakui keberadaan yang lain dengan kesadaran kolektif. Dalam hal ini, bukan hanya sekadar pengakuan bahwa kedudukan manusia setara. Tapi soal bagaimana menerima kodrat yang berbeda.

Berangkat dari kegelisahan yang sering luput kita sadari, inklusivitas hari ini bukan lagi sekadar jargon kebijakan atau dekorasi moral dalam pidato-pidato formal. Ia adalah medan tafsir—tentang siapa yang dianggap cukup manusia untuk diikutsertakan dalam arus kehidupan sosial.

Tidak mudah dalam melakukan upaya-upaya atau membangun kesadaran kolektif, yang memerlukan keberanian moral tinggi di tengah degradasi moral. Sebab suara kritis masyarakat, acapkali dianggap sebagai bentuk perlawanan dari intrik sosial yang terkadang “sengaja diciptakan”. Karena sebuah perubahan ke arah keadilan dan kejujuran akan menciptakan ruang sempit bagi orang-orang yang merasa nyaman dalam bingkai kapitalis.

Ironisnya, program-program yang berlatar-belakang kemanusiaan, sering dianggap bagian dari revolusi. Dan dalam sejarah revolusi, selalu ada kaum yang termarjinalkan. Dalam konsep politik ini sering diidentikkan dengan konsep kaum buruh. Yang mana dalam perspektif umum, selalu saja kaum buruh menjadi suara kritis bagi tuntutan kesetaraan. Ini sangat ambivalen, karena suara kritis itu tidak semata dalam kesetaraan ekonomi. Tetapi kemanusiaan itu juga menyangkut hak-hak lain, yang perlu dipahami dan diperjuangkan. Termasuk kesetaraan bagi penyandang disabilitas, yang memiliki hak sipil sebagai warga negara yang sama.

Sebagaimana diingatkan oleh Michael Oliver, “masyarakatlah yang membuat seseorang menjadi disabilitas, bukan tubuhnya.” Kalimat ini mengguncang asumsi lama yang terlalu lama kita rawat: bahwa keterbatasan adalah urusan individu semata. Padahal, yang lebih sering terjadi adalah kegagalan kolektif—jalan yang tak ramah, ruang publik yang eksklusif, hingga bahasa yang diam-diam mengucilkan.

Dalam realitas sosial kini, kita hidup di tengah ironi yang abstrak. Kita merayakan keberagaman, tetapi masih diam ketika ketidaksetaraan berlangsung. Kita mengagungkan empati, tetapi sering kali terjebak dalam apa yang oleh Stella Young sebut sebagai inspiration porn—sebuah cara pandang yang menjadikan penyandang disabilitas sekadar objek inspirasi, bukan subjek yang setara. Di titik ini, inklusivitas kehilangan makna etiknya, berubah menjadi konsumsi emosional yang menenangkan pihak mayoritas.

Lebih jauh, Tom Shakespeare mengingatkan bahwa disabilitas adalah relasi sosial—dibentuk oleh hambatan fisik, sikap, dan sistem. Maka, persoalannya bukan pada “bagaimana mereka menyesuaikan diri,” melainkan “bagaimana kita mengubah dunia agar tidak lagi meminggirkan.” Pertanyaan ini bersifat politis sekaligus eksistensial: siapa yang berhak menentukan standar umum?

Di sinilah inklusivitas menemukan kedalaman filosofisnya. Ia bukan sekadar proyek sosial, melainkan upaya membongkar narasi dominan tentang tubuh, kemampuan, dan nilai. Seperti dikatakan Rosemarie Garland-Thomson, disabilitas adalah konstruksi naratif—cara masyarakat memilih tubuh mana yang layak dihargai. Jika demikian, maka inklusi sejati menuntut kita untuk menulis ulang narasi itu, bukan sekadar menambal pinggirannya.

Namun, inklusivitas tidak berhenti pada kritik. Ia juga menuntut penciptaan ruang baru. Judith Heumann menegaskan bahwa inklusi bukan tentang memasukkan seseorang ke dalam sistem lama, tetapi membangun ruang yang lebih adil bagi semua. Ini berarti merombak cara kita merancang kota, pendidikan, pekerjaan, bahkan cara kita berbicara satu sama lain.

Dalam konteks Indonesia hari ini—di jalanan kota yang padat, di sekolah yang masih seragam dalam standar, di dunia kerja yang kerap mengukur produktivitas secara sempit—inklusivitas sering kali masih bersifat simbolik. Ia hadir sebagai slogan, tetapi belum sepenuhnya menjadi praktik. Di sinilah tantangan terbesarnya: bagaimana menjadikan inklusi sebagai kesadaran kolektif, bukan sekadar kewajiban administratif.

Penyandang Disabilitas, warga, dan relawan mewarnai mural yang digambar di salah satu dinding rumah warga. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Penyandang Disabilitas, warga, dan relawan mewarnai mural yang digambar di salah satu dinding rumah warga. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Mungkin, di titik paling sunyi dari refleksi ini, kita akan sampai pada satu kesadaran sederhana: bahwa inklusivitas bukan tentang mereka—tetapi tentang kita, tentang bagaimana kita memilih untuk menjadi manusia di tengah manusia lain.

Narasi tentang inklusivitas ini sebenarnya berdiri di atas dua fondasi etis yang lebih luas: egalitarianisme dan kemanusiaan. Tanpa keduanya, inklusi mudah berubah menjadi sekadar perias wajah sosial—tampak baik di permukaan, tetapi tetap menyimpan hierarki di dalamnya.

Pertama, soal egaliter. Gagasan egaliter berangkat dari keyakinan bahwa setiap manusia memiliki nilai yang setara, bukan karena kesamaan kemampuan, tetapi karena martabatnya sebagai manusia. Dalam konteks ini, pemikiran Michael Oliver menjadi sangat relevan: ketika masyarakatlah yang mendisabilitaskan, maka ketidaksetaraan bukanlah takdir biologis, melainkan konstruksi sosial. Artinya, egalitarianisme menuntut pembongkaran struktur yang menciptakan ketimpangan—baik itu dalam akses pendidikan, ruang publik, maupun kesempatan ekonomi.

Namun egaliter bukan berarti menyeragamkan. Di sinilah inklusivitas memberi nuansa penting: kesetaraan tidak berarti semua orang diperlakukan sama, melainkan diperlakukan adil sesuai kebutuhannya. Jadi, inklusi adalah praktik konkret dari prinsip egaliter—ia menerjemahkan kesetaraan ke dalam kebijakan, desain ruang, dan relasi sosial yang benar-benar bisa diakses semua orang.

Kedua, soal kemanusiaan. Kemanusiaan berbicara tentang pengakuan atas pengalaman hidup orang lain sebagai sesuatu yang sah dan bermakna. Ketika Stella Young mengkritik inspiration porn, ia sedang mengingatkan bahwa empati yang dangkal justru bisa mereduksi manusia menjadi objek. Di titik ini, kemanusiaan menuntut lebih dari sekadar rasa iba—ia menuntut penghormatan terhadap otonomi, suara, dan pengalaman penyandang disabilitas sebagai subjek penuh.

Pemikiran Rosemarie Garland-Thomson juga memperdalam hal ini: jika masyarakat membentuk narasi tentang tubuh mana yang bernilai, maka kemanusiaan sejati berarti menolak hierarki nilai tersebut. Ia mengandaikan bahwa setiap tubuh—dengan segala perbedaan dan keterbatasannya—tetap utuh sebagai manusia, bukan versi kurang dari standar tertentu.

Di antara egaliter dan kemanusiaan, inklusivitas menjadi jembatan praksis. Ia bukan hanya ide, tetapi tindakan: bagaimana kita merancang dunia yang tidak lagi berpusat pada satu jenis manusia saja. Seperti yang ditegaskan Judith Heumann, inklusi bukan sekadar mengundang masuk ke sistem lama, tetapi menciptakan ruang baru yang lebih adil. Di sinilah egaliter menemukan bentuknya, dan kemanusiaan menemukan kedalamannya.

Jika diringkas secara sederhana, namun memiliki filosofis, maka egaliter memberi dasar bahwa semua manusia setara. Sementara kemanusiaan memberi kesadaran bahwa setiap pengalaman manusia harus dihormati. Dan inklusivitas menjadi cara kita mewujudkan keduanya dalam realitas sosial.

Maka hubungan ketiganya bukan terpisah, melainkan saling menghidupi. Tanpa egaliter, inklusi kehilangan arah. Tanpa kemanusiaan, inklusi kehilangan jiwa. Dan tanpa inklusivitas, keduanya hanya tinggal konsep yang tidak pernah benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)