Kisah Kaum Urban 'Hikayat Urang Pasar' (Bagian 1)

Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Rabu 22 Apr 2026, 17:00 WIB
Penulis bersama rekan-rekan saat mengunjungi rumah keluarga Pasar Baru Bandung yang masih terjaga keasliannya, dan berada di tengah Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)

Penulis bersama rekan-rekan saat mengunjungi rumah keluarga Pasar Baru Bandung yang masih terjaga keasliannya, dan berada di tengah Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)

Bibilintik Tut Saeutik
(Hemat Cermat Sedikit-Sedikit Jadi Bukit)

Geus Gede Ngan Kari Make
(Sudah Terkumpul Banyak, Tinggal Pakai)

Bapak Tani Sugih Mukti
(Bapak Tani Jadi Sejahtera)

Nu Dagang Ngan Kari Senang
(Yang Dagang Memetik Keuntungan)

Saudagar Tambah Kaya
(Saudagar Tambah Kaya)

Cekek Gawe Tibra Hate
(Hati Tentram Punya Pekerjaan)

***

Kata-kata di atas adalah moto dari salah satu pentolan keluarga besar Pasar Baru Bandung atau Urang Pasar yang bernama Masdoeki, pada peringatan 30 tahun berdirinya Bank Himpunan Saudara, sebuah bank pribumi pertama di Bandung yang didirikan pada 1906.

Tulisan ini berdasarkan kisah lisan dari kakek dan keluarga di Gang Apandi dan telah saya kroscek kepada anggota keluarga besar Pasar Baru lainnya. Keterangan-keterangan ini pun telah sesuai dengan buku peringatan 30 tahun dan 100 tahun berdirinya Bank Himpunan Saudara (Bank Woori Saudara, sekarang).

Sebuah keajaiban terjadi di Bandung. Di masa kolonial mencengkram negeri ini, kaum pribumi di Bandung telah menjadi pemain penting dalam perdagangan. Tentu saja hal ini sangat mengagetkan. Pasalnya, dalam strata politik Hindia Belanda, untuk hampir semua urusan, kaum pribumi berada di urutan paling bawah. Di Pasar Baru, Bandung keajaiban terjadi. Mereka yang sering disebut Urang Pasar, mampu menunjukkan diri mereka sebagai “Saudagar Bandung”.

Siapakah sebenarnya orang-orang perkasa ini? Banyak cerita yang akan menjelaskan siapa mereka, dari mana asal usulnya, dan mereka adalah bagian dari kaum urban yang datang ke Bandung pada masa kolonial.

Umumnya mereka berasal dari kerajaan Demak. Karena terdesak, mereka pun mengungsi ke Cirebon. Dan mereka adalah bekas-bekas petinggi dari prajurit-prajurit Diponegoro yang kalah perang dan beralih profesi menjadi pedagang handal. Keterangan ini didapatkan dari Ahmad Sjafei, usia 88 tahun ketika ia memberikan keterangan ini, dan ia adalah bagian dari keturunan Urang Pasar yang lahir di Bandung.

Menurut beliau, karena pada saat itu Cirebon mengalami masa paceklik, maka para prajurit perdagangan ini lantas mengadu nasib terus ke arah barat menuju keresidenan Priangan dan bermukim di kawasan Babakan Soeniaradja hingga kawasan Pasar Baru, dan warga asli Bandung menyebut mereka dengan Urang Pasar.

Penulis bersama rekan-rekan saat mengunjungi rumah keluarga Pasar Baru Bandung yang masih terjaga keasliannya, dan berada di tengah Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Penulis bersama rekan-rekan saat mengunjungi rumah keluarga Pasar Baru Bandung yang masih terjaga keasliannya, dan berada di tengah Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)

Salah satu narasumber yaitu Dadang Dachmir, yang juga anggota keluarga besar Pasar Baru menyebutkan leluhur dari para Urang Pasar adalah para senopati kesultanan Demak. Lantas, mereka menyebar ke beberapa wilayah di Jawa Tengah untuk berdagang kain batik, dan berlabuhlah di Cirebon untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya mereka semua memutuskan untuk hijrah ke Bandung.

Saat para senopati itu semua tahu bahwa Diponegoro ditangkap, mereka menanggalkan kesenopatian mereka dan akhirnya berdagang hingga tiba di barat Jawa. Hal itu setidaknya semakin menguatkan bahwa ada pertalian darah antara para saudagar Bandung itu dengan keluarga Kesultanan Demak, kerajaan di Jawa Tengah dan kesultanan di Cirebon.

Pak Haryoto Kunto, sang kuncen Bandung mengungkapkan hal lain. Menurut dia, justru keturunan senopati ini merahasiakan jati diri mereka. Ada sebab tentunya, rahasia silsilah mereka telah masuk catatan Politike Inlichtinge Dienst atau polisi keamanan Hindia Belanda, yang apabila terbuka sangat berbahaya bagi para keturunan Urang Pasar.
Apalagi ketika itu pada 1915 pemerintah kolonial tengah giat-giatnya mengawasi Serikat Islam. Komunitas Urang Pasar memiliki persamaan pergerakan dengan organisasi SI ini. Selain itu dari ciri-ciri fisik, mereka memiliki persamaan dengan para kaum Abangan di Jawa, termasuk para pengikut Diponegoro. Para perintis saudagar Bandung datang pada pertengahan abad ke-19, dan mereka kemudian melahirkan para saudagar Bandung lainnya yang cukup sukses di awal abad ke-20.

Kiprah mereka semakin tak tertahankan pada 1920, usaha grosiran batik di Bandung dikuasai para bumiputra, dan hal ini membuat pemerintah kolonial kurang berkenan. Alasan untuk mengekang mereka memang cukup kuat. Sebagai mata rantai pemasaran, pedagang perantara/agen/grosir memegang mekanisme harga sehingga ikut mempengaruhi harga sandang-pangan. Pemerintah kolonial lantas membentuk instansi pengendalian harga pada 1921, dengan alasan untuk melindungi konsumen terutama konsumen Eropa.

Pada 1 Januari 1920, berdasarkan ketentuan pasal 109 Regeringsreglement, penggolongan penduduk di Hindia Belanda dibagi menjadi tiga. Etnis Tionghoa yang masuk menjadi kelompok kedua pun akhirnya ikut terlibat dalam penjualan kain batik. Yang paling terkenal adalah Babah Go Kang Ho di Pasar Baru dan Babah Tan Djin Gie di kawasan Suniaraja, mereka adalah keturunan Tionghoa yang juga meramaikan perdagangan batik di Bandung.

Ada sebuah toko yang sering diceritakan kakek, yaitu toko yang masih sangat eksis hingga tahun 70-an dalam penjualan grosir batik Urang Pasar, yaitu toko Taman Batik Halim yang terletak di jalan Belakang Pasar No. 16, yang hampir tidak pernah sepi. Pemilik toko itu adalah M. Halim yang merupakan kakek dari pengusaha Arifin Panigoro. Tak hanya kain batik, toko ini pun menjual aneka kopiah, dan Bung Karno adalah salah satu pelanggannya.

Namun, masa-masa kelam di 1965 membuat bisnis dan roda pergerakan Urang Pasar agak tersendat, bahkan banyak dari para anak turunnya yang memilih untuk menutup usaha puluhan tahunnya dan bekerja di pemerintahan atau swasta. Hikayat Urang Pasar pun harus lekang oleh waktu akibat pergolakan politik negeri ini. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Apr 2026, 18:08

Hari Bumi di Bandung: Krisis Transportasi dan Jalan Panjang Menuju Mobilitas Berkelanjutan

Kemacetan, rendahnya layanan transportasi publik, serta buruknya infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda cermin krisis transportasi Bandung. Hari Bumi mengingatkan pentingnya mobilitas berkelanjutan.

Ilustrasi yang menggambarkan kontradiksi antara transportasi polutif dan transportasi berkelanjutan, dengan fokus pada pelestarian bumi. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 17:00

Kisah Kaum Urban 'Hikayat Urang Pasar' (Bagian 1)

Mereka yang sering disebut Urang Pasar, mampu menunjukkan diri mereka sebagai “Saudagar Bandung”.

Penulis bersama rekan-rekan saat mengunjungi rumah keluarga Pasar Baru Bandung yang masih terjaga keasliannya, dan berada di tengah Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 16:25

Dari Padel ke Hyrox: Komodifikasi Olahraga dan Representasi Gengsi Kelas Atas dalam Budaya Populer

Pergeseran tren olahraga dari padel ke Hyrox sebagai simbol gaya hidup kelas atas.

Olahraga hyrox. (Sumber: universe.roboflow.com)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 12:53

Buruh Digital yang Bahagia: Menelaah Eksploitasi di Balik Fenomena Fan-Edit TikTok

Fenomena fan-edit TikTok adalah bentuk digital labour.

Program Google AI Tools for Journalist yang digelar selama dua hari, 23–24 Desember 2025 di Kantor Ayo Media Network. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 22 Apr 2026, 11:26

7 Kuliner yang Cocok Disantap Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kuliner hangat seperti bakso, soto, mi instan, hingga sekoteng yang cocok disantap saat cuaca dingin dan hujan.

Mi instan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 11:25

Hari Puisi Nasional: Bandung, Antara Ekspektasi dan Kenyataan yang Dijalani

Di Hari Puisi Nasional, Bandung tidak hanya sebagai kota yang indah, tetapi juga sebagai ruang pengalaman yang memperlihatkan jarak antara ekspektasi dan kenyataan yang dijalani.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 10:51

Di Bandung, Kuliah Tamat Jodoh Dapat

Para mahasiswa-mahasiswi dari berbagai daerah datang ke Bandung akhir tahun 1980-an, kuliah di IKIP Bandung, meraih titel pendidikan dan sekaligus mendapatkan jodoh

Villa Isola Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. (Sumber: Twitter/@wawan_purnama)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 10:00

Hari Bumi dan Misi KDM Selamatkan Cagar Alam

Provinsi Jawa Barat memiliki 26 kawasan cagar alam dan 3 taman nasional yang mesti dijaga eksistensinya.

Cagar Alam Kawah Kamojang (Sumber: ringtimes.id)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 19:55

Travel Antarkota Menjamur di Bandung: Masalah Parkir, Ruang Jalan, dan Perilaku Pengemudi

Keberadaannya dapat memicu persoalan parkir, ruang jalan dan perilaku berkendara yang problematik.

Penindakan praktik parkir liar terhadap sejumlah perusahaan travel di Jalan Dipatiukur, Kota Bandung. (Sumber: Instagram/@infobandungkota)
Ikon 21 Apr 2026, 18:46

Hikayat Tol Cipali, Warisan Enam Presiden yang jadi Jantung Penghubung Jawa Barat

Sejarah panjang Tol Cipali dari krisis 1998 hingga beroperasi, serta dampaknya terhadap konektivitas dan ekonomi Pulau Jawa.

Tol Cipali. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 18:32

Profil Dr. Riadi Darwis: Menjaga Marwah Tatar Sunda Melalui Rasa

Darah kuliner Dr. Riadi Darwis mengalir dari ekosistem rumah makan milik kakek dan neneknya.

Ilustrasi Dr. Riadi Darwis. (Sumber: Istimewa)
Bandung 21 Apr 2026, 18:11

Tantangan Bisnis Roastery Kopi: Bedah Supply Chain dan Peluang Pasar Global ala Good Things

Bedah tantangan bisnis roastery kopi mulai dari fluktuasi harga bahan baku, rumitnya supply chain, hingga strategi menembus pasar internasional ala Good Things.

Bedah tantangan bisnis roastery kopi mulai dari fluktuasi harga bahan baku, rumitnya supply chain, hingga strategi menembus pasar internasional ala Good Things. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 17:57

Jiwanta: Berendam di Air Panas, Rasakan Ketenangan Hidup

Keajaiban air panas alami di tengah sejuknya alam Ciwidey yang memesona.

Jiwanta Cimanggu Hot Spring. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)
Wisata & Kuliner 21 Apr 2026, 17:50

Wisata Curug Cihanyawar, Air Terjun di Kaki Gunung Cikuray

Panduan wisata Curug Cihanyawar Garut, meliputi lokasi, akses jalur, kondisi jalan, serta daya tarik air terjun di kawasan kebun teh dan hutan pinus.

Curug Cihanyawar Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 21 Apr 2026, 17:08

Di Hari Kartini, Dua Perempuan Ojol Ceritakan Realitas Kerasnya Pekerjaan di Jalanan

Di Hari Kartini, dua perempuan pengemudi ojol di Bandung berbagi pengalaman menghadapi risiko, stigma, dan ketidakpastian penghasilan saat bekerja di jalanan.

Bagi Enis, menjadi Kartini masa kini berarti pantang menyerah mencari nafkah di usia senja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 16:12

Kartini Masa Kini yang Menggeluti Energi Angin

Wanita yang mendapat julukan ”Iron Lady” ini tumbuh dalam budaya Betawi yang kental.

Ani Dwi Octavia, Kartini masa kini yang menggeluti energi angin. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ani Dwi Octavia)
Komunitas 21 Apr 2026, 15:51

Lewat Kearifan Lokal, Komunitas Cika-Cika Konsisten Jaga Ekosistem Sungai Selama 17 Tahun

Komunitas Cika-Cika menjaga ekosistem Sungai Cikapundung selama 17 tahun melalui edukasi dan kearifan lokal. Aksi nyata ini mengubah bantaran sungai menjadi ruang sosial ekonomi yang berkelanjutan.

Pengunjung beraktivitas di bantaran Sungai Cikapundung, Cikalapa pada Minggu 19 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 15:29

Langkah Kecil Merawat Bumi

Menjaga lingkungan bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi menjadi bagian dari ibadah.

Sejumlah siswa SD Darul Hikam Bandung menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 12:32

Jejak Kiprah Radio Bandung Era Tahun 70-an

Romantisme mendengarkan radio di Bandung pada awal dekade 1970-an bukan sekadar hiburan.

Para penyiar Radio Flippies Psychedelic, salah satu radio favorit di Bandung pada awal 1970-an. (Sumber: Majalah Aktuil)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 10:21

Mewujudkan Bandung Kota Vokasional

Bandung memiliki potensi besar menjadi kota vokasional, terutama berbasis industri kreatif, teknologi, dan jasa.

Ilustrasi sekolah kejuruan SMKN 4 Bandung. (Sumber: Laman SMKN 4 Bandung)